Prayer and fasting (Pdt Sutadi Rusli)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 15 Oktober 2026 20.39 oleh Leo (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi '{{unified info | templatetype=khotbah | namespace= Khotbah | pagename= 20260913-0930/SR | toptitle= | title= ''Prayer and fasting'' | name= Sutadi Rusli | completename= Pdt Sutadi Rusli | type= pesangembala | event= Ibadah Raya | date= 2026-09-13 | location= Grha Amal Kasih | church= GBI Danau Bogor Raya | city= Bogor | illustration16x9= Sutadi Rusli-20260913.webp | illustrationA5= | illustration1x1= Sutadi Rusli-20260913-1x1.webp | video1service= youtube | vide...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Cras facilisis neque ligula, at elementum velit viverra eu.

Shalom dan selamat pagi. Semua diberkati oleh Tuhan? Semua sehat-sehat? Semua sukacita di dalam Tuhan? Amin!

Apa tema yang akan saya sampaikan kepada Saudara hari ini? Prayer and fasting. Doa dan puasa.

Doa dan puasa ini menjadi satu kekuatan yang powerful, satu kesatuan yang tidak boleh dihilangkan begitu saja. Waktu kita berdoa disertai dengan puasa, akan terjadi terobosan-terobosan yang luar biasa.

Saya mau buka dengan satu cerita dari Matius 17. Kalau Saudara baca dari ayat 14, ada seorang anak yang dibawa oleh bapaknya kepada Tuhan Yesus. Pada waktu dia dibawa papanya, bapaknya menyembah dan berkata, “Tuhan, anakku ini sakit ayan.”

Anak ini mengalami penderitaan yang luar biasa. Kadang-kadang dia jatuh ke dalam api, kadang-kadang ke dalam air. Ada satu penderitaan yang begitu besar yang dialami anak ini, dan bapaknya minta tolong kepada Tuhan Yesus supaya dia boleh disembuhkan. Dia berkata kepada Yesus, “Aku sudah bawa kepada murid-murid-Mu, tetapi ternyata enggak bisa sembuh. Ternyata enggak ada perubahan apa-apa.”

Lalu Tuhan menghardik roh yang mengikat anak itu, dan anak itu sembuh. Kemudian Tuhan berkata:

“Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.” (Matius 17:21)

Saya mau kasih gambaran kepada Saudara bagaimana ini adalah satu penderitaan yang luar biasa beratnya yang dialami oleh papanya maupun juga oleh anak ini.

Mungkin hari-hari ini kita berada dalam penderitaan, dalam satu kondisi yang enggak baik-baik. Rasanya berat banget. Rasanya mengalami tekanan-tekanan, intimidasi, persoalan-persoalan yang begitu berat.

Ada yang punya persoalan? Ada yang punya masalah? Kita semua pasti punya masalah.

Ini gambaran masalah yang dihadapi oleh papa dan anaknya dalam satu penderitaan yang begitu besar. Mereka sudah datang kepada murid-murid Yesus, tetapi ternyata enggak bisa disembuhkan. Kemudian Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Karena kamu kurang percaya.”

Lalu kembali dikatakan:

“Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.” (Matius 17:21)

Doa dan puasa. Ayo katakan sama-sama: doa dan puasa. Kita memang hebat berdoa, tapi ada yang kekurangan, yaitu berpuasa.

Mulai hari Sabtu kemarin kita ajak semua, terutama pelayan jemaat, selama satu minggu sampai tanggal 19 September untuk ada dalam doa dan puasa, prayer and fasting, di tempat ini jam 10.00 sampai 11.30.

Kita mau ajak semua jemaat. Ayo kita mulai masuk di dalam sesuatu yang Saudara harus lakukan. Di tengah-tengah goncangan, di tengah masalah yang begitu berat, kita perlu menghadapinya dengan doa dan puasa.

Doa yang dijawab

Tetapi Elia naik ke puncak Gunung Karmel, lalu ia membungkuk ke tanah, dengan mukanya di antara kedua lututnya. Setelah itu ia berkata kepada bujangnya: “Naiklah ke atas, lihatlah ke arah laut.” Bujang itu naik ke atas, ia melihat dan berkata: “Tidak ada apa-apa.” Kata Elia: “Pergilah sekali lagi.” Demikianlah sampai tujuh kali. Pada ketujuh kalinya berkatalah bujang itu: “Wah, awan kecil sebesar telapak tangan timbul dari laut.” (1 Raja-raja 18:42-44)

Ini caranya doa Elia. Akhirnya dia bisa melihat awan sebesar telapak tangan, berbicara mengenai bantuan dan pertolongan yang sudah mulai nyata dalam kehidupannya. Kita juga waktu berdoa dengan sungguh-sungguh di dalam Tuhan, maka awan sebesar telapak tangan itu akan muncul dalam kehidupan kita.

Apa yang dilakukan oleh Elia menjadi gambaran buat kita semuanya tentang doa seperti apa yang harus kita lakukan.

Ada tiga hal:

  • Rendah hati
  • Dengan iman
  • Tetaplah berdoa

#1 Rendah hati

Elia membungkuk sampai kepalanya ada di antara kedua lututnya. Ini berbicara mengenai kerendahan hati. Orang yang rendah hati pasti dikasihi oleh Tuhan. Orang yang rendah hati siap untuk ditegur. Orang yang rendah hati mau mengampuni satu dengan yang lain.

Ini kuncinya: dimulai dari kerendahan hati. Orang yang rendah hati mau dikoreksi, mau diingatkan oleh Tuhan.

Kalau sekiranya kita mau berdoa dan Roh Kudus mengingatkan, “Eh, ada sesuatu dalam diri kamu, beresin dulu,” maka kita bikin beres dulu. Supaya apa? Supaya doa kita cespleng sampai ke atas.

Tapi kalau kita enggak bikin beres, dimulai dari hati kita, dari kerendahan hati ini, maka doa kita seperti tidak punya power.

Jadi mulai dari rendah hati. Saya berdoa supaya kita semua memiliki kerendahan hati dan doa kita dijawab oleh Tuhan.

#2 Berdoa dengan iman

Selain itu, Elia berdoa dengan iman. Firman Tuhan berkata:

Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. (Yakobus 5:16b)

Perhatikan: doa orang benar. Ada kata “benar”. Jadi ini mendukung untuk kita memiliki kerendahan hati. Doa orang benar artinya jangan pelihara dendam, marah, kesal, sakit hati, kecewa, iri hati.

Waktu kita berdoa dengan penuh percaya, Tuhan memberikan kita jalan keluar. Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya!

Ayo kita berdoa dengan iman.

#3 Tetaplah berdoa

Lalu apa lagi? Tetaplah berdoa.

Elia berdoa lalu menyuruh bujangnya, “Coba kamu lihat ke atas, ada tanda-tanda enggak?”
“Belum ada.”
Dia kembali berdoa.
“Coba lihat lagi.”

Sampai berapa kali? Sampai tujuh kali!
Artinya apa? Terus-menerus dia berdoa. Terus-menerus. Enggak putus asa. Tetap berdoa.

Mungkin doa kita belum dijawab Tuhan hari ini. Siapa tahu besok awan sebesar telapak tangan muncul dalam kehidupan kita. Mungkin hari-hari ini kita belum melihat semuanya, tetapi waktu kita tetap berdoa, apa yang kita gumulkan Tuhan berikan jalan keluar.

Ayo bilang kanan kiri: Tetap berdoa.

Kadang-kadang orang berkata, “Sudah capek. Rasanya sudah no hope, enggak ada lagi pengharapan. Sudah mau mundur, sudah mau putus asa, percuma.”

Saya pernah ketemu orang yang bilang sudah capek berdoa. Tahun-tahunan dia berdoa tapi kok enggak ada hasilnya. Tapi Tuhan tetap inginkan: Tetap berdoa. Tetap berdoa. Tetap berdoa!

Prayer and fasting

Jadi ada bagian pertama, yaitu doa. Tapi juga ada bagian kedua: prayer and fasting.

Tadi Matius 17:21 mengatakan bahwa ini tidak bisa hanya ditangani begitu saja, tetapi harus dengan doa dan puasa.

Ini gambaran bagaimana problem dan masalah yang kita hadapi bukan persoalan sederhana, tapi persoalan yang berat dan serius.

Bagaimana kita menghadapinya? Kita berdoa, tetapi juga disertai dengan puasa.

Mari kita lihat puasa.

Mengapa harus puasa?

#1 Mengalahkan kedagingan

Yang pertama: mengalahkan kedagingan. Masih ikut puasa? Amin.

Kita setiap hari Selasa dan hari Sabtu berpuasa. Saya dorong kepada kita semuanya, ayo ambil bagian untuk kita puasa.

Untuk apa? Mengalahkan kedagingan. Daging kita kalau dikasih terus, dikasih terus makanan, lama-lama melonjak.

Saya pernah ingat bagaimana seorang pemelihara anjing cerita, “Pak, saya punya anjing kalau mau bikin galak gampang. Tinggal saya kasih daging mentah setiap hari. Tambah lama tambah garang. Tambah lama tambah galak.” Karena apa? Dikasih makan daging terus.

Jadi kalau Saudara mau mengalahkan kedagingan Saudara, Saudara harus berpuasa. Berpuasa ini mematikan kehendak kita. Penguasaan diri. Kita mau makan ini, lalu ingat, “Ah, benar, saya puasa.” Mau makan itu, “Ah, benar, sedang puasa.”

Kita jaga penguasaan diri.

Saya dorong setiap Saudara, jalankan puasa. Seminggu dua kali, minimal seminggu sekali. Supaya Saudara bisa memunculkan salah satu daripada buah Roh, yaitu penguasaan diri dalam hidup kita.

Ini penting supaya kita jangan terus mengumbar hawa nafsu dan kedagingan kita. Biarkan kita matikan keinginan daging kita, matikan rasa untuk terus-menerus hidup di dalam kedagingan.

#2 Mendapatkan kepekaan supaya mengerti rencana Tuhan

Yang kedua: mendapatkan kepekaan supaya mengerti rencana Tuhan. Waktu kita puasa, kita bisa mendapat hikmat. Waktu kita doa dan puasa, kita bisa mendapat hikmat apa yang harus kita lakukan.

Mungkin hari-hari ini Saudara ada di persimpangan jalan. Enggak tahu mesti melakukan apa, enggak tahu mesti mengambil keputusan apa. Tuhan ingin kita masuk dalam doa dan puasa.

Maka kita akan melihat hikmat Tuhan ada dalam kehidupan kita.

Sampai dengan hari ini sudah lebih dari 20 tahun, sejak 2002, kita para pemimpin punya doa puasa setiap hari Selasa. Selain hari Sabtu kita berkumpul sama-sama dalam Menara Doa Pemimpin, kita memuji, menyembah Tuhan, dan berpuasa.

Di situ muncul tuntunan-tuntunan daripada Tuhan. “Apa yang kita mesti lakukan ke depan?” “Apa yang mesti kita pesankan kepada jemaat Tuhan?” “Apa tuntunan Tuhan supaya perjalanan gereja ini menjadi berkat buat jemaat Tuhan?”

Kita berdoa dan berpuasa. Itu sudah lebih dari 20 tahun. Sekarang 2026 berarti sudah sekitar 24 tahun.

Sepanjang kita bisa, kita terus ada di dalam Menara Doa Pemimpin. Di situ hikmat Tuhan diberikan kepada para pemimpin, diberikan kepada kita, sehingga kita tahu apa yang Tuhan inginkan dan apa yang harus kita lakukan.

#3 Doa membuka pintu, puasa mempertahankan pintu supaya tetap terbuka

Yang ketiga: Doa membuka pintu, puasa mempertahankan pintu supaya tetap terbuka.

Saya mau jelasin. Waktu Saudara berdoa, pintu dibuka. Waktu kita berdoa, pintu dibuka, tetapi bisa saja dia tutup lagi kembali. Kalau kita berdoa disertai dengan puasa, pintu itu dibuka dan dengan puasa pintu itu tetap terbuka.

Waktu kita berdoa, pintu pertolongan dibuka. Waktu kita berdoa disertai dengan puasa, pintu pertolongan Tuhan dibuka dan tetap terbuka buat kita semuanya.

Ini pentingnya kita puasa, supaya pintu itu bukan hanya sekadar terbuka lalu tutup kembali, tetapi terus terbuka dan pertolongan Tuhan serta berkat Tuhan terus boleh berlimpah-limpah dalam setiap kehidupan kita.

Amin.

Ayo mulai hari ini kita ambil bagian daripada yang harus kita lakukan: Berdoa dan puasa.

Berjaga-jagalah dan berdoa

Matius 26:41,

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.

Roh itu penurut, daging itu lemah. Waktu kita berdoa, roh kita diperkuat.

Kita kuat di dalam roh, tetapi daging kita lemah. Tuhan berkata, “Berjaga-jagalah supaya kita jangan jatuh dalam berbagai pencobaan.”

Waktu kita berdoa, roh kita dikuatkan oleh Tuhan. Tapi ternyata ada satu bagian dalam hidup kita yang masih lemah, yaitu daging kita. Bagaimana kita menghadapi daging kita? Kita mesti puasa. Amin!

Kita mesti puasa supaya kita jangan jatuh. Kalau kita hanya mengambil satu bagian, yaitu kita berdoa supaya roh kuat, bisa saja kita tetap jatuh dalam berbagai pencobaan.

Tapi di kala kita berdoa dan kita matikan kedagingan kita dengan berpuasa, maka kita akan tetap kuat di dalam Tuhan.

Pencobaan boleh datang, masalah boleh datang, segala pergumulan boleh datang, tapi Tuhan memberikan kepada kita jalan keluar di dalam Tuhan.

Penutup

Jadi kita mesti tangkap ini: Berdoa dan berpuasa. Ini satu paket. Kalau kita hanya berpuasa tanpa disertai dengan doa, itu sama juga orang diet, bikin kurus badan. Puasa tapi enggak ada doanya.

Tapi kalau kita hanya berdoa tanpa disertai puasa, power-nya kurang. Sehingga kita mesti satu paket, yaitu: Berdoa dan berpuasa. Katakan sama-sama: Berdoa dan puasa.

Tuhan memberkati kita semuanya. Amin.

Video