Kepekaan dan hikmat dari Roh Kudus (Pdt Sandra Suharsa)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 25 Juni 2026 11.47 oleh Leo (bicara | kontrib) (baru)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Kepekaan dan hikmat dari Roh Kudus menolong orang percaya untuk memahami kehendak Allah dan mengambil keputusan yang benar, sehingga hidupnya tidak lagi dipimpin oleh hikmat duniawi, ego, dan kedagingan, melainkan oleh Roh Allah. Orang yang dewasa dan matang secara rohani akan menunjukkan perubahan nyata dalam gaya hidup, perkataan, sikap hati, serta kesungguhan mengiring Tuhan, bukan hanya aktif secara lahiriah tetapi benar-benar hidup dalam perkenanan-Nya. Keintiman dengan Tuhan melalui doa, pujian, penyembahan, dan Firman akan membentuk hati yang murni, peka terhadap Roh Kudus, dan menghasilkan kehidupan yang berkualitas, kuat, serta berbuah di tengah zaman yang makin sukar.

Shalom semuanya, saya secara pribadi mengucapkan selamat untuk pembukaan ibadah ketiga di tempat ini. Luar biasa. Ayo semangat! Kita masuk dalam penuaian jiwa-jiwa. Di tahun 2026 ini kita akan mempersiapkan kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan masuk dalam Amanat Agung, khususnya setelah kita merayakan Pentakosta.

Hari ini saya bicara satu hal yang juga adalah pembelajaran untuk saya, dan pembelajaran untuk kita semua. Karena kita baru saja merayakan minggu lalu, yaitu Pentakosta. Bahkan dikatakan kita masuk kepada era Pentakosta yang ketiga. Ini bicara mengenai sesuatu yang global, tetapi juga sangat pribadi. Hidup kita bukan seperti dulu lagi.

Karena itu kita akan bicara bagaimana masuk dalam sebuah kepekaan dan hikmat dari Roh Kudus. Dan ternyata tema ini adalah tema yang menjadi acuan dari sinode GBI. Pdt Rubin Adi juga mengajarkan bagaimana dalam setiap pelayanan, dalam setiap aspek kehidupan pribadi kita, kita harus masuk ke dalam sesuatu yang dikatakan hidup secara gereja mula-mula, yaitu Pentakosta.

Mari kita buka 1 Korintus 2:14:

Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.

Kita akan belajar, Saudara. Apa yang dimaksud dengan kepekaan dan hikmat dari Roh Kudus? Ini berbicara mengenai kehidupan rohani yang memampukan Anda dan saya, orang-orang percaya, orang-orang yang sudah saat ini diurapi oleh Tuhan, untuk memahami kehendak Allah dan mengambil keputusan yang benar di tengah dunia yang membingungkan saat ini.

Makanya poin yang pertama, bagaimana kita mau masuk dalam kepekaan dan hikmat dari Roh Kudus?

Hikmat Allah berlawanan dengan hikmat duniawi

Hikmat Allah itu berlawanan dengan hikmat duniawi. Ini berbeda sekali, Saudara. Sekalipun kita masih hidup di dalam dunia, benar apa benar? Amin. Ini berbeda sekali.

Berbedanya apa? Karena ini bicara mengenai kebenaran. Tadi kita menyanyi, ku lepas semua hakku mengiring Yesus. Aduh, Saudara, kalau dinyanyikan sih enak sekali. Tetapi waktu kita belajar melepaskan hak kita, itu susahnya bukan main. Ngga gampang, Saudara. Supaya bagaimana Anda dan saya masuk di dalam apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Makanya di sini dikatakan jelas sekali: manusia duniawi tidak menerima apa yang menjadi sebuah kehendak Tuhan. Jadi berlawanan sekali.

Hari ini kita diajar bagaimana Anda dan saya, yang mungkin sudah mengalami doa 10 hari, menantikan kuasa Pentakosta, menantikan pencurahan Roh Kudus, bahkan mungkin sudah diurapi dengan karunia-karunia yang baru, bukan berhenti sampai di situ saja. Tetapi cara dan gaya hidup harus bisa berubah. Katakan amin.

Ini penting sekali. Apalagi kalau kita dikatakan adalah keluarga Allah. Kita satu di dalam rumah kekudusan Allah. Otomatis kita harus bisa memahami satu dengan yang lain. Ada kepedulian satu dengan yang lain.

Kalau bicara duniawi, apalagi sekarang ini zamannya susah. Zaman yang dikatakan banyak kesulitan, pekerjaan tidak mudah. Anak-anak muda sekarang kompetitornya luar biasa. Kemarin ada satu jemaat kami, nilainya luar biasa, lulus cum laude, IP-nya tinggi sekali. Tetapi dia bilang apa? Cari kerja susahnya bukan main. Interview jalan, tetapi ngga ada panggilan untuk tahap selanjutnya.

Memang ngga gampang di era sekarang ini. Tapi ketika Anda dan saya percaya dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan, sebab Firman Tuhan katakan bahwa rancangan Allah adalah rancangan damai sejahtera, masa depan yang penuh harapan, bukan kecelakaan, bukan keputusasaan.

Makanya di sini dikatakan bagaimana supaya Anda dan saya tidak seperti manusia duniawi yang tidak dapat memahami apa yang berasal dari Allah. Apa itu? Ego. Kadang-kadang ego kita lebih tinggi.

Tadi juga dibicarakan mengenai kondisi gereja akhir zaman. Ada banyak orang-orang ngga ke gereja, hanya cari apa yang menjadi kepuasan pribadi, kepentingan diri sendiri. “Siapa yang khotbah?” “Siapa yang worship leader?” “Kok nyanyinya seperti itu?” “Kok musiknya seperti itu?” Yang dicari itu luarannya saja, tetapi roh dan pesannya tidak ditangkap.

Kita mau belajar hari ini. Saya selalu bilang: berkualitaslah di dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan. Orang yang berkualitas itu bagaimana, Saudara? Punya jati diri, punya prinsip di dalam kerohanian.

Makanya di sini dikatakan sangat berbeda. Di zaman yang penuh tantangan ini, bahkan Paulus sendiri waktu menghadapi jemaat Korintus mengalami kelesuan dan kekecewaan. Begitu banyak jemaat hanya mengejar hal-hal duniawi. Karena itu Paulus terus berjalan, terus memberikan arahan dan masukan supaya mereka tidak tersesat.

Hari ini kita juga mau belajar. Di tengah zaman akhir ini begitu banyak anak-anak Tuhan yang terhilang. Begitu banyak anak-anak Tuhan yang gampang sekali rapuh. Baru digoncang sedikit saja, sudah ngga ke gereja lagi, sudah ngga doa lagi, sudah ngga nyanyi lagi, bicaranya pun mungkin menjadi kotor.

Hari ini kita diajar sama Tuhan untuk bagaimana kehidupan Anda dan saya menjadi pribadi yang berubah, terlebih lagi setelah kita masuk dalam era pencurahan kuasa Roh Kudus, Pentakosta. Supaya apa? Supaya hidup Anda dan saya digiring. Maka dikatakan ada gada dan tongkat. Ada sesuatu yang mengayomi, ada sesuatu yang mengajar kita, ada juga yang menuntun dan mendidik kita.

Bukan kita cuma dielus-elus, dimanja-manja. Tidak. Tetapi diajar bagaimana kita sebagai anak-anak Tuhan hidup di dalam pengenalan yang sesungguhnya. Amin.

Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan. Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. (1 Korintus 2:6-7)

Perhatikan satu kata ini: matang.

Kalau Anda dan saya tidak mengerti kebenaran dengan sesungguhnya, hidup tidak menjadi perubahan yang total. Anda tidak akan menjadi pribadi yang matang. Matang itu bisa dinikmati, bisa mengerti, dan bisa juga mengimpartasikan. Amin.

Orang yang sungguh-sungguh belajar hidup dalam pengenalan akan Tuhan, gaya hidupnya pasti berubah. Ngga sama lagi seperti dulu.

Maaf, ya, saya bicara yang sederhana saja. Soal rokok. Orang sering bilang, “Memangnya ada peraturan di Alkitab ngga boleh merokok?” Sebenarnya sederhana. Itu semua kembali kepada keputusan pribadi kita. Kalau kita mau belajar bagaimana mengambil sikap, dan percaya ku lepas semua hakku, itu ngga gampang. Tetapi itu contoh sederhana tentang kedagingan dan ego kita.

Atau soal perkataan. Belajar pakai perkataan kita untuk membangun. Bukan sedikit-sedikit melemahkan orang.

Kalau kita dikatakan sudah menjadi anak-anak Tuhan yang matang, anak-anak Tuhan yang berhasil di dalam pengenalan akan Roh Allah, saya percaya ada roh yang berbeda. Anda datang itu bukan mencari manusia. Anda fokus untuk menyenangkan hati Tuhan. Anda fokus mempermuliakan nama Tuhan. Bukan lagi lihat siapa manusianya, tetapi benar-benar datang memuji dan menyembah Tuhan.

Saya pun datang ke tempat ini bukan karena saya lihat manusia. Saya percaya ada satu kekuatan Roh Allah. Ada janji Tuhan yang akan terjadi dalam kehidupan Anda dan saya, untuk kita menjadi pribadi-pribadi yang dewasa di dalam Dia. Amin.

Saya rindu, apa yang dikatakan Amanat Agung bukan sekadar masuk dalam penuaian jiwa-jiwa. Tetapi kita harus sampai kepada goal-nya. Goal-nya apa? Yaitu kemuliaan Tuhan. Jangan sampai kita sudah melakukan dan mengerjakan banyak hal, tetapi semua menjadi sia-sia, dan kita sendiri ditolak.

Lihat kehidupan Paulus. Dari seorang yang bejat, penghujat Allah, membabat habis pengikut-pengikut Kristus, tetapi waktu dia mengalami perubahan di dalam Kristus Yesus, hidupnya berubah total. Siapa pun yang menghalangi dia, bahkan ketika dia harus mengalami pasungan dan penjara, itu tidak menghentikan dia. Katakan amin.

Itulah mengapa saya selalu berkata, setiap kali menyanyikan ku lepas semua hakku, saya selalu berdoa, “Mampukan saya, Tuhan.” Karena itu ngga gampang. Tetapi waktu kita mau mengerjakannya dan memberikan yang terbaik, ngga ada perkara yang mustahil.

Saya ngga mau jadi orang yang lemah, malas-malasan. Ini sudah akhir zaman. Saya beberapa hari ini pun mengalami kelemahan tubuh. Saya sempat dirawat di Siloam. Tetapi itu bukan alasan buat saya untuk bermalas-malasan. Begitu saya bangkit, saya bilang, “Cukup. Hai jiwaku, bangkit.”

Mazmur katakan bangun. Jangan malas-malasan. Kadang kalau saya lihat anak muda, disuruh apa-apa jalannya lama. Aduh, seperti umur 90 tahun. Terbalik. Papa saya umur 90 tahun, gesitnya bukan main.

Tapi kita harus belajar membangkitkan gairah kehidupan pribadi kita sebagai anak-anak Tuhan yang penuh dengan Roh Allah. Dan saya percaya, waktu Anda mau melakukan dan mengerjakan itu, ngga ada perkara yang mustahil bagi Tuhan. Katakan amin!

Anda akan menjadi anak-anak Tuhan yang berkemenangan. Anda akan menjadi anak-anak Tuhan yang berhasil. Anda akan masuk menjadi keluarga-keluarga yang diberkati Tuhan. Katakan amin!

Jangan takut. Sekalipun saat ini mungkin Anda sedang dalam pergumulan, mungkin sedang mengalami situasi keuangan yang tidak mudah, percaya: Tuhan tidak pernah membiarkan kau tergeletak. Ada-ada saja penyertaan Tuhan dalam hidup kita.

Kalau saya ditolong, Anda juga pasti ditolong. Kalau saya disembuhkan, Anda pasti disembuhkan. Amin. Tuhan ngga pernah membeda-bedakan. Tuhan kita sama.

Makanya saya katakan: ayo bangun roh kita. Harus ada perbedaan. Paulus sendiri berkata bahwa dari semua rasul, dialah yang paling bejat. Itu pengakuan jujur karena dia tahu masa lalunya. Tetapi waktu hidupnya berubah di dalam Roh yang matang dan berkualitas, digoncang seperti apa pun, dia tetap berjalan, tetap menginjil dari satu tempat ke tempat lain, dan menghasilkan berkat yang luar biasa. Kenapa? Karena dia bisa berkata: hidupku bukannya aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.

Saya percaya, kita semua, anak-anak muda, dewasa muda, keluarga-keluarga muda, kita semua punya impian. Tetapi satu yang saya mau katakan: ngga ada yang lain, selain impianmu itu, belajarlah fokuskan yang pertama: Dia di atas segala-galanya. Maka engkau akan melihat janji Tuhan, melihat penyertaan Tuhan, melihat berkat Tuhan. Sesuatu yang mustahil, sesuatu yang ngga mungkin, pasti Tuhan perlengkapi dalam kehidupan kita. Amin. Tepuk tangan buat Tuhan Yesus.

Membangun kepekaan terhadap Roh Kudus

Kalau kita bicara soal pencurahan Roh Kudus, kita sering diarahkan: ayo doa, fokus doa, doa terus, supaya bisa menerima bahasa yang baru. Itu baik. Tetapi sebenarnya yang paling utama adalah kembali kepada hati kita.

Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapakah gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah. (1 Korintus 2:10-11)

Ayat 10 berkata: karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu.

Menyelidiki. Berarti Dia tahu. Dia cari tahu kehidupan kita setiap hari itu bagaimana. Karena itu, untuk masuk dalam kehidupan yang peka terhadap Roh Kudus, perlu sekali ketulusan dan kemurnian hati.

Jangan sedikit-sedikit iri sama orang. Jangan sedikit-sedikit membanding-bandingkan. Jangan sedikit-sedikit mundur dari pelayanan. Jangan sedikit-sedikit menggerutu. Baru dikasih sakit sedikit sudah ngomel, “Kenapa ya kok Tuhan izinkan? Kenapa saya begini? Kenapa saya baru bekerja kok mengalami PHK?”

Percayalah, ada maksud Tuhan. Yang penting jalankan apa yang menjadi bagian kita. Yang bukan bagian kita, ngga usah diotak-atik. Amin.

Tapi sering kali sebaliknya. Bagian kita ngga dijalankan. Tetapi bagian Allah malah kita atur-atur. “Tuhan tolong dong...” Enak saja kita memerintah Tuhan.

Kita perlu belajar dalam setiap kehidupan pribadi kita untuk mengerti bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera. Ngga mungkin Tuhan membiarkan kita tergeletak. Ngga mungkin Tuhan membuat kita celaka.

Saya dan Pak Sandi sudah 30 tahun pelayanan secara full time. Artinya kami tidak bekerja secara sekuler. Kami sungguh-sungguh hidup dari karya Tuhan, anugerah Tuhan, berkat Tuhan. Hidup kami dengan iman.

Bukan berarti kami ngga ada proses. Bukan berarti ngga ada air mata. Bahkan mungkin banjir air mata, banjir proses. Tetapi itu tidak membuat kami berhenti. Tidak sama sekali. Kami percaya apa yang kami kerjakan, apa yang kami lakukan, kami lakukan dengan hati yang sungguh-sungguh, tidak main-main dengan Tuhan.

Kalau kita sungguh-sungguh hidup sebagai full timer, saya mau katakan, kami tidak pernah iri. Mungkin di sini ada keluarga-keluarga muda yang masih bergumul untuk rumah, bergumul untuk sekolah anak. Saya juga mengalami proses itu. Dulu saya bilang, “Aduh Tuhan, pengin banget punya rumah.” Anak sudah besar-besar, kami tinggal di “Taman Mertua Indah”, satu kamar. Kalau keluar ketemu keluarga mertua, keluarga kakak ipar, tiga kepala keluarga dalam satu rumah. Anak-anak berantem, orang tua cemberut. Saya tahu rasanya.

Tetapi saya bilang, ngga apa-apa, proses itu kita nikmati.

Kalau saya banyak menuntut, saya ditegur. Maka saya mau bilang kepada ibu-ibu hari ini: kalau banyak menuntut, bertobatlah. Ngga usah menuntut suami terus. Saya percaya kalau suami takut akan Tuhan, suami yang baik, hidup dalam perkenanan Tuhan, dia pasti tahu tanggung jawabnya sebagai seorang bapak. Ada amin?

Pasti dia memberikan yang terbaik. Pasti dia menyenangkan istri dan anak-anaknya. Saya pun pernah berkata kepada suami saya, “Saya cuma satu, ngga mau punya hutang. Ngga apa-apa makan nasi sama garam, nasi sama kangkung, asal kita rukun dan damai sejahtera. Itu lebih enak daripada capcai.”

Pernah kami mengalami itu semua? Pernah. Proses demi proses itu Tuhan ajarkan. Makanya dikatakan: punya hati yang sungguh-sungguh. Waktu kita naik ke level-level berikutnya, tetap humble, tetap rendah hati. Ini yang Tuhan mau. Makanya dikatakan di Amsal: dari hati yang murni terpancar kehidupan.

Bukan karena kalung Anda salib, atau tato Anda malaikat, lalu semuanya beres. Percuma kalau hidup kita tidak pernah benar di hadapan Tuhan. Saya banyak melayani anak-anak binaan di penjara. Tatonya luar biasa, ada malaikat, ada salib besar. Tetapi itu ngga ada artinya kalau kita tidak berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Kita mau belajar supaya apa? Supaya kita berhasil, berkualitas sebagai anak-anak Tuhan.

Kita juga harus menjaga pikiran kita supaya tidak mendukakan Roh Kudus. Mungkin secara karunia rohani seseorang luar biasa. Menyembahnya bagus sekali. Tapi hidupnya mempermalukan nama Tuhan. Hati-hati. Banyak sekali yang seperti itu akhir-akhir ini.

Karena Firman Tuhan katakan: Aku segera datang. Banyak yang terpanggil, sedikit yang terpilih. Biarlah kita menjadi golongan orang-orang, walaupun sedikit, tetapi menjadi orang pilihan Allah. Amin.

Keintiman

Dan yang berikutnya adalah keintiman.

Apa maksudnya keintiman? Doa, pujian, dan penyembahan menjadi satu kesatuan dengan kebenaran Firman Tuhan.

Kalau Anda punya keintiman dengan Tuhan, Anda sungguh-sungguh, ngga asal-asalan waktu memuji dan menyembah Tuhan. Sekarang ini saya suka sedih kalau lagi khotbah atau duduk bersama jemaat, saya lihat ada jemaat main handphone.

Bahkan ada satu anak sekolah minggu yang cerita kepada saya, “Tante, tadi aku ngga masuk ke ruang sekolah minggu.” Saya tanya, “Kenapa?” Dia jawab, “Karena teman-temanku banyak yang flu. Besok aku ujian, kalau aku masuk nanti aku ketularan. Jadi aku ikut ibadah umum, Tante. Tapi tante, aku duduk di sebelah om itu loh. Masa om itu main game, dan game-nya seru banget. Sampai aku mau negur tapi aku takut karena omnya kumisnya tebal.”

Itu anak sekolah minggu, polos sekali. Dia tahu bahwa di sekolah minggu handphone dikumpul. Karena sekarang kami memang mengajarkan kepada anak-anak sekolah minggu, handphone semua harus dikumpulkan. Saya bilang, “Kita belajar buka Alkitab.”

Karena sekarang banyak anak sekolah minggu bahkan ngga tahu muka Alkitab seperti apa.

Kenapa saya masih terima pelayanan sekolah minggu? Karena saya berasal dari guru sekolah minggu. Saya berasal dari anak sekolah minggu. Saya merasakan bagaimana masuk dalam sebuah keintiman itu prosesnya ngga instan. Kita diajar, dibimbing, supaya step by step, kalau ada masalah, kita bukan lari ke orang tua, bukan lari ke manusia, tapi belajar mengandalkan Tuhan di atas segala-galanya.

Saya dari kecil dibiasakan mama dan papa saya: kalau ada masalah apa pun, masuk kamar, berdoa. Dan sampai hari ini kita mau belajar menjadi anak-anak Tuhan yang menghasilkan kualitas-kualitas iman.

Penutup

Di tengah zaman yang tidak mudah ini, ayo kita belajar sama-sama. Termasuk diri saya. Supaya apa yang kita kerjakan tidak menjadi sia-sia, tapi kita hidup dalam keintiman, hidup dalam perkenanan, dan menghasilkan mahkota kemuliaan.

Saya percaya poin-poin ini boleh mengajar kita, mengarahkan hidup Anda dan saya. Setelah Pentakosta, bukan sekadar kita merayakan lalu selesai. Tetapi harus ada progres, harus ada hal-hal yang baru yang kita lakukan seperti para rasul. Ada kebangkitan, ada revival yang terjadi untuk Anda dan saya.

Amin.