Revival in family Api Amanat Agung melalui keluarga (Pdm Himawan Hadirahardja, MSc)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 2 Juni 2026 10.24 oleh Leo (bicara | kontrib) (baru)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Roh Kudus dicurahkan bukan terutama untuk sensasi rohani, melainkan untuk memampukan orang percaya menyerahkan kendali hidupnya kepada Tuhan dan menjadi saksi Kristus mulai dari Yerusalemnya, yaitu keluarga dan komunitas terdekatnya. Kuasa Roh Kudus memulihkan keluarga menjadi pusat misi dengan mematikan ego, menyembuhkan luka, membangun pengampunan, dan menolong orang tua menghadirkan Kristus secara nyata di rumah melalui keteladanan, kejujuran, dan pemuridan yang konsisten. Rumah yang dipenuhi karya Roh Kudus akan menjadi tempat di mana Injil tidak hanya diajarkan sebagai teori, tetapi dilihat, dirasakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Shalom. Apa kabar semuanya? Berapa banyak yang diberkati lewat pujian dan penyembahan yang kita naikkan tadi? Haleluya! Puji Tuhan.

Pak Rusli, terima kasih banyak untuk kesempatan ini. Satu kehormatan saya bisa melayani pada malam hari ini. Terima kasih juga buat para pemimpin di tempat ini, buat jemaat Tuhan. Hari ini saya percaya kita berkumpul bukan hanya sekadar buat beribadah, bukan hanya sekadar memohon pencurahan Roh Kudus, tetapi kita mau belajar sesuatu yang saya percaya akan membukakan mata rohani kita, mencelikkan kita, dan saya berdoa juga mengubahkan hidup kita. Yang setuju katakan amin.

Karena begini, Bapak, Ibu, Saudara. Kalau kita berdoa sepuluh hari, tetapi kita tidak mengalami sesuatu, tidak mengalami perubahan, tidak mengalami terobosan, saya percaya pasti kita akan merasa awkward.

Jujur, hari-hari ini pasti banyak murid-murid Yesus yang pengin dipenuhi Roh Kudus. Kok enggak ada yang amin? Saya ulangi ya. Hari-hari ini banyak murid-murid Yesus yang pengin dipenuhi Roh Kudus. Amin. Pengin ngalamin sesuatu yang luar biasa. Amin.

Tapi, Bapak, Ibu, Saudara, sering kali kita rindu dipenuhi Roh Kudus, tapi kalau kita boleh jujur dalam kehidupan kita, enggak semua dari kita pengin benar-benar dipimpin oleh Roh Kudus. Halo. Karena rupanya banyak orang pengin dipenuhi, tapi masih pengin pegang kendali hidupnya.

Natur keberdosaan kita sebagai manusia yang sudah rusak oleh dosa memang cenderung enggak mau dikontrol orang lain, cenderung enggak mau dikontrol oleh siapa pun. Kita pengin kontrol diri kita sendiri.

Some of us, beberapa dari kita, sadar atau enggak sadar, suka atau enggak suka, kalau mau bersikap jujur, melihat Roh Kudus dan mempersepsikan Roh Kudus dengan motivasi yang enggak pas. Pengin ngerasain getarannya, pengin ngalamin perasaannya meluap-luap, pengin ngerasain sukacita yang luar biasa. Itu enggak salah. Tetapi ketika Yesus berkata bahwa akan turun Penolong, akan diberikan Penolong, tujuan utamanya bukan buat itu semua tadi.

Bukan cuma sekadar untuk kita bisa ketawa dalam penderitaan. Bukan cuma sekadar supaya kita bisa getar-getar. Bukan cuma itu. Tapi ada sesuatu yang jauh lebih dalam. Roh Kudus dianugerahkan buat kita semua, dicurahkan buat kita semuanya, bukan supaya kita merasa nyaman, atau bahkan seperti yang dialami oleh sebagian jemaat di Korintus, ketika mereka merasa dipenuhi Roh Kudus, mereka merasa jadi lebih rohani, jadi lebih sombong.

Dapat karunia, tapi mereka salahgunakan karunianya untuk menunjukkan kehebatan mereka. Bahkan karunia berbahasa lidah, berbahasa roh yang mereka dapatkan, mereka gunakan untuk pamer. Bahkan ngobrol sehari-hari pun digunakan hanya untuk menunjukkan bahwa aku lebih rohani dari kamu, levelku lebih tinggi dari kamu.

Dan itu yang Paulus rebuk, itu yang Paulus tegur, itu yang Paulus luruskan kembali. Saya kira apa pun yang Paulus luruskan kepada jemaat di Korintus itu masih berlaku buat Saudara dan saya hari-hari ini. Setuju? Katakan amin.

Yesus mencurahkan Roh Kudus, memberikan kepada kita Penolong, punya tujuan yang jauh lebih besar dari itu. Mari kita lihat bersama-sama Firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul pasal 1 ayat 8.

By the way, bagi yang belum mengenal saya, nama saya Himawan. Bagi yang sudah mengenal saya, nama saya masih Himawan, belum berubah. Saya dan istri saya menikah 27 tahun lebih. Tuhan percayakan kepada kami tiga orang anak: Michael 26 tahun, Daniel 22 tahun, dan Jennifer 20 tahun. Dan kami tinggal enggak jauh dari sini. Kami tinggal di Gading Serpong. Haleluya.

Mari kita baca:

Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. (Kisah Para Rasul 1:8)

Malam hari ini saya dapat tugas membawakan sebuah Firman Tuhan yang saya beri judul: Api Amanat Agung melalui Keluarga.

Kenapa ini penting, Bapak, Ibu, Saudara, baik buat kita yang hadir di tempat ini maupun yang mengikuti melalui Zoom? Karena ayat ini adalah kata-kata terakhir Yesus sebelum Dia naik ke surga. Berapa hari yang lalu kita merayakan kenaikan Yesus ke surga. Dan biasanya, Bapak, Ibu, Saudara, pesan-pesan terakhir itu sangat penting. Dan Yesus memilih untuk menutup, mengakhiri kehadiran-Nya di bumi ini dengan kata-kata itu.

Nah, perhatikan konteksnya. Kenapa sampai Yesus untuk yang kesekian kalinya menegaskan kembali bahwa kepada murid-murid-Nya mereka akan menerima Roh Kudus? Kenapa?

Di ayat 6, Bapak, Ibu, Saudara, bayangkan bersama saya. Tiga setengah tahun Yesus memuridkan 12 murid-Nya. Satu berkhianat, tinggal 11. Dari 11 ini mulai banyak murid-murid yang lain. Dan Yesus, kita sama-sama tahu, ditangkap, mati di kayu salib, lalu tiga hari kemudian bangkit. Dan kemudian sebelum naik ke surga, 40 hari setelah kebangkitan-Nya, Yesus mengunjungi murid-murid-Nya untuk menjelaskan tentang Kerajaan Allah.

Jadi pengajaran tentang Kerajaan Allah, prinsip Kerajaan Allah, termasuk maksud kedatangan Yesus dan maksud kepergian Yesus, kerajaan seperti apa yang akan di-establish, semua itu sudah dijelaskan berkali-kali. Jadi ketika di ayat yang keenam, sudah mau berangkat, kira-kira sudah di terminal keberangkatan, pas mau boarding, Yesus masih dapat pertanyaan seperti ini: Guru, kapan Engkau memulihkan kerajaan Israel seperti dulu?

Masih ada satu yang Jaka Sembung alias kagak nyambung.

Bayangkan, Bapak, Ibu, Saudara. Tiga setengah tahun, plus sampai 40 hari, dijelaskan berbusa-busa, masih ada yang punya konsep bahwa Mesias adalah orang yang akan memimpin mereka untuk mengembalikan Israel kembali seperti zamannya Daud dan Salomo, kerajaannya established di bumi.

Yesus menjawab, It’s not your concern. Kira-kira begitu bahasa Inggrisnya. Kapan waktunya bukan urusanmu, itu urusan Bapa-Ku. Maksudnya apa? Kapan Yesus datang kali yang kedua, itu urusannya Bapa. Yesus sendiri berkata bahwa waktu itu ada pada Bapa.

Tetapi dengar ini baik-baik. Yang perlu kamu pikirkan adalah ini: kamu akan menerima kuasa dan kamu akan jadi saksi-Ku, bukan cuma di Yerusalem, tapi juga di Yudea, Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi.

Dan Yesus sadar, dalam kehidupan-Nya sebagai manusia, untuk tugas yang begini penting, enggak mungkin manusia, bahkan meskipun sudah diajarin prinsip-prinsip Kerajaan Allah, dengan kemampuan manusia yang terbatas, bisa benar-benar carry on melanjutkan apa yang diamanatkan oleh Yesus tanpa satu Penolong yang namanya Roh Kudus ini.

Ada beberapa hal menarik dari ayat ini.

Kuasa untuk melakukan yang mustahil

Kita lihat kata kuasa itu dulu. Katakan sama-sama: kuasa.

Bahasa aslinya adalah dunamis. Ini kuasa bukan otoritas. Ada orang bisa berkuasa karena dia di-reinstate, dipilih, dikasih jabatan, lalu menunjukkan kuasa. Bukan itu. Dunamis di sini artinya adalah kekuatan yang memampukan seseorang melakukan sesuatu hal yang sebelumnya mustahil untuk dilakukan. Kata kuncinya apa? Mustahil.

Bapak, Ibu, Saudara, saya pernah sampaikan di tempat ini bahwa mengikuti standarnya Allah, mengikuti Firman Allah, menaati Firman Allah, itu enggak susah, tapi mustahil kalau kita pakai kekuatan sendiri.

Karena itulah Yesus tahu persis, manusia enggak bisa tanpa Roh Kudus. Maka Tuhan memberi dunamis, kemampuan yang berasal bukan dari dalam diri sendiri, tetapi di-install ke dalam hidup kita, supaya dari dalam ini keluar sesuatu yang dampaknya ke luar dan menjadi berkat. Yang setuju katakan amin.

Menjadi saksi, bukan sekadar merasa penuh

Kata berikutnya yang menarik adalah saksi. Katakan sama-sama: saksi. Bahasa aslinya adalah martus. Saksi itu orang yang berbicara berdasarkan apa yang dia lihat dan alami sendiri. Bukan kata orang, bukan cerita orang lain, bukan teori, tapi dari pengalaman pribadi yang nyata-nyata.

Menariknya, Bapak, Ibu, Saudara, di abad pertama bersaksi tentang Yesus itu sesuatu yang sangat dilarang, sangat berbahaya. Kenapa? Karena pada waktu itu kalau berani bersaksi tentang Yesus, mengabarkan tentang Yesus sebagai Raja di atas segala raja, itu dianggap menentang kaisar. Kaisar waktu itu menganggap dirinya seperti Tuhan. Sehingga kalau Saudara dengar orang mengajarkan tentang Yesus Kristus, orang itu bisa dihukum mati.

Dari sinilah lama-kelamaan martus bergeser maknanya menjadi martir.

Poin saya begini: menjadi saksi Kristus itu bukan hal yang mudah. Selalu ada harga yang harus dibayar. Katakan sama-sama: harga yang harus dibayar.

Dan bayar harga itu dimulai dari satu langkah yang sederhana tapi susah dilakukan, yaitu menyerahkan seluruh hak hidup kita kepada Tuhan. Nah, ini yang paling enggak gampang. Makanya saya bilang, banyak orang pengin dipenuhi Roh Kudus, tapi enggak mau dipimpin Roh Kudus. Karena belum sepenuhnya menyerahkan hak hidupnya kepada Tuhan.

Masih pengin ada sesuatu yang dia pegang, dia kendalikan. My way, not Your way. Cara saya, Tuhan. Waktunya kapan? Waktunya saya, Tuhan. Saya maunya besok, saya maunya lusa, saya maunya selambat-lambatnya. Dikasih deadline Tuhan.

Apalagi sudah kasih deadline, kita tambahin landasan teoritisnya dengan apa? Kita comot-comot ayat yang menguntungkan kita. “Bukankah Tuhan sendiri janji?” Saya kalau dengar yang seperti itu jadi ingat anak saya waktu masih kecil. Saya janji, “Kalau kamu behave, dapat es krim.” Lalu begitu dia merasa sudah behave, PR sudah beres semua, dia bilang, “Tapi es krimnya mana? Aku maunya sekarang. Kan papi sudah janji.”

Anak umur tiga atau empat tahun enggak akan berhenti mengingatkan janji sampai dia dapat apa yang dia mau pada waktu yang dia mau.

Kadang kita juga begitu terhadap Tuhan.

Yerusalem dulu: mulai dari yang terdekat

Hal ketiga yang menarik dari ayat tadi, Yesus menyebutkan urutan yang sangat spesifik. Pertama apa? Yerusalem. Jangan cepat-cepat ke Yudea dulu. Yerusalem dulu. Habis Yerusalem, baru Yudea, Samaria, lalu ujung bumi.

Titik awal. Yesus dengan sengaja menyebut kata Yerusalem untuk menekankan bahwa kalian memuridkan, mengabarkan Injil, mulai dari daerah terdekatmu sendiri. Halo.

Diterjemahkan menjadi: dari tempat yang engkau kenal, dari orang-orang yang paling dekat yang engkau kenal. Itulah Amanat Agung yang sesungguhnya.

Memuridkan itu kata kerja imperative-nya. Disciple. Kata kunci Amanat Agung bukan sekadar “pergi”, tetapi “memuridkan”. Katakan sama-sama: memuridkan.

Jadi bersaksi tentang Yesus enggak usah buru-buru. “Oh, Pak Rusli, kapan kita ada mission trip ke Papua? Saya mau ikut. Saya mau nginjil ke sana. Kapan kita ke Sanggau lagi? Kapan ke daerah-daerah pelosok?” Bagus. Tetapi lupa ada jiwa-jiwa juga di dekat rumahnya. Halo. Orang tuanya, adiknya, kakaknya, anak-anaknya, mereka juga butuh Yesus.

Dan bukan cuma butuh Yesus, mereka juga butuh mendengar kesaksianmu, pengalamanmu dengan Yesus, yang akan membuat iman mereka kepada Yesus makin kuat.

Dengan kata lain, Yesus berkata: mulai dari komunitasmu. Itu kenapa murid-murid Yesus, begitu mereka penuh Roh Kudus, mereka enggak langsung berpencar ke segala tempat. Mereka mulai dari situ dulu. Bergerak pelan-pelan.

Menginjil bukan dari panggung besar, bukan dari program gereja yang megah, tetapi dari meja makanmu sendiri, dari ruang keluargamu sendiri, dari kamar tidurmu sendiri, dari kamar tidur anak-anakmu sendiri. That’s your Jerusalem. Itulah Yerusalemmu.

Mulai dari situ, dari percakapan sehari-hari.

Amanat Agung dimulai dari keluarga

Dan ini yang mau kita renungkan bersama malam ini. Dua hal yang saya mau sampaikan. Kenapa kita perlu Roh Kudus bahkan dalam hidup berkeluarga?

#1 Roh Kudus memulihkan keluarga menjadi pusat misi

Yang pertama, Roh Kudus memulihkan keluarga menjadi sebuah pusat misi. Katakan sama-sama: pusat misi.

Ada keluarga yang kelihatan rukun di gereja. Tapi begitu masuk rumah, mereka seperti punya bentuk komunikasi batin atau telepati. Atau kalau mau komunikasi pakai gadget. Makanya ngelihatin gadget mulu. Suami sibuk dengan pekerjaannya, istri lelah dengan semua tanggung jawab rumah tangga, anak-anak ngumpet di kamarnya, asyik dengan dunia masing-masing, bersembunyi di balik layar ponsel.

Bapak, Ibu, Saudara, ini bukan keluarga yang sesungguhnya. Ini cuma sekumpulan orang yang tinggal serumah. That’s not a family. That’s not a home. That’s just a house.

Dan Alkitab melihat keluarga bukan cuma sekadar sebuah unit sosial. Keluarga adalah ekklesia kecil. Jemaat dalam skala kecil, tetapi relasinya paling dekat.

Seharusnya tempat seperti inilah di mana iman terlihat paling nyata. Di situ seharusnya kasih Kristus itu paling dirasakan. Ketika engkau hadir, meskipun enggak ngomong apa-apa. Anakmu lagi belajar, engkau duduk di sebelahnya. Engkau enggak perlu ngajarin kalau memang enggak ngerti. Engkau cuma duduk di situ, mendoakan anakmu, atau elus-elus anakmu. Di situ anakmu merasakan: presence. Hadir. Kira-kira kalau Tuhan hadir, ya seperti ini.

Walaupun mereka enggak dapat benefit langsung. Mungkin kalau ditanya, “Mah, soal ini gimana?” lalu ibunya bingung. “Papa juga enggak ngerti. Tapi papa di sini nemenin kamu.”

Even though mereka enggak merasa mendapat manfaat langsung dari kehadiran kita, tetapi mereka merasakan kita hadir. Itu sudah bicara banyak.

Masalahnya, natur dosa membuat kita seolah-olah enggak punya kekuatan untuk itu. Kita enggak berdaya menghadapi konflik yang terus berulang.

“Pak, hubungan kami terlanjur rusak. Ibarat aki sudah mati, soak, Pak. Di-jumper sudah enggak bisa. Sudah berusaha, didorong, diapain, enggak bisa. Sudah mati.”

Ketika kita merasa helpless, kita merasa hopeless, di situlah fungsinya dunamis. Roh Kudus tidak datang untuk memperkuat ambisi kita, tapi Dia datang untuk mematikan keinginan daging kita. Supaya apa? Ketika ego kita mati, di situlah Tuhan membuka jalan buat bekerja lebih dahsyat dalam hidup kita.

Pikir baik-baik, Bapak, Ibu, Saudara. Enggak sedikit pasangan suami istri masuk dalam pernikahannya sambil bawa koper. Bukan cuma koper pakaian, tapi koper luka masa lalu, koper luka masa kecil. Hal-hal yang mereka pikir sudah mereka lupakan, tetapi masih mereka bawa-bawa.

Sehingga enggak sedikit, ketika terjadi perbedaan pandangan, lalu ada yang tersinggung, reaksinya begitu emosional. Pasangannya bingung, “Eh, gitu aja kok marah?” Lalu yang satu lagi enggak mau kalah. “Enggak bisa, ini pemberontakan harus ditumpas. Lu perempuan, gua laki, gua pemimpin.” Dan macam-macam.

Padahal sering kali reaksi berlebihan itu bukan semata-mata karena kata-kata pasangan kita salah. Bisa jadi memang iya. Tapi penyebab sesungguhnya adalah karena ada luka yang dikopek-kopek lagi. Ada kata-kata, nada suara, ekspresi muka yang mengingatkan kita pada sesuatu dari masa lalu.

“Aduh, ini kayak papa dulu waktu mukulin saya pakai rotan.”
“Atau ini kayak mama dulu waktu ngomel, cubit, atau sakiti saya.”

Trauma muncul, lalu reaksinya pun berlebihan.

Dan ini menjadi tembok yang menghalangi seseorang untuk percaya bahwa Allah itu benar-benar mengasihi. Di sekolah minggu dia dengar: Allah itu penuh kasih, Allah itu baik. Tapi dalam hatinya dia bilang, “Miss, you don’t know my father. Kamu enggak tahu bapak saya kayak apa.”

Ketika kita dipenuhi Roh Kudus, kita yang mungkin penuh luka, diberi kekuatan untuk menerobos ketakutan, kekhawatiran, luka, dan ego kita dihancurkan. Roh Kudus mengingatkan kita: forgive, ampuni.

Mungkin memang benar suamimu kata-katanya enggak enak. Tapi ampuni dia. Karena dia pun mungkin sedang capek, lelah, terluka. Ampuni dia.

Kita yang tadinya sudah pengin keluar jurus kungfu, tiba-tiba Roh Kudus dengan lembut mengingatkan, “Ingat Firman Tuhan.” Langsung ces. Itu fungsi Roh Kudus.

Di kantor kita ditawari pekerjaan yang melanggar Firman Tuhan. Lalu kita bilang, “Berkat dari Tuhan ini. Saya cuma perlu ngutak-ngatik sedikit. Bukan curang, cuma ngakalin sistem. Kan kita harus cerdik seperti ular, Pak.” Orang Kristen kalau cari alasan itu pintar-pintar. Pas lagi butuh pembenaran, ayatnya keluar cepat banget.

Tapi waktu kita mau lakukan yang salah itu, Roh Kudus mengingatkan: orang enggak ada yang tahu? Mungkin Pak Rusli enggak lihat, pemimpin cool enggak lihat, teman enggak lihat. Tapi ingat lagu sekolah minggu: mata Tuhan melihat apa yang kita perbuat. Itu Roh Kudus.

Dengan Roh Kudus dalam diri kita, kita mulai mati terhadap kebutuhan untuk membalas dendam. Kita mulai mati terhadap ambisi-ambisi yang selama ini kita kejar, bahkan yang sering kali lebih penting daripada Tuhan sendiri.

Dan ketika kita mulai berubah, perubahan itu menjadi kesaksian yang paling kuat bagi keluargamu. Mereka bisa melihat: Wow, Holy Spirit is real. Roh Kudus itu nyata. Bukan cuma ketika ngelepar-gelepar, bukan cuma ketika manifestasi, tapi nyata benar-benar. “Papa dulu enggak begini loh. Mama dulu enggak begini loh. Dedek dulu enggak begini loh. Berubah ya.”

Itulah dunamis. Kuasa yang menghancurkan ego, tembok amarah, dan tembok luka kita. Menerobos semuanya, supaya rumah menjadi tempat yang aman, nyaman, dan tempat di mana orang bisa melihat Yesus benar-benar hidup dan mengubah seseorang dari dalam.

Langkah praktis

Praktisnya bagaimana?

Jadikan mezbah keluargamu mezbah keluarga yang jujur. Bukan sekadar ritual doa. Tapi kalau memang ada yang salah, mau minta maaf, lakukan di situ.

“Papa mau minta maaf, Ma.”
“Papa salah.”
Biar anak-anakmu melihat. Wow, the power of forgiveness.

“Papa salah tadi ya. Papa bentak kamu. Enggak boleh itu. Sorry, ya.”
“Papa gagal hari ini. Papa tadi marah. Papa minta ampun sama Tuhan.”

Kesaksian seperti itu perlu didengar anak-anak. Bahwa pengalaman bersama Tuhan itu nyata. Itu engkau sedang bersaksi tentang Tuhan kepada anakmu. Itu engkau sudah memuridkan anakmu. Rumahmu jadi pusat misi, supaya anak bukan cuma dengar teori, tapi melihat bukti nyata.

Praktikkan pengampunan yang radikal. Minta Roh Kudus mampukan. Rasanya sakit, enggak rela, enggak adil. Tapi that’s the Holy Spirit. “Saya enggak mampu mengampuni orang ini.” Justru karena itu kita perlu Roh Kudus, sehingga meskipun dengan terbata-bata, dengan susah, kita bisa bilang: I forgive you.

#2 Api Roh Kudus diperlukan untuk pemuridan di rumah

Yang kedua, api Roh Kudus diperlukan untuk kita melakukan pemuridan di rumah. Katakan sama-sama: pemuridan di rumah.

Bapak, Ibu, saya tanya jujur ya. Lebih gampang jadi saksi buat Tuhan di luar rumah atau dalam rumah? Di luar rumah. Puji Tuhan, saya khotbah di depan manusia biasa semua.

Di luar rumah paling gampang, karena orang akan lihat versi terbaik kita. Apalagi kalau kita sudah belajar cara senyum yang baik, cara nyapa yang baik, pelayanan asher yang bagus, seperti masuk Singapore Airlines gitu. Semuanya rapi, senyum, keren.

Tapi sampai rumah, 'garang. Di gereja, walaupun berkeringat, masih bisa tampil baik. Tetapi di rumah kita enggak bisa pakai kedok, enggak bisa pakai masker, enggak bisa pakai topeng. Pasangan kita, anak-anak kita, langsung bisa spot ketidakkonsistenan kita antara apa yang kita khotbahkan, apa yang kita sharing-kan, apa yang kita katakan pada orang lain di gereja, dengan apa yang kita lakukan sendiri di rumah.

Justru itu, tempat terbaik melakukan pemuridan adalah di rumah. Karena rumah adalah tempat pemuridan yang paling jujur dan paling kuat.

Dengar baik-baik. Amanat Agung bukan hanya bicara soal penginjilan ke luar negeri atau ke luar kota. Ini bicara soal memuridkan, membantu seseorang bertumbuh menjadi pengikut Kristus yang sejati. Dan tempat pertama, tempat terbaik melakukannya adalah di rumah.

Jangan lupa Ulangan pasal 6. Ajarkan berulang-ulang ketika engkau duduk, ketika engkau berdiri, ketika engkau berbaring, ketika engkau berjalan. Aktivitas-aktivitas itu hanya bisa terjadi di rumah.

Di rumah anak-anak bukan cuma melihat atau mendengar teori, tetapi mereka melihat kita. Kita adalah Injil yang terbuka buat anak-anak kita di rumah.

Orang tua punya tanggung jawab yang tidak bisa dilimpahkan kepada siapa pun. Tanggung jawab apa? Sebagai pendidik rohani yang pertama dan utama buat anak-anakmu.

Tapi ini enggak gampang. Supaya benar-benar tertanam dan merasuk seperti yang dialami Timotius, yang punya iman yang murni, jujur, tulus. Itu yang Paulus bilang kepada Timotius: Aku melihat imanmu. Imanmu itu beda. Imanmu itu murni, tulus, enggak dibuat-buat. Dan aku tahu kamu dapatnya dari siapa? Dari Lois dan Eunike — nenekmu dan ibumu.

Iman tanpa kepura-puraan. Tulus.

Makanya ketika Paulus cari gembala di Efesus, dia pilih Timotius. Bukan karena dia paling jago khotbah, bukan karena suaranya paling menggelegar, tetapi karena dia punya ketulusan dan keteladanan yang dibutuhkan oleh orang-orang Efesus yang kebingungan bagaimana menghidupi Injil sehari-hari.

Hari-hari ini banyak anak muda kebingungan. Teorinya di gereja saya dengar begini. Di pelajaran agama Kristen saya dengar begini. Tapi kenapa kenyataan sehari-hari kok beda sekali?

Itu sebabnya banyak anak muda pelan-pelan mulai meninggalkan gereja, bergeser keluar. Bukan semata-mata karena mereka enggak punya pelayanan atau komunitas, bukan karena enggak difasilitasi, bukan karena kurang gimmick. Tetapi karena mereka capek melihat ketidakkonsistenan antara apa yang mereka dengar dan apa yang mereka lihat, terutama ketika itu menyangkut keluarga.

Sebagai orang tua, saya ingin mengatakan ini: anak-anak zaman sekarang tidak butuh orang tua yang enggak pernah salah. Mereka butuh orang tua yang nyata, apa adanya, yang kalau salah mau mengaku dan minta maaf. Yang ketika kalah dengan amarah, mau minta maaf. Ketika jatuh, mau bangkit kembali. Itu gambaran hidup orang yang dipimpin Roh Kudus.

Dan ini bukan proses instan. Ini proses yang terus-menerus, progresif. Enggak ada satu anak matang cuma karena satu kali percakapan pemuridan. Pemuridan adalah perjalanan panjang yang butuh kesabaran, konsistensi, dan kebergantungan total kepada Roh Kudus. Karena sekali lagi, untuk mengalahkan daging dan ego kita, kita butuh anugerah Allah dan Roh Kudus.

Sepenting itu fungsi Roh Kudus di rumah.

“Papi pikir selama ini papi sudah tahu segala-galanya. Papi pikir pengalaman papi sudah lebih dari cukup untuk jadi orang tua kamu. Ternyata papi salah. Cara yang papi pelajari dari orang tua dulu ternyata enggak bisa. Maafkan papi ya. Papi mau belajar dari kamu. Nak, tegur papi kalau papi salah. Ingatkan papi ya, dan doakan papi.”

Saya jujur. Tahun ini saya 57 tahun. Pelayanan sudah 27-28 tahun. Jujur, saya masih manusia biasa. Kadang-kadang namanya ego itu masih ada. Apalagi dalam pelayanan keluarga. Merasa sudah baca banyak, belajar banyak, tahu banyak. Pada waktu-waktu saya salah, meleset, saya peluk anak saya dan bilang, I’m sorry. I’m wrong. Will you forgive me?

It takes the Holy Spirit, loh, Bapak, Ibu, Saudara. Minimal Roh Kudus ngomong: “Lu salah, lu.” Tapi anak enggak protes kok. Dia diam, tapi mendem. Air mukanya berubah. Kamu sudah nyakitin dia. Lalu Roh Kudus bilang: samperin, peluk.

Roh Kudus memampukan kita tetap setia ketika kita lelah, tetap lembut ketika frustrasi, dan tetap mengarahkan anak-anak kepada Kristus. Bahkan di tengah anak yang sepertinya enggak dengerin kita, kita tetap taburi dengan Firman, tetap doakan. Roh Kudus yang bikin kita enggak give up.

“Aduh, anak saya enggak mau dengar saya. Aduh, anak saya enggak mau ke gereja. Udahlah, saya nyerah. Kayaknya butuh hamba Tuhan lain datang khotbah sama anak saya baru dia bisa bertobat.”

Di saat-saat seperti itu, Bapak, Ibu, Saudara, justru itu waktunya Saudara masuk dalam penyembahan dan minta Roh Kudus, “Mampukan saya. Kasih saya hikmat. How to speak to my son, to my daughter.

Ingat, nilai-nilai dunia enggak akan berhenti bekerja setiap hari. Kalau kita enggak muridkan anak-anak kita, media sosial yang akan memuridkan anak-anak kita. Dan algoritma media sosial tidak mengenal kata kebenaran. Satu yang mereka pegang: viral, terkenal. Itu yang mereka banjiri terus ke layar handphone anak-anak kita.

Kuasa Roh Kudus memampukan kita hadir di situ dan punya pengaruh yang lebih kuat. Bukan dengan marah atau mengontrol, tetapi dengan hidup yang memancarkan kebenaran Injil.

Praktikkan. “Gini loh, Nak, mengampuni itu caranya begini.” “Mengampuni sampai merasa sakit itu begini loh caranya.”

Langkah praktis

Pertama, jadikan Kristus topik yang alami dalam percakapan sehari-hari. Ceritakan bagaimana Tuhan menolong. Roh Kudus menolong kita mematikan ego kita supaya Kristus terpancar dalam hidup kita.

Kedua, Roh Kudus memampukan kita memuridkan secara konsisten. Tiap minggu, seminggu dua kali, kami melakukan mezbah keluarga. Semalam kami mezbah keluarga. Saya muridkan mereka tentang the Holy Spirit. Tugas kita, Bapak, Ibu, Saudara, anak-anak perlu tahu apa itu Roh Kudus dan kenapa mereka masih butuh Roh Kudus hari ini.

Ajak baca Firman. Diskusikan. Renungkan. Koreksi ketika mereka punya pemikiran yang salah.

Ketika kita mulai memulihkan keluarga kita, kita mulai memuridkan keluarga kita, itu menjadi kesaksian yang hidup. Inilah esensi Amanat Agung. Ketika hidupmu mulai berubah, orang-orang di sekitarmu mulai melihat ada yang beda dari keluarga ini. “Kok mereka bisa tetap memuji Tuhan di tengah ekonomi yang susah? Keluarga ini kok bisa tetap senyum?” Lalu orang berkata, “Mau tahu dong rahasianya.”

"Mau tahu rahasianya? Hari Minggu ikut saya ke gereja di Danau Bogor Raya. Anak-anakmu ikut di sekolah Minggunya. Biar mereka ketemu Tuhan Yesus. Biar mereka ngalamin Roh Kudus!"

Penutup

Roh Kudus tidak diberikan cuma untuk sensasi, apalagi supaya kita jadi sombong atau jemawa. Tetapi untuk mematikan ego, supaya Kristus terpancar, untuk menarik jiwa-jiwa melalui keluarga yang dipulihkan dan memuridkan.

Yang setuju katakan amin! Haleluya!

Nyanyi:

Datanglah sekarang, penuhi kami
dengan kuasa-Mu
Urapi kami sekarang ini
dengan api Roh-Mu

Video