Hati seperti rajawali (Jonathan Prawira)
| Ringkasan Khotbah | |
|---|---|
| Ibadah | Ibadah Raya |
| Tanggal | Minggu, 7 Juni 2026 |
| Gereja | GBI Danau Bogor Raya |
| Lokasi | Grha Amal Kasih |
| Kota | Bogor |
| Video | YouTube |
| Khotbah lainnya | |
| |
| |
| |
Tuhan digambarkan seperti rajawali yang mendukung umat-Nya di atas sayap-Nya, menghalau musuh-musuh mereka, dan membawa mereka menuju gunung kemuliaan yang sudah Dia sediakan. Karena itu, ketika menghadapi kesukaran, orang percaya tidak perlu dikuasai rasa takut, dendam, atau kelelahan, tetapi belajar menanti-nantikan Tuhan dengan iman hari ini, bukan hanya berharap suatu saat nanti. Hati seperti rajawali adalah hati yang gagah perkasa, percaya bahwa Tuhan sedang mengirimkan pertolongan, kemenangan, dan kemuliaan-Nya sekarang juga, sehingga kita tetap terbang di atas badai kehidupan.
Shalom. Senang sekali saya bisa melayani di tempat ini. Terima kasih kepada Tuhan Yesus yang masih memberikan kita kesempatan untuk bertemu. Dan terima kasih juga kepada Bapak Gembala dan seluruh hamba-hamba Tuhan yang mempercayakan saya untuk boleh melayani di tempat ini.
Saya mau berprofetik sebagaimana profesi saya, yaitu sebagai penulis lagu rohani, lewat lagu, Saudara.
Karena sebetulnya saya selalu berpikir, “Tuhan, saya ini enggak cari apa-apa lagi.” Sudah 5.200 lagu, sudah tercatat sebagai yang terbanyak di negara ini, nama juga sudah dikenal orang di mana-mana, lalu mau cari apa lagi? Saya berpikir, “Tuhan, saya pengin pensiun,” ibaratnya begitu, “menikmati penuaian.”
Menuai apa? Menuai jiwa-jiwa, menuai kesaksian. Jadi banyak orang yang terus bersaksi bagaimana mereka dikuatkan, dimenangkan oleh lagu-lagu yang Tuhan berikan kepada saya.
Terakhir, kemarin saya masih mendengar kesaksian dari seorang worship leader. Dia bersaksi, waktu hidupnya lagi bermasalah, anaknya mati umur 6 tahun. Kemudian dia mendengar lagu Ku Tak Akan Menyerah, lalu dia dikuatkan. Apalagi dokter sudah bilang dia enggak akan bisa melahirkan lagi karena satu dan lain hal penyakit. Tetapi dia tidak menyerah. Dia dikuatkan oleh lagu itu. Lalu dia berkata, “Sekarang anak saya sudah besar dan sehat, karena saya dikuatkan oleh lagu Ku Tak Akan Menyerah.”
Saya percaya, penuaian-penuaian itu membuat saya berkata, “Thank You, Tuhan.” Tetapi Tuhan bilang, “No, belum cukup. Kamu menabur lagi.”
Maka saya terus menabur, dan Tuhan kasih kesempatan tahun ini. Doakan ya. Saya dapat target dari label Warner dan dari publisher untuk membuat 1.000 lagu tahun ini. Waduh, produksinya berapa, biayanya bagaimana. Tetapi ternyata Tuhan cukupkan. Sampai sekarang sudah 300–400 lagu. Enggak tahu sih tercapai atau enggak, namanya juga target ya, Saudara. Tetapi saya percaya begini: kalau Tuhan sudah memulai sesuatu yang baik, walaupun kita mungkin merasa enggak sanggup, terbatas, tetapi Tuhan tahu caranya untuk melengkapi, untuk memberkati, sehingga rencana Tuhan atas hidup kita sempurna. Haleluya!
Nah, ini salah satu lagu terbaru, bagian dari musim penaburan yang baru. Saya berdoa semoga taburan ini akan menuai kesaksian dalam hidup Saudara. Amin. Ada kemenangan, ada kekuatan.
Karena untuk menghadapi hari-hari ini, seperti tadi worship leader katakan, situasi memang seperti ini, tetapi Tuhan tidak tinggalkan. Betul. Tetapi Tuhan ingin kita punya hati seperti rajawali agar kita bisa menghadapi kehidupan saat ini.
Mengapa kita perlu hati seperti rajawali?
Orang suka bilang, mungkin ada yang bilang, ini masanya akhir zaman, ini masanya peperangan rohani, apa pun istilahnya. Istilah saya adalah ini masa kesukaran, tribulation. Kita masuk masa kesukaran.
Karena kalau saya ngomong “kesukaran”, dunia marketplace, dunia sekuler, mungkin mereka enggak kenal soal Tuhan Yesus. Tetapi mereka juga akan merasa, “Iya ya, ini lagi sukar. Dagang sukar, kerja sukar, cari kerja sukar, cari jodoh juga katanya sukar, Saudara.”
Tetapi kita percaya, kalau Saudara punya hati seperti rajawali, maka kesukaran apa pun tidak akan mencegah kita untuk naik terbang lebih tinggi menuju gunung kemuliaan yang Tuhan tetapkan buat kita.
Nyanyi:
Walau langit di depanku
Tertutup oleh awan kelabu
Namun pelangi janjiMu
Menanti di balik semua itu
Biar ku punya hati
Seperti rajawali
Yang siap tuk terbang
Di atas badai kehidupan
Kau mengangkatku tinggi
Dengan kekuatan sayapMu
Sampai ke gunung kemuliaanMu
Haleluya!
Saya percaya ketika Saudara menyanyikan lagu rajawali ini, ataupun versi lagu rajawali yang mana pun, Saudara mengalami ada kekuatan yang baru. Amin, Saudara. Ada roh gagah perkasa yang tiba-tiba timbul di hati kita.
Nah, kenapa, Saudara? Kita akan bahas pesan Tuhan di balik lagu Hati seperti rajawali.
Tuhan memakai simbol
Saudara sadar enggak bahwa Tuhan itu selalu memakai simbol atau perumpamaan untuk menjelaskan sesuatu, dari zaman Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru?
Misalnya, ketika Abraham dijanjikan punya anak. Untuk mengingatkan Abraham, Tuhan kan enggak bikin kontrak. Tuhan suruh Abraham melihat apa? Bintang di langit, dan bukan cuma bintang di langit, tetapi juga pasir di pantai, di samudra.
Jadi setiap kali Abraham melihat bintang, melihat pasir, dia akan diingatkan oleh janji Tuhan. Mungkin dunia berkata, “Kamu enggak bakal bisa punya anak lagi. Ingat umur.” Tetapi Abraham tiap kali ingat langit, bintang, dia berkata, “Enggak, itu janji Tuhan.” Dia kuat lagi, Saudara.
Demikian juga Nuh. Ketika mendapat perjanjian dari Tuhan, Tuhan memberi simbol apa? Busur di langit, pelangi. Sehingga ketika Nuh mungkin lagi ada masalah, orang ingatkan, “Mana kasih karunia Tuhan buat kamu?” lalu Nuh melihat pelangi dan ingat, “Oh, Tuhan janjinya ada kasih karunia buat hidup saya.” Amin.
Dan ini diteruskan oleh Tuhan Yesus di Perjanjian Baru ketika mengingatkan kita supaya jangan khawatir. Kita sedang mengalami banyak kekhawatiran, lalu Tuhan ingatkan apa? Burung di udara. Bahkan burungnya itu burung pipit, Saudara. Burung pipit yang dijual seekor seduit. Artinya murah sekali, dianggap enggak bernilai buat dunia. Tetapi Tuhan bilang, burung yang enggak bernilai pun Tuhan pelihara, apalagi kita.
Jadi ketika Saudara mulai terserang oleh khawatir, ketika melihat burung, Saudara diingatkan akan janji Tuhan: ada pemeliharaan Tuhan atas hidup saya.
Bukan cuma burung, mungkin juga melihat bunga. Tuhan bilang bunga di padang pun lebih indah daripada Salomo. Kalau Saudara mulai khawatir akan kebutuhanmu, akan rasa percaya dirimu, ingat bunga di padang. “Oh, bunga-bunga di taman saja Tuhan bagusin kok, hidup saya pasti Tuhan indahkan.” Amin, Saudara.
Nah, kenapa Tuhan lakukan itu?
Pertama, karena dulu belum ada YouTube, belum ada video untuk Tuhan tampilkan. Tetapi kedua, yang lebih penting, adalah karena pikiran kita didesain bukan cuma teks seperti SMS. Pikiran kita didesain bukan cuma audio seperti radio. Pikiran Saudara dan saya didesain ada videonya. Betul enggak, Saudara?
Kenapa kita bisa khawatir? Karena somehow kita melihat video di pikiran kita tentang masa depan yang buruk: mungkin melihat toko yang sepi, melihat banyak yang di-PHK, melihat banyak yang cari kerja susah. Benar ya, kita melihat video itu di kepala kita, dan kita menjadi khawatir.
Kenapa kita jadi marah, dendam, pahit hati? Karena kita melihat perlakuan-perlakuan orang yang jahat kepada kita secara video. Termasuk muka-mukanya, kelakuan-kelakuannya, kekasarannya, kejahatannya. Itu terekam video di kepala kita, sehingga kita akhirnya emosi.
Nah, banyak juga orang yang pikirannya tercemar, lalu dia melakukan dosa. Kenapa? Karena membayangkan nikmatnya video yang dia tonton. Akhirnya dia pun melakukan dosa.
Dan Tuhan mau katakan, supaya Saudara mengalami kemenangan, pikiran kita harus dipenuhi dengan simbol-simbol ilahi dari Tuhan. Hari ini Tuhan mau Saudara ingat rajawali dalam kesukaranmu, dalam situasaimu.
Meskipun kalau nyanyi rajawali, banyak orang bingung juga, “Maksudnya apa sih nyanyi rajawali terbang?” Terbang itu apa? Apa saya terbang ke langit atau bagaimana? Tetapi ngebayanginnya enak juga ya. Belum tahu Firmannya saja Saudara sudah membayangkan, “Wow, gagah sekali ya rajawali.” Betul. Rajawali di dunia sekuler pun dianggap sebagai burung yang gagah.
Kenapa kita bukan burung pipit? Ya karena kita lebih baik dari burung pipit. Burung pipit lemah, Saudara. Kalau Saudara piara burung pipit, Saudara kagetin tiap hari, bisa mati. Kalau cuaca ekstrem, dari panas ke hujan, ke panas lagi, bisa mati.
Tetapi burung rajawali, Saudara boleh nakut-nakutin seperti apa, dia malah balik nyerang. Tetap galak, tetap gagah perkasa. Karena Tuhan mau kita punya roh gagah perkasa seperti burung rajawali. Amin.
Tetapi kenapa? Karena banyak orang enggak sadar bahwa rajawali itu adalah simbol dari Tuhan sendiri. Kenapa Saudara ketika nyanyi burung rajawali gagah? Karena kita punya Tuhan yang Roh-Nya gagah perkasa. Amin, Saudara.
Rajawali
Nah, mari kita lihat Firman Tuhannya di Keluaran 19:4. Ini adalah situasi di mana umat Israel sudah diselamatkan dari Mesir dan Tuhan sedang menjelaskan apa yang sebetulnya terjadi terhadap umat Israel.
- Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. (Keluaran 19:4)
Jadi yang pertama, Saudara, Tuhan itu seperti rajawali. Fungsinya apa? Ketika kita mengingat rajawali itu, kita diingatkan bahwa Tuhan sudah mendukung kita di atas sayap-Nya.
Saudara, selama ini Saudara mungkin merasa lelah, capek, frustrasi, kecewa, tetapi somehow Saudara tetap kuat, tetap masih berjalan maju. Kok bisa? Karena tanpa sadar Saudara sedang didukung oleh sayap rajawali-Nya Tuhan untuk bisa terus berjalan. Amin, Saudara. Sebab itu ketika Saudara punya masalah saat ini, ingat rajawali. Dia sedang mendukung engkau di atas sayap-Nya.
Dan yang kedua, apa yang bikin kita stres, lemah, lelah? Karena banyak musuh yang menyerang kita. Tetapi kita enggak sadar bahwa Tuhan sebagai rajawali sudah banyak menghalau musuh-musuh kita.
- Lihat sendiri bagaimana waktu kamu sakit, Aku halau penyakitmu. Lihat sendiri waktu kamu mengalami pandemi Covid, Aku halau akhirnya pandemi itu. Lihat sendiri ketika musuhmu melakukan hal yang jahat terhadapmu, Aku menghalau setiap perkara sehingga engkau lolos sampai saat ini.
Kita bisa lolos, bertahan sampai saat ini, karena Tuhan tidak pernah diam. Dia bukan cuma tidak meninggalkan kita. Dia bertindak mengalahkan, menghalau musuh-musuh kita. Karena Tuhan kita adalah rajawali yang gagah perkasa. Amin, Saudara.
Tuhan adalah Pembalas yang mengangkat umat-Nya
Dan kenapa kita pikir Tuhan itu menghalau? Tuhan itu pembalas, Saudara.
Banyak yang pikir Tuhan kita itu lemah. Ya, Tuhan kita itu bukan lemah. Tuhan itu mengalah. Beda enggak lemah sama mengalah? Kalau memang lemah, diapa-apain ya terima, karena memang enggak bisa balas. Tapi kalau mengalah, sebetulnya Dia bisa balas, cuma Dia mengalah. Bedanya di situ.
Ketika Tuhan Yesus ditangkap oleh kaum Farisi, kemudian Petrus membela Yesus, dipotong telinga orang. Mungkin dia pikir Yesus bakal muji dia, “Wah, hebat, kamu membela bosmu.” Tetapi enggak, Saudara. Malah Yesus bilang begini, “Kamu kira Aku enggak bisa suruh malaikat bakar habis mereka?” Bisa. Cuma Dia mengalah.
Tetapi kenapa kita seakan-akan bisa terus bertahan? Karena tanpa Saudara sadar, Tuhan terus membalas musuh-musuh kita. Cuma mungkin kalau kita bilang “membalas”, kayaknya enggak Kristen banget sih ya. Nah, kita lihat dulu supaya Saudara bisa yakin bahwa ini Tuhan memang sedang membalaskan setiap hal yang terjadi dalam hidupmu.
Di Mazmur 94:1, Daud mengenal Tuhannya sebagai God of Avenger.
- Ya Allah pembalas, ya TUHAN, ya Allah pembalas, tampillah! (Mazmur 94:1)
Daud mengenal Tuhannya adalah Tuhan pembalas. Tetapi beda strateginya di Perjanjian Lama dan di Perjanjian Baru. Di Perjanjian Lama, Tuhan membalas musuh umat Israel dengan cara mendatangkan tulah. Seram juga ya. Tetapi di Perjanjian Baru tidak begitu, meskipun tetap membalas.
Bahkan Daud pun mengalami yang Allah Perjanjian Baru, yaitu ketika dia berkata:
- Engkau menyediakan hidangan bagiku di hadapan lawanku. (Mazmur 23:5a)
Perhatikan, lawannya tidak dihabisi oleh Tuhan. Tetapi Daudnya tetap mendapat hal yang baik di hadapan mata lawannya. Yang namanya lawannya Daud pasti ingin Daud binasa, mati, kurus kering, sakit, kena kutuk. Tetapi apa yang mereka harapkan tidak terjadi.
Mereka berharap Daud dikutuk, tapi malah diberkati. Mereka berharap Daud kelaparan, tapi malah dapat makanan. Mereka berharap Daud enggak punya masa depan, tetapi justru diangkat sebagai raja. Kesal enggak lawannya, Saudara? Itu cara Tuhan membalas.
Di Perjanjian Baru, kaum Farisi ingin Tuhan Yesus bukan cuma mati secara fisik, tapi karakternya juga mati. Character assassination. Jadi, bukan cuma Yesus itu mati, tapi mati sebagai penjahat, penyesat, penghujat, musuh negara, lebih buruk daripada perampok. Makanya Barabas dibebaskan.
Tetapi apa yang terjadi ketika Yesus disalib? Ada papan di atas-Nya bertuliskan: Inilah Raja orang Yahudi.
Ngambeklah kaum Farisi. “Kami sudah jatuhkan Dia, eh malah ini diangkat.” Siapa yang angkat ini? Ternyata Pontius Pilatus.
Mereka pakai tekanan massa untuk mendesak Pontius Pilatus menurunkan papan itu. Mereka pikir mereka bakal berhasil. Logikanya, kalau tekanan massa pertama berhasil membuat Pontius Pilatus membebaskan Barabas, apalagi cuma urusan papan. Betul enggak, Saudara? Tetapi apa yang terjadi? Pontius Pilatus enggak mau. Dia berkata, “Apa yang sudah aku tetapkan, biarlah itu tetap terjadi.”
Loh, kok bisa? Karena itulah cara Tuhan membalas. Kaum Farisi ingin menjatuhkan Tuhan Yesus, tapi Tuhan membalas dengan mempermuliakan Tuhan Yesus sebagai Raja di atas segala raja.
Apa artinya? Maka ketika Saudara mengalami hal jahat dari dunia, jangan dendam, enggak perlu. Jangan panas hati, enggak perlu. Memang Saudara mungkin bisa balas. Misalnya, di jalan Saudara disalip mobil, Saudara juga bisa balas nyalip. Lalu mau apa? Pertanyaannya adalah, sampai kapan hal itu terjadi?
Oke, Saudara balas. Apakah dramanya berhenti? Tamat? Enggak. Dia balas lagi. Saudara balas lagi. Tamatkah? Enggak. Dia balas lagi. Sampai kapan itu terjadi? Yang ada Saudara kehilangan damai sejahtera, kehilangan ketenangan, enggak bisa tidur enak, makan enggak enak, kebangun terus, kesal terus. Tetapi masalahmu enggak selesai.
Itu sebabnya Tuhan bilang jangan balas. Enggak perlu balas. Kemampuanmu enggak seberapa. Tetap ada yang bisa melawan kamu. Izinkan Tuhan yang balas. Kalau Tuhan yang balas, tidak ada yang bisa melawan Tuhan. Amin.
Jadi, ketika seseorang menjahatimu, Saudara bilang saja: Tuhan pembalas yang tampil. Artinya apa? Tuhan akan membalas, bukan dengan menjahati orang itu. Ini zaman anugerah. Tuhan kasih dia kesempatan bertobat. Tetapi Tuhan membalas dengan mendatangkan kebaikan demi kebaikan kepada Saudara, seperti memberikan hidangan makanan pada Daud di hadapan para lawannya. Yang setuju katakan amin!
Semakin Saudara dicurangi, Tuhan akan datangkan kemenangan lebih lagi kepada Saudara. Semakin Saudara mengalami ketidakadilan, Tuhan yang akan balas. Karena Tuhan akan mendatangkan keadilan demi keadilan kepada kita.
Semakin dunia menjatuhkanmu, tenang saja. Jangan biarkan hati menjadi pahit dan lelah lalu berkata, “Aduh, percuma aku lakukan ini. Jatuh juga.” No, no, no. Katakan: aku akan lakukan yang terbaikku. Sisanya Tuhan yang balas, karena Dia rajawaliku. Tuhan akan angkat engkau lebih tinggi daripada sebelum dijatuhkan. Yang percaya katakan amin!
Dan bukan cuma itu. Tuhan katakan bahwa Dia membawa kita kepada Tuhan, kepada kemuliaan-Nya, kepada janji-Nya, kepada kasih-Nya, kepada kemenangan yang Tuhan sudah sediakan buat kita.
Kehidupan kita sebagai orang Kristen bukan cuma lingkaran musibah, mukjizat, musibah, mukjizat. Itu pasti bikin capek juga. Tetapi kehidupan kita arahnya semakin menuju Tuhan. Amin, Saudara.
Takdir rajawali: Terbang ke tempat yang tinggi
Nah, ke mana itu? Kita lihat takdir kita. Karena bicara soal rajawali juga bicara soal takdir kita. Di Ayub 39:27-28 dikatakan:
- Atas perintahmu rajawali terbang membubung dan membuat sarangnya di tempat yang tinggi? Ia diam dan bersarang di bukit batu, di puncak bukit batu dan di gunung yang sulit didatangi. (Ayub 39:27-28)
Tuhan sedang menjelaskan kepada Ayub, dan ini salah satu penjelasan yang membuat Ayub tahu. Destiny-mu itu apa. Destiny-mu bukan malang. Destiny-mu bukan sial. Destiny-mu bukan sebagai orang yang dikutuk Tuhan. Destiny adalah ini: rajawali membuat sarangnya di tempat yang tinggi, di gunung kemuliaan.
Memang burung rajawali beda dengan burung pipit dan beda dengan ayam negeri. Makanya lagunya kita bukan: Biar ku punya hati seperti ayam negeri. Karena ayam negeri itu baik-baik di bawah. Kalau burung pipit itu senang disangkar, senang dipiara, senang nyaman, safety player, hidupnya tenang, damai, tenteram, enggak ada kejutan-kejutan yang bikin jantung deg-degan. Itu burung pipit.
Tetapi Saudara bukan burung pipit, Saudara. Rajawali. Enggak ada rajawali bisa dikandangin. Ketika rajawali dikandangin, lemas dia, Saudara. Rajawali takdirnya, destiny-nya, adalah sarangnya di tempat yang sulit didatangi.
Maka enggak heran ketika Saudara berkata “sulit”, artinya Saudara sedang diangkat Tuhan menuju ke tempat yang tinggi, yang sulit didatangi orang-orang. Amin, Saudara.
Tetapi mungkin Saudara bertanya, “Apa mungkin, Pak, saya bisa?” Loh, Saudara sudah rajawalinya Tuhan kok.
Kapan Saudara tahu? Kita diangkat ke surga oleh Tuhan Yesus, itu diangkat ke tempat yang sulit didatangi. Saudara pikir mudah ya? Enak ya? Percaya Yesus langsung masuk surga. Apakah itu hal yang mudah?
Kelihatannya mudah. Tetapi kalau memang itu mudah, coba Saudara ajak orang lain. Mestinya kalau memang mudah, orang lain langsung terima. Betul enggak, Saudara? “Gampang kok. Cuma terima Yesus. Enggak usah ngapa-ngapain, enggak usah bayar apa-apa, gratis.” Tetapi waktu Saudara ajak orang, gampang enggak? Mereka nolak.
Kenapa? Karena tanpa Saudara sadar, surga dengan iman itu tempat yang sulit didatangi. Orang enggak bisa naik. Hanya orang-orang pilihan Tuhan yang bisa beriman kepada Yesus.
Kalau Saudara bisa beriman kepada Tuhan Yesus, Saudara adalah orang-orang yang Tuhan pilih sebagai rajawali, rajawalinya Tuhan. Haleluya!
Jadi, kalau surga yang sulit didatangi saja Tuhan sudah angkat kita, maka saya percaya hari ini ada kemenangan, ada kemuliaan, ada kesuksesan, ada keberhasilan. Apa pun yang kelihatannya sulit kita capai, pasti bisa, karena Tuhan yang angkat kita dengan kekuatan sayap-Nya. Yang siap diangkat Tuhan katakan amin.
Menanti-nantikan Tuhan seumpama rajawali
Nah, yang terakhir. Bagaimana caranya, Saudara? Di Yesaya 40:31:
- Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. (Yesaya 40:31)
Ini ayat yang terkenal. Tetapi kadang kita lupa aplikasinya bagaimana, sehingga kita enggak mengalami.
Saya itu kalau khotbah atau bikin lagu, saya mau Saudara alami Firman. Bukan cuma pendengar. Bukan cuma pelaku. Tapi mengalami Firman.
Contohnya siapa? Daud. Daud ini tahu cara mempraktikkan ini. Makanya saya itu ketika ngomong soal Daud, saya cuma enggak mau rugi, Saudara. Artinya, Daud itu sama seperti kita. Jatuh bangun dalam dosa, sama seperti kita. Nasibnya mirip-mirip kita. Harus kerja keras juga. Banyak musuh dan tantangan juga. Harus membangun karier, mengalami ketidakadilan, mengalami sentimen. Ada perjuangannya juga. Tetapi heran ya, Daud itu dibela Tuhan, diurapi Tuhan, diangkat Tuhan, disertai Tuhan, dimenangkan Tuhan.
Saya enggak mau rugi loh. Daud menyembah Tuhan, kita juga menyembah Tuhan yang sama. Amin. Artinya kalau Daud bisa diberkati Tuhan, maka kita pun juga akan dibela Tuhan, disertai Tuhan, diurapi Tuhan, dan mengalami kemenangan dari Tuhan. Amin!
Dan ini Firman Tuhannya, Saudara: orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru.
Makanya saya mau katakan: lelah itu alami. Semua orang bisa alami. Orang dunia pun bisa lelah. Tetapi lelah itu bukan sikap iman kita. “Aku lelah, Tuhan.” Enggak perlu dijadikan iman. Karena tanpa iman pun kita bisa lelah. Tetapi orang-orang yang penuh dengan iman akan berkata, “Sekalipun aku lelah, aku tahu di dalam Tuhan aku akan berjalan dan tidak menjadi lelah.” Amin, Saudara.
Nah, bagaimana kita mengalami hal itu, sehingga sekalipun kita lelah, capek, dan dunia kita sampai tepar, tetapi kita bisa tetap berjalan? Caranya adalah menanti-nantikan Tuhan seperti Daud menanti-nantikan Tuhan.
Iman hari ini, bukan someday!
Kadang-kadang Saudara sudah menanti-nantikan Tuhan, Saudara menunggu jawaban doa, lalu Saudara bilang, “Someday, nanti ada pertolongan. Someday doaku terjawab. Someday nanti Tuhan kirimkan orang yang tepat. Someday bisnisku akan maju. Someday karierku akan meningkat. Someday aku akan dapat berkat luar biasa.” Itu enggak salah.
Tetapi ketahui, menunggu itu bikin capek juga. Saudara tunggu jawaban doa, enggak datang-datang. Enggak usah jauh-jauh. Saudara tunggu lampu merah jadi hijau saja, lama enggak? Makin ditunggu, makin enggak hijau-hijau. Betul enggak, Saudara? Tetapi ketika Saudara sambil scroll-scroll media sosial, tahu-tahu diklakson orang. “Eh, sudah hijau.” Kenapa? Karena memang menunggu itu bikin capek.
Tetapi Daud punya sesuatu yang luar biasa. Ketika ada Goliat datang, dia enggak bilang, “Someday aku akan melawanmu.” Tetapi Daud bilang apa? “Hari ini juga Tuhan sudah taruh engkau ke dalam tanganku.” Betul enggak, Saudara?
Daud itu banyak membuat Mazmur ketika hidupnya bermasalah. Dan Daud enggak bilang, “Someday saya akan menyanyi tentang Tuhan. Someday saya akan menceritakan perbuatan Tuhan.” Enggak. Daud bilang apa? “Hari ini adalah hari yang telah dijadikan Tuhan.” Mari kita bersukacita hari ini.
Jadi Saudara tahu enggak kenapa Saudara bangun pagi terus lemas? Karena Saudara menanti-nantikan bukan Tuhan. Saudara expect-nya bukan Tuhan. Tanpa sadar kita expect-nya apa? A bad day.
Jalanan macet lagi. Harga naik lagi. Toko ini bagaimana nasibnya? Kerjaan makin susah, target makin tinggi, omzet makin turun. Semakin kita expect yang bukan Tuhan, kita semakin lemah. Betul, Saudara?
Tetapi ketika kita bangun pagi dengan expect seperti Daud — hari ini ada pertolongan Tuhan, hari ini ada pembelaan Tuhan, hari ini ada kasih setia Tuhan, hari ini ada penyertaan Tuhan — saya percaya rohmu akan kuat, karena Saudara adalah rajawali. Rajawali yang menanti-nantikan Tuhan. Berlari tidak jadi lesu, berjalan tidak menjadi lelah.
Mungkin Saudara berkata, “Tapi kan jawaban doaku belum kelar.” Betul, belum terjadi. Tetapi katakan: hari ini Tuhan lagi proses jawaban doa saya. Mungkin Saudara belum sembuh, tetapi hari ini Tuhan sedang memproses kesehatan tubuh saya. Hari ini Tuhan lagi kirimkan orang-orang yang tepat buat saya. Hari ini Tuhan lagi siapkan peluang-peluang baru buat saya. Hari ini aku akan melihat Tuhan melakukan mukjizat dalam hidup saya.
Yang mau mengatakan “hari ini”, katakan amin. Tepuk tangan buat Tuhan bahwa hari ini adalah hari yang baik buat kita.
Ketika Saudara mengatakan “hari ini”, itu sama seperti expect God. Ketika orang berharap dia mati, tetapi dia bilang, “Aku tidak akan mati. Aku akan hidup dan menceritakan kebaikan Tuhan.” Bukan someday. Sekarang juga. Hari ini.
Penutup
Saat Saudara punya iman hari ini, menanti-nantikan Tuhan, bukan menanti-nantikan yang lain, tanpa sadar Saudara sudah jadi rajawali yang siap terbang ke gunung kemuliaan yang sudah Tuhan sediakan buat kita. Yang diberkati boleh katakan amin.
Nyanyi:
Biar ku punya hati
Seperti rajawali
Yang siap tuk terbang
Di atas badai kehidupan
Kau mengangkatku tinggi
Dengan kekuatan sayapMu
Sampai ke gunung kemuliaanmu
Saya biasanya sambil menyanyi sambil mendoakan Saudara. Tetapi waktu saya doakan Saudara, saya dapat jawaban Tuhan yang lucu banget. Saya sampai ketawa. Tuhan bilang, “Bisa kok Saudara praktikkan hari ini.”
Kenapa? Karena waktu Saudara pesan makanan atau pesan sesuatu yang baik dari aplikasi marketplace, datangnya bisa besok-besok. Betul enggak, Saudara? Tetapi somehow Saudara sudah happy saja, rasanya seperti sudah terima. Kenapa? Karena ada statusnya: sedang dikirimkan, sedang dalam perjalanan. “Oh, hadiahmu sedang dalam perjalanan.” Saudara sudah happy, padahal barangnya belum sampai.
Hari ini kalau Saudara beriman yang sama, Saudara akan berkata, “Hari ini saya akan happy.” Kenapa? Hari ini Tuhan lagi kirimkan hadiah terbaik buat kita. Hari ini Tuhan sedang mengirimkan kemenangan buat kita. Hari ini Tuhan sedang mengirimkan mukjizat buat kita. Hari ini Tuhan sedang mengirimkan kemuliaan buat kita.
Amin!