Karakter yang dewasa (Pdt Drs Timotius Adi Tan, MA)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 27 Oktober 2026 10.36 oleh Leo (bicara | kontrib) (Leo memindahkan halaman Khotbah:20261025-0930 ke Khotbah:20261025-0730)
Lompat ke: navigasi, cari

Dunia hari-hari ini membutuhkan display karakter yang dewasa seperti Kristus. Karakter itu kelihatan melalui: perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Dan perubahan karakter terjadi melalui Roh Kudus, role model, dan repetisi. Hanya Yesus yang menjadi role model kita.

Apa kabar Bapak, Ibu, teman-teman? Luar biasa! Setahun tidak berjumpa, wajah-wajahnya ceria, sukacita. Ada dua khotbah yang Tuhan taruh dalam hati saya. Yang kedua nanti, tentang mujizat lima roti dan dua ekor ikan. Khotbah yang pertama dalam ibadah sekarang adalah Karakter Dewasa.

Bapak, Ibu, teman-teman, 15 tahun yang lalu saya diutus oleh perusahaan untuk mengikuti satu training tiga hari dua malam di Puncak. Selama tiga hari dua malam saya begitu terpesona dan takjub kepada materi yang disampaikan.

Karena saya bergerak di dunia HR dan human consultant, sekaligus melayani Tuhan, setiap pengajaran yang saya terima selalu saya sandingkan dengan kebenaran Firman. Saya bertanya, “Ini dasar ayatnya di mana?”

Tiga tingkat kedewasaan karakter

Intinya bicara tentang tiga tingkat kedewasaan karakter. Saya cari ayatnya, bertanya kepada dosen, rektor, pengkhotbah-pengkhotbah, tetapi belum menemukan yang membahas tiga hal ini. Sampai bulan kemarin saya menemukannya dalam 1 Yohanes 2:12-14,}}

Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya.
Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, sebab kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya.
Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, sebab kamu telah mengalahkan yang jahat. (1 Yohanes 2:12-14)

Dari ayat ini saya melihat tiga tingkat kedewasaan. Menjadi tua adalah otomatis, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan!

=== #1 Kanak-kanak — dependent ===

Tingkat pertama adalah kanak-kanak. Kata kuncinya: dependent, bergantung kepada orang lain.

“Kamu tolong saya.”
“Kamu perhatikan saya.”
“Kamu layani saya.”
“Kamu khotbahin saya.”

Tipe kanak-kanak adalah tipe yang tidak bisa mandiri, bergantung terus kepada orang lain.

Kanak-kanak juga ciri khasnya tidak bisa makan sendiri. Padahal dalam hidup ini, yang disebut makan enak itu dikunyah. Firman Tuhan juga bukan hanya didengar dari khotbah orang lain, tetapi dikunyah, direnungkan, diresapi, dihayati, dilakukan, dan menjadi gaya hidup kita untuk menjadi pemenang, bahkan lebih daripada pemenang.

Berapa banyak Saudara yang suka merenungkan Firman, mengunyah sendiri? Amin!

=== #2 Orang muda — independent ===

Tipe kedua adalah tipe orang muda, yaitu independent, mandiri, berdiri di atas kaki sendiri.

“Saya paling hebat.”
“Saya yang berkuasa.”
“Saya yang mengatur semua.”
“Saya yang paling ganteng.”
“Saya yang paling berjasa di rumah ini, di gereja ini, di negara ini.”

Apa akibatnya? Akan banyak orang terluka. Mungkin dia sukses. Mungkin dia menjadi bos. Tetapi kalau semuanya berpusat pada “saya”, orang-orang di sekitarnya bisa terluka.

#3 Dewasa — interdependent

Tipe yang ketiga adalah tipe yang dewasa. Namanya interdependent. Kata kuncinya adalah: kita.

“Saya enggak bisa apa-apa tanpa kamu.”

Tidak ada yang namanya Superman. Yang ada adalah super team.

Orang dewasa bisa memahami orang lain. Orang dewasa bisa network dengan siapa pun juga. Orang dewasa adalah orang yang matang di dalam pikirannya, di dalam perasaannya, dan di dalam tingkah lakunya.

Alkitab mengatakan tujuan Kekristenan yang terakhir, puncaknya, bukan menjadi terkenal, bukan menjadi hebat, bukan menjadi kaya. Tujuan puncak tertinggi adalah menjadi serupa dalam karakter seperti Yesus Kristus, Tuhan.

Jadi apa yang dibutuhkan generasi hari-hari ini? Karakter yang dewasa.

Karakter dewasa tidak ada hubungannya dengan usia. Karakter dewasa tidak ada hubungannya dengan gelar kita. Profesor, doktor—tidak menentukan. Karakter dewasa tidak ada hubungannya dengan jabatan kependetaan, menjadi anggota DPR, menteri, ataupun presiden sekalipun.

Kedewasaan bicara tentang kematangan karena merenungkan Firman dan penerimaan akan tanggung jawab di dalam setiap tingkah laku kehidupan.

Yang dibutuhkan dunia hari ini adalah display karakter yang dewasa seperti Kristus.

Kenapa gereja pecah?
Kenapa keluarga pecah?
Kenapa negara enggak bisa maju?

Kembali kepada karakter yang dewasa.

Lima ciri karakter yang dewasa

Sekarang kita lihat satu contoh di Alkitab. 1 Timotius 4:12,}}

Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

Lima hal ini berbicara tentang karakter.

Kalau kita memilih pasangan hidup, lihat lima hal ini. Kalau memilih calon menantu, karyawan, staf, calon GM, wakil gembala, pejabat, lihat lima hal ini.

#1 Perkataan

Karakter seseorang akan kelihatan pada saat dia berkata-kata.

Firman Tuhan mengatakan hidup dan mati dikuasai oleh lidah. Kalau Saudara berbincang-bincang dengan seseorang satu atau dua jam, kita bisa mulai menangkap karakter orang tersebut dari perkataannya.

Apakah hidupnya benar?
Apakah dia suka menipu?
Apakah kata-katanya selalu menyalahkan, ngomel, mengkritik, bersungut-sungut, bergosip, atau menyerang orang lain?

Ada orang kalau bicara kepada suami atau istri, kata-katanya sangat menyakitkan:

“Saya nyesal kawin sama kamu.”
“Kamu dapat saya anugerah, saya dapat kamu musibah.”
“Tahu begitu saya kawinnya sama yang lain.”

Jangan begitu.

Karakter yang dewasa justru support. We support you. Selalu menguatkan dan meneguhkan.

Misalnya seorang suami berkata, “Papa merasa enggak berdaya dalam situasi begini. Penghasilan begini.” Istrinya berkata, “Enggak apa-apa, Pa. Walaupun kita sedang kekurangan, saya tetap ada di samping Papa. Walaupun kita sedang di bawah, walaupun bangkrut, saya percaya Tuhan ada. Tuhan ajaib. Tuhan akan menolong kita.”

Support!

Bukan hanya ngomong, tetapi juga involve. Dia bergerak, dia bantu, ringan tangan, ringan kaki. Dan dia memuji, menguatkan anaknya:

“Nak, walaupun orang lain bilang kamu tidak bagus, Papa yakin, Mama yakin, kamu adalah imamat yang rajani, bangsa yang terpilih, umat kepunyaan Allah. Papa dan Mama yakin kamu akan menjadi manusia yang dipakai Tuhan. Masa depanmu, masa mudamu akan luar biasa.”

Itulah perkataan yang membangun.

Kenapa ada orang yang perkataannya negatif? Karena hatinya terluka.

Jadi solusinya adalah:

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Kalau ada luka, kekecewaan, atau luka batin, lepaskan pengampunan seperti Kristus juga telah mengampuni dan menerima kita apa adanya.

Demikian juga kita harus menerima orang lain apa adanya.

Hanya orang dewasalah yang bisa menerima perbedaan-perbedaan dengan orang lain.

#2 Tingkah laku

Karakter seseorang akan kelihatan dalam tingkah lakunya.

Pada waktu dia ibadah, sedang senang, badannya sehat, semuanya happy, semua kelihatan baik.

Tetapi karakter kelihatan pada waktu ditekan, pada waktu di-bully, pada waktu ditipu, tertindas, pada waktu susah. Karakter orang akan kelihatan pada saat tekanan datang. Kanak-kanak dan orang muda pada waktu ditekan akan cenderung reaktif.

Apa itu reaktif?

Membiarkan pengaruh-pengaruh dari luar mengendalikan hidup mereka.

Kalau situasi ekonomi sedang sulit, orang yang karakternya belum dewasa akan menyalahkan Indonesia, menyalahkan situasi, menyalahkan kondisi, menyalahkan semua orang, dan ujung-ujungnya banyak cari alasan.

Memang keadaan bisa sedang sulit. Memang banyak PHK. Memang penghasilan keluarga mulai berkurang. Tetapi orang yang karakternya dewasa akan proaktif. Respons mereka didasarkan atas pilihan yang bertanggung jawab dan dilandasi prinsip-prinsip kebenaran.

“Memang kita sedang susah, tapi solusinya bagaimana?”
“Memang banyak PHK, tapi jalan keluarnya bagaimana?”
“Memang penghasilan keluarga mulai berkurang, tapi apa yang bisa kita lakukan?”

Orang proaktif mencari jalan keluar dan memengaruhi keadaan. Dia berkata:

Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. (Mazmur 121:1-2)

Situasi boleh goncang, tetapi orang yang dewasa akan selalu mencari solusi. Pasti ada jalan keluar. Di dalam Yesus pasti ada jalan keluar.

#3 Kasih

Karakter seseorang akan kelihatan di dalam kasihnya. Kelihatan dari bagaimana dia memperlakukan mama dan papa. Apakah dia datang kepada mama-papanya yang sedang tidak punya penghasilan, yang sedang sakit, dan memperhatikan mereka?

Karakter seseorang kelihatan dari bagaimana dia memperlakukan orang yang ada di bawah kehidupannya.

Kita lihat kisah orang Samaria. Ada seseorang yang dirampok dan terluka. Ada orang-orang yang lewat, melihat, tetapi tidak menolong. Orang Samaria datang. Dia menolong, menaikkan orang itu ke atas tunggangannya, membawanya ke tempat penginapan, membayar kebutuhannya, dan berkata bahwa kalau masih ada kekurangan, dia akan kembali membayarnya.

Itulah karakter yang dibutuhkan dunia ini. Dunia membutuhkan di luar gereja demonstrasi kasih yang nyata. Kanak-kanak dan orang muda bisa melakukan segala sesuatu hanya untuk memuaskan diri sendiri, walaupun merugikan orang lain.

Firman Tuhan berkata:

Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. (Yakobus 3:16)

Tetapi orang dewasa melakukan segala sesuatu untuk kebaikan orang lain, walaupun harus mengorbankan diri sendiri.

Contohnya siapa? Yesus Kristus.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Itulah kasih yang terbesar: memberikan yang terbaik buat dunia ini.

KKR bisa gagal.
Seminar bisa gagal.
Training bisa gagal.
Konseling bisa gagal.
Tetapi: Kasih tidak akan pernah gagal.

Kasih diadu dengan dosa, kasih menang.
Kasih diadu dengan penipuan, penghinaan, kasih menang.
Kasih diadu dengan maut, kasih menang.

Esensi Kekristenan adalah iman, pengharapan, dan kasih. Dan yang terbesar adalah kasih!

Orang bertobat bukan hanya karena didebat. Mama saya bertobat bukan karena diinjili, tetapi karena melihat anak-anaknya berubah penuh kasih. Dari satu orang bertobat, sekarang puluhan anggota keluarga mengalami kelahiran baru.

Apa kuncinya? Kasih tidak akan pernah gagal.

Apa yang dunia butuhkan? Kasih!

#4 Kesetiaan

Karakter seseorang akan terlihat di dalam kesetiaan.

Kesetiaan terlihat pada saat situasi dan keadaan tidak baik, tidak ada yang melihat, tidak ada yang memuji, tetapi dia tetap melakukan dengan tekun seperti kepada Tuhan, bukan kepada manusia. Ini karakter yang dewasa.

#5 Kesucian

Karakter seseorang yang terakhir akan kelihatan di dalam kesucian.

Kesucian dalam ayat ini bukan bicara tentang seseorang tidak pernah berbuat dosa, tetapi hatinya tulus, hatinya murni, hatinya lembut, hatinya rendah hati.

Ditegur, dia menerima.
Dikasih nasihat, dia menerima.
Firman Tuhan berbicara, dia mengaku bersalah.

Keterbukaan adalah awal dari pemulihan.

Orang seperti ini punya hati yang tulus. Jadi walaupun orang tidak menghargai, walaupun tidak dipakai di gereja, nothing to lose. Tetap tulus.

Kenapa? Karena dia melayani dengan tulus. Walaupun orang tidak menghargai, enggak apa-apa. Yang penting kita mengasihi Kristus dan sesama.

Bagaimana karakter berubah?

Lima karakter ini sangat penting dan bisa dipakai dalam semua aspek kehidupan. Tetapi ada berita yang enggak bagus:

Karakter tidak bisa hanya dikhotbahkan.
Karakter tidak bisa hanya diajarkan.
Karakter tidak bisa hanya diseminarkan.

Karakter tidak akan berubah hanya karena sesuatu dari luar.

Tetapi ada berita baiknya. Saya sodorkan tiga R:

#1 Roh Kudus

Hanya Roh Kuduslah yang bisa mengubah karakter seseorang menjadi lebih berkenan kepada Tuhan.

Siapa yang membuat manusia? Tuhan.
Siapa yang bisa mengubah manusia? Hanya Tuhan.

Hanya Tuhan melalui Roh Kudus!

#2 Role model

Di dalam keluarga, gereja, kantor, masyarakat, bahkan pemimpin-pemimpin harus menjadi role model. Terutama mama, papa, oma, opa. Tidak cukup hanya khotbah dan seminar. Kehidupan kita harus menjadi cermin, menjadi display.

Anak-cucunya bisa berkata, “Oh, Mama sangat taat kepada Tuhan.”
“Papa takut akan Tuhan.”
“Opa tetap bekerja keras walaupun sudah berumur.”

Role model.

Kehidupan yang dilihat orang lain.

________________________________________

#3 Repetisi

Diulang-ulang seumur hidup. Perkataan yang dulu kasar mulai dilatih berubah sedikit demi sedikit, satu persen demi satu persen. Terus seumur hidup.

Termasuk lima hal tadi:

Perkataan.
Tingkah laku.
Kasih.
Kesetiaan.
Kesucian.

Dilatih dengan repetisi. Diulang terus-menerus sampai menjadi gaya hidup.

Penutup

Menjadi tua adalah otomatis, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.

Tujuan puncak kehidupan Kekristenan bukan menjadi terkenal, bukan menjadi hebat, bukan menjadi kaya, tetapi menjadi serupa dalam karakter seperti Yesus Kristus.

Dunia hari-hari ini membutuhkan display karakter yang dewasa seperti Kristus.

Karakter itu kelihatan melalui:

perkataan,
tingkah laku,
kasih,
kesetiaan,
dan kesucian.

Dan perubahan karakter terjadi melalui Roh Kudus, role model, dan repetisi. Hanya Yesus yang menjadi role model kita.

Tuhan Yesus memberkati.