Pentakosta Ketiga: Persiapan menyambut penuaian yang terakhir

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 7 Maret 2021 18.42 oleh Leo (bicara | kontrib) (upd)
Lompat ke: navigasi, cari

Di tengah keadaan dunia saat ini, perang yang bergejolak di beberapa belahan dunia, wabah penyakit yang menggentarkan banyak penduduk bumi, kemerosotan moral yang nyaris tidak terbendung, dan masih banyak lagi fenomena-fenomena buruk yang terjadi di sekeliling kita, maka sebagai orang percaya kita sadar bahwa apa yang kita dapatkan dari Tuhan, apa yang selalu kita doakan yakni PENTAKOSTA KETIGA adalah satu-satunya JAWABAN dari semua persoalan di atas. Kita perlu kuasa dan lawatan Tuhan untuk menghadapi dan mengatasi semua hal tersebut.

Adalah tanggung jawab Gereja; baik secara institusi dan pribadi-pribadi orang percaya untuk mempersiapkan diri kita agar kita mengalami semua itu. Kita harus menyelaraskan diri kita dengan kehendak Tuhan di akhir zaman ini supaya penuaian yang terbesar dan terakhir itu sungguh-sungguh terjadi.

Kita harus menyadari bahwa sebuah Revival tidaklah terjadi dengan sendirinya. Sejarah mencatat bahwa setiap kali Tuhan akan mencurahkan Kebangunan Rohani atas suatu bangsa atau dalam satu lingkup yang lebih luas, hal pertama yang Dia cari adalah orang-orang yang akan dipakai oleh-Nya untuk menjadi pembawa Api Penuaian, Api Revival itu.

Kisah Para Rasul 1 dapat menjadi tolak ukur dan pembelajaran yang sangat penting kalau kita ingin menyongsong datangnya penuaian yang terbesar itu.

#1 Pola pikir yang selaras dengan prinsip-prinsip Kerajaan

Dibutuhkan para pemimpin yang Rasuli untuk dapat mengubah pola pikir jemaat. Dibutuhkan pengajaran-pengajaran yang kuat untuk merubah pola pikir dan paradigma yang salah di dalam jemaat menjalani kehidupan mereka sehari-hari.

Jemaat harus mulai bisa menghidupi prinsip-prinsip kebenaran, prinsip-prinsip kerajaan sorga; dalam menjalani hidupnya. Ada begitu banyak pergumulan dan masalah yang selama ini membelenggu hidup mereka akan segera dapat terselesaikan ketika mereka hidup dalam kebenaran Firman Tuhan. Selama ini, ada begitu banyak energi yang dihamburkan ‘dengan percuma’ hanya untuk membenahi ‘efek-efek kesalahan’ yang dilakukan oleh jemaat itu sendiri.

Seandainya jemaat mulai hidup berdasarkan prinsip-prinsip Kerajaan, otomatis tidak ada lagi celah yang akan dapat dimanfaatkan oleh musuh untuk menyerang hidup mereka. Sekalipun menghadapi suatu pergumulan tertentu, mereka memiliki posisi rohani yang memampukan mereka untuk menang dalam menghadapinya.

Dengan paradigma yang baru di mana jemaat hidup dalam prinsip kerajaan, maka yang ada dalam pikiran dan hati jemaat adalah perkara yang sama seperti yang ada dalam pikiran dan hati Tuhan. (Kisah Para Rasul 1:3)

#2 Hidup dalam destiny Ilahi yang telah Tuhan berikan

Apa yang Tuhan akan lakukan atas satu komunitas atau satu bangsa, akan selalu Ia lakukan melalui Gereja-Nya. Kalau tidak ada Gereja yang bisa menangkap isi hati Tuhan pada zaman ini, tidak ada yang akan terjadi. Sejujurnya tanpa kehadiran sebuah Gereja yang Apostolik dan Profetik, tidak akan pernah terjadi perubahan apapun di daerah tersebut. Dengan bangkitnya para pemimpin yang Apostolik atas suatu daerah, maka secara otomatis Gereja yang bergerak secara apostolik pun akan mulai bangkit dan bergerak. Kita harus menemukan Gereja seperti itu dan terhisap di dalamnya. Saat kita melakukannya maka kita akan mulai menemukan panggilan dan destiny ilahi yang Tuhan sudah siapkan bagi setiap umat-Nya.

Bagi seorang pemimpin yang Rasuli (Apostolic Leadership), pelayanan bukanlah hanya suatu aktivitas rohani yang dilakukan oleh jemaatnya di dalam gedung gereja. Pelayanan adalah suatu aktivitas yang kita lakukan bagi sang Raja yang dimotivasi oleh suatu beban Ilahi yang Ia taruh dalam hati kita sementara kita berada di dalam hadirat-Nya. Aktivitas apapun yang kita lakukan karena beban Ilahi – suatu aktivitas rohani ataupun aktivitas yang didasarkan atas disiplin ilmu yang pernah kita pelajari – dan menghasilkan dampak yang nyata di tengah sebuah komunitas, itu adalah sebuah pelayanan.

Akibatnya, sebagai jemaat, kita akan mengaktifkan setiap potensi Ilahi yang sudah Tuhan taruh dalam hidup kita agar betul-betul dapat dimanfaatkan untuk mempengaruhi dan mengubah komunitas di mana kita berada. (Kisah Para Rasul 1:4, bnd. Kisah 1:6-7)

#3 Hidup dalam Kingdom lifestyle

Gaya hidup doa, pujian dan penyembahan adalah sebuah keharusan. Kegiatan ini bukanlah sekedar ritual agamawi, melainkan ekspresi yang lahir dari kehausan akan hadirat-Nya dan pengurapan-Nya.

Untuk mengubah kehidupan seseorang, dibutuhkan seseorang yang hidupnya sudah berubah. Ketika kita terus menghidupi kebenaran-kebenaran seperti yang diteladankan para Rasul (kebenaran Rasuli), maka kehidupan sehari-hari kitapun akan menimbulkan dampak yang sangat kuat di tengah-tengah masyarakat. Hidup kita yang berubah menjadi seperti ‘benih Ilahi yang siap ditaburkan dan menghasilkan buah yang lebat’ di tengah komunitas di mana kita berada. Hidup kita menjadi sebuah ‘garam dan terang’ – menyatakan pengaruh Ilahi yang kuat untuk memberi perubahan (Matius 13:38).

#4 Memfokuskan diri pada kehidupan di masa depan

Hari itu Petrus berdiri sebagai pemimpin dan mengambil sikap untuk satu keputusan yang penting. Dia melakukannya dengan wibawa dan pengurapan ilahi. Apa pelajaran yang penting di sini?

Tidak ada seorangpun yang memiliki ‘kehidupan yang mulus’, sebab tidak ada yang sempurna. Pada setiap kehidupan akan selalu ada ‘cacat, noda dan masa lalu yang ingin dilupakan’. Setan akan selalu berusaha untuk membuat kita memfokuskan diri pada ‘masa lalu yang ingin kita lupakan’ itu dengan tujuan agar setiap kali kita ingin bangkit dalam kuasa Roh, kita akan selalu terbentur oleh banyaknya ‘cacat dan kelemahan manusiawi’ yang kita miliki. Karena itu kita harus hidup di atas dasar kebenaran-Nya, bukan kebenaran kita sendiri. Saat kita menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, Ia menyatakan bahwa kita adalah ciptaan yang baru di dalam Dia. (2 Korintus 5:17; Roma 8:1)

Memang dahulu kita adalah manusia yang rusak dan berdosa, tidak perlu ditutup-tutupi, itulah realita yang memang kita miliki. Tetapi sejak kita mengalami pengalaman kelahiran baru, kita adalah manusia yang baru di dalam Dia; kita merasakannya ataupun tidak, percaya ataupun tidak, itulah sebuah fakta kebenaran. Dengan kita menerima dan mempercayai fakta kebenaran ini, kita akan memiliki cukup rasa percaya diri untuk terus melangkah dan menyongsong masa depan yang sudah Tuhan sediakan bagi kita.

Kebenaran ini memiliki kuasa untuk memutuskan semua pengaruh masa lalu yang selama ini mengganggu hidup kita. Kebenaran itu membebaskan hidup kita yang sekarang dan sekaligus membangun masa depan yang lebih indah dari yang dapat kita perkirakan secara manusiawi.

Saat Gereja bangkit dalam kuasa Roh Kudus untuk mematahkan belenggu masa lalu ini maka Gereja akan sanggup mengalirkan aliran kehidupan Roh tanpa ada yang dapat menghalangi lagi. Revival sudah di depan mata…. Sampai sejauh ini, sudah seberapa jauhkah kita mempersiapkan diri untuk menyongsong revival yang selama ini kita rindukan? Amin. (MK)

Sumber

  • Micky KambeyPdm Micky Kambey, MA (23 Februari 2020). "Renungan Khusus". Warta Jemaat. GBI Jalan Gatot Subroto. Diakses pada 04 November 2020.

    Di tengah keadaan dunia saat ini, perang yang bergejolak di beberapa belahan dunia, wabah penyakit yang menggentarkan banyak penduduk bumi, kemerosotan moral yang nyaris tidak terbendung, dan masih banyak lagi fenomena-fenomena buruk yang terjadi di sekeliling kita, maka sebagai orang percaya kita sadar bahwa apa yang kita dapatkan dari Tuhan, apa yang selalu kita doakan yakni PENTAKOSTA KETIGA adalah satu-satunya JAWABAN dari semua persoalan di atas.