Menjadi pembangun-pembangun jembatan (Pdp Daniel W Pradhana)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Amanat Agung hanya dapat digenapi ketika setiap orang percaya mau pergi dan menjadi pembangun jembatan, bukan hidup eksklusif atau menghakimi. Seorang pembangun jembatan membangun hubungan, menghilangkan hambatan yang tidak perlu, memulai dengan penerimaan—bukan perdebatan—dan membiarkan hidupnya menjadi kesaksian. Melalui karakter, kasih, dan kehidupan yang konsisten, Tuhan memakai kita sebagai perantara agar banyak orang di sekitar kita boleh datang dan mengenal Kristus.

Shalom. Selamat Tahun Baru. Senang sekali kita memasuki tahun yang baru. Dan di tahun 2026 ini, saya percaya Tuhan punya rencana yang besar bagi setiap kita. Amin.

Dan secara khusus bagi gereja ini, lewat gembala pembina, Tuhan memberikan pesan bahwa tahun 2026 adalah Tahun Amanat Agung. Saya mau tanya kepada Saudara: Amanat Agung itu isinya apa sih? Nah, ini sering jadi problem. Katanya tahu Amanat Agung, tapi kok tidak tahu isinya apa.

Mari kita dengar Amanat Agung Tuhan Yesus. Dalam Matius 28, sebelum Yesus terangkat ke surga, Ia berkata:

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20)

Kalau Saudara perhatikan, Amanat Agung ini adalah pesan Tuhan bagi gereja ini di tahun 2026. Dan pada esensi pertamanya, Amanat Agung mengamanatkan, memerintahkan kita untuk pergi. “Karena itu pergilah.”

Coba bantu saya supaya tidak terlalu kaku. Ngomong sama kiri-kanannya, bilang begini: “Tuhan mau kamu pergi.”
Tuhan mau kamu untuk apa? Pergi.

Saya percaya, kalau kita mau menggenapi Amanat Agung, dibutuhkan setiap kita untuk pergi. Kalau kita tidak mau pergi, Amanat Agung tidak bisa dilakukan. Itu sebabnya pagi hari ini saya mau fokus pada bagian pertama ini: Pergi.

Maksudnya apa itu pergi, Pastor? Tuhan suruh kita pergi ke mana? Ngapain pergi?

Pergi artinya begini: Tuhan tidak mau kita pasif. Tuhan tidak mau kita hanya duduk-duduk dan tidak berbuat apa-apa. Kalau kita mau melihat Amanat Agung digenapi, tidak mungkin kita hanya duduk menunggu orang datang sendiri kepada Tuhan. Tuhan membutuhkan setiap kita untuk pergi.

Pergi itu artinya bergerak keluar. Pergi itu artinya melakukan sesuatu.

Pagi hari ini, kata pergi mau saya terjemahkan dengan cara yang lain. Ngapain kita pergi? Saya percaya Tuhan mau memakai hidup setiap kita untuk membawa banyak orang di sekitar hidup kita datang kepada Tuhan.

Saya mau tanya dengan pertanyaan sederhana. Berapa banyak di antara Saudara yang datang pagi hari ini masih punya sanak Saudara, keluarga, teman, tetangga, atau rekan kerja yang belum kenal Tuhan? Masih ada? Boleh angkat tangannya tinggi-tinggi.

Ternyata kita semua masih punya orang-orang di sekitar hidup kita yang belum kenal Tuhan. Dan Amanat Agung itu menuntut kita untuk bergerak, supaya orang-orang ini punya kesempatan datang kepada Tuhan.

Ilustrasi khotbah-20260104.jpg Pagi hari ini saya bawa satu gambar.

Kalau Saudara perhatikan, ada jembatan yang putus. Ada orang-orang di seberang sana yang tidak bisa melintas, tidak bisa sampai ke seberang sini. Kenapa? Karena jembatannya putus.

Ini gambaran apa? Saya percaya ini gambaran banyak orang di luar sana yang tidak bisa menyeberang, tidak bisa berpindah—dari neraka ke surga, dari kegelapan kepada terang Tuhan yang ajaib. Alasannya satu: jembatannya putus.

Ketika Amanat Agung memerintahkan kita untuk pergi, Tuhan mau setiap kita dipakai untuk menjadi pembangun-pembangun jembatanbridge builder. Supaya orang-orang yang tadinya tidak punya cara dan tidak punya kesempatan untuk mengenal Tuhan, sekarang bisa mengenal Tuhan.

Tuhan mau mengutus kita menjadi pembangun-pembangun jembatan, sehingga banyak orang bisa datang kepada Tuhan. Itulah judul khotbah saya pagi hari ini. Saya percaya Tuhan mau kita membangun jembatan untuk penginjilan—building bridge for evangelism.

Lalu pertanyaannya, apakah konsep membangun jembatan ini ada di dalam Alkitab? Di mana ayatnya?

Mari kita lihat prinsip Alkitabnya, prinsip teologisnya, sebelum nanti kita belajar secara praktis bagaimana caranya membangun jembatan supaya orang-orang di sekitar kita bisa datang kepada Tuhan.

Kita buka Alkitab kita ke 2 Korintus 5:17-20. Biasanya ayat yang dikutip hanya ayat 17, padahal ada lanjutannya.

Rasul Paulus berkata:

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (2 Korintus 5:17)

Biasanya ayat ini kita kutip untuk diri kita sendiri. Kita berkata, “Aku di dalam Kristus. Aku ciptaan baru.” Amin. Itu benar. Itu yang terjadi ketika kita percaya kepada Yesus.

Tetapi sadarkah Saudara bahwa pekerjaan Tuhan di kayu salib tidak berhenti pada titik kita diselamatkan? Ada lanjutannya.

Paulus melanjutkan:

Dan semuanya ini berasal dari Allah, yang telah mendamaikan kita dengan diri-Nya oleh Kristus dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. (2 Korintus 5:18)

Semua pengalaman kita—bertobat, lahir baru, menjadi ciptaan baru—itu berasal dari Tuhan. Dan melalui Kristus, Tuhan mendamaikan kita dengan diri-Nya, lalu mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kita.

Yesus adalah perantara. Perantara artinya penghubung. Yesus menghubungkan manusia kembali kepada Bapa. “Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” Yesus menjadi jembatan yang menghubungkan hubungan kita yang tadinya putus dengan Bapa di surga.

Tetapi kemudian Paulus berkata:

Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan kepada kami berita pendamaian itu. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami. (2 Korintus 5:19-20)

Secara sederhana, Paulus sedang berkata begini:
Kita diselamatkan karena Yesus menjadi jembatan. Tetapi sekarang, Yesus yang sama mempercayakan pelayanan itu kepada kita.

Artinya apa? Sekarang kita yang harus menjadi perantara. Sekarang kita yang harus menjadi penghubung, supaya orang-orang yang belum kenal Tuhan bisa mengenal Tuhan.

Tuhan mau kita menjadi pembangun-pembangun jembatan—orang-orang yang dengan sengaja membuka jalan supaya orang lain bisa bertemu dengan Kristus.

Itulah definisinya:
Pembangun jembatan adalah orang yang dengan sengaja menciptakan jalan bagi orang lain untuk bertemu dengan Kristus.

Tuhan mau memakai hidup Saudara untuk membuka jalan, supaya keluargamu, tetanggamu, teman-temanmu, dan rekan kerjamu bisa mengenal Tuhan. Untuk menyeberang, selalu dibutuhkan seseorang yang mau membangun jembatan.

Itu prinsip Alkitabnya. Supaya Amanat Agung digenapi, Saudara dan saya harus siap pergi. Ngapain pergi? Membangun jembatan, membangun hubungan, supaya orang-orang di luar sana bisa mengenal Tuhan.

Amanat Agung tidak akan digenapi kalau kita tidak mau pergi membangun jembatan.

Nah, hari ini kita akan belajar: bagaimana caranya membangun jembatan secara praktis? Apa yang harus kita lakukan supaya Amanat Agung sungguh-sungguh digenapi melalui hidup kita?

Prinsip-prinsip pembangun jembatan

Hari ini saya mau kita belajar prinsip-prinsip apa saja yang harus dilakukan seorang pembangun jembatan. Kalau kita mau melihat orang-orang di sekitar hidup kita bisa datang kepada Tuhan, semuanya dimulai dari sini.

Prinsip 1: Siap masuk ke dunianya orang lain

Seorang pembangun jembatan adalah orang yang siap masuk ke dunianya orang lain. Kalau Saudara mau membangun jembatan, Saudara tidak bisa eksklusif. Saudara tidak bisa memisahkan diri. Justru Saudara harus siap masuk ke dunia orang lain.

Mari kita buka Alkitab. Hari ini saya akan mengajak Saudara membuka beberapa ayat, supaya kita melihat bahwa prinsip-prinsip ini semua diletakkan di dalam Firman Tuhan.

Kita buka 1 Korintus 9:19-22. Ini sekali lagi kata-kata Paulus—seorang rasul yang sangat ahli membangun jembatan.

Paulus berkata:

Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. (1 Korintus 9:19)

Perhatikan ini. Paulus sadar dirinya dipercayakan pelayanan pendamaian, dan ia rindu melihat sebanyak mungkin orang diselamatkan. Lalu bagaimana caranya?

Paulus berkata, “Aku menjadikan diriku hamba dari semua orang.”
Artinya apa? Siap melayani orang-orang di sekitar kita.

Sering kali kita mengasosiasikan pelayanan hanya dengan aktivitas di dalam gereja: jadi usher, singer, atau pendoa syafaat. Itu semua pelayanan—amin. Tetapi konteks Paulus di sini adalah melayani orang-orang yang belum mengenal Tuhan.

Bagaimana caranya?

Paulus menjabarkan:

Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat—sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus—supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.
Bagi orang-orang yang lemah, aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
(1 Korintus 9:20-22)

Ini prinsip yang pertama. Bagaimana membangun jembatan supaya orang-orang yang belum kenal Tuhan bisa menyeberang?
Seorang pembangun jembatan harus siap masuk ke dunia orang lain.

Perhatikan prinsipnya: Paulus tidak menunggu orang datang kepadanya. Paulus yang mendatangi mereka.
Dan caranya? Ia berusaha menjadi relevan dengan orang-orang di sekitarnya.

Kata kuncinya jelas:

  1. Untuk orang Yahudi, aku menjadi seperti orang Yahudi.
  2. Untuk orang di bawah Taurat, aku menjadi seperti mereka.

Artinya apa? Menjadi seperti mereka supaya bisa membangun jembatan bagi mereka.

Kadang ini masalah kita sebagai orang Kristen. Ketika kita bertobat, kita sadar standar hidup, gaya hidup, dan standar kekudusan kita berbeda. Lalu kita memutuskan, “Aku sudah tidak mau bergaul lagi dengan orang-orang berdosa. Aku tidak mau berteman dengan orang-orang yang belum kenal Tuhan.”

Akhirnya hidup kita menjadi begitu steril.
Lalu ketika kita dengar pesan, “Ini tahun Amanat Agung,” kita bingung: siapa yang mau kita menangkan?
Karena kita sudah tidak lagi berinteraksi dengan orang-orang yang belum kenal Tuhan.

Kalau kita mau melihat Amanat Agung digenapi, yuk kita pergi. Ngapain? Mulai membangun jembatan, membangun hubungan dengan sengaja dan dengan sadar.

Caranya bagaimana? Turun ke dunia mereka, membangun hubungan, menjadi relevan bagi mereka.
Tetapi ingat kata kuncinya: menjadi seperti mereka, bukan menjadi mereka. Kita tidak menurunkan standar kekudusan. Tetapi kita mau merangkul sebanyak mungkin orang.

Bukan berarti kita ikut semua kebiasaan mereka, tetapi kita menerima mereka apa adanya. Kita memakai bahasa yang bisa mereka mengerti, menunjukkan empati, dan menghilangkan jarak yang tidak perlu.

Gereja pun belajar berevolusi. Dulu mungkin ada banyak atribut yang tanpa sadar menciptakan jarak. Hari ini kita belajar menjadi relevan, supaya orang bisa relate dan membuka hati.

Inilah langkah-langkah praktisnya:

  1. Pelajari cerita hidup orang lain sebelum menceritakan cerita kita.
  2. Dengarkan sebelum berbicara.
  3. Gunakan bahasa mereka, bukan hanya kata-kata, tetapi empati.
  4. Masuk ke dunia mereka sebelum mengundang mereka masuk ke dunia Kristus.

Prinsipnya jelas:
Jembatan dibangun ketika Saudara bergerak mendekati orang, bukan menunggu mereka mendekati Saudara.

Kalau Saudara mau melihat Amanat Agung digenapi, Tuhan mau kita pergi—siap masuk ke dunia orang lain, relevan bagi mereka, menjadi seperti mereka, bukan menjadi mereka.

Prinsip 2: Menghilangkan hambatan yang tidak perlu

Yang kedua, seorang pembangun jembatan harus belajar menghilangkan hambatan-hambatan yang tidak perlu.

Paulus berkata dalam 1 Korintus 10:32-33:

Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani maupun jemaat Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.

Paulus menunjukkan intention-nya dengan sangat jelas: hidupnya mau dipakai Tuhan supaya sebanyak mungkin orang beroleh selamat.

Ia berkata, “Aku berusaha menyenangkan hati semua orang.”
Tetapi perhatikan lanjutannya: bukan untuk kepentinganku, melainkan untuk kepentingan orang banyak.

Ini penting. Zaman sekarang banyak orang menyenangkan hati orang lain karena ada maunya. Tetapi Paulus berbeda. Tujuannya satu: supaya mereka beroleh selamat.

Bagaimana caranya?
Dengan tidak menjadi batu sandungan.

Banyak orang menolak Kekristenan bukan karena Kristus, tetapi karena hambatan-hambatan yang tidak perlu yang sering kita letakkan.

Contohnya apa? Sikap menghakimi.

Sebagai orang Kristen, kita mudah menghakimi. Padahal orang yang belum kenal Tuhan punya standar hidup yang berbeda. Kita tidak datang kepada mereka dengan penghakiman, tetapi dengan penerimaan. Kita merangkul, bukan menjauhkan.

Hambatan yang tidak perlu sering lahir dari sikap ini. Karena itu, kalau kita mau membangun jembatan, kita harus sadar: setiap sikap, kata, dan respons kita bisa menjadi jembatan—atau justru menjadi penghalang.

Bayangkan kalau sikap kita menghampiri orang seperti ini.

“Pak, kenalan ya Pak. Bapak sudah berkeluarga?”
“Oh, sudah.”
“Istrinya ada?”
“Ada, Pak.”
“Istri saya dua.”

Kita langsung kaget. Waduh, istrinya dua. Lalu kita jawab, “Dosa, Pak. Masuk neraka!”

Jangankan jembatan dibangun—jembatannya langsung dibakar di tempat! Hari itu juga orang tersebut tidak mau lagi berurusan dengan kita.

Itu masalahnya. Orang-orang di luar sana yang punya standar hidup berbeda dengan kita, sering kali kita datangi dengan penghakiman. Justru kita sendiri yang membangun hambatan.

Paulus berkata, ia berusaha menyenangkan hati orang bukan untuk kepentingannya sendiri, tetapi supaya sebanyak mungkin orang diselamatkan.

Saya pernah bertemu orang seperti ini. Saya tidak menurunkan standar saya, tetapi saya datang dengan sikap berbeda.

“Oh gitu, Pak? Wah, luar biasa ya. Istrinya dua. Saya satu saja sudah repot, Pak.”

Apa yang terjadi? Dia tidak merasa dihakimi. Dia merasa diterima.

Dengan penerimaan, kita bisa membawa orang kepada Tuhan—bukan dengan penghakiman. Sering kali justru kita sendiri yang menciptakan rintangan.

Hambatan kedua yang sering muncul adalah perbedaan budaya.
Kita punya budaya yang berbeda, tetapi jangan itu dipakai sebagai batu sandungan.

Orang Kristen bebas—makan semua halal. Tapi kalau kita mau membangun hubungan, jangan gunakan kebebasan kita untuk membangun jarak.

Saya pernah bertemu seseorang dari Surabaya. Hubungan kami sekuler, urusan marketplace. Dari namanya saya tahu kemungkinan besar tidak seiman, dan dia juga tahu saya pendeta.

Untuk membangun jembatan yang baik, saya sengaja memilih tempat yang aman buat dia. Supaya tidak ada jarak, supaya tidak ada kecurigaan, supaya tidak ada ketidaknyamanan.

Saya bebas, tapi saya tidak memakai kebebasan saya untuk menciptakan jarak.
Saya berusaha menyenangkan hati orang—bukan untuk kepentingan saya, tapi supaya jembatan itu terbangun.

Dia tahu saya pendeta, dia panggil saya Pastor, tapi tidak ada jarak sama sekali. Kenapa? Karena hambatan-hambatan yang tidak perlu sudah disingkirkan.

Hilangkan kesombongan, kekasaran, dan sikap rohani yang tinggi hati. Jangan merasa paling benar, paling suci sendiri. Mari kita turun, mari kita bangun jembatan.

Sederhanakan bahasa kita. Jangan mempersulit Injil. Biarkan hidup kita mencerminkan kelembutan dan kasih karunia.

Jembatan tidak akan berguna kalau jalurnya terhalang.

Saya mau kutip satu tokoh terkenal, Mahatma Gandhi. Ia pernah berkata:

Actually, I like your Christ, but I don’t like your Christianity.

Artinya, “Aku suka Kristusmu, tapi aku tidak suka Kekristenanmu.”

Banyak orang menolak Kekristenan bukan karena Yesus, tetapi karena apa yang kita lakukan. Kita sendiri yang sering membangun rintangan.

Mari kita singkirkan rintangan yang tidak perlu, supaya orang bisa datang kepada Tuhan—datang dengan penerimaan, bukan penghakiman.

Prinsip 3: Memulai dengan hubungan, bukan perdebatan

Seorang pembangun jembatan memulai dengan hubungan, bukan dengan perdebatan.

Sering kali, ketika berhadapan dengan orang yang berbeda keyakinan, refleks pertama kita adalah mengajak debat. Padahal Saudara tidak mungkin membangun jembatan dengan perdebatan.

Yesus membangun jembatan lewat kehadiran, makan bersama, percakapan, dan belas kasihan.

Ingat cerita Zakheus? Zakheus adalah pemungut cukai dengan reputasi buruk. Yesus tidak datang menghakimi. Yesus berkata:

Zakeus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu. (Lukas 19:5)

Alkitab mencatat Zakheus dengan penuh sukacita menerima Yesus. Penerimaan itu membuat dia bertobat. Ia mengembalikan apa yang ia rampas, dan Yesus berkata:

Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini. (Lukas 19:9)

Zakheus bertobat bukan karena dihakimi, tetapi karena diterima.

Yesus juga melakukan hal yang sama kepada perempuan Samaria di tepi sumur (Yohanes 4). Perempuan itu punya lima suami. Yesus tidak menghakimi, tetapi memulai percakapan. Melalui hubungan itu, perempuan ini bertobat dan akhirnya satu kampung datang kepada Tuhan. Ia menjadi penginjil pertama—bukan karena penghakiman, tetapi karena penerimaan.

Hal yang sama terjadi pada Matius (Matius 9). Yesus makan di rumah Matius, dan banyak pemungut cukai lain datang. Mereka percaya Yesus. Yang menghakimi justru orang Farisi—orang-orang agamawi.

Faktanya, orang-orang berdosa datang kepada Tuhan bukan karena dihakimi, tetapi karena dikasihi.

Itulah sebabnya prinsip ketiga ini penting:
Bangun hubungan terlebih dahulu, jangan mulai dengan perdebatan.

Bangun hubungan secara konsisten. Lebih banyak mendengar daripada berbicara. Tunjukkan bahwa mereka berharga, sebelum menunjukkan bahwa mereka salah.

Boleh menyampaikan kebenaran, tetapi tunggu waktunya.

Prinsipnya begini:

Jembatan harus cukup kuat untuk menanggung kebenaran.

Ukuran jembatan itu adalah hubungan.
Kalau hubungannya sudah cukup kuat, kebenaran bisa disampaikan tanpa melukai.

Prinsip 4: Menjadikan hidup sebagai kesaksian

Yang terakhir, seorang pembangun jembatan menjadikan hidupnya sebagai kesaksian.

Yesus berkata:

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga. (Matius 5:16)

Perhatikan: Bukan supaya mereka mendengar khotbahmu yang bagus, tetapi supaya mereka melihat hidupmu, melihat perbuatanmu yang baik!

Dengar baik-baik. Yang membawa orang kepada Tuhan bukan khotbah bagus kita, bukan debat kita, bukan argumen kita, bukan kepintaran kita mengajarkan teologi—bukan!

Hendaklah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga. (Matius 5:16)

Bagaimana terang itu bercahaya? Supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik.
Waktu orang melihat itu, barulah mereka memuliakan Bapa di surga.

Terang bercahaya itu perbuatan baik, bukan perkataan hebat; bukan debat hebat; bukan teologi tinggi—melainkan kehidupan yang memancarkan Kristus. Hidup kita menjadi kesaksian.

Dengar ini: kebaikan, integritas, kemurahan hati, dan kesabaran kita sering kali menjadi khotbah pertama yang didengar orang—bukan perkataan mulut kita. Orang tidak akan mau mendengar apa yang mulutmu katakan sebelum mereka melihat apa yang hidupmu kerjakan.

Karena itu, hiduplah konsisten—di depan umum maupun secara pribadi. Biarkan orang melihat Kristus melalui karakter Saudara. Layani komunitas tanpa mengharapkan imbalan.

Pilihan hidup kita sederhana: jadi jembatan atau jadi tembok.
Apakah orang lewat hidup kita jadi mengenal Tuhan, atau justru menjauh karena melihat hidup kita?

Saya mau menutup dengan satu kesaksian.

Bertahun-tahun yang lalu, ketika pertama kali saya bertobat dan lahir baru, saya begitu radikal. Saya masuk sekolah Alkitab, belajar Amanat Agung, dan menerima pesan bahwa Tuhan mau memakai kita untuk memenangkan jiwa—mulai dari orang-orang terdekat: keluarga.

Saya adalah orang pertama di keluarga yang bertobat. Saya punya misi: melihat orang tua dan adik-adik saya bertobat. Apa yang saya lakukan? Setiap pulang dari sekolah Alkitab, saya mengajak Papa dan Mama debat. Setiap hari saya “menguliahi” mereka. Bahkan saya menyalahkan keyakinan mereka dan merasa saya sedang melakukan hal yang benar.

Yang terjadi justru sebaliknya: hubungan makin renggang. Makin hari makin jauh, makin ribut, makin berjarak.

Sampai suatu hari, setelah debat hebat dengan Papa, saya masuk kamar, membanting pintu, lalu berdoa keras—bukan supaya Tuhan dengar, tapi supaya Papa dengar. Saya berdoa dengan kata-kata yang keras, menghakimi, bahkan menyebut Papa dengan sebutan yang tidak pantas. Saya pikir saya sedang membela Tuhan.

Saat saya sudah kehabisan kata, Tuhan berbicara kepada saya:
“Bukan Papa kamu yang harus bertobat. Kamu yang harus bertobat.”

Saya kaget. Saya membantah. Saya kutip ayat-ayat. Saya merasa benar. Lalu Tuhan mengulangi lagi:
“Bukan Papa kamu yang harus bertobat. Kamu yang harus bertobat.”

Akhirnya saya bertanya, “Tuhan, apa maksud-Mu aku harus bertobat?”

Tuhan berkata: “Mulai hari ini, berhenti berbicara tentang Aku kepada Papa dan Mama kamu, sampai mereka bisa melihat Aku lewat hidupmu.”

Perkataan itu menampar saya. Saya menangis dan sadar: yang hidupnya salah adalah saya. Saya meminta ampun kepada Tuhan.

Sejak hari itu, saya mengambil keputusan: berhenti debat, mulai membangun jembatan. Saya mulai melayani orang tua saya dengan sederhana. Saya ajak Papa makan. Tidak debat. Tidak khotbah. Tidak sindir. Minggu demi minggu, bulan demi bulan—hanya makan bersama.

Saya mau mereka melihat perubahan, bukan mendengar argumen.

Singkat cerita, suatu hari saya diundang melayani. Tanpa saya sadari, Papa dan Mama datang dan duduk di belakang. Saat saya melihat mereka, saya menangis. Seusai ibadah, Papa memeluk saya dan berkata,
“Dan, Papa bangga sama kamu.”

Itu momen yang tidak akan saya lupakan!

Bagaimana kita mau memenangkan orang-orang di sekitar kita?
Ini tahun Amanat Agung. Tuhan mau memakai kita menjadi perantara, pembangun jembatan—bukan batu sandungan.

Amin.

Video