Sutadi Rusli: Perbedaan antara revisi

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Leo (bicara | kontrib)
upd
Leo (bicara | kontrib)
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 67: Baris 67:


Yayasan Amal Kasih Sejahtera, bersama para mitra, bergerak mengumpulkan minyak jelantah sisa masak untuk dijadikan bahan bakar bus Trans Pakuan. Kegiatan pengumpulan minyak jelantah ini telah diakui dan mendapatkan ucapan penghargaan dari Pemerintah Kota Bogor. Hingga tahun 2009, setiap bulannya terkumpul sekitar 250 liter minyak jelantah, dan akan diupayakan untuk terus meningkat. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan memanfaatkan hal yang sudah tidak berguna menjadi lebih bermanfaat.
Yayasan Amal Kasih Sejahtera, bersama para mitra, bergerak mengumpulkan minyak jelantah sisa masak untuk dijadikan bahan bakar bus Trans Pakuan. Kegiatan pengumpulan minyak jelantah ini telah diakui dan mendapatkan ucapan penghargaan dari Pemerintah Kota Bogor. Hingga tahun 2009, setiap bulannya terkumpul sekitar 250 liter minyak jelantah, dan akan diupayakan untuk terus meningkat. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan memanfaatkan hal yang sudah tidak berguna menjadi lebih bermanfaat.
==Kegiatan sosial==
Pdt Sutadi Rusli memiliki ungkapan bahwa ''hidup adalah belajar'', tidak hanya belajar memahami orang lain, tetapi juga terus belajar untuk memberi. Kegiatan-kegiatan Pdt Sutadi Rusli terus berusaha agar setiap kegiatannya haruslah membawa dampak positif terhadap masyarakat, baik melalui yayasan yang didirikannya maupun secara pribadi.<ref name="jurnalbogor" />
Sikap dan perbuatan sosial Pdt Sutadi Rusli didorong oleh sebuah fase dalam kehidupannya, ketika pekerjaannya hancur dan apa yang dimilikinya hilang, bahkan pada saat itu ia hampir putus asa. Tapi dari fase ini, ia menyadari bahwa ini adalah cara yang Tuhan berikan untuk mengingatkan dirinya bahwa tidak ada satu pun manusia yang bisa diandalkan dan diharapkan, melainkan Tuhan. Terlebih sebagai anak Tuhan, ia memiliki tanggung jawab dalam kesejahteraan masyarakat di tempatnya tinggal.


==Keluarga==
==Keluarga==
Baris 80: Baris 75:
Pdt Sutadi Rusli menikah dengan Ibu {{ArticleLink|Fanny Rusli|Pdp Fanny Rusli}} dan memiliki satu orang putri, [[Alyssa Rusli|Pdp Alyssa Rusli]].
Pdt Sutadi Rusli menikah dengan Ibu {{ArticleLink|Fanny Rusli|Pdp Fanny Rusli}} dan memiliki satu orang putri, [[Alyssa Rusli|Pdp Alyssa Rusli]].


==Kegiatan sosial==
Pdt Sutadi Rusli memiliki ungkapan bahwa ''hidup adalah belajar'', tidak hanya belajar memahami orang lain, tetapi juga terus belajar untuk memberi. Kegiatan-kegiatan Pdt Sutadi Rusli terus berusaha agar setiap kegiatannya haruslah membawa dampak positif terhadap masyarakat, baik melalui yayasan yang didirikannya maupun secara pribadi.<ref name="jurnalbogor" />
Sikap dan perbuatan sosial Pdt Sutadi Rusli didorong oleh sebuah fase dalam kehidupannya, ketika pekerjaannya hancur dan apa yang dimilikinya hilang, bahkan pada saat itu ia hampir putus asa. Tapi dari fase ini, ia menyadari bahwa ini adalah cara yang Tuhan berikan untuk mengingatkan dirinya bahwa tidak ada satu pun manusia yang bisa diandalkan dan diharapkan, melainkan Tuhan. Terlebih sebagai anak Tuhan, ia memiliki tanggung jawab dalam kesejahteraan masyarakat di tempatnya tinggal.
<!--
==Visi khusus==
==Visi khusus==
Setiap kali berulang tahun, Pdt Sutadi Rusli selalu meminta Firman Tuhan bagi dirinya pribadi sebagai tuntunan selama setahun ke depan.
Setiap kali berulang tahun, Pdt Sutadi Rusli selalu meminta Firman Tuhan bagi dirinya pribadi sebagai tuntunan selama setahun ke depan.
Baris 130: Baris 131:
   | kota= Bogor
   | kota= Bogor
}}</ref>
}}</ref>
 
-->
{{gallery by speaker}}
{{gallery by speaker}}



Revisi per 14 Juli 2026 09.17

Pdt Sutadi Rusli

Pdt Sutadi Rusli (lahir 24 Juli 1954) adalah Gembala Jemaat dan Pendiri GBI Jemaat Induk Danau Bogor Raya sejak 11 Juni 1995.

Pelayanan

GBI Danau Bogor Raya

Pada tahun 1992, Pdt Sutadi Rusli bersama-sama dengan Bapak Sofjan Nagawan dan Bapak Sitompul mendirikan persekutuan doa "Immanuel" di Jalan Suryakencana Bogor. Persekutuan ini berdiri untuk melanjutkan visi pemulihan Pondok Daud dan wadah "Bogor Praise Center" yang bertujuan untuk pemulihan pujian dan penyembahan sesuai dengan visi Pdt Ir Niko Njotorahardjo (GBI Bethany Karsa Pemuda Jakarta).

Pada 11 Juni 1995, setelah perkembangan kelompok-kelompok sel Family Altar (FA) yang telah terbentuk pada tahun sebelumnya dari peleburan persekutuan doa Immanuel tersebut, diadakan ibadah perdana GBI Bethany Bogor di Ruang Poso, Sports Club Bogor Lakeside (sekarang Danau Bogor Raya), yang dihadiri oleh sekitar 200 orang. Sejak saat itu, GBI Danau Bogor Raya terus berkembang dan memiliki cabang-cabang/ranting di berbagai daerah hingga ke luar negeri.

Pdt Sutadi Rusli mendapatkan visi 70 cabang, 50.000 jemaat, dan 2.500 COOL dalam Penggembalaan GBI Rayon 7.

Visi 70 cabang telah tergenapi pada saat ulang tahun ke-30 GBI Danau Bogor Raya.[1] Sejak saat itu, visi 70 cabang telah berkembang menjadi 150 cabang.

Grha Amal Kasih

Sejak tahun 2002, Pdt Sutadi Rusli bersama para pemimpin GBI Jemaat Induk Danau Bogor Raya telah memiliki kerinduan untuk memiliki tempat ibadah sendiri. Kerinduan ini diwujudkan dengan berdoa bersama setiap hari Selasa pukul 10.00-12.00, sebuah wadah yang kemudian menjadi Menara Doa Pemimpin, sebuah wadah pertemuan para pemimpin, yaitu para Gembala Cabang/Ranting dan Kepala Departemen untuk berdoa bersama mencari wajah Tuhan.

Tuhan menjawab kerinduan ini dengan sebidang tanah yang terletak tepat di samping tempat ibadah yang digunakan selama ini. Ketekunan dan kesehatian dalam doa seminggu sekali itu dijawab Tuhan tepat 20 tahun kemudian, sehingga pada hari Minggu, 14 Agustus 2022, gedung Grha Amal Kasih dapat digunakan untuk ibadah perdana.

Tuntunan melalui penglihatan Ilahi

Pada bulan Februari 2021, Pdt Sutadi Rusli mengalami kecelakaan ketika sedang berolah raga sepeda, sehingga harus dirawat di rumah sakit. Di kamar perawatan rumah sakit tersebut, pada suatu malam, Pdt Sutadi Rusli mendapatkan penglihatan dalam mimpi yang begitu jelas. Dalam mimpi itu diperlihatkan sebuah bangunan besar yang diapit dua jalan, serta sebuah sungai kecil mengalir pada salah satu sisi bangunan besar tersebut.

Tampak pula pada salah satu sisi samping bangunan yang panjang tersebut, ada banyak orang-orang memakai baju putih. Pdt Sutadi Rusli kemudian berjalan ke bagian depan dari bangunan tersebut dan melihat di dalamnya sedang berlangsung pesta pernikahan.

Pdt Sutadi Rusli mendapat pengertian dari penglihatan Ilahi dalam mimpi tersebut, bahwa:

  • Gedung besar itu adalah Kawasan Grha Amal Kasih yang nantinya akan terdiri dari Gedung Serba Guna, Gedung kantor, dan Gedung Sekolah Amal Kasih.
  • Orang banyak yang berbaju putih adalah jiwa-jiwa yang akan Tuhan kirimkan.
  • Dan ketika semua pelayan di gereja hidup dalam kebenaran, maka Tuhan akan memakai wadah Grha Amal Kasih untuk mempersiapkan jiwa-jiwa menjadi umat yang layak yang akan turut serta dalam pesta pernikahan Anak Domba kelak.

Melangkah dengan iman

Tuhan meneguhkan kembali dengan memberi pesan dari Yohanes 5:5-8, khususnya dalam ayat ke-8,

Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah."

Pdt Sutadi Rusli pun meresponi dengan ketaatan untuk melangkah dengan iman memulai pembangunan. Saat itu tim pembangunan baru memiliki dana sekitar 10 persen saja dari total nilai anggaran yang dibutuhkan.

Pada tanggal 26 Juni 2021 pukul 10.00 pagi, menjadi momen bersejarah, di mana dilaksanakan ibadah dan peletakan batu pertama, sebagai tanda dimulainya pembangunan. Selama pembangunan ini juga dikawal dengan Menara Doa secara korporat melalui Zoom setiap hari Jumat pukul 17.00.

Mujizat demi mujizat pun Tuhan berikan selama proses pembangunan, baik dalam 21 perizinan yang begitu cepat diterima, hingga proses pembangunan sejak kick-off meeting Panitia Pembangunan (15 Oktober 2021), tiang pancang pertama (03 November 2021), hingga 14 Agustus 2022 ibadah perdana dapat dilaksanakan di gedung yang sudah dapat beroperasi secara fungsional.

Grha Amal Kasih menjadi sebuah simbol, bukan sekedar bangunan, tapi simbol iman yang hidup, hasil kerja sama seluruh jemaat dalam penyertaan Tuhan yang nyata. Kawasan ini menjadi tempat beribadah, melayani, belajar, dan bertumbuh bagi generasi masa kini dan mendatang. Kawasan ini adalah bukti nyata, bahwa ketika umat-Nya berjalan dalam ketaatan akan tuntunan Tuhan, maka tidak ada yang mustahil sebab Allah turut bekerja. Grha Amal Kasih menjadi sebuah kesaksian akan kasih dan kuasa-Nya yang tidak pernah berkesudahan.

Yayasan Amal Kasih Sejahtera

Pada tahun 1998, Pdt Sutadi Rusli mendirikan Yayasan Amal Kasih Sejahtera bersama Pdp Sri Pudyastuti (Tuti Gunawan). Visi yayasan ini adalah membentuk karakter ilahi dan inteligensia sejak usia dini, dengan misi untuk membantu pemerintah di bidang pendidikan dan menjadi mitra orang tua dalam mendidik anak.[2]

Berdirinya yayasan ini juga diikuti dengan pendirian Sekolah Amal Kasih, yakni TK Amal Kasih (Villa Duta Bogor), diikuti dengan SD dan SMP. Sekolah Amal Kasih juga berdiri di Cibinong dan Jonggol.

Sekolah Amal Kasih adalah sekolah yang berwawasan kebangsaan dengan menekankan cara belajar yang menyenangkan, serta menanamkan rasa kepedulian untuk para anak didik. Sekolah ini juga menggelar kegiatan-kegiatan sosial seperti pengobatan gratis, penanaman pohon, berkebun untuk kemandirian, kunjungan ke panti asuhan, bazaar Ramadhan, dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk menanamkan kepedulian siswa kepada sesama serta membiasakan mereka untuk berbagi dan menghargai perbedaan.

Yayasan Amal Kasih Sejahtera, bersama para mitra, bergerak mengumpulkan minyak jelantah sisa masak untuk dijadikan bahan bakar bus Trans Pakuan. Kegiatan pengumpulan minyak jelantah ini telah diakui dan mendapatkan ucapan penghargaan dari Pemerintah Kota Bogor. Hingga tahun 2009, setiap bulannya terkumpul sekitar 250 liter minyak jelantah, dan akan diupayakan untuk terus meningkat. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan memanfaatkan hal yang sudah tidak berguna menjadi lebih bermanfaat.

Keluarga

Pdt Sutadi Rusli dan Pdp Fanny Rusli di Grha Amal Kasih pada 16 Juni 2024.

Pdt Sutadi Rusli menikah dengan Ibu Pdp Fanny Rusli dan memiliki satu orang putri, Pdp Alyssa Rusli.

Kegiatan sosial

Pdt Sutadi Rusli memiliki ungkapan bahwa hidup adalah belajar, tidak hanya belajar memahami orang lain, tetapi juga terus belajar untuk memberi. Kegiatan-kegiatan Pdt Sutadi Rusli terus berusaha agar setiap kegiatannya haruslah membawa dampak positif terhadap masyarakat, baik melalui yayasan yang didirikannya maupun secara pribadi.[2]

Sikap dan perbuatan sosial Pdt Sutadi Rusli didorong oleh sebuah fase dalam kehidupannya, ketika pekerjaannya hancur dan apa yang dimilikinya hilang, bahkan pada saat itu ia hampir putus asa. Tapi dari fase ini, ia menyadari bahwa ini adalah cara yang Tuhan berikan untuk mengingatkan dirinya bahwa tidak ada satu pun manusia yang bisa diandalkan dan diharapkan, melainkan Tuhan. Terlebih sebagai anak Tuhan, ia memiliki tanggung jawab dalam kesejahteraan masyarakat di tempatnya tinggal.

Referensi

Lihat pula