I am free (Pdt Sutadi Rusli)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 10 Agustus 2026 20.22 oleh Leo (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi '{{unified info | templatetype=khotbah | namespace= Khotbah | pagename= 20260809-0930/SR | toptitle= | title= ''I am free'' | name= Sutadi Rusli | completename= Pdt Sutadi Rusli | type= pesangembala | event= Ibadah Raya | date= 2026-08-09 | location= Grha Amal Kasih | church= GBI Danau Bogor Raya | city= Bogor | illustration16x9= Sutadi Rusli-20260809.webp | illustrationA5= | illustration1x1= Sutadi Rusli-20260809-1x1.webp | video1service= youtube | video1link= {...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Cras facilisis neque ligula, at elementum velit viverra eu.

Shalom dan selamat pagi, semuanya diberkati Tuhan? Semua sehat-sehat? Semua on fire? Haleluya! Puji Tuhan! Saya melihat wajah-wajah yang penuh sukacita. Memang benar, sukacita di dalam Tuhan adalah kekuatan kita. For the joy of the Lord is our strength.

Kita tidak terasa sudah masuk bulan Agustus 2026. Sebagai bangsa Indonesia, kita bersyukur karena tanggal 17 Agustus nanti kita akan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Siapa yang bangga menjadi bangsa Indonesia? Puji Tuhan!

Bagian kita sebagai gereja Tuhan bukan hanya mengeluh, bersungut-sungut, apalagi memaki keadaan bangsa ini. Bagian kita adalah berdoa bagi bangsa dan para pemimpin. Mengapa? Karena ada kuasa di dalam doa. Doa orang percaya sanggup membawa perubahan. Yang tidak baik dapat menjadi baik, dan yang sudah baik dapat menjadi lebih baik.

Karena itu, dalam keadaan apa pun, mari tetap berdoa bagi bangsa dan negara kita. Firman Tuhan mengingatkan bahwa tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah. Haleluya!

Dalam rangka bulan kemerdekaan ini, saya ingin membagikan satu tema: I am free! Saya sudah dimerdekakan.

Semua yang sudah dibebaskan oleh Tuhan Yesus? Amin! Kita sudah dibebaskan dari dosa, dari penghukuman, dan dari kuasa yang membelenggu hidup kita.

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Galatia 5:1)

Dari ayat yang singkat ini ada dua bagian penting:

  • Yang pertama: Kristus telah memerdekakan kita.
  • Yang kedua: berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.

Ada bagian Tuhan dan ada bagian kita.

#1 Bagian Tuhan: Kristus telah memerdekakan kita

Bagian Tuhan sudah Dia kerjakan. Firman Tuhan berkata:

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Karena begitu besar kasih Bapa, Dia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, untuk menebus dosa kita.

Tuhan Yesus mati di kayu salib. Dia mengalami penderitaan, menyerahkan nyawa-Nya, dikuburkan, tetapi pada hari yang ketiga Dia bangkit. Amin.

Apa tugas utama Tuhan Yesus bagi kita? Dia datang menyelamatkan kita dari dosa dan kebinasaan. Upah dosa adalah maut, tetapi Yesus menggantikan kita dan membuka jalan keselamatan.

Di sini kita juga melihat karya Allah Bapa dan Allah Anak. Kemudian kita akan melihat peranan Roh Kudus sebagai Penolong yang memampukan kita hidup di dalam kebenaran.

Hari-hari ini kita harus mempunyai dasar iman yang kuat.

Ada berbagai pengajaran yang menyangkal keilahian Kristus atau memandang Roh Kudus hanya sebagai tenaga. Karena itu, kita harus tetap berpegang kepada iman gereja bahwa Allah menyatakan diri sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Jangan mudah digoyahkan oleh berbagai pengajaran yang menyimpang. Bagian Tuhan sudah Dia lakukan: Kristus telah memerdekakan kita!

Sekarang apa bagian kita?

#2 Bagian kita: Berdiri teguh

Firman Tuhan berkata: Karena itu berdirilah teguh. Berdiri teguh berbicara tentang perjuangan. Hidup ini adalah perjuangan. Bahkan Tuhan Yesus sendiri mengalami pergumulan berat ketika berada di Taman Getsemani. Dia berkata:

Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. (Matius 26:38a)

Yesus berdoa kepada Bapa:

Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki. (Matius 26:39b)

Dia bergumul sampai keringat-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Namun pada saat yang sama, Petrus, Yakobus, dan Yohanes tertidur. Yesus berkata:

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah. (Matius 26:41)

Hari-hari ini, di tengah goncangan yang ada, kita juga harus terus berdoa dan berjaga-jaga. Katakan kepada kanan dan kiri Saudara: Ayo, berdoa dan berjaga-jaga. Situasi dunia memang tidak selalu baik. Goncangan terjadi. Namun kita adalah bagian dari Kerajaan yang tidak tergoncangkan. Karena itu, berdirilah teguh.

Berdiri teguh berarti kita berjuang untuk hidup dalam kebenaran. Keselamatan adalah kasih karunia Tuhan. Kita tidak menyelamatkan diri melalui usaha atau perbuatan baik kita. Namun kasih karunia bukan alasan untuk hidup sembarangan.

Firman Tuhan berkata:

Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (Galatia 5:13)

Jangan mempergunakan kemerdekaan sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa. Ada orang yang berpikir, “Saya sudah selamat. Jadi bagaimana pun saya hidup, tidak masalah.” Bukan begitu.

Orang yang sudah menerima keselamatan dipanggil untuk hidup sebagai orang yang sudah dibebaskan dari dosa.

Kita tidak menjaga keselamatan dengan kekuatan manusia seolah-olah karya Kristus belum cukup. Tetapi kita dipanggil untuk bertekun dalam iman, bertobat ketika jatuh, dan tidak mempermainkan kasih karunia.

Kita harus sungguh-sungguh berjalan bersama Tuhan.

Pelajaran dari kisah Daud

Kita tahu kisah Daud. Pada suatu musim ketika para raja biasanya maju berperang, Daud justru tinggal di Yerusalem. Prajurit-prajuritnya maju berperang, tetapi Daud memilih tinggal di istana. Dia mulai menikmati keberhasilan dan kenyamanan. Kemudian kita tahu apa yang terjadi. Daud melihat Batsyeba sedang mandi, lalu membuka pintu bagi dosa.

Dosa sering kali tidak datang sekaligus. Ada proses. Sedikit demi sedikit seseorang mulai lengah. Mulai melihat, mulai memberi ruang, mulai menikmati pikiran yang salah, sampai akhirnya jatuh.

Karena itu kita harus mengenali kelemahan kita.

Ada orang yang lemah dalam soal uang.
Ada yang lemah dalam soal seksual.
Ada yang lemah dalam kemarahan.
Ada yang lemah dalam gengsi atau kekuasaan.

Kenalilah kelemahanmu. Jangan justru mendekati hal yang kita tahu akan membuat kita jatuh. Firman Tuhan berkata:

Awasilah dirimu sendiri. (1 Timotius 4:16a)

Kita harus menjaga diri! Iblis mengetahui kelemahan manusia dan berusaha memakai kelemahan itu untuk menjatuhkan.

Pelajaran dari kisah Simson

Hal yang sama terjadi kepada Simson. Simson tidak jatuh dalam satu hari. Ada perjalanan karakter yang tidak dijaga. Dia terus bermain-main dengan batas sampai akhirnya Delila menjadi jalan kejatuhannya.

Padahal Simson adalah orang yang dipakai Tuhan dengan luar biasa. Namun ketika hidup dijalani dengan sembrono, kekuatan yang besar tidak membuat seseorang kebal terhadap dosa. Karena itu kita harus waspada.

Saya harus waspada.
Saudara harus waspada.
Kita semua harus waspada.

Orang percaya menjadi sasaran serangan si jahat.

Takut akan Tuhan sekalipun tidak ada yang melihat

Saya pernah transit di sebuah negara dan tiba di hotel sudah tengah malam. Baru saja masuk kamar dan melepas sepatu, telepon di samping tempat tidur berbunyi. Saya angkat. Ada suara yang berkata: “Sir, do you need a woman?” Saya sempat memastikan lagi, “Apa?” Dia mengulang pertanyaannya. Itu satu godaan.

Pada saat itu tidak ada istri saya. Tidak ada keluarga. Tidak ada jemaat. Tidak ada orang yang mengenal saya. Tetapi mata Tuhan melihat. Inilah yang penting: mempunyai takut akan Tuhan ketika tidak ada manusia yang melihat.

Kita hidup benar bukan karena takut ketahuan orang, tetapi karena kita mengasihi dan menghormati Tuhan.

Jangan mempermainkan kasih karunia

Firman Tuhan berkata:

Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa. (Galatia 5:13a)

Jangan menganggap murah darah Yesus. Jangan berpikir, “Hari ini berbuat dosa tidak apa-apa. Nanti saat Perjamuan Kudus saya minta ampun. Setelah itu jatuh lagi, nanti minta ampun lagi.” Pengampunan Tuhan bukan izin untuk sengaja hidup dalam dosa.

Kasih karunia seharusnya membuat kita semakin mencintai Tuhan dan membenci dosa. Kalau jatuh, datang kepada Tuhan. Bertobat. Bangkit. Jangan tinggal di dalam dosa. Namun jangan menjadikan pertobatan sebagai alasan untuk terus merencanakan dosa yang sama.

Kita mau menjaga hidup sebagai orang yang sudah dimerdekakan.

Rasul Paulus dengan sangat jujur berkata:

Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. (Roma 7:15)

Paulus mengakui pergumulan di dalam dirinya. Dia tahu yang benar, tetapi menyadari adanya tarikan dosa. Kita pun harus jujur, “Tuhan, saya punya kelemahan.” Jangan berpura-pura kuat. Kuasa dosa dapat menarik manusia dengan sangat kuat. Karena itu kita perlu berjuang untuk tidak jatuh.

Kita mempunyai kelemahan, tetapi kita tidak ditinggalkan sendirian menghadapi kelemahan tersebut. Kita membutuhkan pertolongan.

Tuhan Yesus berkata bahwa ketika Dia kembali kepada Bapa, Penolong akan datang. Siapa Penolong itu? Roh Kudus.

Tuhan Yesus berkata:

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya. (Yohanes 14:16)

Roh Kudus bukan hanya berada di sekitar kita. Dia tinggal di dalam kehidupan orang percaya. Dia adalah Penolong dan sumber kekuatan kita untuk hidup di dalam kebenaran Firman Tuhan. Kita tidak dapat mengalahkan dosa hanya dengan tekad manusia. Kita membutuhkan Roh Kudus.

Ketika kita lemah, minta pertolongan-Nya.
Ketika kita digoda, minta kekuatan-Nya.
Ketika hati mulai menyimpang, dengarkan teguran-Nya.
Ketika jatuh, datang kembali kepada Tuhan dalam pertobatan.

Roh Kudus menolong kita hidup sebagai orang yang benar-benar merdeka. Amin!

Kemerdekaan menghasilkan buah

Mari kita membaca:

Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 6:22-23)

Orang yang sudah dimerdekakan dari dosa akan menghasilkan buah. Kalau Saudara melihat pohon yang menghasilkan buah yang baik, salah satu hal terpenting adalah akarnya. Kalau akarnya tidak sehat, buahnya juga tidak akan sehat. Tetapi ketika akar kuat dan sehat, pohon dapat menghasilkan buah yang baik.

Demikian juga kehidupan Kristen.

Kalau kita mau menghasilkan buah yang baik, akar kehidupan rohani kita harus kuat di dalam Tuhan. Kekristenan kita tidak boleh hanya berada di permukaan.

Kita perlu:

  1. Berakar dalam Firman Tuhan.
  2. Berakar dalam doa.
  3. Berakar dalam persekutuan dengan Tuhan.
  4. Hidup dalam pertobatan.
  5. Berjalan dalam pimpinan Roh Kudus.
  6. Berjaga-jaga terhadap kelemahan diri sendiri.

Kristus sudah memerdekakan kita.

Karena itu berdirilah teguh.
Jangan kembali mengenakan kuk perhambaan.
Jangan kembali hidup sebagai budak dosa.

Kita adalah orang-orang yang telah dimerdekakan! I am free!

Nyanyi:

Selidiki aku, lihat hatiku
Apakah ku sungguh mengasihi-Mu?

Yesus, Kau yang Mahatahu
Dan menilai hidupku
Tak ada yang tersembunyi bagi-Mu

Telah kulihat kebaikanMu
Yang tak pernah habis dihidupku
Ku berjuang sampai akhirnya
Kau dapati aku tetap setia

Video