Sungguh-sungguh merdeka (Pdm Linda Sinaga)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Kristus telah memerdekakan orang percaya dari perhambaan dosa supaya kita hidup sebagai hamba kebenaran yang seluruh hidupnya berada di bawah otoritas dan tuntunan Tuhan. Kemerdekaan sejati berarti tidak lagi membiarkan pikiran, kemarahan, trauma masa lalu, uang, kecanduan, teknologi, maupun dosa menguasai kehidupan, tetapi belajar mengambil keputusan berdasarkan kehendak Tuhan dan berjalan dalam pimpinan Roh Kudus. Tuhan menghendaki kita sungguh-sungguh merdeka—hidup seratus persen bagi-Nya, berdiri teguh, tidak kembali kepada kuk perhambaan, dan semakin giat memakai hidup serta karunia kita untuk pekerjaan Tuhan.

Shalom Bapak, Ibu. Kita masih berbicara mengenai kemerdekaan. Karena itu saya rindu membagikan Firman Tuhan dengan tema Sungguh-Sungguh Merdeka.

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Galatia 5:1)

Firman Tuhan berkata supaya kita sungguh-sungguh merdeka. Artinya, Tuhan tidak menghendaki kita hanya setengah merdeka atau tiga perempat merdeka. Tuhan menghendaki kita mengalami kemerdekaan sepenuhnya karena Kristus telah memerdekakan kita. Dia telah mati dan menebus kehidupan kita. Ketika kita membuka hati, percaya kepada Yesus, dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi, kita menerima kemerdekaan di dalam Kristus.

Karena itu Firman Tuhan berkata, berdirilah teguh. Jangan goyah, jangan bimbang, dan jangan terbawa oleh arus dunia. Kita harus tetap konsisten dan fokus kepada Tuhan. Selain itu, Firman Tuhan berkata supaya kita jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. Hari ini kita akan belajar bagaimana hidup sebagai orang yang sungguh-sungguh merdeka dan tidak kembali diperbudak oleh apa pun.

Hidup sungguh-sungguh merdeka

#1 Kristus telah memerdekakan kita

Roma 6:16,

Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran?

Kita tentu tidak ingin hidup di dalam dosa yang membawa kepada kematian. Kita rindu hidup dalam ketaatan yang membawa kepada kebenaran.

Firman Tuhan melanjutkan:

Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. (Roma 6:17-18)

Dahulu kita adalah hamba dosa, tetapi sekarang kita telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. Karena itu, ketika kita berkata, “Saya sudah merdeka,” kita tidak lagi membiarkan dosa menguasai hidup kita. Kita memilih taat kepada Tuhan Yesus Kristus yang membawa kita kepada kebenaran.

Kata “hamba” berasal dari kata Yunani doulos, yang berbicara mengenai seorang budak atau seseorang yang hidupnya berada di bawah otoritas tuannya. Ketika saya berkata, “Saya adalah hamba Tuhan,” artinya seluruh keberadaan dan hidup saya berada di bawah otoritas Tuhan. Sebaliknya, kalau seseorang menjadi hamba dosa, kehidupannya berada di bawah kendali dosa.

Karena itu pertanyaannya sederhana: siapa yang mengendalikan hidup kita?

Hari ini kita berkata bahwa kita adalah hamba Tuhan dan hamba kebenaran, bukan hamba dosa.

#2 Hidup merdeka di dalam Kristus

Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (Galatia 5:13)

Kita memang dipanggil untuk merdeka, tetapi kemerdekaan di dalam Kristus bukan kebebasan untuk melakukan apa saja menurut kehendak sendiri. Kemerdekaan kita tetap berada di bawah kebenaran dan kehendak Tuhan.

Kalau saya berkata, “Saya merdeka, jadi saya bebas memakai apa saja dan melakukan apa saja,” itu bukan pengertian kemerdekaan yang Alkitab ajarkan. Orang yang merdeka di dalam Kristus justru mempunyai kebebasan untuk memilih apa yang benar di hadapan Tuhan.

Tuhan memberikan kehendak kepada manusia untuk mengambil keputusan. Namun sebagai hamba Tuhan, kita belajar mengambil keputusan bukan hanya berdasarkan apa yang kelihatannya paling menguntungkan, tetapi berdasarkan kehendak Tuhan.

Belajar dari Orpa dan Rut

Kita dapat belajar dari kisah Naomi, Orpa, dan Rut.

Naomi kehilangan suaminya dan kedua anak laki-lakinya. Setelah mendengar bahwa Tuhan kembali memperhatikan umat-Nya di Betlehem, Naomi memutuskan pulang. Kedua menantunya, Orpa dan Rut, semula ikut bersamanya. Namun di tengah perjalanan Naomi meminta mereka kembali kepada keluarga masing-masing karena menurut perhitungan manusia, tidak ada lagi masa depan yang dapat dia tawarkan kepada mereka.

Keputusan Orpa untuk kembali bukan keputusan yang tidak masuk akal. Secara manusiawi, itu logis. Dia masih mempunyai kemungkinan untuk kembali kepada keluarganya, membangun kehidupan baru, bahkan menikah kembali.

Namun Rut mengambil keputusan yang berbeda. Dia berkata:

Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku. (Rut 1:16)

Rut tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan keuntungan yang terlihat. Dia memilih mengikuti Naomi karena dia telah memilih Allah Naomi menjadi Allahnya.

Inilah gambaran seorang hamba Tuhan. Hamba Tuhan tidak hanya bertanya, “Apa untungnya bagi saya?” Hamba Tuhan bertanya, “Apa yang Tuhan kehendaki?”

Rut saat itu tidak tahu bahwa pada akhirnya dia akan bertemu Boas. Dia tidak tahu bahwa dari keturunannya kelak akan lahir Daud dan kemudian, dalam garis keturunan tersebut, Mesias datang ke dunia. Kalau sejak awal Rut sudah melihat seluruh akhir ceritanya, tentu lebih mudah baginya untuk berkata “ya”. Namun hidup kita tidak mempunyai Google Maps yang menunjukkan seluruh perjalanan sampai tujuan akhir.

Tuhan sering kali meminta kita berjalan dengan iman, selangkah demi selangkah. Karena itu sebagai orang yang merdeka kita belajar berkata, “Tuhan, aku adalah hamba-Mu. Tuntun aku mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak-Mu, sekalipun jalannya tidak selalu mudah.”

Jangan diperhamba oleh pikiran

Ada banyak bentuk kuk perhambaan dalam kehidupan. Salah satunya adalah pikiran kita sendiri.

Kadang-kadang kita terlalu banyak berpikir sampai akhirnya masuk dalam overthinking. Pikiran yang seharusnya menjadi alat untuk menolong kita justru menjadi tuan yang menguasai dan menakut-nakuti kita.

Firman Tuhan mengajarkan supaya kita tidak memikirkan diri dan keadaan melebihi apa yang sepatutnya. Artinya, kita perlu belajar berpikir dengan sehat dan tunduk kepada kebenaran Tuhan.

Pendidikan tinggi, kemampuan analisis, dan kecerdasan adalah berkat. Namun jangan sampai pikiran kita menggantikan posisi Tuhan. Jangan sampai semua keputusan hanya ditentukan oleh analisis manusia tanpa memberi ruang untuk tuntunan Roh Kudus.

Karena itu kita membutuhkan keintiman dengan Tuhan.

Latihlah telinga rohani kita untuk mendengar suara-Nya. Datang kepada Tuhan setiap hari dan berkata, “Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apa yang Engkau kehendaki?”

Orang yang sungguh-sungguh merdeka tidak diperbudak oleh pikirannya, tetapi memakai pikirannya di bawah pimpinan Tuhan.

Jangan diperhamba oleh kemarahan

Bentuk perhambaan lain adalah kemarahan.

Marah adalah emosi manusiawi, tetapi jangan sampai kemarahan menguasai kita dan menghasilkan tindakan yang merusak.

Kemarahan yang tidak dikelola dapat menghasilkan perkataan kasar, kekerasan, bahkan KDRT. Seorang suami atau istri yang hidup dikuasai kemarahan tidak sedang menjadi berkat bagi keluarganya.

Karena itu kita harus belajar memiliki penguasaan diri. Jangan menjadi hamba kemarahan. Biarlah Roh Kudus memimpin respons kita.

Jangan diperhamba oleh trauma masa lalu

Ada juga orang yang masih diperbudak oleh trauma masa lalu. Seharusnya dia sudah dapat berjalan maju, tetapi luka yang belum dibereskan terus menariknya kembali.

Rasul Paulus berkata:

Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:13-14)

Trauma tidak selalu hilang seketika. Pemulihan dapat menjadi sebuah proses. Namun Roh Kudus sanggup menolong kita sehingga pengalaman masa lalu tidak lagi menjadi tuan atas kehidupan kita.

Jangan izinkan masa lalu menentukan seluruh masa depan Saudara.

Ada orang yang sudah menikah, tetapi masih membawa luka dari hubungan sebelumnya. Ada tempat tertentu yang tidak mau dikunjungi karena mengingat mantan. Ada warna atau benda tertentu yang menimbulkan luka. Kalau pengalaman itu terus mengendalikan perilaku kita, artinya masih ada bagian kehidupan yang membutuhkan pemulihan.

Masalah menjadi lebih serius ketika seseorang membawa luka tersebut masuk ke dalam pernikahan. Dia berharap pasangannya menjadi pengganti figur ayah atau ibu yang tidak pernah dia dapatkan. Padahal pasangan adalah pasangan, bukan pengganti ayah atau ibu.

Ketika harapan yang tidak realistis itu tidak terpenuhi, timbul kekecewaan, lalu mulai membuka kembali hubungan lama. Dari situlah dosa dapat berkembang semakin jauh.

Karena itu jangan membawa “ransel”, apalagi “kontainer”, penuh luka masa lalu ke dalam kehidupan baru tanpa pernah membereskannya.

Bawalah luka itu kepada Tuhan. Jalani proses pemulihan. Bila diperlukan, mintalah pertolongan dari orang-orang yang dapat mendampingi dengan bijaksana. Roh Kudus sanggup memulihkan.

Katakan: Sekarang saya sudah bebas!

#3 Berdirilah teguh dan giatlah dalam pekerjaan Tuhan

Firman Tuhan berkata:

Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. (1 Korintus 15:57-58)

Orang yang sudah merdeka dan menjadi hamba Tuhan akan mempunyai kerinduan untuk melayani Tuhan.

Kita tidak semua dipanggil menjadi pengkhotbah atau pemimpin pujian. Namun setiap orang mempunyai karunia dan bagian masing-masing dalam tubuh Kristus.

Di gereja kita ada COOL sebagai salah satu tempat untuk bertumbuh dan belajar melayani. Di sana seseorang dapat belajar memimpin pujian, berbagi Firman, berdoa bagi orang lain, dan menggunakan karunia yang Tuhan berikan.

Tuhan memanggil Saudara sesuai dengan karunia masing-masing. Ketika kita melakukan tugas yang Tuhan percayakan, kehidupan kita menjadi berkat bagi banyak orang.

Karena itu: berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah dalam pekerjaan Tuhan.

Tiga kuk perhambaan yang harus ditinggalkan

Di dalam Alkitab kita dapat melihat beberapa bentuk perhambaan yang perlu kita waspadai. Hari ini kita membahas tiga di antaranya.

#1 Jangan menjadi hamba uang

Firman Tuhan berkata:

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5)

Kita semua membutuhkan uang. Keluarga membutuhkan biaya untuk makanan, pendidikan, rumah, kesehatan, dan berbagai kebutuhan lainnya. Jadi uang bukan sesuatu yang jahat.

Persoalannya muncul ketika uang menguasai kehidupan kita.

Kata kuncinya adalah: cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.

Kita perlu mengetahui berapa pemasukan kita, merencanakan pengeluaran dengan bijaksana, dan belajar hidup sesuai kemampuan. Selain itu, salah satu latihan hati supaya uang tidak menguasai kita adalah belajar memberi dan menjadi saluran berkat.

Ketika Tuhan memberkati kita, jangan semua berkat berhenti pada diri sendiri. Belajarlah memberkati pekerjaan Tuhan dan orang yang membutuhkan.

Kita tidak memberi untuk membeli berkat Tuhan. Kita memberi karena hati kita tidak mau diperbudak oleh harta.

Tuhan mau kita menjadi saluran berkat.

Kalau air mengalir melalui sebuah pipa, pipa itu sendiri ikut basah. Demikian juga ketika hidup kita menjadi saluran berkat, kita sendiri mengalami sukacita karena dipakai Tuhan.

Cara kita menggunakan uang sering kali memperlihatkan apa yang paling kita hargai.

Karena itu jangan menjadi hamba uang. Jadikan uang alat yang dipakai untuk kemuliaan Tuhan.

#2 Jangan menjadi hamba anggur—atau apa pun yang menguasai diri

Firman Tuhan berkata:

Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik. (Titus 2:3)

Menjadi hamba anggur berarti seseorang kehilangan penguasaan diri sehingga minuman mengendalikan kehidupannya.

Prinsipnya dapat diterapkan lebih luas: jangan sampai ada sesuatu yang menguasai kita sehingga kita tidak lagi mampu berkata “tidak”.

Hari-hari ini bentuknya mungkin bukan hanya minuman. Bisa berupa media sosial, video pendek, belanja daring, gaming, hiburan, bahkan penggunaan telepon genggam yang tidak terkendali.

Bangun tidur yang pertama dicari jangan selalu telepon genggam, tetapi Tuhan.

Kalau kita terus scroll, scroll, dan scroll sampai kehilangan waktu, fokus, dan persekutuan dengan Tuhan, kita perlu bertanya: “Apakah saya masih menguasai ini, atau ini yang sudah menguasai saya?”

Teknologi adalah alat yang sangat berguna, tetapi jangan sampai menjadi tuan.

Keluarga juga perlu membangun mezbah keluarga dan menanamkan Firman Tuhan kepada anak-anak. Kalau kehidupan anak tidak diisi dengan Firman, dunia akan mengisinya dengan berbagai nilai lain.

Teknologi dan kecerdasan buatan dapat memberi jawaban dengan cepat, tetapi jangan sampai kita menggantikan pencarian akan Tuhan dengan sekadar mencari jawaban tercepat dari teknologi.

Firman Tuhan berkata:

Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. (Mazmur 119:9)

Dan:

Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. (Mazmur 119:11)

Orang yang merdeka mengisi hidupnya dengan Firman sehingga dia mempunyai kemampuan untuk berkata “tidak” kepada sesuatu yang mencoba memperbudaknya.

#3 Jangan menjadi hamba dosa

Tuhan Yesus berkata:

Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (Matius 6:24)

Kita tidak dapat mengaku melayani Tuhan tetapi dengan sengaja terus memelihara dosa.

Salah satu area yang harus dijaga adalah pernikahan. Jangan mempermainkan perselingkuhan. Tuhan menghendaki kesetiaan. Kita dipanggil menjaga pernikahan tetap kudus di hadapan Tuhan. Kalau Saudara ingin melihat anak-anak diberkati, jagalah rumah tangga. Jangan wariskan luka pernikahan kepada generasi berikutnya.

Kalau Tuhan mengingatkan ada dosa, bereskanlah di hadapan-Nya.

Firman Tuhan berjanji:

Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (1 Yohanes 1:9)

Jangan diperhamba oleh dosa. Datang kepada Tuhan, bertobat, dan terimalah pengampunan serta pemulihan-Nya.

Penutup

Saya ingin menutup dengan sebuah ilustrasi sederhana.

Bayangkan sepasang kekasih yang akan menikah. Sang pria berkata, “Aku sangat mencintaimu, tetapi cintaku kepadamu 90 persen. Sepuluh persen sisanya untuk mantan.”

Apakah calon istrinya mau? Tentu tidak.

Kemudian dia menawar, “Kalau begitu 95 persen. Saya hanya bertemu mantan sebulan sekali.”

Tetap tidak.

“Bagaimana 97 persen? Enam bulan sekali saja?”

Tetap tidak.

Mengapa?

Karena dalam sebuah pernikahan kita mengharapkan kesetiaan sepenuhnya. Demikian juga Tuhan. Tuhan menghendaki kehidupan yang sungguh-sungguh merdeka—bukan 90 persen, bukan 95 persen, bukan 97 persen.

Seratus persen untuk Tuhan.

Jangan dikenakan kuk perhambaan apapun di dalam hidupmu supaya hidupmu mengalami kasih karunia dari Tuhan.

Amin.

Nyanyi:

Engkau yang lebih tahu
Cara untuk membuka jalanku
Engkau lebih mengerti
Cara untuk menolong hidupku.

Kupercaya Kau Tuhan yang tak pernah gagal
Menjadikanku lebih dari pemenang
kupercaya Kau Tuhan yang tak pernah lalai
Menepati janji-janji-Mu