Tantangan dalam The Year of a New Dimension

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
RK.jpg
Renungan khusus
Tanggal14 Juni 2020
PenulisJunus MulyanaPdm Junus Mulyana, MTh
Sebelumnya
Selanjutnya

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar."

(2 Korintus 3:18)

Tahun 2020, Gembala Pembina menyuarakan visi bahwa “Tahun 2020 adalah Tahun Dimensi yang Baru”. Frasa itu berbicara tentang ukuran baru yang lebih besar dan lebih baik dalam seluruh aspek hidup kita yang menyangkut berkat secara rohani maupun jasmani. Tuhan ingin kita semua mengalami semua janji-janji berkat-Nya bahkan yang lebih besar dan lebih baik dari hari ke hari sesuai dengan firman-Nya yang berkata:

“TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, …”

Tetapi apa yang mendasari semua ini sehingga kita mengalami berkat rohani dan jasmani dengan dimensi yang baru?

Dalam perumpamaan tentang pokok anggur yang benar yang ditulis dalam Injil Yohanes 15:1-8, Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai “Pokok Anggur”, di mana murid-murid-Nya sebagai “ranting”, dan Allah digambarkan sebagai “Tukang Kebun” yang memelihara ranting-ranting itu supaya tetap berbuah.

Di sini Tuhan Yesus berbicara tentang adanya dua macam ranting, yaitu yang berbuah dan yang tidak berbuah. Buah yang dimaksud di sini adalah buah Roh yaitu karakter Kristus yang termanifestasi dalam hidup orang percaya sebagai hasil persekutuan dengan Roh Kudus, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Dalam perumpamaan ini diceritakan, bahwa ranting yang tidak berbuah pasti akan dipotong oleh Bapa, lalu dipisahkan dari hubungan dengan Tuhan Yesus. (Matius 3:10)

Melalui perumpamaan pokok anggur yang benar ini, Tuhan Yesus memberikan peringatan kepada orang percaya bahwa hubungan keselamatan orang percaya tidak bersifat statis berdasarkan keputusan di masa lalu, tetapi hubungan itu bersifat progresif selama orang percaya tetap tinggal di dalam Kristus sebagaimana ranting akan tetap berbuah selama terpaut dengan pokok anggurnya.

Tetapi ranting yang berbuah justru akan terus dan terus dibersihkan oleh Bapa yaitu dengan disingkirkannya segala sesuatu yang menghambat mengalirnya hidup yang vital dari Yesus. Mengapa orang percaya harus terus “dibersihkan”? Bukankah orang percaya sudah dikuduskan oleh Darah Yesus ketika mereka percaya dan menerima Yesus? Memang Darah Yesus sanggup menghapus dosa manusia tetapi tidak serta merta menghilangkan tabiat dosa (sinful nature) manusia, yaitu:

“Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya."
(Galatia 5:19-21a)

Tabiat-tabiat dosa inilah yang akan terus "dibersihkan" oleh Bapa sampai kehidupan orang percaya serupa dan segambar dengan Kristus. Allah sebagai “Tukang Kebun” tidak dapat “membersihkan” orang percaya dengan sendirinya tanpa adanya kerjasama dari orang percaya. Bagian Allah yang “membersihkan” dan bagian orang percaya adalah menyangkal diri dan memikul salib selama hidupnya, seperti yang Tuhan Yesus katakan dalam Lukas 9:23, yaitu:

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku."

Seperti dalam proses pemurnian emas, Allah menempatkan diri-Nya sebagai seorang pandai emas yang memurnikan emas dengan membersihkan atau melepaskan emas tersebut dari campuran logam-logam lain (alloy) yang menempel sehingga membuat emas itu menjadi kotor dan keras.

"Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN."
(Maleakhi 3:2-3)

Secara sederhana proses pemurnian emas adalah: emas dimasukkan di suatu wadah dan dicampurkan dengan suatu zat, setelah itu emas dibakar sampai meleleh. Karena berat jenis emas lebih berat dari segala jenis logam, maka ketika emas campuran itu meleleh, emas murninya akan mengendap ke bawah dan kotoran-kotoran yang menempel pada emas tersebut akan terlepas dan mulai terangkat ke atas, lalu si pandai emas akan mengambil kotoran- kotoran itu. Setelah apinya dimatikan maka kadar kemurnian emas itu akan naik. Begitulah selanjutnya emas mengalami beberapa kali proses pemurnian sampai menjadi emas yang murni yang menurut Alkitab; bening warnanya.

“…jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening."
(Wahyu 21:21)

Tetapi apabila dalam suatu proses pemurnian, ketika kotoran-kotoran yang menempel pada emas sudah terangkat ke atas dan si pandai emas tidak mengambilnya, maka ketika api yang membakar emas dimatikan, kotoran-kotoran itu akan kembali menempel pada emas, emas tetap mengalami proses pemurnian tetapi kadar kemurniannya tidak naik.

“Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan."
(Yesaya 48:10)

Allah memakai istilah “dapur kesengsaraan” untuk menggambarkan proses membersihkan tabiat dosa yang masih ada dalam kehidupan orang percaya yang menghambat kemuliaan Kristus terpancar dalam hidup mereka. Ketika Allah mendatangkan “proses” yang “membakar” kehidupan orang percaya, seperti yang terjadi dalam proses pemurnian emas, maka tabiat-tabiat dosa manusia (kotoran-kotoran yang menempel) mulai terangkat ke atas atau terlihat.

Tetapi jika orang percaya meresponi “proses” itu secara positif dengan memikul salibnya, maka Allah sebagai pemurni emas dapat mengambil "kotoran-kotoran" tersebut, sehingga ketika proses "dapur kesengsaraan" selesai, kadar kemurnian emas atau kadar kekudusan orang percaya naik, orang percaya menghasilkan buah Roh sehingga memancarkan kemuliaan Kristus yang semakin hari semakin besar.

Tantangan dalam The Year of a New Dimension

Tidak ada seorangpun yang ingin mengalami “dapur kesengsaraan” dalam hidupnya. Secara alami manusia cenderung menghindari proses itu, tetapi ingat firman Tuhan berkata:

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak:
"Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan,
dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.
Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak.
Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.
Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?
Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya."
(Ibrani 12:5-10)

Proses “dapur kesengsaraan” yang diizinkan Allah justru merupakan tanda bahwa orang percaya dikasihi oleh Allah sehingga mereka dididik dan dibersihkan, karena tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Allah. Demikian juga seorang anak yang sudah berhasil lulus mengikuti ujian tingkat Sekolah Dasar, maka dia akan naik ke jenjang yang lebih tinggi, di mana ia akan menghadapi ujian yang lebih berat lagi.

Orang percaya yang meresponi positif setiap “proses” yang datang dalam hidupnya dengan memikul salibnya, maka Allah akan mendatangkan “dapur kesengsaraan” yang akan semakin “panas” dari hari ke hari agar orang percaya semakin banyak menghasilkan buah Roh sehingga Kemuliaan Kristus semakin terpancar dalam kehidupan orang percaya dengan dimensi yang semakin besar.

Tetapi tidak semua orang percaya akan memberikan respon yang positif pada setiap “proses” yang datang dalam hidupnya, adakalanya orang percaya mengalami kegagalan dalam memikul salib sehingga mereka mengalami “proses” tetapi tidak menghasilkan buah Roh. Hal ini membuat Allah harus mengulangi proses pemurnian tersebut. Ingatlah apa yang firman Tuhan katakan:

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku."
(Yohanes 15:4)

Orang percaya akan menghasilkan buah Roh asalkan memiliki persekutuan intim dengan Tuhan. Agar kita dapat bersekutu dengan Tuhan tentunya memerlukan waktu dan pengorbanan, dan hal ini yang banyak dilalaikan oleh orang percaya, akibatnya orang percaya seringkali gagal memikul salib ketika “proses” datang dalam hidup mereka. Tuhan bertujuan agar setiap orang percaya memancarkan kemuliaan Kristus dalam dimensi yang semakin besar dari hari ke hari sehingga berkat jasmani akan dialami oleh orang percaya dalam dimensi yang besar juga, hingga akhirnya membuat nama Tuhan dimuliakan. (JM)

“Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."
(Yohanes 15:8)

Sumber

  • Junus MulyanaPdm Junus Mulyana, MTh (14 Juni 2020). "Renungan Khusus". Warta Jemaat. GBI Jalan Gatot Subroto. Diakses pada 04 November 2020.