Keindahan dibalik peremukan

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 12 Januari 2026 13.54 oleh Sari (bicara | kontrib) (Baru)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Yesaya 57:15 Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: "Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.

Tidak semua orang suka berada di dalam lembah, akan tetapi ada keindahan yang tidak ditemukan di puncak justru berada di lembah terdalam. Yesaya 57:15 mengungkapkan bahwa Tuhan, Yang mahatinggi justru memilih untuk diam bersama-sama dengan orang yang remuk dan rendah hati. Sekalipun dunia melihat peremukkan sebagai kegagalan, tetapi di mata Tuhan, itu adalah undangan untuk kita semakin mendekat ke hadirat-Nya.

Peremukkan hati membuat kita menyadari bahwa kita tidak dapat mengandalkan kekuatan kita sendiri. Tidak adalagi kesombongan, melainkan lutut yang bersujud di hadapan Tuhan. Justru dalam posisi itu Tuhan hadir karena Dia pribadi yang dekat dengan kita seperti tertulis di dalam Mazmur 34:19 berkata Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.

Tuhan tidak mengabaikan hati yang remuk. Ia mendekat untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk. Ada hidup baru yang tumbuh saat kita merasa tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan. Seolah olah hati ini sudah terpecah berkeping-keping bahkan menjadi debu, akan tetapi Tuhan sanggup untuk membuat hati kita baru kembali dengan hadirat-Nya karena dia adalah Air Hidup itu. Dalam peremukkan, kita belajar mendengar suara Tuhan lebih jernih dari sebelumnya yang tertutup oleh kesombongan, ambisi dan kini suara-Nya terdengar lebih jelas. Karena lewat setiap peremukkan Tuhan mau membentuk kita indah sesuai dengan pemandangan-Nya, karena Ia adalah pencipta kita dan kita adalah buatan tangan-Nya.

Dan pada akhirnya, keindahan terbesar dari peremukkan adalah bahwa kita menemukan bahwa hanya Allah satu-satunya andalan kita. Setiap air mata menjadi benih kemuliaan, setiap luka menjadi tempat Tuhan menyatakan kasih-Nya dan setiap peremukkan menjadi jalan yang baru. Kasih Tuhanlah yang menjadi kekuatan kita, sehingga kita bisa dipakai Tuhan melayani orang-orang lain yang sedang remuk dan patah hatinya dan membawa mereka mengalami kasih Tuhan seperti yang kita alami.

Tuhan Yesus memberkati.

Peremukkan hati membuat kita menyadari bahwa kita tidak dapat mengandalkan kekuatan kita sendiri. Tidak adalagi kesombongan, melainkan lutut yang bersujud di hadapan Tuhan. Justru dalam posisi itu Tuhan hadir karena Dia pribadi yang dekat dengan kita.