Tenang berada dekat Allah

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 3 Maret 2026 09.15 oleh Leo (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi '{{unified info | templatetype=inspirational | namespace= Article | pagename= 20260308/IN | title= Tenang berada dekat Allah | date= 2026-03-08 | event= Renungan Air Hidup | displayevent= Renungan | actualdate= 2026-02-28 | notes= | name= Johan Susanto | completename= Pdp Johan Susanto | illustration16x9= {{LatestImage/Inspirational | name=Johan Susanto | date=2026-03-08 }} | illustration1x1= Logo Inspirational 1x1.jpg | illustrationA5= | summary=...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Ketenangan sejati bukan berasal dari keadaan yang aman, tetapi dari kedekatan kita dengan Allah. Ia adalah gunung batu dan tempat perlindungan yang tidak pernah goyah. Ketika kita mencurahkan isi hati kepada-Nya dan berharap hanya kepada-Nya, hati kita dipenuhi damai dan pengharapan.

Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.

Mazmur 62:1

Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.

Mazmur 62:2

Situasi hidup yang cepat berubah sering membuat kita merasa cemas dan kuatir. Ketika hati dipenuhi kecemasan, kita sulit berpikir jernih dan sulit mengambil keputusan yang benar.

Namun firman Tuhan pagi ini mengingatkan kita bahwa tenang berada dekat Allah adalah kunci kekuatan hidup kita. Ketenangan itu bukan karena keadaan menjadi mudah, tetapi karena kita tahu siapa yang memegang hidup kita.

  1. Allah adalah gunung batu kita
  2. Sehebat apa pun ancaman yang mengintai, lebih kuat lagi topangan Allah. Ia adalah dasar yang teguh, seperti batu karang yang kokoh.

    Ketika kita berdiri di atas-Nya, kita tidak mudah goyah. Dunia boleh berubah, keadaan boleh bergoncang, tetapi Allah tetap sama.
  3. Allah adalah tempat perlindungan kita
  4. Tempat perlindungan yang sejati bukan manusia, bukan harta, bukan jabatan. Hanya Allah yang mau dan mampu menolong kita sepenuhnya.

    Meminta tolong kepada orang yang mampu tetapi tidak mau, membuat kita kecewa. Meminta tolong kepada orang yang mau tetapi tidak mampu, membuat kita frustrasi. Tetapi meminta tolong kepada Allah adalah tindakan iman yang benar, karena Ia berkuasa dan penuh kasih setia.

Ketika kita mencurahkan isi hati kita kepada Tuhan dan berharap hanya kepada-Nya, hati kita menjadi tenang. Kita belajar percaya bahwa Allah berkuasa mewujudkan kasih-Nya dalam hidup kita.

Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. (Mazmur 62:5)
Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. (Mazmur 62:8)

Tuhan Yesus memberkati kita semua.