Penolong dalam melayani

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 3 Maret 2026 13.30 oleh Leo (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Tuhan dapat memakai siapa saja—baik yang baru percaya maupun orang biasa—untuk pekerjaan-Nya. Kesetiaan dalam melayani lebih penting daripada status atau posisi. Saat kita setia dalam segala keadaan, hidup kita menjadi persembahan yang harum bagi Tuhan.

Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malah lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.

Filipi 4:18

Dari ayat ini kita belajar tentang seorang penolong dalam pelayanan yang namanya jarang kita dengar: Epafroditus. Paulus menyebut kirimannya sebagai persembahan yang harum dan berkenan kepada Allah.

Siapakah Epafroditus? Penjelasannya terdapat dalam:

Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku. (Filipi 2:25)

Ia bahkan hampir mati karena pekerjaan Kristus, tetapi tetap setia dalam pelayanan.

Ada tiga hal yang dapat kita pelajari dari Epafroditus:

  1. Tuhan bisa memakai orang yang baru percaya
  2. Epafroditus bukan orang Yahudi, melainkan orang Yunani. Artinya, orang yang baru mengenal Kristus pun bisa dipakai Tuhan. Dalam menuntaskan Amanat Agung, Tuhan dapat memakai siapa saja. Jangan sampai kita yang sudah lama percaya justru tertinggal dalam semangat melayani.
  3. Tuhan bisa memakai orang biasa
  4. Epafroditus bukan bangsawan atau orang terpandang. Ia orang biasa, tetapi dipakai secara luar biasa. Tuhan tidak melihat status sosial, melainkan kesediaan hati.
  5. Tetap setia melayani meski dalam keadaan sulit
  6. Epafroditus tetap melayani walaupun sakit dan nyaris mati. Ini menunjukkan kesetiaan yang luar biasa. Setiap orang memiliki pergumulan, tetapi tujuan hidup kita bukan sekadar mencukupi kebutuhan, melainkan melayani Tuhan dan memenangkan jiwa.

Melayani tidak selalu berarti tampil di depan. Bisa menjadi pendoa, penolong, pendukung, atau pelayan di balik layar. Yang terpenting adalah terus melayani sesuai talenta yang Tuhan berikan untuk menuntaskan Amanat Agung.

Amin.