Keputusan (Pdt Junianto Naibaho)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Masa depan ditentukan oleh keputusan, dan Tuhan rindu dilibatkan dalam setiap keputusan umat-Nya, yang kini digenapi melalui kehadiran Roh Kudus sebagai Penasihat yang Ajaib. Keputusan yang hanya didasarkan pada panca indra, pengalaman, atau suara manusia sering menyesatkan, sebab dunia ini hanyalah tempat transit, bukan tujuan akhir. Keputusan terbaik menjelang 2026 adalah kembali kepada persekutuan yang intim dengan Tuhan, karena di sanalah Roh Kudus menuntun langkah hidup menuju hasil dan kemuliaan yang Tuhan sediakan.

Shalom, izinkan saya mengucapkan Merry Christmas kepada seluruh jemaat GBI Rayon 7!

Keluaran 28:30,

Dan di dalam tutup dada pernyataan keputusan itu haruslah kau taruh Urim dan Tumim; haruslah itu di atas jantung Harun apabila ia masuk menghadap TUHAN. Dan Harun harus tetap membawa keputusan bagi orang Israel di atas jantungnya di hadapan TUHAN.

Saudara-saudara, tahukah kita bahwa apa yang akan kita terima di tahun 2026 sangat ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita buat hari ini? Keputusan adalah tindakan yang kita pilih dari berbagai pertimbangan, pemikiran, dan latar belakang. Saking pentingnya sebuah keputusan, bahkan ada mata kuliah khusus yang mempelajarinya, yaitu problem solving and decision making.

Dalam perjalanan kehidupan umat Tuhan di Perjanjian Lama, Tuhan menunjukkan bahwa Ia rindu membantu umat-Nya dalam mengambil keputusan. Alat yang Tuhan pakai pada waktu itu dikenal dengan nama Urim dan Tumim—dua batu undian, satu berwarna hitam dan satu berwarna putih. Ketika umat Tuhan hendak mengambil keputusan, mereka datang kepada imam. Imam melempar batu tersebut; jika yang keluar hitam, jawabannya “tidak”, dan jika putih, jawabannya “ya”.

Seiring berjalannya waktu, pola ini mengalami perubahan. Pada zaman para hakim, bangsa Israel bertanya kepada hakim. Pada zaman nabi-nabi, mereka datang kepada nabi seperti Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel. Namun semuanya memiliki satu benang merah yang sama: Tuhan ingin dilibatkan dalam setiap keputusan yang diambil umat-Nya.

Mengapa melibatkan Tuhan itu penting? Karena setiap orang rindu mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang tepat akan menghasilkan hasil yang tepat. Ketika Tuhan dilibatkan, kita boleh yakin bahwa Tuhan mengetahui jalan yang harus kita tempuh dan apa yang terbaik bagi hidup kita.

Lebih menarik lagi, di era Perjanjian Baru, umat Tuhan tidak lagi mencari Urim dan Tumim, tidak perlu lagi datang kepada imam, hakim, atau nabi. Tuhan memberikan sesuatu yang jauh lebih dahsyat—sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki umat Perjanjian Lama—yaitu Roh Kudus. Roh Kudus disebut juga Parakletos, yang berarti Penolong.

Roh Kudus memiliki peran yang sangat besar. Dalam Kisah Para Rasul, setiap kali para rasul hendak mengambil keputusan—ke mana mereka harus pergi dan apa yang harus mereka lakukan—mereka bertanya kepada Roh Kudus. Bahkan Alkitab yang kita baca hari ini berasal dari ilham Roh Kudus. Kitab Timotius menyatakan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah berasal dari ilham Roh Kudus.

Mengapa Tuhan rindu dilibatkan dalam setiap keputusan kita? Karena Tuhan sangat mengasihi kita. Selain dikenal sebagai Imanuel dan El Shaddai, Tuhan juga disebut sebagai Penasihat yang Ajaib. Banyak konsultan dan konselor di dunia ini, tetapi Tuhan adalah Penasihat yang ajaib—artinya, Tuhan rindu agar keputusan yang kita ambil menghasilkan keajaiban-keajaiban dalam hidup kita.

Lalu bagaimana cara manusia biasanya mengambil keputusan? Ada tiga hal yang sering dijadikan patokan. Yang pertama adalah panca indra—apa yang kita lihat, dengar, rasakan, dan sentuh. Namun panca indra tidak bisa menjadi dasar utama. Jika keputusan diambil hanya berdasarkan panca indra, hasilnya bisa meleset.

Contohnya adalah Hawa. Ia melihat buah itu, mengolah apa yang ia lihat dengan pikirannya, lalu mengambil keputusan berdasarkan panca indranya. Akibatnya, manusia jatuh ke dalam dosa. Keputusan yang diambil tanpa melibatkan Tuhan membawa konsekuensi yang berat.

Contoh kedua adalah Nabi Samuel. Bahkan seorang nabi pun bisa salah jika hanya mengandalkan apa yang dilihat mata. Ketika Samuel diutus Tuhan untuk mengurapi raja pengganti Saul, ia hampir mengurapi anak Isai yang pertama karena perawakannya terlihat cocok. Namun Tuhan berkata, “Bukan ini.” Sampai akhirnya Daud yang dipilih Tuhan. Firman Tuhan menegaskan bahwa manusia melihat dengan mata, tetapi Tuhan melihat hati.

Bagaimana dengan keputusan kita di tahun 2026? Kita boleh menggunakan panca indra, tetapi itu bukan satu-satunya patokan. Kita sering melihat kawan, ternyata lawan; melihat domba, ternyata serigala berbulu domba. Karena itu, mata manusia tidak selalu menjadi dasar yang paling benar.

Contoh ketiga adalah Lot. Ketika ia dan Abraham sama-sama menjadi kaya, terjadi pertengkaran di antara para pekerja mereka. Abraham, meskipun kaya, memilih menjaga hubungan dan menghindari pertengkaran. Firman Tuhan tidak pernah mencatat bahwa Abraham menyalahkan Lot. Sebaliknya, Abraham mengajak Lot untuk mengambil keputusan dengan hati yang benar, demi menjaga damai dan persaudaraan.

Saudara-saudara, kalau kita bicara tentang ciri anak Tuhan, salah satunya adalah tidak ribut karena uang. Untuk apa ribut, Saudara? Kita lahir tidak membawa uang, dan nanti waktu kita meninggal pun tidak membawa uang. Waktu lahir kita dimandikan, dan waktu meninggal juga dimandikan. Saya belum pernah melihat jenazah mandi sendiri—ternyata orang kaya pun tidak bisa mandi sendiri ketika meninggal. Artinya, di hadapan Tuhan, kita semua sama.

Itulah sebabnya Abraham berkata kepada Lot, “Silakan pilih dulu.” Jika Lot memilih ke kanan, Abraham rela mengambil sisanya. Anak Tuhan tidak takut mendapat sisa, karena patokannya bukan apa yang ada di tangan, melainkan siapa yang memegang tangan kita. Anak Tuhan mungkin tidak tahu saldo tahun 2026 akan berapa, tidak tahu backing siapa yang dimiliki, tetapi yang terpenting adalah siapa yang berpihak kepadanya. Sebab jika Allah di pihak kita, siapa yang dapat melawan kita?

Firman Tuhan kemudian mencatat bahwa Lot melihat suatu daerah, yaitu Sodom dan Gomora. Alkitab berkata bahwa daerah itu tampak seperti taman Tuhan—indah pada saat itu. Namun kita semua tahu bagaimana akhir dari Sodom dan Gomora: kehancuran dan kebinasaan. Artinya, apa yang terlihat baik hari ini belum tentu baik di masa depan. Karena itu, keputusan tidak boleh diambil hanya berdasarkan panca indra.

Dasar kedua yang sering dipakai manusia adalah pengalaman. Pengalaman boleh dipakai, tetapi tidak bisa menjadi patokan utama. Apa yang berhasil di tahun 2025 belum tentu relevan untuk tantangan di tahun 2026. Kesuksesan di masa lalu tidak selalu bisa dijadikan formula untuk masa depan.

Alkitab mencatat kisah Simson—seorang yang kuat—yang sering berkata, “Seperti yang sudah-sudah.” Ia mengandalkan pengalaman masa lalu, tetapi akhirnya mengalami kegagalan. Pengalaman baik tidak selalu bisa diulang, dan pengalaman buruk pun tidak boleh dijadikan vonis bahwa hidup akan selalu seperti itu. Kalau pernah kecewa, belajarlah untuk move on. Jangan karena satu pengalaman, lalu menggeneralisasi semuanya.

Pengkhotbah berkata bahwa segala sesuatu ada waktunya: ada waktu menabur, ada waktu menuai; ada waktu tertawa, ada waktu menangis. Segala sesuatu indah pada waktunya. Artinya, apa pun yang kita alami hari ini—nikmati dan hidupi dengan penuh kesadaran. Jangan hidup di masa lalu, dan jangan terlalu cemas dengan masa depan.

Sering kali kita salah menempatkan musim. Seharusnya menabur, malah ingin menuai. Seharusnya bersukacita, malah bersedih. Tuhan disebut Alfa dan Omega—kita tahu awal hidup kita, tetapi kita tidak tahu hari esok. Namun Tuhan adalah Omega, Dia sudah ada di hari esok, dan Dia yang menjamin hidup kita.

Dasar ketiga yang sering dipakai manusia adalah bertanya kepada manusia. Bertanya kepada konsultan, pendeta, atau orang lain tidak salah, tetapi itu tidak bisa menjadi patokan utama. Jika satu topik ditanyakan kepada sepuluh orang, bisa keluar sepuluh jawaban yang berbeda, dan akhirnya justru membingungkan.

Hal ini terjadi pada zaman Yeremia. Ketika bangsa Israel mengalami pembuangan, Yeremia menyampaikan kebenaran yang pahit: penderitaan masih akan berlangsung, umat Tuhan harus bertobat dan setia. Namun karena pesan itu tidak enak didengar, muncullah nabi-nabi palsu yang menyampaikan kabar menyenangkan tetapi tidak benar. Akibatnya, Yeremia bahkan pernah dipukul oleh jemaat karena menyampaikan kebenaran.

Ini menjadi peringatan bahwa keputusan yang diambil hanya berdasarkan suara manusia—apalagi yang menyenangkan telinga—bisa menyesatkan. Bahkan hamba Tuhan pun belum tentu sedang menyampaikan kehendak Tuhan secara spesifik untuk hidup seseorang.

Karena itu, jangan membiasakan diri “nebeng iman” orang lain. Setiap anak Tuhan memiliki kuasa. Saudara punya otoritas di dalam Kristus—untuk berdoa, untuk melayani, untuk berdiri dalam iman. Jangan selalu bergantung pada orang lain untuk mengambil keputusan rohani.

Dari Kejadian sampai Wahyu, pola Tuhan sebenarnya sama. Lalu bagaimana supaya kita mendapat keputusan yang tepat? Kita boleh menggunakan panca indra, boleh mempertimbangkan pengalaman, dan boleh meminta nasihat orang lain. Tetapi kunci utamanya adalah persekutuan dengan Tuhan.

Ketika saudara hidup dalam doa, pujian, dan penyembahan—baik secara pribadi seperti Ayub, Elia, dan Musa, maupun secara kolektif seperti gereja mula-mula—di situlah Tuhan berbicara. Dalam persekutuan yang intim dengan Tuhan, Roh Kudus akan menuntun dan memberikan keputusan yang tepat.

Mengapa kita perlu melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan? Karena Tuhan bukan AI. Tidak semua masalah bisa diselesaikan oleh kecerdasan buatan. AI tidak bisa menyembuhkan kanker, tidak bisa memulihkan konflik rumah tangga, dan tidak bisa membereskan relasi orang tua dengan anak. Tuhan bukan aplikasi yang bisa diunduh sesaat. Tuhan adalah pribadi—melalui Roh-Nya Ia bisa diajak berbicara, punya perasaan, dan mendengar setiap seruan kita.

Tuhan rindu agar di tahun 2026 kita mengambil keputusan-keputusan yang tepat bersama Roh Kudus. Sering kali, secara panca indra atau pengalaman, keputusan Tuhan terasa tidak masuk akal. Lima roti dan dua ikan memberi makan lima ribu orang—itu tidak masuk logika. Namun Tuhan adalah Penasihat yang Ajaib, miraculous counselor. Namanya juga mukjizat, Saudara—tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika manusia.

Secara pengalaman pun sering tidak masuk akal. Petrus adalah nelayan puluhan tahun, sedangkan Yesus adalah tukang kayu. Namun ketika tidak ada uang untuk membayar pajak, Yesus—Penasihat yang Ajaib—memerintahkan Petrus untuk memancing, dan dari mulut ikan pertama ditemukan uang untuk membayar pajak. Menurut pengalaman manusia, ikan tidak makan uang. Tetapi bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil.

Karena itu, cara anak-anak Tuhan mengambil keputusan harus berbeda dengan anak-anak dunia. Dunia menganggap hidup ini segalanya, seolah-olah semuanya harus dihabiskan di sini. Padahal dunia ini hanya tempat transit, bukan tujuan akhir. Sama seperti perjalanan dengan pesawat atau kereta—kita tidak menghabiskan seluruh uang dan energi di tempat transit, tetapi di tempat tujuan.

Hidup kita di dunia ini singkat. Tujuh puluh tahun, kalau kuat delapan puluh tahun—dan setelah itu kita kembali kepada Tuhan. Kita datang tidak membawa apa-apa dan pulang juga tidak membawa apa-apa. Jadi untuk apa hidup dalam kekhawatiran, kesombongan, dan ketakutan? Burung di udara saja dipelihara Tuhan. Mereka tidak menanam, tidak menabur, tidak investasi, tetapi Tuhan mencukupi mereka.

Keputusan yang kita ambil di tempat transit tentu berbeda dengan keputusan yang kita ambil di tempat tujuan. Tujuan kita bukan dunia dengan segala kemegahannya. Rasul Paulus berkata bahwa kemuliaan yang akan datang jauh lebih mulia daripada kemuliaan dunia ini. Apa yang dulu dianggap keuntungan, sekarang dianggap rugi karena Kristus.

Maka sebelum memasuki tahun 2026, mari kita mengambil keputusan pertama dan paling penting: kembali kepada Tuhan, kembali kepada persekutuan, kembali kepada doa, pujian, dan penyembahan. Ini bukan sesuatu yang instan, melainkan dibangun lewat hubungan yang intim dengan Tuhan.

Ketika saudara masuk ke kamar, mengunci pintu, dan bersekutu dengan Tuhan, mungkin tidak selalu terdengar suara secara jasmani. Namun Tuhan berbicara di dalam hati. Di saat yang sama, Tuhan sedang bekerja di luar apa yang bisa saudara lihat—menyusun hal-hal yang belum pernah saudara dengar dan belum pernah terlintas dalam pikiran saudara.

Tuhan sanggup menuntun saudara mengambil keputusan-keputusan yang tepat, sehingga menghasilkan hasil-hasil yang tepat. Simpan baik-baik khotbah ini. Di akhir tahun 2026, saudara akan bersyukur dan berkata, “Untung saya mengambil keputusan untuk kembali dekat dengan Tuhan.”

Keputusan terbaik dari surga adalah ini: Yesus datang ke dunia, lahir kita rayakan di Natal, mati di kayu salib, bangkit, naik ke surga, duduk di sebelah kanan Bapa, dan mengutus Roh Kudus. Keputusan terbaik dari surga adalah Tuhan mau menjadi sekutu saudara, tinggal di dalam saudara, dan berjalan bersama saudara di tahun 2026—mempertemukan saudara dengan orang yang tepat, di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, sehingga saudara melihat kemuliaan demi kemuliaan.

Amin.

Video