Tuhan Gembalaku: Tenang di tengah dunia yang tidak menentu (Pdm Armand Setiawan)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, orang percaya dapat tetap tenang karena Tuhan adalah Gembala yang memelihara kebutuhan, menyertai dalam lembah kehidupan, memulihkan luka, dan menuntun masa depan. Tuhan tidak selalu langsung menghilangkan persoalan, tetapi Dia memegang tangan kita, memakai setiap proses untuk mendewasakan iman, serta sanggup mengubah penderitaan menjadi kesaksian seperti yang dialami Yusuf. Karena itu, fokus kita bukan mengejar berkat atau hidup tanpa masalah, melainkan terus mengikuti Sang Gembala, mempercayai janji-Nya, mengampuni sesama, dan tetap menjadi berkat dalam keadaan apa pun.

Shalom, Bapak, Ibu, apa kabarnya? Luar biasa pastinya. Amin! Berikan senyum yang terbaik ke kanan-kiri. Kalau kita percaya Tuhan kita baik, kita juga harus belajar menjadi baik. Melalui senyum yang tulus, kasih Tuhan dapat terpancar dan menjadi berkat bagi orang di sekitar kita.

Kita berada di pertengahan tahun yang penuh dengan berbagai peristiwa. Mungkin ada banyak persoalan yang terjadi dalam kehidupan pribadi, keluarga, kota, dan bangsa kita.

Ketika melihat kejadian demi kejadian yang tidak menyenangkan, kita perlu siapa? Kita perlu Tuhan. Kita perlu Tuhan yang menuntun hidup kita.

Hari-hari ini mungkin kita dipenuhi ketakutan, kekhawatiran, atau kecurigaan karena berbagai kabar yang beredar. Ada berita mengenai situasi yang tidak baik, tempat-tempat yang meningkatkan pengamanan, dan berbagai kemungkinan yang membuat orang menjadi takut.

Namun melalui semuanya itu, kita perlu belajar bahwa kita mempunyai Tuhan sebagai Gembala yang baik.

Tema kita hari ini adalah: Tuhan Gembalaku: Tenang di tengah dunia yang tidak menentu

Dalam keadaan sesulit apa pun, kita percaya ada Tuhan yang memegang tangan kita. Tadi kita menyanyikan:

Yesus memegangku
dengan tangan kanan-Mu
Yesus memberiku kemenangan

Amin! Ada kemenangan bersama Tuhan. Ada kebaikan Tuhan yang berlimpah bagi setiap kita.

Mari kita membaca Mazmur 23:

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa. (Mazmur 23:1-6)

Mazmur ini ditulis oleh Daud sebagai ungkapan keyakinannya kepada Tuhan. Daud mengenal Tuhan sebagai Gembala yang selalu menjaga, memelihara, dan peduli kepada kehidupan umat-Nya.

Yang terutama bukanlah seberapa besar masalah kita, melainkan siapa yang memimpin hidup kita.

Sering kali kita berkata, “Kalau dia yang menolong, mungkin masalah ini bisa selesai.” Kita mudah mengandalkan manusia.

Namun kita mempunyai Pribadi yang jauh lebih besar dan lebih berkuasa, yaitu Tuhan Yesus.

Dia adalah Gembala kita.
Dia peduli kepada hidup kita.
Dia mengerti keadaan kita.
Dia menuntun setiap langkah kita.

Karena itu, jangan hanya memandang besarnya masalah. Percayalah bahwa ketika Tuhan memimpin kehidupan kita, kita dapat melewati setiap proses dan mengalami kemenangan.

Haleluya!

#1 Tuhan memelihara

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. (Mazmur 23:1-3)

Tuhan memelihara kehidupan kita. Dia mencukupkan kebutuhan kita, memberikan ketenangan, dan menuntun kita di jalan yang benar.

Namun pengertian mengenai kata “cukup” sering kali berbeda bagi setiap orang. Bagi sebagian orang, asal dapat makan dan perut kenyang, itu sudah cukup. Asal mempunyai pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan sehari-hari, itu cukup.

Tetapi sering kali standar “cukup” berubah karena lingkungan pergaulan.

Kalau kita berada di lingkungan yang semuanya memakai barang mahal, lama-kelamaan kita merasa harus memiliki barang yang sama. Bukan lagi karena kebutuhan, melainkan karena gengsi dan keinginan untuk terlihat setara atau lebih baik daripada orang lain.

Padahal hidup berkecukupan berarti belajar mensyukuri dan mengelola apa yang Tuhan percayakan.

Firman Tuhan berkata:

Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b)

Tuhan juga memberikan ketenangan di tengah persoalan.

Sering kali ketika mempunyai masalah, kita mencoba menyelesaikannya dengan kekuatan sendiri. Berkali-kali kita mencoba, tetapi tidak menemukan jalan keluar. Baru setelah itu kita datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, aku berserah kepada-Mu.”

Ketika datang kepada Tuhan, kita menerima ketenangan, hikmat, dan kekuatan untuk menghadapi persoalan tersebut.

Damai sejahtera lahir dari kepercayaan kita kepada Tuhan. Kita percaya bahwa sampai hari ini Tuhan menjaga, melindungi, memelihara, dan memakai hidup kita bagi kemuliaan-Nya.

Apa yang sedang Saudara khawatirkan hari-hari ini?

Apakah masalah keuangan?
Pekerjaan?
Keluarga?
Pelayanan?
Kesehatan?
Masa depan?

Kita mempunyai Tuhan yang lebih besar daripada semuanya.

Nyanyi:

Aku punya Tuhan yang besar
yang telah berjanji
dan sanggup menggenapi

Imanku bersepakat
percaya kuasa-Nya
kuterima sekarang
kemenangan dari-Mu.

Kita mempunyai Tuhan yang besar. Tuhan tidak pernah tidur. Dalam bahasa Jawa dikatakan, Gusti ora sare. Tuhan tidak pernah tertidur.

Dalam setiap masalah dan pencobaan, Tuhan tetap ada. Pertanyaannya, maukah kita datang, mengetuk, dan berkata: “Tuhan, aku membutuhkan Engkau dalam persoalan ini.” Jangan berkata, “Aku bisa karena aku hebat. Aku mampu karena aku lebih baik.”

Kita mampu karena Tuhan baik dan karena Dia memberikan kekuatan.

#2 Tuhan menyertai

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. (Mazmur 23:4)

Menjadi orang percaya tidak berarti kita tidak pernah melewati lembah kehidupan. Ada persoalan, pergumulan, kehilangan, dan proses yang harus kita lalui.

Orang yang mengikut Tuhan maupun yang tidak mengikut Tuhan sama-sama dapat menghadapi masalah. Perbedaannya, orang percaya tidak berjalan sendirian. Tuhan menyertai dan memberikan kemenangan di dalam setiap proses.

Katakan bersama-sama: proses. Proses harus kita lewati, bukan selalu kita hindari. Sering kali kita menyerah ketika menghadapi proses. Kita berkata, “Sudahlah, cari jalan lain. Ubah rutenya.” Seperti ketika perjalanan kita macet, kita memilih jalan alternatif. Namun karena tidak mengenal jalan, akhirnya kita justru tersesat.

Demikian juga dalam hidup. Karena ingin segera keluar dari masalah, kita memilih jalan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuhan tidak selalu langsung menghilangkan persoalan. Namun Tuhan dapat memakai proses yang Dia izinkan untuk mendewasakan iman kita.

Bukan berarti semua masalah secara langsung diberikan oleh Tuhan. Tetapi tidak ada proses yang sia-sia ketika kita menyerahkannya ke dalam tangan-Nya. Setelah melewati suatu pergumulan dan mengalami pertolongan Tuhan, kita dapat memakai pengalaman itu untuk menguatkan orang lain.

Kita dapat berkata, “Saya pernah melewati hal yang serupa. Tuhan menolong saya, dan Tuhan juga sanggup menolongmu.”

Tuhan berjanji:

Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. (Yesaya 41:10)

Dia memegang tangan kita dengan tangan kanan-Nya yang membawa kemenangan. Firman Tuhan juga berkata:

Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. (Ulangan 31:6)

Inilah janji Tuhan.

Dia selalu hadir.
Dia selalu menyertai.
Dia memegang tangan kita.
Dia tidak membiarkan atau meninggalkan kita.

Karena itu, kuatkan dan teguhkan hati kita.

Saya ingin memberikan satu ilustrasi sederhana.

Ketika saya berjalan bersama istri dan anak saya, anak saya sering menggandeng tangan saya. Mengapa? Karena istri dan anak saya percaya bahwa genggaman tangan saya cukup kuat untuk menjaganya. Ketika anak saya terdistraksi, tersandung, atau hampir jatuh, saya dapat segera menarik dan menahannya. Anak saya merasa aman karena tangannya berada di dalam genggaman saya.

Demikian juga Tuhan. Ketika kita menghadapi masalah, Tuhan tetap ada. Namun maukah kita meraih tangan-Nya dan berkata: “Tuhan, aku membutuhkan Engkau.”

Peganglah tangan Tuhan, sebab di dalam genggaman-Nya ada ketenangan dan keamanan.

#3 Tuhan memulihkan

Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. (Mazmur 23:5)

Tuhan sanggup mengubah keadaan yang sulit menjadi kesaksian. Dia menyediakan hidangan di hadapan lawan kita. Dia mengurapi kepala kita dengan minyak dan membuat piala kita penuh melimpah.

Kita dapat melihatnya melalui kehidupan Yusuf. Yusuf dibenci oleh saudara-saudaranya. Dia hampir dibunuh, kemudian dijual sebagai budak. Dia difitnah dan dimasukkan ke dalam penjara. Namun Tuhan terus bekerja di balik seluruh proses hidupnya. Pada waktunya, Tuhan mengangkat Yusuf menjadi pemimpin di Mesir.

Apakah Yusuf kemudian membalas dendam kepada saudara-saudaranya? Tidak. Yusuf justru mengampuni, menolong, dan memberkati mereka. Dia menyediakan makanan dan memelihara keluarganya pada masa kelaparan.

Yang dilakukan Yusuf luar biasa. Dia tidak hanya mengampuni, tetapi juga berbuat baik kepada orang-orang yang pernah menyakitinya.

Bagi banyak orang, memberi mungkin lebih mudah daripada mengampuni. Mengampuni itu sulit. Kadang baru melihat wajah orangnya saja hati kita sudah terganggu. Baru mendengar namanya, kita sudah tidak mau hadir dalam suatu pertemuan.

Bukankah kita sering seperti itu? Namun Yusuf memilih jalan yang berbeda. Dia mengampuni dan menolong saudara-saudaranya. Kita pun dapat melakukannya karena Tuhannya Yusuf adalah Tuhan kita juga.

Pengampunan bukan berarti menyangkal bahwa luka itu pernah terjadi atau membiarkan kejahatan terus berulang. Pengampunan adalah menyerahkan hak pembalasan kepada Tuhan dan memilih untuk tidak terus hidup dikuasai kepahitan.

Tuhan sanggup memulihkan hati kita. Dia juga dapat memakai luka yang sudah dipulihkan untuk menjadi kesaksian dan berkat bagi banyak orang.

Amin!

#4 Tuhan menjamin masa depan

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa. (Mazmur 23:6)

Fokus orang percaya bukan mengejar berkat, melainkan mengejar Tuhan. Jangan menjadikan keuntungan dan berkat sebagai pertimbangan utama ketika melayani Tuhan.

Ketika diminta melayani, jangan hanya berpikir, “Apa untungnya bagi saya? Apa yang akan saya dapat?” Kalau Tuhan memerintahkan dan kita sanggup melakukannya, lakukanlah dengan setia. Selama kita masih dapat melayani, mari melayani Tuhan. Kebaikan dan keajaiban Tuhan sangat besar bagi setiap kita.

Kemarin saya mengalami kondisi tubuh yang kurang baik. Sepanjang hari saya hanya bisa tidur, bangun untuk makan dan minum obat, kemudian tidur lagi. Tubuh terasa lemah dan kepala terasa pusing. Namun saya sudah dijadwalkan melayani hari ini. Saya berkata, “Tuhan, kalau Engkau memberikan kekuatan, saya akan tetap melayani.”

Pagi ini saya juga mempunyai berbagai kegiatan. Ketika bangun, saya bersyukur karena tubuh terasa jauh lebih baik dan saya dapat menjalani pelayanan. Saya minum obat, dan obat itu membantu proses pemulihan. Saya bersyukur untuk pertolongan medis. Namun saya juga percaya bahwa kekuatan untuk dapat kembali beraktivitas dan melayani merupakan kebaikan Tuhan.

Pelayanan bukan transaksi. Kita tidak melayani supaya Tuhan wajib memberikan kesembuhan atau berkat. Kita melayani karena mengasihi Tuhan. Ketika sedang sakit, kita juga perlu bijaksana, beristirahat, berobat, dan tidak memaksakan tubuh. Namun dalam setiap keadaan, kita boleh tetap beriman dan percaya kepada pemeliharaan Tuhan.

Janji-Nya tetap ya dan amin!

Penutup

Ada beberapa pertanyaan yang perlu kita renungkan.

Apakah Yesus sungguh-sungguh menjadi Gembala hidup saya?

Apakah saya sungguh-sungguh mengikuti tuntunan-Nya atau lebih sering mengikuti kehendak sendiri?

Apakah saya tetap percaya ketika berada di dalam lembah?

Mudah untuk berkata, “Saya percaya,” ketika semuanya berjalan baik. Namun ketika sedang sakit, mengalami masalah, membutuhkan pertolongan, dan tidak melihat jalan keluar, apakah kita masih dapat berkata: “Tuhan, aku tetap percaya Engkau memimpin langkahku”?

Apakah saya mengejar Tuhan atau hanya mengejar berkat-Nya?

Apakah kita berkata:

“Saya harus sembuh dahulu baru melayani.”
“Saya harus kaya dahulu baru menjadi berkat.”
“Saya harus berhasil dahulu baru melakukan sesuatu bagi Tuhan.”

Tuhan dapat memakai hidup kita apa adanya.

Dengan apa yang Tuhan sudah berikan dan sediakan, jadilah berkat. Berkaryalah bagi kemuliaan Tuhan.

Jangan menunggu semuanya sempurna untuk mulai taat.

Ketika kita kekurangan, Tuhan memelihara.
Ketika kita takut, Tuhan menyertai.
Ketika kita terluka, Tuhan memulihkan.
Ketika masa depan tidak pasti, Tuhan tetap menuntun dan memberikan pengharapan.

Tuhan adalah Gembala yang setia. Karena itu, di tengah dunia yang tidak menentu, kita dapat tetap tenang. Bukan karena tidak ada masalah, tetapi karena kita mengenal siapa yang memimpin kehidupan kita.

Nyanyi:

Engkau Tuhan yang beri kekuatan
saat badai menerpa hidupku
di dalam-Mu aku tenang
sebab janji-Mu setia bagiku.

Ku tetap percaya
walau ku tak melihat
jalan di depanku
tak pernah ku ragu.

Ku tetap menyembah
apa pun yang terjadi
di dalam hidupku
tak pernah ku ragu
ku tetap percaya.