Khotbah:20260831-0930
| Ringkasan Khotbah | |
|---|---|
| Ibadah | Ibadah Raya |
| Tanggal | Minggu, 30 Agustus 2026 |
| Gereja | GBI Danau Bogor Raya |
| Lokasi | Grha Amal Kasih |
| Kota | Bogor |
| Video | YouTube |
| Khotbah lainnya | |
| |
| |
Ketika menghadapi persoalan yang begitu besar sampai kita berkata, “I don’t know what to do,” kisah Yosafat mengajarkan kita untuk mengakui keterbatasan, mencari Tuhan sebelum mencari solusi, dan mengingat kembali siapa Tuhan serta pertolongan-Nya di masa lalu. Sekalipun kita tidak selalu memahami cara Tuhan bekerja, kita dipanggil untuk tetap mendengar dan menaati Firman-Nya, sambil mengarahkan mata kepada-Nya bersama keluarga dan komunitas iman. Di tengah keadaan yang belum berubah, pujian dan ucapan syukur menjadi pernyataan iman bahwa masalah kita memang besar, tetapi Tuhan tetap lebih besar, baik, setia, dan layak dipercaya.
Silakan duduk, Bapak, Ibu, Saudara. Senang sekali saya boleh beribadah dan melayani Tuhan di tempat ini.
Hari ini saya ingin menyampaikan sebuah tema yang bukan muncul ketika saya sedang melamun atau bengong. Tema ini berasal dari sebuah peristiwa di dalam Alkitab, dari tuntunan Roh Kudus, dan saya akui juga sangat berkaitan dengan pengalaman pribadi saya.
Temanya adalah:
What to Do When We Don’t Know What to Do
Apa yang harus kita lakukan di saat kita tidak tahu lagi harus berbuat apa'
Kalimat “I don’t know what to do” yang saya maksud bukan karena kita malas atau tidak mau berpikir, melainkan karena kita sedang menghadapi sesuatu yang begitu besar. Ada tantangan, masalah, kebutuhan, atau keadaan yang menghadang sampai kita akhirnya berkata, “Tuhan, saya sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi.”
Kalau hari-hari ini ada Bapak, Ibu, Saudara yang sedang mengalami keadaan seperti itu, saya percaya Saudara hadir di tempat yang tepat. Tuhan memberikan jawaban melalui Firman-Nya.
Dasar pembacaan kita terdapat dalam 2 Tawarikh 20:1-30. Saya mendorong Bapak, Ibu, Saudara untuk membaca seluruh bagian ini di rumah. Firman Tuhan menceritakan bahwa Raja Yosafat mendapatkan sebuah laporan:
- Datanglah orang memberitahukan Yosafat: “Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar,” yakni En-Gedi. (2 Tawarikh 20:2)
Yosafat adalah raja Yehuda yang tinggal di Yerusalem. Pada saat itu kehidupannya dan rakyatnya sedang berjalan sebagaimana biasanya. Namun tiba-tiba datang berita bahwa pasukan musuh yang sangat besar sedang bergerak menyerang mereka. Bahkan mereka sudah berada cukup dekat.
Saya membayangkan bagaimana perasaan Yosafat sebagai seorang raja, pemimpin bangsa, suami, dan ayah. Semuanya baik-baik saja, kemudian tiba-tiba datang sebuah berita yang seperti palu godam menghantam kehidupan.
Kadang-kadang hidup kita juga seperti itu. Semuanya terasa berjalan baik, everything just went well, lalu tiba-tiba datang masalah.
Dan dalam pengalaman saya, masalah kadang-kadang kalau datang seperti mengajak teman-temannya. Satu masalah belum selesai, datang masalah yang berikutnya. Seperti ombak di lautan: satu ombak menghantam, kita belum sempat berdiri tegak, datang ombak berikutnya.
Mungkin ada orang yang hari-hari ini merasakan masalahnya sudah seperti air yang hampir menenggelamkan kepala. Rasanya tinggal sedikit lagi dan kita sudah sulit bernapas.
Saya mempunyai seorang teman yang awalnya hanya batuk. Keluarga dan teman-temannya menyuruh dia memeriksakan diri, tetapi dia menganggap itu batuk biasa dan berharap akan sembuh sendiri. Namun setelah cukup lama batuk itu tidak juga sembuh. Dia mulai minum obat, kemudian pergi ke dokter, lalu menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Ditemukan cairan di paru-parunya dan dia harus menjalani tindakan di rumah sakit. Pemeriksaan selanjutnya akhirnya menunjukkan bahwa dia mengalami kanker. Tentu saja berita itu terasa seperti palu godam bagi dirinya, istri, anak-anak, dan seluruh keluarganya. Sebelumnya semuanya kelihatan baik-baik saja, kemudian tiba-tiba keadaan berubah.
Yosafat mengalami situasi yang mirip. Dan akhirnya dia berdoa:
- Ya Allah kami, tidakkah Engkau akan menghukum mereka? Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu. (2 Tawarikh 20:12)
Perhatikan kalimatnya:
“Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan.”
Dalam berbagai terjemahan bahasa Inggris dituliskan:
“We do not know what to do.”
Kadang-kadang dalam perjalanan hidup, kita memang sampai kepada sebuah titik ketika dengan jujur kita berkata, “Tuhan, saya sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.”
Mungkin kebutuhan begitu besar sementara penghasilan tidak menentu. Mungkin kondisi ekonomi, politik, atau keadaan dunia membuat kita khawatir. Mungkin ada masalah dalam hubungan suami istri, orang tua dengan anak, rekan kerja, bisnis, pelayanan, atau kesehatan.
Hari ini Tuhan memberikan beberapa prinsip melalui pengalaman Yosafat.
#1 Acknowledge our limitations
Akui keterbatasan kita.
Yosafat berkata:
- Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini… Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan. (2 Tawarikh 20:12)
Hal pertama yang harus kita lakukan ketika tidak tahu harus berbuat apa adalah mengakui keterbatasan kita di hadapan Tuhan.
Kita datang dan berkata dengan jujur:
“Tuhan, saya tidak mampu.”
“Tuhan, saya tidak tahu jawabannya.”
“Tuhan, kekuatan saya terbatas.”
Mengapa ini penting?
- Yang pertama, ketika kita mengakui kelemahan, kita sedang merendahkan diri di hadapan Tuhan. Lawan dari kerendahan hati adalah kesombongan. Kita tidak mempunyai alasan untuk menyombongkan diri karena kehidupan, kemampuan, kesempatan, dan segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Tuhan.
Ketika kita datang kepada-Nya dengan kerendahan hati, kita mengakui bahwa sumber kekuatan kita bukan diri sendiri.
- Yang kedua, Tuhan menghendaki kita datang dengan kesadaran bahwa kita membutuhkan Dia. Tuhan memang memberikan manusia kehendak dan tanggung jawab untuk mengambil keputusan, tetapi itu bukan berarti kita dipanggil menjalani hidup terlepas dari-Nya. Justru dalam keterbatasan kita belajar meminta pertolongan dan menyerahkan kendali kepada Tuhan.
Saya mempunyai dua anak perempuan yang sekarang sudah semakin dewasa. Anak pertama bahkan sudah tinggal sendiri. Sebagai seorang ayah, karena saya mengasihi dia, kadang-kadang saya ingin langsung turun tangan dan mengatur semuanya. Namun istri saya sering mengingatkan, “Dia sudah dewasa. Beri dia ruang untuk belajar mengambil keputusan.”
Tetapi ketika anak saya menghubungi saya dan berkata, “Dad, can I talk to you? I need your help,” sebagai ayah tentu saya ingin menolong dengan segenap kemampuan saya.
Ilustrasi itu mengingatkan saya pada hubungan kita dengan Tuhan. Jangan tunggu sampai kita sudah menabrak ke sana kemari dan babak belur baru berkata, “Tuhan, tolong saya.”
Belajarlah sejak awal berkata: “God, I need You.”
Setiap pagi doa saya sederhana: “Tuhan, kalau bukan Engkau yang memimpin, saya tidak mau berjalan sendiri.”
Dahulu ketika masih bujangan, salah mengambil keputusan mungkin hanya saya sendiri yang menanggung akibatnya. Sekarang ada istri, anak-anak, dan orang-orang yang Tuhan percayakan kepada saya. Karena itu saya semakin sadar betapa saya membutuhkan pimpinan Tuhan.
Poin pertama: God, I am nothing without You.
Tanpa pertolongan dan pimpinan Tuhan, kita tidak sanggup menjalani semuanya dengan kekuatan sendiri.
#2 Seek God first before seeking a solution
Cari Tuhan sebelum mencari solusi.
Sebagai manusia yang dapat berpikir, sangat wajar ketika menghadapi masalah kita langsung mencari jawaban. Kalau sakit, kita berpikir harus minum obat apa, pergi ke dokter mana, atau ke rumah sakit yang mana. Kalau ada persoalan bisnis, kita memikirkan siapa yang perlu ditemui dan langkah apa yang perlu diambil.
Semua itu wajar dan penting.
Namun Firman Tuhan mengingatkan sebuah urutan: Seek God first before seeking a solution. Cari Tuhan terlebih dahulu, kemudian mintalah hikmat untuk mengambil langkah yang benar.
Inilah yang dilakukan Yosafat.
- Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN. (2 Tawarikh 20:3-4)
Yosafat memang takut, tetapi ketakutannya tidak membuatnya menjauh dari Tuhan. Ketakutannya justru membawanya mencari Tuhan.
Kemudian dia berkata:
- Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu. (2 Tawarikh 20:12b)
Inilah sikap iman.
I may not know what to do, but I know who to look to.
Saya mungkin tidak tahu apa yang harus saya lakukan, tetapi saya tahu kepada siapa mata saya harus tertuju.
Ada satu bagian yang sangat indah:
- Sementara itu seluruh Yehuda berdiri di hadapan TUHAN, juga segenap keluarga mereka dengan isteri dan anak-anak mereka. (2 Tawarikh 20:13)
Mereka tidak datang sendirian. Seluruh keluarga berdiri bersama di hadapan Tuhan.
Di sini kita melihat pentingnya kesatuan di dalam keluarga. Ketika sebuah keluarga menghadapi persoalan, jangan selalu berjuang sendiri-sendiri. Suami dan istri dapat bergandengan tangan. Orang tua dan anak dapat bersama-sama datang ke hadapan Tuhan.
Bangunlah mezbah keluarga.
Ada kekuatan di dalam kesatuan ketika keluarga bersama-sama mencari Tuhan.
#3 Remember who God is and what He has done
Ingat siapa Allah dan apa yang telah dilakukan-Nya.
Poin berikutnya sangat penting, khususnya ketika masalah datang silih berganti. Harus diakui bahwa kadang-kadang iman kita dapat melemah. Ini bukan hanya dialami jemaat. Pelayan Tuhan dan pendeta pun dapat mengalaminya.
Ketika persoalan datang bertubi-tubi, iman yang tadinya terasa besar mulai mengecil. Kita mulai kehilangan keberanian dan bertanya, “Tuhan, bagaimana saya melewati semuanya ini?”
Yosafat mengajarkan kepada kita untuk kembali mengingat siapa Tuhan dan apa yang sudah Dia lakukan.
Dalam 2 Tawarikh 20:5-9, Yosafat mengingat kembali kebesaran Allah, kuasa-Nya, serta pertolongan yang sudah Tuhan berikan kepada umat-Nya di masa lalu.
Mengapa kita perlu terus membaca Firman? Karena Firman mengingatkan kita bahwa Tuhan kita besar.
Mengapa kita perlu datang ke gereja? Karena melalui pemberitaan Firman, pujian, penyembahan, dan kesaksian, kita kembali diingatkan bahwa Tuhan masih sanggup melakukan perkara-perkara besar.
Mengapa kita membutuhkan komunitas yang sehat? Karena ketika iman kita sedang lemah, kesaksian dan dukungan orang lain dapat menguatkan kita. Sama seperti hari Jumat kemarin, Pak Welyar katakan, kalau orang lain ditolong, kita pasti ditolong juga.
Kalau kemarin-kemarin Tuhan sudah memimpin kita, mengapa hari ini kita berpikir Dia tiba-tiba meninggalkan kita? Kalau selama ini Tuhan sudah memelihara, Dia tetap setia hari ini dan esok.
Kita perlu diingatkan terus. Kenapa? Firman Tuhan berkata bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Kristus. Karena itu kita harus terus dengarkan Firman, dengar kesaksian. Supaya iman kita yang tadinya sudah meredup, sudah kecil, dibangkitkan lagi.
Ada suatu masa ketika saya sendiri merasa masalah begitu besar sehingga saya sudah ngga bisa doa. Rasanya hanya bisa tiarap dan berkata, “Tuhan… Tuhan… Tuhan….”
Tidak ada banyak orang yang tahu apa yang sedang saya hadapi. Tapi puji Tuhan, karena saya ada dalam komunitas yang benar. Tiba-tiba ada seorang hamba Tuhan yang Tuhan pakai untuk menguatkan saya. "Pak Nathan, waktu Pak Nathan berjalan tadi, saya lihat ada dua malaikat besar di kanan kiri Pak Nathan. Dan dua malaikat itu pegang pedang."
Wah, dia ngga tahu saya sedang menghadapi apa. Tapi waktu dia cerita itu, saya kayak "Wow!" Saya menerima perkataan itu sebagai penguatan pribadi dari Tuhan pada waktu tersebut. Bagi saya, wow! Dahsyat banget! Tuhan ngga tinggalin saya.
Dan saya percaya, ketika Saudara mengalami hal seperti itu hari-hari ini, Saudara merasa sendiri, ingatlah: Jangan takut, Tuhan tidak membiarkan kita berjuang sendiri.
#4 Listen and obey His Word
Dengarkan dan taati Firman-Nya.
Ketika Yosafat dan bangsa Yehuda mencari Tuhan, Tuhan membangkitkan seorang nabi untuk menyampaikan Firman kepada mereka.
Firman itu dimulai dengan sebuah seruan agar mereka memperhatikan baik-baik apa yang Tuhan katakan.
Kadang-kadang kita tidak mengerti jalan Tuhan. Kita tidak selalu mengerti mengapa Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi. Bahkan sebagai pendeta pun ada banyak pertanyaan yang tidak dapat saya jawab.
Pada masa pandemi COVID, ada jemaat yang datang kepada saya setelah kehilangan ayah, ibu, kakak, adik, bahkan anak. Pertanyaannya hampir selalu sama:
“Kenapa?”
“Kenapa Tuhan mengizinkan ini?”
Jujur, dalam hati saya pun sering berkata, “Saya juga tidak tahu.”
Namun Tuhan mengingatkan satu Firman:
- Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28)
Ayat ini bukan berarti semua yang terjadi adalah baik. Kehilangan tetap menyakitkan. Penyakit tetap berat. Kita juga tidak perlu berpura-pura memahami semua maksud Tuhan.
Namun di tengah sesuatu yang tidak kita pahami, kita tetap dapat mempercayai karakter Allah.
I may not understand God’s method, but I will trust His Word.
Saya mungkin tidak memahami cara Allah, tetapi saya akan tetap percaya pada Firman-Nya.
Kita memang ngga ngerti jalan Tuhan, tapi Tuhan minta satu hal, nurut saja. Taat saja!
#5 Praise and give thanks before you see the victory
Tetap memuji dan mengucap syukur sebelum melihat kemenangan.
Bagian terakhir ini dahsyat banget. Sebagai seorang raja dan panglima, Yosafat mempunyai hak untuk mengatur pasukan. Secara strategi militer, tentu barisan paling depan seharusnya terdiri dari prajurit yang membawa pedang, tombak, dan perisai.
Tetapi yang dilakukan Yosafat berbeda. Dia menempatkan para pemuji di depan pasukan.
- Setelah ia berunding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk TUHAN dan memuji TUHAN dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata: “Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!” (2 Tawarikh 20:21)
Dipimpin oleh para pemuji penyembah itu, seluruh orang Yerusalem, seluruh orang Yehuda, harus bersorak-sorai, sambil berteriak-teriak: “Bersyukurlah kepada Tuhan, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!”
Kemudian:
- Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat TUHANlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah. (2 Tawarikh 20:22)
Hari ini Tuhan ngasih tips buat kita, kalau kita lagi menghadapi masalah, kalau kita lagi punya tantangan, kalau kita lagi menghadapi kebutuhan yang besar, Tuhan katakan, "Bersyukurlah kepada Tuhan, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"
Ketika mereka mulai memuji dan mengucap syukur, Tuhan bertindak!
Kita melihat prinsip yang serupa ketika Tuhan Yesus menghadapi ribuan orang yang membutuhkan makanan. Murid-murid melihat kebutuhan yang sangat besar. Mereka berpikir mengenai uang yang tidak mereka miliki dan makanan yang tidak tersedia.
Tetapi yang luar biasa, Tuhan bertanya kepada murid-murid, "Apa yang ada padamu?" Seakan-akan Tuhan mengingatkan hari ini, apa yang Tuhan sudah pernah lakukan buat kita? Apa yang Tuhan sudah berikan buat kita? Jangan mikirin yang ngga ada. Jangan mikirin masalah-masalah. Jangan mikirn kebutuhan. Tetapi pikirkan apa yang Tuhan sudah lakukan buat kita.
Akhirnya tersedia lima roti dan dua ikan dari bekal seorang anak. Secara manusia jumlah itu tidak sebanding dengan kebutuhan ribuan orang. Tetapi Tuhan Yesus menerima yang sesuatu yang kecil itu, Tuhan berdoa, Tuhan mengangkat tangan, doanya sederhana banget. Doanya ngga panjang-panjang, ngga muluk-muluk.
Alkitab mencatat, Yesus mengangkat tangan dan mengucap syukur. Kemudian roti dan ikan dibagikan. Semua orang makan sampai kenyang dan masih tersisa dua belas bakul!
Cerita ini mengajar saya bahwa hidup berkelimpahan itu dimulai dari mengucap syukur. Saudara mau hidup berkelimpahan? Mengucap syukur!
Amin.
Nyanyi:
Ku mau selalu bersyukur
selalu bersyukur
Kau Bapa yang setia
yang selalu menopang