Pentecost Revival Week Revival in worship (Pdp Dr Edo Hutabarat)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 28 Mei 2026 16.33 oleh Leo (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi '{{unified info| templatetype=khotbah | namespace= Khotbah | pagename= 20260519-0930 | toptitle= ''Pentecost Revival Week'' | title= ''Revival in worship'' | subtitle= | name= Edo Hutabarat | completename= Pdp Dr Edo Hutabarat | type= khotbah | event= Pentecost Revival Week | date= 2026-05-19 | location= Grha Amal Kasih | church= GBI Danau Bogor Raya | city= Bogor | illustration16x9= Edo Hutabarat-20260519.jpg | illustrationA5= | illustration1x1= Edo Hutabarat-2...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Orang percaya dipanggil bukan untuk menyembah Tuhan secara transaksional, tetapi secara relasional, yaitu mengenal Dia secara pribadi dan hidup untuk menyenangkan hati-Nya lebih dari segalanya. Di balik kebangkitan dan kenaikan Yesus ada amanat dan panggilan yang jelas, yaitu supaya setiap orang percaya dipenuhi Roh Kudus dan menjadi saksi Kristus, bukan hanya lewat ucapan, tetapi lewat karakter, tindakan, dan ketaatan sehari-hari. Karena itu, gereja Tuhan dipanggil untuk meletakkan agenda pribadi, hidup dikendalikan oleh Roh Kudus, dan berani menaati suara-Nya, sebab justru di balik ketaatan itulah kuasa, mujizat, dan kesaksian Kristus dinyatakan.

Wow. Haleluya! Bapak, Ibu, Saudara, tadi waktu kita menyembah, Tuhan ingatkan saya akan sesuatu. Tuhan mau mengingatkan umat-Nya di tempat ini supaya tidak meniru apa yang dilakukan bangsa Israel.

Makna penyembahan

Keluaran 32 mencatat bahwa bangsa Israel menyembah dengan alasan yang transaksional. Waktu sesuatu tidak menguntungkan mereka, mereka berubah setia. Mereka tidak lagi menyembah Allah yang telah mengaruniakan segala hal yang baik dalam hidup mereka. Mereka malah meminta dibuatkan patung anak lembu tuangan untuk mereka sembah.

Kenapa? Karena arah penyembahan mereka sudah menjadi transaksional.
“Supaya saya diberkati, saya menyembah Tuhan.”
“Supaya saya disembuhkan, saya menyembah Tuhan.”
“Supaya saya dipulihkan, saya menyembah Tuhan.”

Padahal worship itu berbicara tentang to kiss, mencium. Itu relasional, bukan transaksional.

Amin.

Meskipun saya belum sembuh, saya tetap akan menyembah Tuhan.
Meskipun saya belum menerima kemenangan, saya tetap akan memutuskan menyembah Tuhan.
Meskipun saya belum diberkati, meskipun saya belum sukses, meskipun saya belum menerima semua yang menjadi doa saya, saya tetap akan memutuskan menyembah Raja di atas segala raja, Tuhan di atas segala tuhan.

Relasional, bukan transaksional.

Ini berbicara tentang sebuah hubungan. Mencium karena mengenal siapa pribadi yang kita sembah. Sebuah keputusan untuk mengejar Dia lebih dari segalanya. Bukan karena mencari keuntungan, tetapi benar-benar rindu mengenal Dia lebih dari segalanya.

Waktu bangsa Israel melakukan kejahatan di mata Tuhan, ada satu orang yang mengenal Tuhan, yaitu Musa. Dan Alkitab mencatat Tuhan juga mengenal Musa. Satu orang saja yang punya hubungan relasional, bukan transaksional, membuat murka Tuhan tidak jadi turun.

Tadinya Tuhan mau murka. Tadinya Tuhan sudah enggak mau membimbing bangsa Israel lagi. Tetapi waktu ada satu orang, satu orang saja, yang memutuskan mengenal Dia — ginosko, hubungan personal, pribadi — bukan karena kekayaannya, bukan karena uangnya, bukan karena jabatannya, bukan karena apa yang bisa diberikan oleh Tuhan, tetapi sungguh-sungguh pribadi itu yang dia kejar, maka Tuhan mencatat, Tuhan juga mengenal Musa. Dan waktu satu orang Tuhan temukan mengenal Dia, murka tidak jadi turun.

Bayangkan kalau keluarga kita semua mengenal Tuhan. Bayangkan kalau suami, istri, anak-anak, semuanya sepakat mengejar dan mengenal Tuhan dalam segala situasi, melekat dengan Dia dalam keintiman yang tidak transaksional, tetapi membangun hubungan relasi pribadi, person to person.

Sekalipun kita dalam masalah, sekalipun mungkin doa kita belum dijawab, tetapi mezbah tetap ada. Doa, pujian, penyembahan itu tidak padam. Tetap menyala dalam segala situasi. Maka biar cara Tuhan yang menjawab setiap doa kita.

Bagian kita hanya mengejar Dia, mengenal Dia, melakukan apa yang menyenangkan Dia selamanya. Sekalipun belum menemukan jawaban hari ini, fokus kita bukan pada jawabannya. Fokus kita adalah menyenangkan Dia, Yesus Tuhan, sampai selama-lamanya.

Jangan cium orang yang Saudara enggak kenal. Karena worship is talking about to kiss — mencium pribadi yang kita kenal. Jadi waktu kita worship, pastikan kita mengenal siapa pribadi yang kita sembah. Dan itu harus tampak dalam keputusan kita setiap hari. Bukan karena situasi, bukan karena keadaan, bukan karena “supaya”, bukan karena transaksional, tetapi relasional.

Kita enggak bisa hidup tanpa Tuhan.
Kita tidak bisa hidup tanpa hadirat Tuhan.
Kita tidak bisa hidup tanpa Firman Tuhan.
Kita tidak bisa hidup tanpa Roh Kudus.

Itu sebabnya saya percaya, dari tempat ini, karena kita merindukan Dia lebih dari segalanya — lebih dari waktu-waktu kita, lebih dari apa pun yang ada di luar sana — maka Tuhan akan bekerja secara luar biasa.

Nyanyi:

Satu yang kurindu bersekutu dengan-Mu
Bawaku lebih lagi, tinggal di dalam-Mu
Nikmati hadirat-Mu, jamahlah seluruh hidupku
Kuasa-Mu mengubah hidupku

Bangsa Israel lupa, Bapak, Ibu, Saudara. Waktu mereka meminta dibuatkan patung tuangan, mereka lupa esensi worship. Esensi worship yang sesungguhnya adalah bahwa saya yang diciptakan ini tahu diri untuk memberikan seluruh hidup saya — tubuh, jiwa, dan roh saya — setiap saat, setiap hari, untuk saya persembahkan kepada Pencipta saya. Di dalamnya ada cinta, ada kasih, ada pengharapan, ada iman yang saya persembahkan setiap hari.

Bangsa Israel berubah setia. Mereka menyembah ciptaan!

Bapak, Ibu, jangan menyembah ciptaan.
Jangan menyembah uang.
Jangan menyembah jabatan.
Jangan menyembah kekayaan.
Jangan menyembah pengalaman, kehebatan, kepintaran, kecantikan, atau kegantengan.

Tetapi sembahlah Sang Pencipta, Raja segala raja, selama-lamanya.

This is worship.
Inilah worship.

Setiap hari, setiap saat, melekat dengan Dia. Enggak cuma di rumah ibadah, enggak cuma di mimbar seperti ini. Tetapi profesi kita adalah mimbar. Tempat di mana Tuhan dihadirkan lewat kehidupan seseorang yang berani memutuskan untuk terhubung dengan Sang Pencipta, sumber segala sesuatu.

Maka lihat, Dia yang akan mengerjakan hal-hal yang luar biasa bagi orang-orang yang berani memilih Tuhan nomor satu dalam kehidupannya dan menempatkan Dia sebagai segalanya. Maka lihat, di mimbar-mimbar profesi Bapak, Ibu, Saudara — sebagai kepala rumah tangga, ibu rumah tangga, pengusaha, owner, guru, mahasiswi, mahasiswa, siapa pun kita — saya percaya kehadiran kita akan menghadirkan kuasa Allah. Banyak orang yang melihat akan menjadi takut lalu percaya bahwa betul ada Yesus dalam diri kita.

Katakan amin!

Nyanyi:

Satu yang kurindu bersekutu dengan-Mu
Bawaku lebih lagi, tinggal di dalam-Mu
Nikmati hadirat-Mu, jamahlah seluruh hidupku
Kuasa-Mu mengubah hidupku

Misi menjadi saksi Kristus

Bapak, Ibu, Saudara, saya enggak tahu kenapa sepanjang saya persiapan untuk malam ini, yang selalu Tuhan ingatkan adalah bagaimana kita dipersiapkan untuk menjadi saksi Kristus. Katakan amin.

Ternyata waktu saya pelajari, ada satu misi, amanat, dan panggilan yang Tuhan nyatakan bagi setiap kita, gereja Tuhan. Kita bukan hanya baru saja merayakan Jumat Agung, lalu merayakan Paskah kebangkitan Tuhan Yesus, dan beberapa hari yang lalu merayakan kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Ternyata di balik semua peristiwa ini ada satu misi, ada satu amanat, ada satu panggilan Allah yang sangat luar biasa.

Kenapa saya ingin menyampaikan hal ini? Agar gereja Tuhan, terutama yang ada di tempat ini, mengenali panggilan kita di dalam Kristus. Katakan amin.

Setelah kebangkitan Tuhan Yesus, setelah kenaikan Tuhan Yesus, apa yang harus kita kerjakan? Apa panggilan Tuhan yang harus kita lakukan? Apa misi Tuhan yang harus kita tangkap? Jangan cuma sekadar merayakan, tetapi setiap tahun hidup kita enggak berubah. Mari kita sama-sama ada di trek yang sama, berjalan dan berlari dalam panggilan yang sama.

Di balik semua peristiwa ini jelas ada misi, ada amanat, ada panggilan Allah yang luar biasa yang mau tidak mau harus kita kerjakan. Waktu kita mengerti panggilan ini, saya berdoa kita menjadi orang-orang yang diberikan kuasa untuk berani berkata the big no terhadap segala sesuatu yang tidak membuat kita ada di dalam panggilan ini.

Coba kita lihat secara singkat.

Inti dari Matius 28 adalah: kubur kosong, Yesus bangkit dari kematian, Dia hidup selama-lamanya. Tetapi perhatikan ayat 10:

Maka kata Yesus kepada mereka: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” (Matius 28:10)

Yesus menyuruh mereka ke Galilea. Untuk apa? Ternyata ada tujuan.

Lalu kita lompat ke ayat 16 sampai 20:

Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:16-20)

Di balik kebangkitan Yesus, ternyata Yesus memberikan amanat kepada murid-murid-Nya. Semua kita harus pergi menjadikan segala bangsa murid Kristus, membaptis mereka, mengajar mereka agar mereka semua melakukan tepat seperti apa yang Firman Tuhan katakan.

Sebuah penugasan ilahi. Bukan tugas kecil, bukan tugas ecek-ecek. Setelah kebangkitan-Nya, kita harus pergi menjadikan seluruh bangsa murid Kristus.

Lalu setelah Yesus naik ke surga, apa misinya? Kisah Para Rasul 1:9 dan 11 katakan:

Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. (Kisah Para Rasul 1:9)
… “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” (Kisah Para Rasul 1:11)

Ini berbicara tentang second coming, kedatangan yang kedua kali. Yesus yang Bapak, Ibu, Saudara sembah akan datang kedua kali.

Lalu kapan Dia datang kedua kali?

Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya. (Matius 24:14)

Setelah Injil Kerajaan diberitakan ke seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.

Cara menjadi saksi Kristus

Lalu bagaimana caranya? Mungkin kita berkata, “Saya bukan pengkhotbah. Saya bukan pembicara seperti para pendeta. Saya enggak bisa ngajar. Saya enggak punya karunia seperti itu.

Betul, Bapak, Ibu punya tugas masing-masing. Ada yang menginjil, ada yang mengajar, ada yang memberitakan Firman di mimbar-mimbar, dan Tuhan pakai. Tapi enggak semua orang punya karunia yang sama.

Menariknya, kalimat-kalimat Tuhan dalam Kisah Para Rasul memberikan tuntunan bagi kita. Kisah Para Rasul 1:8 berkata:

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. (Kisah Para Rasul 1:8)

Ini panggilan yang bisa dilakukan oleh semua orang. Kita enggak harus semua jadi pengkhotbah. Menginjil perlu, memberitakan Firman perlu, mengajar perlu. Tetapi Yesus memberikan satu pesan penting: semuanya harus mengambil panggilan ini untuk siap dipakai menjadi saksi Kristus.

Tuhan enggak bilang “bersaksi”. Tuhan bilang “menjadi saksi”. Bersaksi dengan menjadi saksi itu dua hal yang berbeda. Action is more than talk. Tindakan kita berbicara lebih kuat daripada ucapan kita. Character is more than talk. Karakter jauh lebih kuat daripada ucapan.

Banyak orang cuma ngomong, tetapi tindakannya enggak sama dengan apa yang dia ucapkan. Maka Yesus berkata: Aku membutuhkan orang-orang yang bertindak sama seperti Aku, yang punya karakter sama seperti Aku. Aku enggak butuh gereja yang cuma ngomong. Di mimbar koar-koar, tetapi di luar mimbar kelakuannya enggak sama seperti apa yang Tuhan katakan. Itu bukan menjadi saksi.

Menjadi saksi dimulai dari luar panggung. Jangan hebat di luar, tetapi di rumah enggak menjadi saksi.

Ada orang sukses kerjaannya, jabatannya spektakuler. Tetapi di rumah dia menampar istrinya, memukul, menendang, memaki-maki. Salah. Character is more than talk.

Menjadi saksi bukan cuma bersaksi. Bersaksi itu bagus, sangat bagus, tetapi lebih dari sekadar bersaksi. Tuhan berkata, “Kamu akan menjadi saksi-Ku.”

Lalu bagaimana caranya hidup menjadi saksi Kristus?

Kita lihat Kisah Para Rasul 1 ayat 6 dan 7:

Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Jawab-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.” (Kisah Para Rasul 1:6-7)

Bangsa Israel waktu itu dijajah Romawi. Wajar secara manusia mereka berpikir, “Aku pengin bebas. Aku pengin merdeka. Aku pengin sembuh. Aku pengin diberkati.” Itu wajar. Tetapi Tuhan enggak mau gereja yang fokusnya hanya pada dirinya sendiri. “Aku pengin sembuh, aku pengin kaya, aku pengin cepat nikah, aku pengin diberkati.” Itu selfish.

Yesus menjawab, “Masa dan waktu itu bukan urusan kamu. Itu urusan-Ku. Itu otoritas-Ku. Itu wewenang-Ku. Aku tahu kapan waktu yang tepat untuk memberkati engkau.”

Ciri orang yang siap dipakai menjadi saksi

Jadi kalau begitu, seperti apa ciri orang yang siap dipakai menjadi saksi?

Senangkan Tuhan.
Kejar agenda Tuhan.
Kejar melakukan apa yang menyenangkan Tuhan.
Kejar melakukan apa yang menyukakan hati Tuhan.

Kesembuhan, kemenangan, pemulihan, berkat — itu bagian Tuhan. Kita jangan menyembah secara transaksional. Sekalipun saya belum sembuh, mata saya tetap tertuju kepada-Mu. Itu relasional.

Tuhan sedang mempersiapkan gereja-Nya, gereja yang mengerti bahwa kalau mau dipakai menjadi saksi Kristus, enggak ada pilihan lain. Hari-hari ini kita harus memutuskan menyenangkan hati Tuhan lebih dari segalanya.

Bagaimana caranya? Letakkan agenda pribadimu, lalu belajar mengejar apa yang menyenangkan hati Bapa. Kebenaran Dia suka, kekudusan Dia suka, mengampuni Dia suka, pujian dan penyembahan Dia suka. Apa yang menyukakan hati Tuhan, itu yang kita kejar, itu yang kita lakukan.

Yesus sendiri berkata:

Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yohanes 4:34)

Jadi ciri orang-orang yang siap dipakai menjadi saksi Kristus adalah melakukan apa yang menyukakan hati Tuhan.

Dikendalikan oleh Roh Kudus

Lalu poin terakhir. Yesus tidak berkata, “Kamu akan menjadi saksi-Ku kalau kamu kaya, hebat, pintar, cantik, ganteng, terkenal, populer, atau punya jabatan spektakuler.” Bukan.

Kita akan dipakai menjadi saksi Kristus kalau Roh Kudus turun ke atas kita.

Di dalam bahasa aslinya, kata “kuasa” adalah dunamis, kekuatan ilahi yang mengandung mujizat dan keajaiban. Roh Kudus adalah pribadi Allah sendiri. Dan “saksi” di sana mengambil kata martus, orang yang siap mati bagi Kristus, orang yang menyaksikan Kristus lewat hidupnya.

Ternyata untuk menjadi saksi Kristus, enggak ada pilihan yang lain. Kita harus dikendalikan oleh kekuatan yang berasal dari Roh Kudus.

Kalau Bapak, Ibu, Saudara, dan saya rindu dipakai menjadi saksi Kristus, setiap hari kita harus memutuskan untuk dikendalikan Roh Kudus. Dikendalikan satu kuasa yang tidak terbatas yang berasal dari kerajaan Allah.

Kalau kita punya sikap seperti ini, maka setiap hari kita harus membangun kerendahan hati, untuk berkata: “Tanpa Tuhan saya enggak bisa apa-apa. Tanpa Roh Kudus saya ini bodoh. Kekuatan saya terbatas, tetapi saya butuh kekuatan yang tidak terbatas yang berasal dari Roh Allah.

Sekalipun kita punya pengalaman spektakuler, sekalipun jam terbang sudah tinggi, tetapi tidak ada pilihan lain selain berkata: “Roh Kudus, tolong saya. Saya enggak bisa apa-apa.

Roh Kudus urapi saya dalam setiap keputusan, dalam setiap pertimbangan. Kita tahu siapa Master dalam hidup kita. Who is our Master? Tuhan kita cuma satu, Raja di atas segala raja. Dia yang membuat kita berani menundukkan diri untuk berkata: Lead me, guide me, talk to me.

Sehingga waktu Roh Kudus berkata, “Kiri,” kita ke kiri. “Kanan,” kita ke kanan. “Ampuni,” kita ampuni. “Ada orang yang menyakiti hatimu, kirim kue ke rumahnya,” maka kita lakukan.

Kita enggak harus berkhotbah terus. Tetapi orang melihat sebuah perbedaan. “Kok jemaat GBI Danau Bogor Raya sudah disakiti, di-bully, diomongin, digosipin, masih bisa kirim kue ke rumah saya ya?” Nah, inilah perbedaannya. Orang melihat Kristus dari apa yang kita lakukan.

Karena berani dipimpin dan dikendalikan oleh Roh Kudus, Roh kebenaran. Roh kebenaran berkata, “Ampuni,” lalu Saudara mengampuni. Di kantor Saudara jujur, tepat waktu, disiplin, komitmen, konsisten. Saya percaya Roh Kudus pasti melahirkan kebenaran, kesetiaan, kehambaan, dan kerendahan hati yang terus dibangun setiap hari. Orang melihat, menjadi takut, lalu percaya bahwa betul ada Yesus dalam hidup kita.

Menjadi saksi bukan berbicara tentang siapa kita, tetapi tentang siapa yang menyertai kita.

Itulah sebabnya kita baca:

Maka berbicaralah ia, katanya: “Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.” (Zakharia 4:6)

Bukan dengan keperkasaan. Bukan dengan kekuatan. Melainkan dengan Roh-Ku, firman Tuhan!

Penutup

Saya tutup dengan satu kesaksian.

Waktu istri saya mau melahirkan anak pertama kami, kami sudah ada di rumah sakit di Bandung. Pembukaan tidak signifikan. Dokter lakukan induksi, tetapi tidak berhasil. Istri saya sudah kesakitan luar biasa. Lalu pagi hari dia dimasukkan ke ruang bersalin. Saya mendampingi.

Seorang suster datang dan memasang alat untuk mendeteksi detak jantung dan tekanan darah bayi dalam kandungan. Entah bagaimana, alat itu ditarik terlalu kencang dan besinya membentur kepala atau tubuh bayi dalam kandungan istri saya. Seketika angka-angka di layar yang tadinya normal berubah menjadi tidak normal.

Suster panik. Dokter ditelepon. Dan salah satu kalimat yang saya dengar adalah: “Akan diambil tindakan caesar.

Masalahnya, waktu itu kami tidak pernah punya iman anak kami lahir caesar. Jujur saja, salah satunya karena caesar mahal. Kami enggak punya dananya. Jadi iman kami: anak lahir normal.

Pada saat itu saya dan istri panik luar biasa. Takut anaknya cacat, takut anaknya mati, takut istri saya kenapa-kenapa. Kalut sekali pikiran kami. Tetapi justru dalam situasi seperti itu, Roh Kudus berkata kepada saya: “Sembah Aku.

Saya pikir, “Loh, saya lagi butuh mujizat, kok Tuhan suruh menyenangkan Dia?

Akhirnya saya pegang tangan istri saya, dan kami mulai menyembah di ruang bersalin itu. Hanya kami berdua.

Waktu kami mulai menyembah, Roh Kudus menaruh kalimat-kalimat yang secara manusia tidak masuk akal. Tetapi di situ saya belajar: dalam ketaatan kepada Roh Kudus, hidup kita berjalan dengan kuasa. Sekalipun enggak masuk akal, taat saja.

Kalimat itu saya ubah menjadi doa:
Dalam nama Yesus, aku berkata kepada angka-angka yang tidak normal ini, dalam nama Yesus aku perkatakan kembali normal!

Tidak lama. Sekitar 30 detik setelah saya berdoa, angka-angkanya naik pelan-pelan dan menjadi normal.

Dokter datang, suster datang, mereka kaget. Mereka bilang, “Kok bisa?” Saya jawab, “Bisa, Dokter. Saya punya Tuhan, namanya Tuhan Yesus. Dia sanggup mengubah apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dia sanggup mengubah apa yang mustahil menjadi tidak mustahil.

Bagian kita cuma fokus menyenangkan Bapa. Biar kairos-Nya Tuhan, biar wewenang ilahi yang menentukan kapan waktu terbaik untuk memberkati kita. Tepat pada waktunya.

Anak saya lahir normal!

Dan sampai sekarang saya juga tidak tahu siapa orang yang Tuhan kirim untuk membayar lunas semua biaya persalinan istri saya dan anak saya. Itu semua kasih karunia Tuhan, anugerah Tuhan. Tuhan tahu kapan waktu yang tepat untuk memberkati kita.

Berapa banyak yang mau dipakai menjadi saksi Kristus?

Pulang dari tempat ini, senangkan Tuhan. Bilang sama Roh Kudus, “Kendalikan hidupku. Aku mau dipimpin. Sekalipun dagingku harus mati, sekalipun keinginanku harus mati, aku mau sepakat dengan Roh kebenaran untuk memuliakan Dia selama-lamanya.”

Nyanyi:

Kutinggikan Engkau Raja
Yang duduk di atas tahta
Engkau mulia, ajaib dan heran
Ku kagum akan Engkau Tuhan

Kutinggikan Engkau Raja
Yang duduk di atas tahta
Engkau mulia, ajaib dan heran
Ku kagum akan Engkau Tuhan

Aku berdoa, Tuhan, malam ini atas seluruh umat-Mu yang hadir. Kami butuh Roh Kudus. Itu yang membuat kami ada malam ini menyembah-Mu bersama-sama. Kami percaya, Tuhan, Engkau memenuhi kami dengan kuasa-Mu dan kami semua melihat dan mengenali panggilan kami bahwa Engkau memilih kami untuk Kau pakai menjadi saksi Kristus di mana pun kami berada. Tuhan sertai kami.

Amin.

Video