V.U.C.A. (Pdm Paulus Daniel Santo)
| Ringkasan Khotbah | |
|---|---|
| Ibadah | Ibadah Raya |
| Tanggal | Minggu, 3 Agustus 2025 |
| Gereja | GBI Danau Bogor Raya |
| Lokasi | Grha Amal Kasih |
| Kota | Bogor |
| Video | YouTube |
| Khotbah lainnya | |
| |
| |
| |
Di tengah kondisi dunia yang VUCA—tidak stabil, tidak pasti, rumit, dan tidak jelas—Tuhan mengizinkan goncangan untuk memurnikan iman gereja agar umat-Nya tetap berdiri teguh menjelang kedatangan Kristus. Tuhan membekali gereja dengan visi sebagai arah hidup, urapan Roh Kudus sebagai sumber kekuatan dan terobosan, cawan-kecapi untuk mengubah atmosfer melalui doa dan penyembahan, serta Firman Tuhan yang memberi kejelasan dan menata hati. Ketika orang percaya hidup di dalam visi Tuhan, mengandalkan Roh Kudus, menjaga kehidupan doa dan penyembahan, serta intim dengan Alkitab, mereka dapat menghadapi setiap goncangan dengan iman dan mengalami kebajikan serta kemurahan Tuhan yang terus mengikuti hidup mereka.
Shalom, apa kabar, Saudara? God is good all the time, and all the time God is good! Senang sekali bisa bersama-sama dengan Saudara di rumah rohani kita, tempat kita bertumbuh, digembalakan, dan dimuridkan.
Dua bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 11 Juni, gereja kita berulang tahun yang ke-30. Luar biasa. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tahu-tahu sudah 30 tahun dan sekarang kita masuk ke tahun yang ke-31.
Saudara yang dikasihi Tuhan, hari ini saya ingin membagikan apa yang saya lihat selama 30 tahun berada di gereja ini.
- Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga.” Ungkapan “Satu kali lagi” menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan. (Ibrani 12:26-27)
Firman Tuhan ini merupakan pesan nubuat mengenai sesuatu yang pasti akan terjadi. Menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, eskalasi goncangan akan semakin meningkat.
Dikatakan bahwa bukan hanya bumi yang akan digoncangkan, tetapi langit juga. Salah satu pemahamannya berkaitan dengan iklim dan cuaca. Hari-hari ini kita melihat goncangan dalam iklim dan cuaca terjadi dengan luar biasa. Cuaca tidak lagi mudah diprediksi seperti dahulu, bukan hanya di Indonesia, tetapi di berbagai belahan dunia.
Artinya, Firman Tuhan sedang digenapi. Goncangan semakin meningkat menjelang kedatangan Kristus yang kedua kali.
Dua tujuan goncangan
Pertanyaannya, mengapa Tuhan mengizinkan bumi digoncangkan menjelang kedatangan-Nya?
Kalau kita mempelajari Alkitab dengan baik, ada dua jawaban utama.
#1 Goncangan sebagai bagian dari penghakiman
Yang pertama, goncangan menjadi bagian dari penghakiman atas pemberontakan manusia dan penolakan terhadap keselamatan di dalam Kristus Yesus.
Ketika murid-murid bertanya kepada Tuhan Yesus mengenai tanda akhir zaman, Tuhan menjelaskannya di dalam Matius 24. Berbagai tanda itu dapat dirangkum dalam satu kata: goncangan.
Tuhan Yesus kemudian berkata bahwa semuanya itu baru permulaan penderitaan. Kalau di dalam sebuah lagu, itu baru bagian intro. Artinya, goncangan akan terus meningkat sampai pada satu titik ketika Kristus datang menjemput gereja-Nya.
Amin!
#2 Goncangan untuk memurnikan iman gereja
Lalu bagaimana dengan kita yang sudah percaya dan menerima keselamatan di dalam Kristus Yesus?
Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan juga mengizinkan gereja-Nya mengalami goncangan. Bahkan penghakiman dimulai dari rumah Tuhan.
Mengapa?
Karena Tuhan ingin memurnikan iman gereja-Nya.
Iman kita diuji seperti emas murni. Kita dipersiapkan untuk tampil cemerlang, tanpa cacat, sebagai mempelai wanita yang akan bersanding dengan Kristus, Sang Mempelai Pria.
Karena itu, ada perbedaan tujuan goncangan bagi dunia dan bagi gereja Tuhan. Bagi gereja, goncangan diizinkan untuk menguji, memurnikan, dan mendewasakan iman kita.
Dunia sedang berada dalam kondisi VUCA
Goncangan hari-hari ini dapat dirangkum dalam satu akronim: V-U-C-A.
Istilah ini dahulu banyak digunakan dalam dunia militer untuk menggambarkan situasi perang, tetapi sekarang digunakan dalam berbagai bidang kehidupan.
- V — Volatility
- U — Uncertainty
- C — Complexity
- A — Ambiguity
Bukankah itu yang sedang terjadi hari-hari ini? Kondisi tersebut berdampak kepada batin manusia. Timbul kecemasan, kebingungan, ketakutan, dan kehilangan kepastian.
Dahulu orang masih bisa merencanakan bekerja di satu perusahaan sampai pensiun. Hari ini sebuah perusahaan bisa sangat berjaya, tetapi tidak lama kemudian mengalami keruntuhan. Kondisi berubah begitu cepat.
Teknologi dan kecerdasan buatan juga membawa disrupsi. Sebagian pekerjaan manusia digantikan oleh sistem. Hal itu menekan batin, membuat orang semakin takut, kehilangan makna hidup, bahkan menjadi semakin mementingkan diri sendiri.
Yang penting saya selamat.
Yang penting saya aman.
Orang lain bukan urusan saya.
Inilah situasi zaman yang sedang kita hadapi. Kita tidak bisa menghindarinya dan tidak bisa sekadar menengkingnya, karena memang harus terjadi.
Meresponi VUCA
Pertanyaannya: bagaimana gereja Tuhan harus merespons kondisi VUCA supaya kita tetap berdiri teguh, hidup berkemenangan, dan mengalami kebaikan serta kemurahan Tuhan?
Selama 30 tahun berada di gereja ini, saya melihat ada hal-hal fundamental yang selalu ada sejak gereja ini berdiri. Program dapat berubah dari tahun ke tahun, tetapi prinsip-prinsip ini tetap sama.
#1 Menangkap visi dari Tuhan
Hal yang pertama, Tuhan memberikan kepada gereja kita sebuah visi.
Karena itu bagian kita adalah menangkap visi.
Katakan bersama-sama: Menangkap visi.
Visi ibarat peta jalan. Visi mengarahkan langkah hidup kita dan mencegah kita menjadi bingung di tengah kondisi yang tidak jelas, tidak stabil, dan rumit.
Visi ilahi memberikan makna serta tujuan yang melampaui kepentingan pribadi. Gereja ini dapat berjalan selama 30 tahun dalam anugerah Tuhan karena berjalan dalam visi yang Tuhan berikan.
Karena itu sangat penting bagi Saudara dan saya untuk menangkap visi dari Tuhan.
Setiap tahun Bapak Rohani kita, Pak Niko, menyampaikan tema tahunan yang di dalamnya terkandung visi dan tuntunan Roh Kudus bagi gereja.
Gereja kita adalah gereja yang dipimpin oleh Roh Kudus. Amin!
Bagian kita adalah menangkap visi tersebut dan menjadikannya peta jalan bagi kehidupan kita.
Visi bukan sekadar mimpi atau cita-cita besar. Visi merupakan tuntunan konkret untuk menjalani hidup sesuai dengan rencana Tuhan.
Waktu saya lahir baru dan bergabung di gereja ini sekitar 30 tahun lalu, saya tidak mengerti apa-apa. Saya datang ke gereja setiap hari. Waktu itu ibadah masih di ruang Poso, di Sport Club. Saya hanya bisa menangis, menyembah, dan merasakan kasih Tuhan.
Kemudian saya bertumbuh, digembalakan, dan dimuridkan melalui Family Altar, yang sekarang disebut COOL atau Community of Love.
Di dalam COOL, khotbah hari Minggu dijabarkan lebih dalam. Di ibadah raya Saudara hanya mendengar, tetapi di COOL Saudara dapat bertanya dan bertukar pikiran.
Di situlah saya bertumbuh. Sampai pada satu titik, saya menangkap visi yang Tuhan berikan bagi hidup saya secara pribadi.
Pada waktu itu saya sedang mengejar cita-cita dan rencana pribadi. Tetapi melalui pemuridan, saya berjumpa dengan tujuan asli yang Tuhan miliki bagi kehidupan saya. Saya mulai mengerti bahwa bahkan sebelum saya lahir, Tuhan sudah memiliki tujuan mengapa saya hidup pada zaman ini. Setelah menangkap visi itu, saya mengarahkan hidup saya kepada visi Tuhan: melayani Dia sepenuh waktu sebagai hamba Tuhan.
Saya mulai mempersiapkan diri, mengubah arah, dan berjalan dengan setia menuju panggilan tersebut.
Apakah berjalan dalam visi Tuhan berarti tidak ada masalah? Tidak. Ada tantangan, kesukaran, dan berbagai kemustahilan. Tetapi karena kita berjalan di dalam visi yang Tuhan berikan, Tuhan turut bekerja mendatangkan kebaikan di dalam setiap proses.
Berjalan dalam visi bukan berarti tanpa masalah. Namun Tuhan yang memberikan visi itu juga akan membela dan menyertai kita di dalam perjalanan.
Visi juga menjadi kekuatan bagi pengharapan dan ketekunan kita di masa sukar. Ketika segala sesuatu serba tidak jelas, tidak pasti, membingungkan, dan menakutkan, visi ilahi menjadi jangkar bagi jiwa kita.
Seorang pemuda mungkin mendengar orang berkata, “Untuk apa kuliah? Kuliah cuma menunda pengangguran. Yang lulus bertahun-tahun lalu saja masih belum dapat pekerjaan.” Kalau dia hanya mendengar suara dunia, yang didengarnya adalah kabar buruk. Tetapi kalau dia berjalan dalam visi Tuhan, dia akan mendengar tuntunan Roh Kudus.
Tuhan sanggup membuka jalan yang tertutup. Dia sanggup mengadakan yang tidak ada menjadi ada. Dia sanggup membuat yang kurang menjadi cukup.
Karena itu tangkap visi yang dari Tuhan.
Nyanyi:
Dia buka jalan
saat tiada jalan
dengan cara yang ajaib
dibuka-Nya jalanku
Dia menuntunku
dan memeluk diriku
dengan kasih dan kuasa-Nya
Dia buka jalan
Visi akan membuat yang tidak kelihatan menjadi kelihatan dan yang tidak terpikirkan menjadi terpikirkan.
Itulah kekuatan dari visi yang Tuhan berikan.
#2 Mengandalkan urapan Roh Kudus
Hal kedua yang selalu ada di dalam gereja ini adalah urapan Roh Kudus. Karena itu gereja Tuhan selalu diajak untuk mengandalkan urapan Roh Kudus.
Setiap Sabtu, para pelayan Tuhan dan hamba-hamba Tuhan mempersiapkan diri melalui doa dan puasa. Kami berdoa bersama untuk menerima pengurapan Roh Kudus.
Mengapa?
Karena urapan Roh Kudus menjadi kekuatan. Urapan menyegarkan, membebaskan, menyembuhkan, dan memulihkan.
- Pada waktu itu bebannya akan ditanggalkan dari bahumu, dan kuknya dari tengkukmu; dan kuk itu akan dipatahkan oleh karena urapan. (Yesaya 10:27)
Ada kuk yang berasal dari si jahat.
Tuhan Yesus menggambarkan Iblis sebagai pencuri:
- Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (Yohanes 10:10)
Iblis berusaha mencuri kesehatan, kesempatan, damai sejahtera, dan bagian terbaik dari kehidupan kita. Dia berusaha menaruh kuk berupa tekanan, keterikatan, ketakutan, stres, dan keputusasaan.
Namun ketika Roh Kudus mengurapi kita, kuk itu dipatahkan.
Urapan Roh Kudus juga membawa kelegaan. Ketika Saul mengalami tekanan dan gangguan roh jahat, Daud memainkan kecapi dengan urapan Tuhan. Ketika Daud bermain, Saul merasa lega dan gangguan itu pergi daripadanya.
Kita membutuhkan urapan untuk menyegarkan, membebaskan, menyembuhkan, dan memulihkan.
Urapan mendatangkan pertumbuhan
Paulus berkata:
- Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. (1 Korintus 3:6-7)
Kalau diterapkan hari ini, kita dapat berkata: Pak Rusli menanam, hamba-hamba Tuhan dan para pelayan menyiram, tetapi Roh Kuduslah yang memberikan pertumbuhan.
Karena itu, gereja Tuhan harus terus mengandalkan urapan Roh Kudus.
Urapan mendatangkan kemenangan dan terobosan
Urapan Roh Kudus membawa kemenangan, keberhasilan, pemulihan, dan terobosan.
Sekitar sepuluh tahun lalu, seseorang mengajak saya berdoa untuk sebuah usaha kecil yang baru dimulainya. Kami berdoa dan menyembah Tuhan di tempat itu, meminta Roh Kudus mengurapi usaha tersebut. Sejak hari itu sampai sekarang, tempat itu tidak pernah sepi kecuali sedang tutup. Usahanya kemudian berkembang dan membuka cabang di tempat lain.
Ada juga satu keluarga yang memiliki dua pabrik garmen. Ketika banyak usaha lain runtuh, sejak masa pandemi mereka memutuskan untuk terus mengandalkan urapan Roh Kudus. Mereka membangun mezbah doa, mengurapi tempat usaha, dan berdoa secara berkala. Sampai hari ini kedua usahanya tetap berjalan.
Mengapa?
Karena Tuhan memberikan kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya. Kalau Saudara mau hidup berkemenangan, andalkan Roh Kudus. Dia akan mendatangkan terobosan, pemulihan, dan menyediakan apa yang tidak ada.
#3 Mengaktifkan cawan dan kecapi
Hal selanjutnya adalah mengaktifkan cawan dan kecapi.
Cawan melambangkan doa.
Kecapi melambangkan pujian dan penyembahan.
Inilah DNA rohani gereja kita. Kita harus berakar di dalam doa, pujian, dan penyembahan yang dipimpin Roh Kudus.
Saya pernah mendengar Dr. Billy Wilson berkata: Prayer is a spirit. It cannot merely be taught; it has to be caught.
Doa bukan hanya pengetahuan atau teknik. Roh Kuduslah yang memampukan kita berdoa. Roh Kudus juga yang mengurapi kita untuk menyembah.
Mengapa kita perlu mengaktifkan cawan dan kecapi?
Kondisi VUCA digambarkan di dalam Yesaya 60 sebagai kegelapan yang menutupi bumi dan kekelaman yang menutupi bangsa-bangsa. Kekelaman itu adalah kegelapan pekat yang menyelubungi hati manusia.
Alkitab juga berbicara tentang masa yang sukar, ketika pikiran, perasaan, dan kehendak manusia banyak dipengaruhi oleh roh-roh jahat. Hal itu menciptakan atmosfer rohani yang gelap. Karena itu gereja Tuhan harus mengaktifkan doa, pujian, dan penyembahan di dalam kesatuan, siang dan malam, untuk mengubah atmosfer rohani.
Ketika kita menyembah dalam roh dan kebenaran, ketika kita berdoa dengan pertolongan Roh Kudus, atmosfer di sekitar kita dapat berubah.
Suatu kali saya pergi ke tukang gado-gado langganan saya. Saya datang terlalu pagi dan melihat pemiliknya sedang memercikkan sesuatu sambil komat-kamit.
Saya bertanya, “Sedang apa?”
Dia menjawab, “Biasa, Pak, buat penglaris.”
Saya berkata, “Mau lebih laris?”
Dia menjawab, “Mau, Pak.”
Saya berkata, “Ikut saya ke gereja.”
Dia bilang, “Saya bukan Kristen.”
Saya menjawab, “Tidak apa-apa. Tuhan Yesus bukan hanya Tuhannya orang Kristen.”
Singkat cerita, dia datang ke gereja dan tidak lama kemudian dibaptis. Sesudah itu usahanya semakin berkembang. Dia bisa pindah ke tempat yang lebih besar dan mengalami perubahan dalam hidupnya.
Ada perubahan atmosfer karena hadirat Tuhan hadir di tempat itu. Karena itu mulailah aktivitas dengan mengundang hadirat Tuhan melalui doa dan penyembahan. Dalam ibadah seperti ini, jangan datang sebagai penonton atau pengkritik. Datanglah dengan kerinduan untuk berjumpa dengan Tuhan.
“Tuhan, aku datang bukan untuk menonton. Aku datang untuk mengalami perjumpaan dengan-Mu. Aku membutuhkan jamahan-Mu hari ini.”
Ketika kita menyembah dan berdoa dengan sungguh-sungguh, Roh Kudus mengurapi dan atmosfer berubah.
Tempat yang negatif dapat menjadi positif. Tempat yang tidak baik dapat dipulihkan. Karena ada hadirat Tuhan di tempat doa dan penyembahan dinaikkan.
#4 Intim dengan Alkitab dan Firman Tuhan
Hal terakhir yang selalu ada di dalam gereja ini adalah persekutuan yang akrab dengan Firman Tuhan. Karena itu kita harus intim dengan Alkitab.
Kalau kita berkata mengasihi Tuhan dan menyukai hadirat-Nya, buahnya adalah kesukaan bersekutu dengan Firman. Aneh kalau seseorang berkata menyukai hadirat Tuhan tetapi tidak menyukai Alkitab. Allah dan Firman-Nya tidak dapat dipisahkan.
Orang yang mengalami cinta mula-mula kepada Tuhan Yesus juga akan mencintai Alkitab. Firman menjadi hidup, bukan obat tidur. Membaca Alkitab menjadi kebutuhan.
Alkitab memberi kejelasan di tengah situasi yang serba tidak jelas dan tidak pasti. Firman jangan hanya masuk ke pikiran sebagai ingatan sementara. Firman harus turun ke dalam hati.
Caranya adalah seperti yang dikatakan Mazmur 1: merenungkannya siang dan malam. Bukan hanya mendengar satu kali.
Dahulu saya selalu mencatat khotbah. Pelayanan pertama saya adalah merekam khotbah dengan kaset. Karena harus merekam dan menyalin, satu khotbah bisa saya dengar sepuluh atau dua puluh kali.
Firman masuk terus-menerus. Iman timbul dari pendengaran. Melalui iman, Roh Kudus menuntun, menguatkan, memperbarui, dan menyegarkan.
Sekarang kita mempunyai kemudahan. Khotbah dapat didengar kembali melalui YouTube atau rekaman digital. Dengarkan lagi sampai Firman bukan hanya masuk ke kepala, tetapi turun ke hati. Ketika Firman masuk ke hati, Firman menata ulang kehidupan kita dari dalam. Dari hati akan mengalir aliran-aliran kehidupan.
Kuasa membaca dan merenungkan Alkitab
Ada sebuah penelitian yang sering dikutip mengenai orang-orang yang membaca Alkitab sedikitnya empat hari dalam seminggu. Hasilnya menunjukkan adanya korelasi dengan perubahan perilaku yang positif: berkurangnya rasa kesepian, kemarahan, kepahitan, ketergantungan, serta meningkatnya pertumbuhan rohani dan keberanian membagikan iman.
Angka-angka rinci dari penelitian tersebut sebaiknya diverifikasi kembali sebelum dipakai sebagai data resmi. Namun pesan utamanya jelas: keteraturan membaca dan merenungkan Firman memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan rohani dan kehidupan sehari-hari.
Karena itu Iblis berusaha memisahkan gereja dari Alkitab. Dia mengirim berbagai distraksi supaya kita yang sudah berniat membaca Firman akhirnya tidak melakukannya.
Namun ketika kita membaca, merenungkan, dan menyimpan Firman di dalam hati, Roh Kudus bekerja menghasilkan perubahan yang nyata.
Kemenangan mulai kita alami secara konsisten. Kebajikan dan kemurahan Tuhan mengikuti kehidupan kita.
Nyanyi:
Sekalipun aku dalam lembah kelam
Ku tak takut sebab Kau besertaku
Sekalipun badai topan datang menerpa
Ku tak gentar sebab Kau di sisiku
Aku percaya berkat-Mu atasku melimpah
Kebajikan, kemurahan selalu mengikutiku
Kupuji, kusembah Kau Tuhan
Kebajikan dan kemurahan mengikuti kita dari belakang. Artinya, ke mana pun kita pergi dan dalam situasi apa pun—bahkan ketika masuk lembah kekelaman, mengalami proses berat, sakit, kerugian, atau dikecewakan orang—Tuhan tetap mempunyai jalan.
Ada saja cara Tuhan membalikkan keadaan.
Ada saja cara Tuhan mendatangkan pemulihan.
Ada saja cara Tuhan mengadakan yang tidak ada menjadi ada.
Ada saja cara Tuhan mencukupkan yang kurang.
Katakan kepada sebelah Saudara: Ada saja jalan Tuhan buat kamu.
Penutup
Jawaban Tuhan bagi kondisi V.U.C.A., kita dapat menyimpulkan:
- Untuk kondisi yang volatile atau tidak stabil
- Untuk kondisi yang penuh uncertainty atau ketidakpastian
- Untuk kondisi yang complex atau serba rumit
- Untuk kondisi yang ambiguous atau tidak jelas
Jemaat GBI Danau Bogor Raya, biarlah Saudara semakin kuat di dalam kekuatan kuasa-Nya. Biarlah hari-hari, minggu-minggu, dan bulan-bulan yang akan datang menjadi masa penuaian karena Saudara terus hidup dalam visi Tuhan, menerima urapan Roh Kudus, mengaktifkan doa, pujian, dan penyembahan, serta semakin intim dengan Firman-Nya.
Yang tidak ada menjadi ada. Yang mustahil menjadi mungkin. Yang kurang menjadi cukup. Yang cukup menjadi berlimpah! Amin!
Nyanyi:
Sekalipun aku dalam lembah kelam
Ku tak takut sebab Kau besertaku
Sekalipun badai topan datang menerpa
Ku tak gentar sebab Kau di sisiku
Aku percaya berkat-Mu atasku melimpah
Kebajikan, kemurahan selalu mengikutiku
Kupuji, kusembah Kau Tuhan

