Lima kekayaan di atas kekayaan duniawi (Pdt Dr Johan Lumoindong)
| Ringkasan Khotbah | |
|---|---|
| Ibadah | Ibadah Raya |
| Tanggal | Minggu, 2 Agustus 2026 |
| Gereja | GBI Danau Bogor Raya |
| Lokasi | Grha Amal Kasih |
| Kota | Bogor |
| Video | YouTube |
| Khotbah lainnya | |
| |
| |
Kekayaan duniawi bukanlah harta yang terutama, sebab di atasnya terdapat kekayaan rohani di dalam Yesus, kekayaan jiwani melalui Firman Tuhan, kesehatan, kerukunan keluarga, dan hubungan yang dibangun dengan kasih serta ketulusan. Orang percaya dipanggil untuk menempatkan Yesus sebagai yang pertama, memelihara jiwa dengan Firman, menjaga hidup dan kesehatan, hidup rukun bersama keluarga, serta menjadi berkat melalui hubungan dengan sesama. Ketika lima kekayaan utama ini dijaga dan Kerajaan Allah menjadi prioritas, kita dapat mempercayakan kebutuhan serta pemeliharaan materi kepada Tuhan yang memberikan kekuatan untuk memperoleh, mengelola, dan memakai berkat bagi kemuliaan-Nya.
Shalom, Saudara.
Satu kehormatan bagi saya boleh melayani Tuhan di mana pun saya ditempatkan. Hari ini saya ada di tempat ini. Terima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus yang mengundang saya, juga kepada tuan rumah, Bapak dan Ibu Gembala, sahabat saya dan sahabat keluarga saya, seluruh koordinator, panitia, serta seluruh jemaat Tuhan yang dikasihi-Nya.
Saudara bersukacita? Amin!
Nyanyi:
Kubawa korban syukur
Ke tempat kudus-Mu, Tuhan
Hatiku limpah dengan syukur
Sebab Tuhan baik
Tidak mempunyai 74 kilogram emas pun kita tetap bersyukur. Kita masih bisa menarik napas. Haleluya! Puji Tuhan!
Setiap kali bangun pagi, hal pertama yang saya ingat adalah Tuhan. Saya langsung menaikkan pujian kepada-Nya. Ketika napas pertama dan awal hari kita diberikan kepada Tuhan, sepanjang hari kita akan berjalan bersama-Nya.
Karena itu, ketika Saudara bangun dan Tuhan masih mengizinkan Saudara hidup, jangan langsung memikirkan yang lain. Pikirkan Tuhan terlebih dahulu. Think about Him.
Saya juga selalu melihat ke sebelah kiri, karena istri saya tidur di sebelah kiri. Saya takut jangan-jangan pengangkatan sudah terjadi dan saya tidak ikut terangkat.
Istri saya adalah perempuan yang luar biasa. Kalau untuk Tuhan dan untuk menolong orang lain, dia seperti tidak tahu malu dan tidak tahu diri—dalam arti yang baik. Dia tidak malu meminta bantuan untuk orang yang sedang kesulitan. Dia bisa membawa orang yang bahkan tidak dikenalnya untuk berobat dan menolong mereka mendapatkan perawatan.
Kalau ada jemaat, sahabat, atau orang lain mengalami kesusahan, istri saya selalu berusaha hadir. Tidak heran temannya banyak dan kadang-kadang dia lebih dikenal daripada saya.
Waktu rumah kami sedang dibangun, seorang petugas keamanan hanya mengenal istri saya. Saya datang, tetapi dia malah memanggil saya “Pak Sri”. Saya bilang, “Saya Pak Johan, bukan Pak Sri.” Dia menjawab, “Maaf, Pak. Yang kami kenal hanya Ibu Sri.”
Setiap Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, para petugas keamanan datang ke rumah kami. Istri saya memberikan makanan, pakaian, atau berkat kepada mereka. Saya kadang berkata, “Untuk apa terus diberikan?” Istri saya menjawab, “Kalau kita punya, kita kasih. Kalau tidak punya, kita usahakan untuk memberi.”
Ke mana pun dia pergi, dia mendapatkan penghormatan karena selama ini dia membangun kehidupan yang suka menolong dan memperhatikan orang.
Saudara, sering kali kita terlalu sibuk mencari kekayaan duniawi. Orang berani menukar integritas, keluarga, kebebasan, bahkan iman demi kekayaan.
Saya pernah melayani orang-orang di lembaga pemasyarakatan. Ada orang yang dahulu aktif di gereja, bahkan bermain musik dalam pelayanan, tetapi kemudian masuk penjara karena masalah keuangan. Ada pula orang yang menerima hukuman sangat berat karena perkara yang sama.
Mengapa? Karena manusia terlalu mengejar harta duniawi.
Padahal menurut saya, kekayaan duniawi berada di urutan keenam. Di atasnya ada lima kekayaan yang jauh lebih penting. Kalau kita memiliki lima kekayaan tersebut dan hidup benar di hadapan Tuhan, kekayaan duniawi akan Tuhan tambahkan sesuai kehendak dan kebutuhan kita.
Firman Tuhan berkata:
- Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:33)
Fokuslah menjadi pelaku kebenaran Firman Tuhan dan carilah kelima harta yang lebih utama daripada kekayaan duniawi.
Mari kita membaca:
- Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. (Ulangan 8:17-18)
Kalau kita menerima kekayaan, semuanya karena kasih karunia Tuhan dan karena janji-Nya.
Firman Tuhan juga berkata:
- Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya. (1 Tawarikh 29:12)
Tuhan bukan hanya sanggup memberikan berkat, tetapi juga menjaga dan mengokohkannya.
Lima kekayaan yang lebih tinggi dari kekayaan duniawi
Sekarang mari kita melihat lima kekayaan yang lebih tinggi daripada kekayaan duniawi.
#1 Kekayaan rohani: Yesus Kristus
- Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. (1 Petrus 2:5)
Kekayaan yang pertama adalah kekayaan rohani. Dan kekayaan rohani yang terbesar adalah Yesus Kristus.
Yesus harus menjadi kekayaan nomor satu dalam hidup kita.
Jangan menukar Yesus hanya demi jodoh.
Jangan menukar Yesus demi jabatan.
Jangan menukar Yesus demi kekayaan duniawi.
Ada orang yang berani meninggalkan Tuhan demi memperoleh sesuatu yang sementara. Padahal Yesus adalah harta utama kita. Biarlah Yesus selalu menjadi yang pertama. Jesus first!
Kalau ada perjalanan atau kegiatan yang mengganggu komitmen saya untuk melayani dan beribadah kepada Tuhan, saya akan memilih Tuhan. Negara atau tempat tujuan perjalanan mungkin menarik, tetapi Yesus jauh lebih berharga.
Saya hidup karena Dia.
Keselamatan saya berasal dari Dia.
Dia mati dan bangkit bagi saya.
Kalau saya hidup, saya hidup bagi Dia.
Kalau saya mati, itu keuntungan karena saya berjumpa dengan Dia.
Karena itu simpanlah Yesus di dalam hatimu. Biarlah Dia selalu menjadi harta terbesar dalam hidupmu. Ketika Yesus menjadi yang pertama, hidup kita berada di dalam tangan-Nya!
#2 Kekayaan jiwani: Firman Tuhan
Kekayaan yang kedua adalah kekayaan jiwani, yaitu Firman Tuhan.
Mari kita membaca:
- Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. (Yakobus 1:21-22)
Firman Tuhan adalah kekayaan yang memelihara jiwa kita.
Nyanyi:
Firman-Mu pelita bagi kakiku
dan terang bagi jalanku.
Sesibuk apa pun Saudara, jangan tinggalkan ibadah dan Firman Tuhan. Mengapa?
Karena ketika kita mendengarkan Firman, iman kita bertumbuh. Firman memberikan kekuatan untuk menghadapi hari Senin sampai Sabtu. Selama Firman Tuhan ada di dalam kita, kita tidak mudah digoyahkan.
Kesulitan dan kekurangan hanya merupakan situasi. Jangan sampai situasi itu membentuk kita memiliki mental yang miskin dan putus asa. Tuhan selalu menyediakan waktu bagi kita. Bagaimana kita membalas kasih-Nya? Salah satunya dengan memberikan waktu untuk mendengar, membaca, merenungkan, dan melakukan Firman.
Dari mana kita mengenal Yesus? Dari Firman Tuhan. Orang yang hidupnya berhasil dan beruntung adalah orang yang terus mengingat serta melakukan Firman. Ketika saya mengalami masalah, Firman Tuhan menguatkan saya. Banyak orang datang menceritakan masalah keluarga, keuangan, dan kehidupan mereka. Saya sendiri juga mempunyai masalah.
Saya tidak mempunyai penghasilan dari pekerjaan lain. Saya hidup dengan melayani Tuhan. Namun motivasi saya melayani bukan untuk mendapatkan keuntungan. Saya melayani karena Tuhan memilih dan mempercayakan Firman-Nya kepada saya. Sisanya biarlah Tuhan yang memelihara.
Saya mempunyai tanggung jawab kepada keluarga sendiri dan juga kepada keluarga besar. Dua saudara saya telah meninggal, sehingga saya turut memperhatikan anak-anak mereka.
Doa saya sederhana: “Tuhan, berkati saya supaya saya dapat memberkati keluarga dan banyak orang.”
Firman Tuhan berkata bahwa ketika kita memberi, kita akan diberi. Ketika kita memberkati, Tuhan juga sanggup memberkati kita. Saya tidak mau terus-menerus mengeluh kepada Tuhan. Dia sudah memberikan segalanya: hidup, napas, keselamatan, dan kasih-Nya. Kalau masalah belum selesai, saya belajar diam dan berkata, “Jadilah menurut kehendak-Mu, Tuhan.”
Kadang-kadang menurut kita Tuhan terlambat. Namun mungkin Tuhan sedang menumbuhkan iman kita supaya kita semakin percaya dan mengasihi-Nya. Ketika manusia memperlakukan Saudara dengan tidak baik, jangan terus membalas. Pembalasan adalah hak Tuhan.
Pegang Firman, bukan perkataan manusia. Rajinlah beribadah. Rajinlah membaca, mendengar, merenungkan, dan melakukan Firman. Di situlah kekuatan jiwa kita.
#3 Kekayaan kesehatan
Kekayaan yang ketiga adalah kesehatan.
Firman Tuhan berkata:
- Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja. (3 Yohanes 1:2)
Perhatikan susunannya: baik-baik dan sehat-sehat. Kalau kita mau hidup sehat, kita juga harus belajar hidup baik.
Baik kepada Tuhan.
Baik kepada orang tua.
Baik kepada keluarga.
Baik kepada sesama.
Ketika orang tua memanggil, jangan langsung merasa terganggu dan menjawab dengan kasar. Semasa hidup ibu saya, ketika beliau memanggil, saya selalu datang. Suatu kali ibu meminta saya menolong adik yang mempunyai utang besar.
Beliau berkata, “Kamu bisa menolong adikmu?”
Saya langsung menjawab, “Bisa, Ma.”
Setelah itu baru saya berpikir, “Mengapa saya langsung bilang bisa?”
Saya pulang dan berbicara kepada istri. Saya perlu menjual beberapa hal untuk membantu adik saya. Istri saya menjawab, “Kalau itu yang Tuhan taruh di hatimu, lakukanlah.”
Kami pun menolong adik saya.
Beberapa waktu kemudian ibu datang kembali. Kali ini seorang anggota keluarga perlu dirawat dan dioperasi. Biayanya besar. Saya tidak mempunyai uang sebanyak itu. Namun saya percaya Tuhan akan memberikan jalan keluar. Akhirnya saya menjual kendaraan untuk membayar biaya pengobatan tersebut.
Secara manusia, tentu itu berat. Setelah semuanya selesai, ibu saya memegang kepala saya dan berdoa supaya Tuhan memelihara kesehatan saya. Sampai hari ini saya melihat pemeliharaan Tuhan dalam hidup saya. Saya tidak mengatakan ini untuk menyombongkan diri, melainkan untuk menyaksikan kebaikan Tuhan.
Namun kita perlu memahami ayat ini secara tepat. Hidup baik bukanlah rumus otomatis bahwa seseorang tidak akan pernah sakit atau masuk rumah sakit. Orang benar pun dapat mengalami sakit. Kesehatan adalah anugerah yang perlu disyukuri, dijaga, dan didoakan.
Pesannya adalah: jangan memelihara kemarahan, kepahitan, dan pola hidup yang merusak diri. Belajarlah memiliki penguasaan diri.
Baik-baiklah dengan Tuhan.
Baik-baiklah dengan keluarga.
Baik-baiklah dengan sesama orang percaya.
Bahkan baik-baiklah dengan orang yang berbeda iman.
Kita tidak rugi karena berbuat baik. Kesehatan jauh lebih berharga daripada kekayaan yang besar. Untuk apa mempunyai triliunan rupiah kalau seluruh waktu dan hidup habis karena penyakit? Syukurilah dan jagalah kesehatan yang Tuhan berikan.
#4 Kekayaan kerukunan keluarga
Kekayaan yang keempat adalah kerukunan keluarga.
Firman Tuhan berkata:
- Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! (Mazmur 133:1)
Rukunlah dengan keluarga!
Setelah ibu saya meninggal, adik saya tinggal bersama saya selama sekitar 13 tahun. Kami belajar hidup bersama dan saling menerima. Tentu keluarga memiliki perbedaan. Anak-anak dapat mempunyai pandangan yang berbeda. Saudara dapat mengecewakan kita. Tetapi kita harus menjaga kerukunan.
Saya pernah melayani di satu gereja sepanjang hari. Kami melayani sampai beberapa kali ibadah, tetapi tidak terlalu diperhatikan oleh panitia. Anak-anak saya mulai merasa kecewa dan mempertanyakan sikap mereka. Namun istri saya tetap memilih tenang. Kami akhirnya pergi makan sendiri. Di tempat makan, kami bertemu para koordinator gereja tersebut. Mereka sempat menghindar, tetapi akhirnya kami mengajak mereka makan bersama. Bahkan istri saya yang membayar makanan.
Tahun berikutnya mereka mengundang kembali. Kami tetap melayani. Bahkan kali itu kami diterima dengan lebih baik. Saya berkata kepada anak-anak, “Kita tidak boleh memelihara kemarahan.”
Anak-anak kadang berkata bahwa saya terlalu baik. Tetapi saya menjelaskan, bukan saya yang hebat. Tuhanlah yang memberikan hati untuk mengampuni dan tetap berbuat baik.
Kalau Saudara datang ke gereja sendirian, ajaklah pasangan, anak, dan keluarga. Bangun keluarga yang bersama-sama melayani Tuhan.
Puji Tuhan, kedua anak saya sekarang melayani Tuhan. Yang satu menjadi pembicara, dan yang lain melayani dalam bidang pujian dan musik. Itu semua anugerah Tuhan. Apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. Karena itu, baik-baiklah dengan keluarga.
Harta dapat hilang. Jabatan dapat berakhir. Tetapi keluarga yang rukun merupakan kekayaan yang sangat berharga.
#5 Kekayaan hubungan
Kekayaan yang kelima adalah kekayaan hubungan.
Firman Tuhan berkata:
- Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah. (2 Korintus 1:12)
Kalau kita mempunyai hubungan yang baik dan jaringan pertemanan yang sehat, banyak hal dapat dikerjakan bersama.
Namun hubungan yang baik tidak dibangun hanya supaya kita mendapatkan keuntungan. Hubungan harus dibangun dengan ketulusan, kemurahan hati, dan kasih karunia Allah.
Istri saya senang berteman dan menolong orang. Banyak ibu dari berbagai gereja datang menemuinya. Awalnya mereka hanya bertemu untuk minum kopi, makan, dan berbincang-bincang.
Saya kemudian berkata, “Daripada hanya berkumpul dan berfoto, mengapa tidak membuat persekutuan?” Akhirnya terbentuklah sebuah persekutuan lintas gereja. Ada orang yang memberikan tempat secara gratis karena pernah mengalami pertolongan dari istri saya. Para ibu secara bergantian menyediakan makanan. Sekarang persekutuan itu bertumbuh dan dihadiri banyak orang.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena hubungan yang selama ini dibangun dengan kasih akhirnya menjadi wadah pelayanan.
Istri saya juga mempunyai hubungan baik dengan beberapa dokter. Karena itu dia sering menjadi jembatan bagi orang-orang yang sulit mendapatkan jadwal pengobatan. Hubungan yang baik dapat membuka jalan bagi kita untuk menolong orang lain.
Saya sendiri belajar untuk menyapa orang dengan ramah, memberikan senyum, dan menghormati siapa pun. Networking yang baik bukan soal memanfaatkan orang lain. Bukan pula supaya makanan kita dibayar atau kita mendapatkan kemudahan. Semua itu hanya humor.
Kekayaan hubungan yang sesungguhnya adalah ketika keberadaan kita menjadi berkat, menghadirkan pertolongan, membangun kepercayaan, dan membuka kesempatan bagi orang lain mengalami kasih Tuhan. Jagalah hubungan dengan sesama.
Jangan menjadi orang yang sulit disapa. Jangan memelihara kesombongan. Belajarlah tersenyum, menghormati, mendengar, menolong, dan hadir bagi orang lain.
Kekayaan duniawi berada di bawah semuanya
Setelah kelima kekayaan ini, barulah kita berbicara tentang kekayaan duniawi.
Urutannya adalah:
- Kekayaan rohani: Yesus Kristus.
- Kekayaan jiwani: Firman Tuhan.
- Kekayaan kesehatan.
- Kekayaan kerukunan keluarga.
- Kekayaan hubungan.
- Kekayaan duniawi.
Kalau seseorang mempunyai banyak uang tetapi kehilangan Yesus, apa gunanya?
Kalau mempunyai harta tetapi jiwanya kosong, apa gunanya?
Kalau kaya tetapi tubuhnya hancur, keluarganya berantakan, dan tidak mempunyai seorang pun yang dapat dipercaya, apakah dia benar-benar kaya?
Karena itu, jangan mengorbankan lima kekayaan utama hanya untuk mengejar kekayaan yang keenam. Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Tempatkan Yesus sebagai yang pertama. Penuhi jiwa dengan Firman. Jagalah kesehatan. Bangunlah keluarga yang rukun. Peliharalah hubungan yang baik.
Kemudian percayalah bahwa Tuhan sanggup memelihara dan mencukupkan kehidupan kita.
Nyanyi:
Tak pernah berakhir, kasih setia-Mu
Selalu nyata dalam hidupku
Tak pernah berhenti, berharap pada-Mu
Yesusku Kau segalanya