Kuasa dari sebuah kesaksian (Pdp Rudi Limuria, MA, CFP)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Setiap orang percaya adalah imamat yang rajani yang dipanggil bukan hanya untuk menikmati keselamatan, tetapi juga memberitakan perbuatan-perbuatan besar Tuhan melalui kehidupan dan kesaksiannya. Kesaksian mempunyai kuasa karena membawa kebenaran Firman Tuhan, menguatkan orang lain yang sedang bergumul, dan dapat dipakai Roh Kudus untuk menyampaikan pesan yang berbeda dan sangat pribadi kepada setiap pendengar. Karena itu, jangan menyimpan pengalaman bersama Tuhan untuk diri sendiri, tetapi bagikanlah dengan setia melalui percakapan, persekutuan, maupun media yang tersedia agar semakin banyak orang mengenal kebaikan dan keselamatan di dalam Yesus Kristus.

Shalom, Puji Tuhan. Hari ini saya ingin membagikan Firman Tuhan dengan tema Kuasa dari Sebuah Kesaksian.

Sebelum masuk lebih jauh, saya ingin bertanya. Siapa di antara Saudara yang setiap hari bersaksi tentang kebaikan Tuhan Yesus dalam hidup Saudara? Atau paling tidak, dalam satu minggu terakhir, adakah Saudara bertemu dengan orang yang belum percaya lalu menceritakan tentang Tuhan Yesus? Kalau seminggu belum, mungkin sebulan. Kalau sebulan belum, bagaimana dalam satu tahun terakhir?

Seharusnya kehidupan kita semakin dipenuhi dengan kesaksian tentang siapa Yesus. Mengapa? Karena kita tahu bahwa kita adalah orang-orang yang sudah mengalami karya Tuhan dan kita sedang bersama-sama menuntaskan Amanat Agung. Kita mempunyai kerinduan menuju tahun 2033 supaya semakin banyak orang mendengar Injil dan mengenal siapa Yesus. Tugas ini tidak mungkin hanya dilakukan oleh pendeta. Seluruh jemaat harus bergerak. Amin.

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan. (1 Petrus 2:9-10)

Perhatikan bahwa Saudara dan saya disebut imamat yang rajani. Kita telah dipisahkan dari kegelapan dan dibawa masuk ke dalam terang-Nya yang ajaib. Dahulu kita hidup di dalam dosa, tetapi sekarang kita memperoleh belas kasihan dan mempunyai masa depan yang penuh pengharapan di dalam Tuhan.

Di dalam Perjanjian Lama, imam mempunyai hak khusus untuk mendekati Allah. Namun melalui Tuhan Yesus, Saudara dan saya sekarang dapat datang langsung kepada Bapa. Kita dapat memanggil Dia, “Abba, Bapa.” Begitu dekatnya hubungan yang Tuhan berikan kepada kita.

Kita juga disebut rajani. Artinya, sebagai umat milik Raja, kita membawa nilai-nilai Kerajaan Allah ke mana pun kita berada. Siapa pun Saudara—artis, guru, profesional, pengusaha, pejabat pemerintahan, atau profesi apa pun—kehidupan kita seharusnya memperlihatkan nilai Kerajaan Allah: kebenaran, integritas, kasih, kejujuran, tidak melakukan korupsi, tidak menipu, bekerja dengan excellent, dan pada saat yang sama memberitakan siapa Tuhan Yesus.

Itulah panggilan imamat yang rajani. Kita diminta memberitakan perbuatan-perbuatan besar yang telah Tuhan lakukan.

Kehidupan Kristen bukan hanya menerima Yesus, memperoleh keselamatan, lalu selesai. Kita mempunyai misi yang jauh lebih besar.

Banyak orang merasa malu atau tidak berani memberitakan Injil dan menceritakan pengalaman pribadinya bersama Tuhan. Ada yang berpikir bahwa penginjilan hanyalah pilihan. Ada juga yang merasa bahwa seorang penginjil harus lulusan sekolah teologi. Yang lain menganggap kesaksiannya terlalu sederhana karena “hanya” mengenai masalah sehari-hari atau kesembuhan yang dianggap kecil.

Namun Firman Tuhan berkata bahwa kita dipanggil supaya memberitakan perbuatan-perbuatan besar dari Dia. Setiap hari kita berjalan bersama Tuhan dan mengalami pemeliharaan-Nya. Jangan menganggap remeh kesaksian yang Tuhan berikan.

Setiap orang percaya dipanggil menjadi pembawa kabar baik

Di dalam Efesus 4:11-13, kita melihat bahwa Tuhan memberikan berbagai jawatan kepada gereja: rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, dan pengajar. Memang tidak semua orang memiliki jawatan khusus sebagai pemberita Injil, tetapi setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi saksi dan memberitakan kabar baik.

Kata evangelist berasal dari kata yang berkaitan dengan euangelion, yaitu kabar baik atau Injil. Seorang pemberita Injil pada dasarnya adalah seorang pembawa pesan.

Bayangkan seorang tukang pos. Dia membawa sebuah surat yang ditujukan kepada seseorang. Kalau surat itu tidak pernah disampaikan dan hanya disimpan di dalam tas, pesan yang seharusnya diterima orang lain tidak pernah sampai.

Demikian juga dengan kesaksian Saudara.

Mungkin Tuhan sudah menyembuhkan Saudara. Mungkin Tuhan menolong Saudara keluar dari pergumulan berat. Mungkin Tuhan memulihkan keluarga atau membuka jalan ketika semuanya terlihat buntu. Tetapi kalau Saudara menyimpan semuanya sendiri, seperti ada “surat” yang tidak pernah sampai kepada orang yang membutuhkan.

Kesaksian yang Tuhan berikan mempunyai arti bagi pendengarnya.

Saya mempunyai seorang teman profesor di Singapura, seorang dokter spesialis ortopedi. Ketika saya mengunjunginya, saya pikir dia mungkin ingin mendengar mengenai latar belakang pekerjaan atau hal-hal lain tentang saya. Ternyata tidak.

Dia berkata, “Rudi, kamu pendeta, kan? Saya ingin dengar bagaimana kamu bisa menerima Tuhan Yesus.” Itu yang dia ingin dengar.

Dia bahkan meminta saya mendoakannya.

Saudara, apa “album kenangan” Saudara bersama Tuhan? Apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam kehidupan Saudara? Itulah yang mungkin sedang ditunggu oleh orang lain.

Ada Kuasa dalam Sebuah Kesaksian

Ada tiga hal yang ingin saya bagikan mengenai kuasa di dalam kesaksian:

  1. Kesaksian membawa otoritas Firman Tuhan.
  2. Kesaksian membawa penguatan di tengah pergumulan.
  3. Kesaksian dapat menyampaikan pesan khusus kepada pendengarnya.

#1 Kesaksian membawa otoritas Firman Tuhan

Ketika kita bersaksi, sering kali kita menyatakan Firman Tuhan yang menjadi dasar iman kita. Misalnya seseorang sedang mengalami pergumulan dan berkata, “Saya percaya Tuhan tetap sanggup menolong saya.”

Firman Tuhan berkata:

Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. (Markus 11:24)

Ketika kita berdiri di atas Firman Tuhan, kesaksian kita bukan sekadar cerita tentang pengalaman manusia. Kita sedang menyatakan bahwa Firman Tuhan benar dan layak dipercaya.

Firman Tuhan berkata:

Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. (Yesaya 55:11)

Firman Tuhan mempunyai kuasa. Namun Firman bukan mantra yang kita pakai untuk memaksa Tuhan melakukan apa yang kita inginkan. Kita menyatakan Firman dengan iman, tunduk kepada kehendak-Nya, dan tetap mempercayai kebaikan Tuhan sekalipun jawaban-Nya belum sesuai dengan harapan kita.

Ada orang berkata, “Kalau saya sudah sembuh total, baru saya bersaksi.” Atau, “Kalau doa saya sudah dijawab persis seperti yang saya inginkan, baru saya menceritakan kebaikan Tuhan.”

Jangan jadikan kesaksian sebagai transaksi. Apakah kita tetap dapat berkata, “Tuhan Yesus baik,” sekalipun proses kita belum selesai? Apakah kita tetap dapat bersaksi bahwa Tuhan setia ketika jawaban belum terlihat?

Iman berkata bahwa Tuhan tetap baik dan Firman-Nya tetap benar, sekalipun kita masih berada di tengah proses. Firman Tuhan juga berkata:

Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh. (Markus 16:17-18)

Ayat ini bukan untuk dipakai menguji Tuhan dengan sengaja melakukan sesuatu yang membahayakan diri. Tetapi ayat ini menyatakan penyertaan dan kuasa Tuhan ketika umat-Nya menjalankan misi yang Dia percayakan.

Rasul Paulus, misalnya, pernah digigit ular tetapi Tuhan memeliharanya sehingga dia tidak mengalami celaka, sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul 28:3-5.

Ketika Tuhan memberikan sebuah misi, kita percaya Dia juga sanggup menyertai.

#2 Kesaksian memberi penguatan di tengah pergumulan

Kuasa kedua dari kesaksian adalah menguatkan orang lain yang sedang bergumul.

Mungkin Saudara pernah melewati proses yang berat dan Tuhan menolong Saudara. Ketika Saudara menceritakan pengalaman itu, orang yang sedang mengalami pergumulan serupa dapat berkata:

“Kalau Tuhan menolong dia, Tuhan juga dapat menolong saya.”

Kesaksian menjadi seperti suara yang menyemangati seseorang untuk tetap berlari menuju garis akhir.

“Jangan menyerah. Tetap berjalan bersama Tuhan. Kamu bisa melewati ini.”

Karena itu, kesaksian tidak boleh dianggap sesuatu yang kecil.

Salah satu tempat di mana kita saling mendengar kesaksian, saling menguatkan, dan saling mendoakan adalah di dalam COOL dan persekutuan orang percaya.

Firman Tuhan berkata:

Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. (Ibrani 10:25)

Kita hidup di zaman ketika melalui media sosial dan internet ada begitu banyak informasi, godaan, pengajaran yang salah, dan berita yang dapat melemahkan iman.

Kalau kita seperti satu batang korek api yang menyala sendirian, sedikit angin mungkin mudah memadamkannya. Tetapi kalau banyak batang korek api berkumpul dan menyala bersama, apinya semakin besar.

Demikian juga kehidupan rohani kita. Jangan menjauh dari persekutuan. Masuklah dalam COOL. Di sana kita dapat dimuridkan, saling berbagi, mendoakan, dan menanggung beban bersama-sama. Ketika badai datang, kita tidak padam, tetapi justru semakin menyala bersama.

#3 Kesaksian dapat membawa pesan khusus bagi pendengarnya

Kuasa ketiga dari sebuah kesaksian adalah bahwa Roh Kudus dapat memakai satu cerita yang sama untuk menyampaikan pesan yang berbeda kepada setiap pendengar.

Saya pernah mengalami sendiri hal ini.

Tuhan pernah mengizinkan saya mengalami kanker nasofaring. Saya berobat di Singapura dan menjalani kemoterapi serta radioterapi. Saya harus menjalani 33 kali radiasi. Baru sekitar sepuluh kali menjalani radiasi, ukuran kanker sudah mulai mengecil, walaupun seluruh proses pengobatan belum selesai.

Pada waktu itu Roh Kudus mendorong saya untuk bersaksi dalam iman bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan saya.

Saya berpegang kepada:

Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. (Markus 11:24)

Saya percaya kepada kesembuhan Tuhan, sambil tetap menjalani pengobatan yang diperlukan. Saya kemudian bersaksi mengenai pergumulan saya melawan kanker.

Setelah itu datang tiga orang.

  • Orang pertama berkata, “Pak, terima kasih untuk kesaksiannya. Tuhan menegur saya mengenai pemberian dan menabur.” Saya bingung. Saya tidak sedang berbicara soal keuangan.
  • Orang kedua berkata bahwa melalui kesaksian itu dia merasa harus segera berdamai dengan ayahnya yang sedang sakit. Sekali lagi saya heran karena saya tidak sedang berbicara tentang pemulihan keluarga.
  • Lalu orang ketiga datang dan berkata, “Pak, saya merasa Tuhan menegur saya untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat.”

Akhirnya saya mengerti. Satu kesaksian dapat membawa pesan yang berbeda bagi setiap orang sesuai dengan pekerjaan Roh Kudus.

Hal seperti ini juga kita lihat pada hari Pentakosta. Ketika Roh Kudus memenuhi murid-murid dan mereka mulai berkata-kata dalam bahasa lain, orang-orang dari berbagai bangsa mendengarkan.

Baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya ini?” (Kisah Para Rasul 2:11-12)

Jangan membatasi cara Roh Kudus bekerja!

Bagi Saudara mungkin kesaksiannya terasa seperti cerita sederhana tentang bagaimana Saudara bertemu Tuhan Yesus. Tetapi di tangan Roh Kudus, cerita sederhana itu dapat menjadi jawaban bagi seseorang.

Sesuatu yang bagi manusia terlihat biasa dapat dipakai Tuhan untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Penutup

Kalau Tuhan sudah memberikan sebuah kesaksian, jadilah seperti tukang pos yang setia menyampaikan suratnya. Jangan simpan pesan itu untuk diri sendiri.

Mungkin ada seseorang yang sedang menunggu kesaksian Saudara.

Sekarang mungkin gambaran tukang pos sudah terasa kuno. Kita lebih akrab dengan email, WhatsApp, dan media sosial. Prinsipnya sama: ketika kita menerima pesan yang baik, kita dapat meneruskannya kepada orang lain.

Gunakan teknologi untuk menyebarkan hal yang baik. Jangan hanya memakai media sosial untuk gosip, berita palsu, atau mencari keuntungan. Pakailah juga untuk menyebarkan Injil, membagikan Firman, dan menceritakan kebaikan Tuhan. Upload yang baik-baik tentang Tuhan Yesus.

Untuk dapat bersaksi, tentu kita membutuhkan sesuatu yang dapat disaksikan. Untuk kita dapat bersaksi, Tuhan akan membekali kita dengan satu kesaksian yang hebat.

Apa pergumulan Saudara saat ini?
Saudara membutuhkan kesembuhan?
Kelepasan?
Jalan keluar dari problema hidup?
Pemulihan keluarga?

Saudara katakan pada Tuhan, "Tuhan, aku butuh itu sebagai kesaksian untuk aku sampaikan kepada orang."

Amin.

Video