Khotbah: 20260531-0930: Perbedaan antara revisi

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Leo (bicara | kontrib)
baru
 
Leo (bicara | kontrib)
kTidak ada ringkasan suntingan
Baris 6: Baris 6:
| subtitle=  
| subtitle=  
| name= Sukirman Pardi
| name= Sukirman Pardi
| completename= Pdt Sukirman Pardi (lengkap dengan gelar)
| completename= Pdt Sukirman Pardi
| type= khotbah
| type= khotbah
| event= Ibadah Raya
| event= Ibadah Raya

Revisi per 2 Juni 2026 12.53

Waktu adalah kesempatan yang Tuhan berikan untuk dipakai dengan bijak, karena manusia hanya benar-benar memiliki hari ini, sedangkan hari esok bukan miliknya lagi. Banyak waktu telah disia-siakan untuk hal-hal yang tidak produktif, sehingga setiap orang dipanggil untuk menebus waktunya dengan sungguh-sungguh, terutama dalam tiga hal penting: percaya kepada Tuhan, berbuat baik, dan melayani Tuhan. Kairos yang dilewatkan bisa membuat seseorang menyesal ketika semuanya sudah terlambat, sebab hidup ini adalah kesempatan yang harus ditangkap sekarang juga sebelum kesempatan itu berlalu.

Shalom, apa kabar, Bapak/Ibu? Luar biasa! Katakan kepada kiri kanan Saudara: hari ini adalah hari yang luar biasa. Hari ini secara khusus saya akan bawakan Firman Tuhan dengan tema Kairos.

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Efesus 5:15-16)

Saudara yang dikasihi Tuhan, ada dua poin penting dari pembacaan Firman Tuhan hari ini.

  • Yang pertama, di ayat 15: jangan seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.
  • Yang kedua, di ayat 16: pergunakanlah waktu yang ada.

Itu artinya, hanya orang bijak, hanya orang arif, yang pandai mengelola waktu yang Tuhan sudah berikan kepada Saudara dan saya. Sebaliknya, hanya orang bebal, hanya orang bodoh, yang tidak pandai mengelola waktu yang Tuhan sudah kasih kepada kita.

Nah, apa itu waktu, Saudara? Waktu itu sesuatu yang abstrak. Enggak kelihatan dan enggak bisa dipegang, tetapi begitu nyata. Penunjuk waktu seperti jam dinding atau jam tangan, itu bisa dipegang, bisa diraba, bisa dilihat. Tetapi waktunya sendiri tidak bisa. Waktu itu abstrak, Saudara.

Firman Tuhan berkata bahwa segala sesuatu ada waktunya. Setiap hari kita berada di dalam waktu, dibatasi oleh waktu. Dan waktu itu akan terus berjalan tanpa pernah berhenti, apalagi mundur. Enggak pernah, Saudara.

Saya pernah lihat sebuah angkot. Di situ ditulis: hari ini bayar, besok gratis. Jadi, begitu Saudara turun, Saudara harus bayar. Saudara enggak bisa protes, “Kemarin kan saya sudah bayar, harusnya hari ini gratis dong.” Enggak bisa. Sopir angkot akan bilang, “Enggak ada kalimat yang mengatakan kemarin bayar, sekarang gratis.” Yang ada: hari ini bayar, besok gratis. Jadi yang pasti, enggak pernah ada gratisnya, Saudara.

Itu arti sebenarnya. Kita tidak pernah bisa mencapai hari esok. Bagian kita cuma sampai hari ini. Hari esok itu bukan milik kita lagi, Saudara.

Makanya dalam doa Bapa Kami, Yesus mengatakan, berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Hari ini, Saudara. Kenapa? Karena hari esok itu bukan milik kita lagi.

Oleh sebab itu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya mau katakan kepada Saudara: kita harus bijak di dalam mengelola setiap waktu yang Tuhan sudah berikan kepada kita.

Pada kesempatan hari ini, saya ingin mengajak kita belajar bagaimana mengelola waktu yang Tuhan sudah berikan kepada kita, supaya kita tidak menjadi seperti orang bebal, tetapi menjadi seorang yang bijak. Amin, Bapak Ibu.

Ayat 16 berkata, pergunakanlah waktu yang ada. Di sini ada dua kata penting, Saudara. Pertama, kata pergunakanlah. Kedua, kata waktu. Saya akan bahas dua kata ini.

Menebus waktu yang ada

Kata pertama yaitu pergunakanlah. Dalam Alkitab bahasa Inggris King James Version, Efesus 5:16 diterjemahkan:

Redeeming the time, because the days are evil.

Kata redeeming di sini artinya adalah menebus. Jadi arti sebenarnya, kalau saya terjemahkan, adalah: tebuslah waktu yang ada.

Artinya, setiap kita harus menebus waktu kita masing-masing. Saya harus menebus waktu saya. Saudara harus menebus waktu Saudara. Kita semua harus menebus waktu kita masing-masing.

Pertanyaannya, kenapa sih harus ditebus?

Sesungguhnya, selama kita hidup di dunia ini, ada begitu banyak waktu yang sudah kita buang. Ada begitu banyak waktu yang sudah kita sia-siakan di luar kehendak Tuhan. Sesungguhnya ada begitu banyak waktu yang sudah kita buang hanya untuk memuaskan hawa nafsu, ego kita, Saudara.

Nah, semua waktu yang sudah kita buang tersebut, kita harus tebus.

Arti menebus di sini adalah membeli dengan sejumlah uang tebusan. Misalnya, saya punya jam tangan. Karena saya butuh uang, jam tangan saya itu saya gadaikan. Kalau jam tangan itu ingin saya miliki kembali, maka saya harus menebusnya. Saya harus membayar sejumlah uang untuk mendapatkan kembali barang yang saya gadaikan tersebut. Itulah artinya menebus.

Kalau saya ilustrasikan lagi: misalnya Saudara disuruh mengangkut 30 karung beras selama 30 hari. Berarti setiap hari Saudara harus angkut satu karung. Benar ya? Satu karung per hari, 30 hari selesai.

Tapi selama 20 hari Saudara sia-siakan. Saudara enggak kerja, tidur, bangun, main game, enggak peduli dengan karung-karung tersebut. Nah, begitu di hari ke-20 Saudara baru sadar dan baru mulai bekerja, berarti karung yang bisa Saudara angkut selama 10 hari itu cuma 10 karung. Masih ada 20 karung yang gagal Saudara bawa.

Maka sekarang Saudara harus menebus. Caranya bagaimana? Saudara harus mengangkut 30 karung itu dalam 10 hari. Itu artinya Saudara harus kerja ekstra keras. Itulah artinya menebus.

Nah, Saudara yang dikasihi Tuhan, Tuhan sebenarnya sudah kasih tiap-tiap kita waktu yang harus kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan. Tiap-tiap orang waktunya berbeda-beda. Ada yang 50 tahun, ada yang 60 tahun, ada yang 70 tahun. Nah, setiap waktu yang Tuhan berikan kepada Saudara itu harus Saudara pertanggungjawabkan.

Tetapi masalahnya, ada begitu banyak waktu yang selama ini kita sia-siakan. Ada begitu banyak waktu yang selama ini sudah kita buang untuk hal-hal yang tidak produktif, tidak berguna, dan di luar kehendak Tuhan.

Coba kita introspeksi diri, Saudara. Berapa banyak waktu yang kita habiskan hanya untuk memuaskan hawa nafsu dan ego kita? Hidup hanya fokus senang-senang terus, pesta pora, enggak peduli orang lain, enggak peduli pelayanan, yang penting saya happy.

Nah, itu semua harus Saudara bayar. Semua waktu yang Saudara sudah buang itu harus Saudara tebus.

Padahal waktu yang Tuhan sudah berikan kepada kita itu sangat singkat. Oleh sebab itu, hari ini, sekarang, kita harus berpacu dengan waktu. Karena Saudara cuma punya waktu hari ini. Hari esok bukan milik kita lagi.

Oleh sebab itu, Saudara harus kerja ekstra keras untuk menebus waktu yang selama ini sudah Saudara sia-siakan.

Kronos dan kairos

Sekarang yang kedua, kata waktu. Kata waktu ini dalam bahasa Yunani ada dua.

Yang pertama yaitu kronos.
Yang kedua yaitu kairos.

Kronos yaitu waktu yang bisa kita prediksi dan kita tetapkan. Tapi kairos itu sesuatu yang enggak tentu.

Makanya dari kata kronos ini lahirlah kata kronologi. Misalnya, setiap bulan saya dijadwal khotbah rutin atau perjamuan kudus. Itu namanya kronos. Karena sudah pasti.

Tapi kalau sewaktu-waktu saya seperti hari ini dijadwal khotbah di DBR, itu kairos. Jadi kairos itu sesuatu yang enggak bisa diprediksi dan tidak tentu.

Misalnya ada seorang menawarkan peluang bisnis kepada Saudara, itu namanya kairos. Misalnya dalam ibadah tiba-tiba Roh Kudus menjamah Saudara dan hidup Saudara diubah, itu kairos.

Jadi kairos itu, Saudara, sebenarnya adalah kesempatan.

Dulu di Yunani ada gambaran dewa Kairos. Bentuknya aneh. Rambutnya panjang di depan, tetapi belakangnya botak. Itu artinya apa? Itu artinya, kalau kairos sedang menghampirimu, buru-buru tangkap. Tangkap rambutnya yang di depan. Karena kalau kairos itu sudah lewat, Saudara mau tangkap enggak bisa, karena belakangnya licin. Dan Saudara tunggu lagi, belum tentu datang lagi, karena kairos itu muncul sewaktu-waktu. Enggak bisa diprediksi, enggak bisa diduga-duga.

Jadi lebih tepat kalau kairos saya terjemahkan sebagai kesempatan.

Kalau kronos itu selalu ada setiap saat, kairos itu seperti air sungai yang terus mengalir. Saudara yang dikasihi Tuhan, sering kali tanpa kita sadari, ada begitu banyak hal penting yang terjadi di dalam kehidupan kita dan berlalu di depan kita begitu saja. Ada begitu banyak kairos yang kita biarkan berlalu di depan kita. Dan kita baru sadar dan menyesal setelah itu.

Ada seorang pemuda namanya Jimmy. Jimmy bertetangga dengan seorang pemudi namanya Mince. Mince ini umurnya 15 tahun, Jimmy umurnya 22 tahun. Satu hari si Mince datang kepada Jimmy dan berkata, “Koko Jimmy, aku sangat mencintai kamu. Aku sadar aku masih kecil, tapi aku akan simpan cintaku hanya untuk kamu.”

Tapi karena Jimmy lihat si Mince ini masih kecil, dia bilang, “Mince, kamu masih kecil. Kamu baru 15 tahun. Jangan harapkan saya. Simpanlah cintamu itu. Nanti berjalan dengan waktu, engkau juga akan melupakan saya.”

Beberapa bulan kemudian Jimmy pindah kerja ke luar kota. Setahun berlalu, dua tahun, tiga tahun, lima tahun. Di tahun kelima Jimmy teringat akan Mince. Sekarang Mince sudah 20 tahun. Dia membayangkan sekarang Mince pasti sudah jadi seorang gadis yang cantik. Sejak saat itu wajah Mince selalu terbayang.

Mau tidur, wajah Mince yang terbayang. Bangun tidur, wajah Mince yang terbayang. Akhirnya dia enggak tahan. Jimmy pulang kampung untuk meminang Mince.

Begitu sampai di rumah Mince, Jimmy berkata, “Mince, sekarang aku terima cintamu.”

Dan Mince bilang, “Maaf, Koko Jimmy, saya sudah menikah.”

Mendengar itu, Jimmy menangis tersedu-sedu. Dia begitu menyesal. Kenapa dulu aku enggak terima cinta si Mince? Lalu Mince bilang, “Jangan menangis, Koko Jimmy. Nanti berjalan dengan waktu, engkau juga akan melupakan saya.”

Dari cerita ini, kata orang, terciptalah lagu Jimmy, Jimmy, Please Don’t Cry. Nanti Saudara buka di YouTube. Jimmy telah membuang kairos besar di dalam hidupnya.

Hidup adalah kairos. Hidup adalah kesempatan. Kalau Saudara enggak peka dengan kairos-nya Tuhan, maka Saudara akan kehilangan banyak momentum dalam kehidupan Saudara. Saudara akan kehilangan banyak kesempatan.

Kesempatan untuk apa?

Hidup adalah kesempatan

Mari kita lihat Lukas 16:19-31 tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin. Saya tidak baca ulang semuanya, tetapi Saudara tahu kisahnya.

Ada seorang kaya yang setiap hari selalu hidup dalam kemewahan. Lalu ada pengemis bernama Lazarus, badannya penuh borok, berbaring dekat rumah orang kaya itu, berharap mendapat sisa makanan dari meja orang kaya itu. Sampai anjing-anjing datang menjilat boroknya.

Lazarus meninggal, dibawa malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati dan dikuburkan. Di alam maut, orang kaya itu menderita sengsara dan sangat kesakitan.

Dari pembacaan Firman ini, ada tiga kesempatan, ada tiga momentum yang dilewatkan oleh orang kaya ini semasa hidupnya. Dan dia baru menyesal dan mau bertobat, mau menebus waktu yang sudah dia sia-siakan, tetapi sudah terlambat. Kairos sudah berlalu.

#1 Kesempatan untuk percaya kepada Tuhan.

Saya yakin orang kaya ini semasa hidupnya punya begitu banyak kesempatan untuk bertobat dan menerima Tuhan. Ketika ada hamba Tuhan datang memberi kesaksian, mungkin dia tolak. Ketika ada nabi memberitakan firman, dia abaikan. Ketika ada temannya ngajak ikut cool, dia enggak mau ikut.

Tapi sekarang setelah dia mati, dia baru menyesal, baru mau bertobat, tapi sudah terlambat. Kairos sudah lewat.

Saudara tahu, dosa terbesar yang membuat orang masuk neraka bukan dosa mencuri, bukan dosa membunuh. Dosa terbesar adalah tidak beriman kepada Tuhan, yaitu tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang telah mengampuni seluruh dosa umat manusia.

Orang boleh saleh, jujur, enggak pernah berzina. Tapi kalau dia tidak beriman kepada Tuhan Yesus, dia tidak diselamatkan.

Yesus bilang:

Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)

Hanya lewat iman kepada Yesus Saudara dan saya diselamatkan.

Nah, kembali kepada cerita tadi. Saya yakin orang kaya ini semasa hidupnya hatinya sudah mulai percaya kepada Tuhan. Sudah mulai percaya. Tapi sayang, karena kesibukan dunia, karena kesenangan dunia, dia menunda. Menunda untuk percaya kepada Tuhan. Menunda untuk bertobat. Dia kira hidupnya masih panjang. Dia kira kekayaannya membuat hidupnya menjadi lebih panjang. Enggak, Saudara.

Saudara boleh punya uang segudang sekalipun. Kalau Tuhan bilang selesai, ya selesai.

Nah, orang kaya ini setelah mati, setelah mengalami penderitaan yang begitu mendalam di neraka, dia baru menyesal dan mau bertobat. Dia mau menebus waktu yang telah dia sia-siakan. Tapi sudah terlambat. Kairos sudah berlalu.

#2 Kesempatan untuk berbuat baik

Yang kedua, hidup adalah kesempatan untuk berbuat baik.

Orang kaya ini semasa hidupnya punya kekayaan luar biasa banyaknya. Setiap hari hidupnya hanya fokus bersenang-senang. Pesta pora, makan enak terus, enggak peduli dengan hari Sabat, enggak peduli dengan penderitaan orang lain. Yang penting saya happy.

Kontradiksi dengan Lazarus yang miskin. Dia enggak punya uang, sehingga harus mengemis di rumah orang kaya itu.

Nah, melihat kondisi ini, saya percaya orang kaya ini punya peluang, punya kesempatan untuk menolong si Lazarus. Tapi sayangnya, itu tidak dia lakukan. Kairos. Orang kaya ini melewatkan kairos yang lewat di depannya untuk berbuat baik.

Apakah orang kaya ini jahat? Enggak. Kalau jahat, dia usir si Lazarus. Tapi dia juga bukan orang baik. Kalau dia orang baik, dia kasih makan Lazarus. Kalau dia orang baik, dia kasih obat untuk Lazarus.

Jadi kalau hari ini Saudara dikatakan bukan orang jahat, jangan bangga. Tapi berbanggalah jika Saudara dikategorikan sebagai orang baik.

Oleh sebab itu, banyak berbuat baik.

Tahun 1993 ada seorang fotografer bernama Kevin Carter. Dia pergi ke Sudan di Afrika untuk meliput kelaparan yang terjadi di sana. Satu hari dia melihat pemandangan yang sangat mengerikan: ada seorang anak kecil kurus kering sedang merangkak menuju tempat bantuan makanan, dan di belakangnya ada seekor burung pemakan bangkai yang siap menerkam anak kecil itu, siap menunggu kematiannya.

Nah, melihat itu, Kevin Carter bukannya menolong anak tersebut, tapi malah mengambil kamera dan memotret momen yang luar biasa itu. Dari foto tersebut, dia mendapatkan begitu banyak penghargaan.

Tetapi setelah itu banyak orang telepon dia, “Di mana anak itu? Kenapa kamu enggak menolong anak itu?” Sejak saat itu dia dihantui rasa bersalah yang begitu dalam. Karena enggak tahan dengan tekanan yang begitu kuat, dia akhirnya bunuh diri.

Dia telah melewatkan kairos untuk menolong orang lain.

Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau hari ini Saudara punya kesempatan untuk berbuat baik, punya kesempatan untuk menabur di ladangnya Tuhan, tangkap itu. Kenapa? Karena kairos itu belum tentu akan menghampiri Saudara lagi.

Ada saatnya Saudara mau berbuat baik, ada saatnya Saudara mau menabur, tapi enggak bisa, karena kairos sudah lewat.

#3 Kesempatan untuk melayani Tuhan

Yang ketiga, orang kaya ini melewatkan kairos untuk melayani Tuhan.

Semasa hidupnya, orang kaya ini senang-senang terus, pesta pora, enggak punya hati untuk melayani Tuhan. Tapi setelah mati, setelah mengalami kesakitan dan penderitaan yang begitu mendalam di neraka, dia baru menyesal dan mau bertobat.

Yang tadinya enggak peduli dengan pelayanan, yang tadinya enggak peduli dengan jiwa-jiwa, sekarang baru menyesal dan mau menginjili saudara-saudaranya yang masih tinggal di bumi. Dia mau menebus waktu yang telah dia buang selama ini. Dia minta kepada Bapa Abraham untuk memberitahukan saudara-saudaranya yang masih tinggal di bumi supaya bertobat dan percaya kepada Tuhan.

Tapi sayang, sudah terlambat. Kairos sudah lewat. Abraham bilang, ada jurang yang begitu dalam yang tidak dapat diseberangi antara orang di dunia dan orang mati.

Banyak orang seperti ini. Waktu senang lupa semua. Boro-boro mau melayani, boro-boro mau menginjil, ibadah saja malas.

Saya pernah ajak jemaat, “Yuk, melayani Tuhan.”
“Aduh, maaf, Pak. Istri saya baru melahirkan.”
Oh ya, enggak apa-apa.

Beberapa tahun kemudian setelah anaknya sudah agak besar, saya tanya lagi, “Pak, yuk melayani Tuhan.”
“Aduh, maaf, Pak. Anak saya sedang nakal-nakalnya. Perlu perhatian khusus.”

Beberapa tahun kemudian lagi, setelah anaknya sudah agak dewasa, saya tanya lagi, “Pak, ayo melayani Tuhan. Kelihatannya anaknya sudah bisa dilepas.”
“Aduh, maaf, Pak Pendeta. Istri saya hamil lagi.”

Hidup adalah kesempatan. Jadi kalau hari ini Saudara mendengar Firman Tuhan dan Tuhan menjamah hatimu, itu kairos. Itu kairos. Jangan keraskan hatimu. Tangkap. Tebus. Kapan? Hari ini, Saudara. Sekarang. Karena Saudara cuma punya waktu hari ini.

Besok bukan milikmu lagi. Amin.

Kita enggak tahu hidup kita sampai di mana. Waktu yang bisa Saudara kuasai cuma hari ini. Besok bukan milik kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Nyanyi:

Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri
Hidup ini harus jadi berkat

Video