Kasih Bapa (Khotbah Pdt Dr Ir Niko Njotorahardjo)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Kasih Bapa
Niko Njotorahardjo.jpg

Pdt Dr Ir Niko Njotorahardjo

Ringkasan Khotbah
KebaktianIbadah Raya
TanggalMinggu, 6 Juli 2008
GerejaGBI Jalan Gatot Subroto
TempatJCC Senayan
KotaJakarta

Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. ... . (Efesus 3:18-19).

Ini merupakan doa Rasul Paulus untuk jemaat di Efesus dan juga untuk kita semua. Ini juga merupakan doa saya untuk kita semua. Selama 3 bulan terakhir kita berbicara tentang kehendak Allah pada jaman ini. Daud berkenan di hati Tuhan karena dia melakukan segala kehendak Tuhan, kehendak Tuhan yang mana? Kehendak Tuhan pada jamannya.

Saya percaya kalau kita semua mau berkenan di hati Tuhan pasti kita akan melakukan kehendak Tuhan pada jaman ini. Melalui doa Rasul Paulus kita diberitahu bahwa ini adalah kehendak Tuhan untuk jaman ini: kita diminta untuk memahami betapa lebar, panjang, tinggi, dalamnya kasih Kristus dan mengenal kasih itu sekalipun melampaui segala pengetahuan.

Saya percaya kalau kita bisa memahami lebar, panjang, tinggi, dalamnya dan mengenal kasih itu, maka kita semua akan lebih mengasihi Tuhan Yesus. Inilah yang dikehendaki Tuhan.

Pesan Tuhan tentang kasih tidak ada habis-habisnya: kita diminta untuk mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan kita. Hari ini kita akan bersama-sama merenungkan dan kembali merasakan betapa lebar, panjang, tinggi, dalamya kasih Kristus, dan mengenal kasih itu sekalipun melampaui segala pengetahuan. Saya tidak tahu keadaan Saudara saat ini, mungkin Saudara sedang dalam keadaan sakit/menderita tetapi marilah kita mendengar dan merenungkan kasih Tuhan Yesus kepada kita. Dan saya percaya Saudara akan sembuh.

Betapa lebar, panjang, tinggi, dan dalamnya kasih Kristus, luar biasa. Selama hampir 2 tahun Healing Movement Ministry Tuhan berikan kepada gereja kita. Saya berkeliling ke 85 tempat selama 2 tahun itu. Dari 85 tempat tersebut: 44 tempat diantaranya diselenggarakan KKR di lapangan terbuka/stadion, di mana banyak dari kota-kota itu sebelumnya belum pernah ada KKR di lapangan - karena tidak diperbolehkan. Atau mungkin juga pernah ada KKR di lapangan, tetapi hal itu sudah 50 tahun yang lalu. Tetapi hari-hari ini Tuhan sedang membukakan semuanya itu, inilah Hari Perkenanan Tuhan untuk Indonesia.

Di dalam KKR-KKR itu saya selalu berkata: "Saudara-saudara, hari ini Tuhan Yesus akan mendemontrasikan kasih dan kuasa-Nya di tempat ini." Dan benar-benar hal itu terjadi. Semakin hari saya semakin terheran-heran melihat bagaimana orang disembuhkan secara luar biasa. Dalam bulan Juni ini saya pergi ke 6 tempat: 2 tempat di Hongkong, Pontianak, Singkawang, serta Jember dan Probolinggo yang dikenal sebagai daerah "tapal kuda" (daerah yang sebelumnya tidak pernah mendapat ijin tetapi sekarang diperbolehkan). Hari-hari ini adalah Hari Perkenanan Tuhan, Tuhan yang membukakan semuanya itu. Saya melihat orang-orang disembuhkan secara luar biasa. Ada orang muda yang bisu tuli sejak lahir, tetapi malam itu dia dijamah Tuhan sehingga disembuhkan dari bisu tuli.

Saya melihat banyak mujizat dan juga dampaknya. Sebagai contoh: di Pontianak KKR-nya disiarkan melalui RRI dan jutaan orang pendengar. Ketika orang-orang meresponi dengan mengirim SMS maka komputernya "hanged" karena saking banyaknya SMS yang masuk. Berarti ribuan orang yang telah disembuhkan!

Dalam setiap KKR saya selalu berbicara tentang kasih Kristus, sebab yang datang di KKR itu dari berbagai kalangan: Kristen dan non Kristen. Suatu fenomena yang luar biasa hari-hari ini, karena Tuhan Yesus mengasihi Indonesia. Saya percaya kasih Tuhan Yesus akan dicurahkan di Indonesia. Keadaan Indonesia hari-hari ini terus terpuruk sejak 26 Desember 2004 ketika Tsunami melanda Aceh, Sumatera Utara, Nias. Sejak saat itu bencana alam dan penyakit silih berganti, orang miskin bertambah banyak, angka pengangguran bertambah tinggi, resesi ekonomi global, resesi ekonomi Amerika, BBM naik. Sampai Wakil Presiden Yusuf Kalla berkata: "Saya lihat orang Indonesia berubah; mereka semua marah, mahasiswa marah, buruh marah, semua marah." Seperti dikatakan di Alkitab bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah orang menjadi garang karena kasih kebanyakan orang menjadi dingin (Matius 24:3-12).

Kalau Saudara melihat keadaan Indonesia, apakah Saudara mengasihi Indonesia? Dengan dipelopori oleh anak-anak muda, "The Call Indonesia" akan diadakan pada tanggal 18 Agustus 2008, di mana dari seluruh JABODETABEK dipusatkan di Gelora Bung Karno. Diikuti juga oleh Medan dan Bandung dan kota-kota lainnya yang dipusatkan di stadion-stadion. Pada tanggal 18 Agustus 2008 ini diadakan doa puasa selama 12 jam dari jam 09.00 pagi s/d jam 21.00 malam, berdoa untuk Indonesia.

Gereja kita adalah salah satu gereja yang Tuhan tetapkan sebagai Anchor Church. Kita bersama-sama dengan gereja-gereja yang lain akan berpuasa selama 40 hari untuk Indonesia dari tanggal 10 Juli s/d 18 Agustus 2008. Apakah kita mengasihi Indonesia? Tidak cukup hanya mengasihi, sekarang kita bersama-sama masuk di dalam doa puasa dengan sungguh-sungguh. Saya sering berkata kepada Tuhan: "Tuhan, hari-hari ini saya melihat Engkau luar biasa, kesembuhan luar biasa." Tetapi Tuhan berkata: "Kamu belum melihat yang luar biasa, itu baru permulaan." Dan kita akan melihat hal-hal yang luar biasa terjadi di Indonesia.

Kasih Kristus

Ketika KKR di lapangan saya tidak pernah lupa berkata: "Mari kita merenungkan tentang kasih Kristus, Yohanes 3:16-17 berkata: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal [namanya Yesus], supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia."

Ada apa dengan manusia sehingga Tuhan Yesus harus datang ke bumi ini? Alkitab berkata: "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23) dan "Sebab upah dosa ialah maut; ..." (Roma 6:23). "Dia [Yesus] yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, ..." (2 Korintus 5:21), artinya Tuhan Yesus harus mati menggantikan kita. Tuhan Yesus mati tergantung di atas kayu salib, sekujur tubuh-Nya penuh dengan luka-luka. Dari luka-luka itu mengalir darah, darah Tuhan Yesus tercurah. Darah tercurah karena disesah 39 kali dengan cambuk yang ujungnya diberi potongan besi dan tulang membuat luka-luka yang dalam. Kemudian diberikan mahkota duri di kepala Tuhan Yesus, sehingga darah Tuhan Yesus tercurah lagi. Tangan Tuhan Yesus dipaku, kaki-Nya dipaku, sehingga darah-Nya tercurah lagi. Tuhan Yesus mati tergantung di atas kayu salib karena kehabisan darah. Mengapa Tuhan Yesus harus mati dengan cara seperti itu? Alkitab berkata: "... tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan [dosa]." (Ibrani 9:22). Untuk mengampuni dosa Saudara dan saya maka Tuhan Yesus harus mati dengan cara demikian. Mengapa Tuhan Yesus harus mati dengan cara demikian? Alkitab juga berkata:

  1. "... penyakit kitalah yang ditanggungnya, ..." (Yesaya 53:4).
  2. "... kesengsaraan [penderitaan] kita yang dipikulnya, ... oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." (Yesaya 53:4-5).

Betapa lebar, panjang, tinggi, dalamnya kasih Tuhan kepada kita. Banyak hal yang kita tidak bisa mengerti, tetapi saya berdoa supaya kita bisa memahami dan mengenal kasih itu."

Apakah Saudara datang dalam keadaan sakit secara fisik, mental, jiwa, hubungan keluarga, hubungan suami istri, hubungan orang tua anak, ekonomi? Dan Saudara menderita karena hal itu? Saya memberitahu kepada Saudara bahwa 2.000 tahun yang lalu Tuhan Yesus sudah menanggung semuanya itu buat kita, dan oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh.

Saya percaya kalau kita sering merenungkan kasih Kristus, maka kita akan lebih mengasihi Dia. Hari-hari kita harus panas dan bergairah dengan Tuhan, karena kita mengasihi Tuhan dengan kasih yang mula-mula. Kita jangan sampai mati rohani/suam-suam kuku, tetapi kita harus panas dan bergairah dengan Tuhan. Itulah kehendak Tuhan untuk jaman ini, kalau Saudara melakukannya maka berkat Tuhan tercurah buat Saudara.

Kasih Bapa

Saya ingat bagaimana Tuhan Yesus mengajar kita berdoa: "Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]" (Matius 6:9-13).

Allah mana selain Allah kita yang bisa kita panggil "Bapa"? Tidak ada, hanya Dia. Kita bayangkan bahwa Dia yang pencipta langit dan bumi adalah "Bapa kita". "Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, ..." (Hagai 2:9), Dialah Bapa kita. Mengapa Allah menggambarkan diri-Nya sebagai "Bapa" kepada kita? Sebab manusia sangat membutuhkan figur seorang ayah.

Ada sebuah kisah nyata dari Spanyol: seorang ayah mempunyai anak bernama "Paco". Anaknya lari dari rumah, dan ayahnya mencarinya berbulan-bulan tetapi tidak menemukan anaknya. Akhirnya ayahnya memasukkan iklan di surat kabar dengan menuliskan: "Paco sayang, temui aku di depan kantor surat kabar ini hari Sabtu jam 12 siang. Aku mengasihimu dan mengampunimu." Apa yang terjadi kemudian? Hari Sabtu jam 12 siang di depan kantor surat kabar itu ada 800 Paco, yang berarti 800 Paco yang berkumpul itu semuanya bermasalah dan membutuhkan kasih seorang ayah.

Ada sebuah statistik yang menyatakan:

  1. Orang-orang yang kehilangan kasih bapa akan tumbuh dengan kelainan perilaku, kecenderungan bunuh diri dan menjadi kriminal yang kejam.
  2. Kurang lebih 70 % penghuni penjara dengan hukuman seumur hidup adalah orang-orang yang bertumbuh tanpa ayah.

Ada sebuah statistik lain yang menyatakan: "Sebuah keluarga kalau ibunya rohani, sedangkan ayahnya tidak rohani maka 30% dari anak-anaknya yang rohani. Tetapi sebaliknya kalau di dalam suatu keluarga kalau ayahnya rohani (ibunya tidak disebutkan rohani/tidak, tetapi biasanya juga rohani) maka 70% dari anak-anaknya yang rohani." Di sini tidak berarti mengecilkan arti seorang ibu, tetapi kenyataannya seperti itu.

Kalau Saudara membaca di Mazmur 128: kalau seorang suami/kepala keluarga takut akan Tuhan, maka isterinya akan seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahnya dan anak-anaknya akan seperti tunas pohon zaitun di sekeliling mejanya.

Banyak orang yang berkata: "Saya tidak bisa mengenal kasih Bapa yang di sorga karena melihat bapa saya yang di dunia ini luar biasa kejamnya." Memang ada bapa di dunia ini yang kejam, tetapi ada juga yang bapanya "kejam" untuk mendisiplinkan anaknya tetapi anaknya tidak bisa menerima. Kadang-kadang di dalam pembahasan ini kita berat sebelah, ada yang terlalu membela anak tetapi ada juga yang terlalu membela bapa. Harus yang seimbang, bapa-bapa harus menjalankan didikan sesuai dengan Firman Tuhan.

"Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati." (Amsal 23:13-14).

"Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya." (Amsal 19:18).

"Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya." (Amsal 13:24).

Kadang-kadang di dalam keadaan seperti ini anak tidak bisa menerima, tetapi ada ayat untuk anak-anak: Amsal 13:1, "Anak yang bijak mendengarkan didikan ayahnya, tetapi seorang pencemooh tidak mendengarkan hardikan." Jangan menjadi seorang pencemooh, tetapi jadilah anak yang bijak.

Kalau 2 hal ini dikombinasikan maka semuanya pasti beres, tetapi ternyata tidak semudah itu. Saya berbicara diantara kita orang-orang yang mengenal Firman Tuhan, bukan di antara orang-orang dunia yang kejam. Tuhan tahu akan keadaan yang seperti ini, tidak mudah. Bapanya seperti ini sedangkan anaknya seperti itu, tidak mudah. Tetapi Tuhan turun tangan.

Kalau kita membaca di dalam Maleakhi 4:5-6: "Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah."

Inilah kasih Tuhan. Memang kadang-kadang permasalahan antara bapa dan anak tidaklah sederhana. Siapakah nabi Elia yang diutus Tuhan? Apa yang dimaksudkan hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu? Hal ini berbicara tentang hari kedatangan Tuhan Yesus yang pertama maupun yang kedua. Menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang pertama yang dimaksudkan dengan nabi Elia adalah Yohanes Pembaptis. Menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang untuk kedua kalinya yang dimaksudkan nabi Elia adalah Gereja Tuhan yang memiliki pelayanan dengan roh dan kuasa Elia.

Hari-hari ini Tuhan berikan kepada gereja kita: Healing Movement Camp yang bersamaan dengan Healing Movement Ministry.

Jadi di dalam Healing Movement Ministry ada:

  • Healing Movement Center (SCCC)
  • Healing Movement for The Poor, melalui YKPMI
  • Healing Movement Crusade, saya KKR berkeliling ke kota-kota
  • Healing Movement Camp (ada camp-camp)

Healing Movement Camp ini luar biasa, yang ikut dari anak umur 9 tahun ke atas: ayah, ibu, anak semuanya ikut. Banyak hal luar biasa yang terjadi. Ada sebuah kesaksian dari anak seorang hamba Tuhan setelah dipulihkan melalui camp: ternyata anak ini sakit hati kepada ayahnya karena dia dianggap anak yang paling bodoh di antara saudaranya. Memang saudara-saudaranya nilainya bagus sehingga selalu dipuji oleh orang tuanya, sedangkan anak ini tidak pernah dipuji. Anak ini menjadi stres dan sakit hati sehingga mau bunuh diri, tetapi dia mau mati dengan cara terhormat yaitu dengan kebut-kebutan motor supaya mati karena kecelakaan. Tetapi setelah mengikuti Healing Movement Camp dia menangis dan bersaksi, padahal ayahnya menjadi fasilitator dalam camp itu. Sehingga pada waktu mendengar kesaksian anaknya itu ayahnya sangat terkejut, dan hari itu juga terjadi pemulihan antara ayah dan anaknya sampai hari ini.

Ada satu kesaksian lagi dari anak muda yang sakit hati kepada ayahnya karena ayahnya sangat acuh kepadanya. Kadang dia ingin memeluk ayahnya tetapi ayahnya tidak mau, sehingga dia sakit hati kepada ayahnya. Pada waktu anak ini ikut Healing Movement Camp dia sadar, bertobat, dan menangis di hadapan Tuhan. Kemudian dia datang kepada ayahnya yang sedang sakit lever di rumah sakit dan akan dioperasi. Pada waktu dia datang kepada ayahnya dia memeluknya dan mereka saling berpelukan, dan mujizat terjadi: pada saat itu juga ayahnya sembuh dari sakit lever.

Kalau kita melihat kasih Kristus itu memang luar biasa, betapa lebar - panjang - tinggi - dalamnya dan melebihi segala pengetahuan. Tidak masuk akal, tetapi itulah yang terjadi.

Perumpamaan anak yang hilang

Saya akhir-akhir ini selalu teringat dengan kisah perumpamaan anak yang hilang. Ini adalah perumpamaan yang diberikan oleh Tuhan Yesus: ada seorang bapa yang mempunyai 2 orang anak yaitu anak bungsu dan anak sulung. Lukas 15:12-22, "Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya [bagi orang Yahudi babi adalah binatang haram, jadi pekerjaan menjaga babi adalah benar-benar hina].

Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya.

Anak bungsu ini mau kembali ke rumah bapanya. Keputusan seperti ini sangatlah penting. Kadang-kadang saya melihat anak terhilang yang tidak bisa kembali lagi kepada bapanya, karena tidak mengambil keputusan seperti anak bungsu ini. Mungkin ada di antara Saudara yang seperti ini, engkau sedang mengalami pergumulan, keadaanmu sedang tidak baik. Ayo, cepat ambil keputusan seperti anak bungsu ini untuk kembali kepada bapanya.

Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya." Kasih Bapa kita memang seperti itu.

Ada seorang pelukis Cina yang bertobat, dia mau menggambarkan kasih Bapa melalui kisah anak yang terhilang. Digambarkan di dalam lukisannya itu: anaknya pulang, tetapi bapanya menyambut anaknya itu dengan sikap yang agak cuek. Tetapi seorang teman pelukis itu mengatakan bahwa gambaran itu salah karena kasih Bapa tidak seperti itu.

Dan akhirnya pelukis itu mendapatkan gambaran tentang kasih Bapa sebagai berikut: Bapanya sedang berlari, jubahnya berkibar-kibar, dengan muka yang berseri-seri Bapa menyambut anaknya yang pulang. Dan yang luar biasa di dalam lukisan itu adalah: kasut Bapanya berbeda antara yang kanan dan yang kiri, warna kasutnya juga berbeda. Itu karena bapanya sedang terburu-buru menyambut kedatangan anak-Nya yang terhilang itu. Kasih Bapa memang seperti itu. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk berputus asa dan merasa tertolak, karena betapa lebar, panjang, tinggi, dalamnya kasih Bapa sekalipun melampaui segala pengetahuan.


TUHAN YESUS MEMBERKATI