Janji Tuhan (Pdt Boy Arifin Djambek)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Janji Tuhan pasti digenapi, karena Dia yang berjanji tidak pernah lupa dan tetap setia sekalipun prosesnya panjang, waktunya lama, dan keadaan belum berubah menjadi lebih baik. Melalui kehidupan Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, dan Yosua, kita belajar bahwa justru di tengah situasi yang tampaknya mustahil, Tuhan bekerja untuk menggenapi segala yang baik yang telah Ia janjikan. Karena itu, respon orang percaya bukanlah putus asa, melainkan tetap percaya, sebab kalau Tuhan sudah berfirman, hasil akhirnya harus tetap sesuai dengan janji-Nya.

Shalom, semua merasakan Tuhan melawat kita pagi ini? Haleluya!

Siapa yang bersukacita kita ada di tahun penuaian? Siapa yang mau mengalami menuai segala yang baik yang Tuhan janjikan? Amin! Kita bersukacita pagi hari ini, Firman Tuhan boleh membekali kita bahwa kita boleh mengalami segala yang baik yang Tuhan janjikan itu. Kita tentunya rindu keluarga kita semuanya juga boleh datang kepada Tuhan. Kalau keluarga masih ada konflik, tentunya boleh mengalami damai sejahtera. Lalu kemudian juga kalau sampai kita mengalami gangguan dalam kesehatan, kita boleh mengalami segala yang baik yang Tuhan janjikan: ada kesembuhan, ada pemulihan. Dan kalau ada masalah juga soal keuangan, siapa yang percaya Tuhan sanggup mengubahkan menjadi kelimpahan? Amin!

Maka sekarang, sebentar lagi aku menempuh jalan segala yang fana; sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, bahwa satu pun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu, tidak ada satu pun yang tidak dipenuhi.

Yosua 23:14

Janji Tuhan itu ya dan Amin

Andai Bapak/Ibu masih pakai Alkitab kertas seperti saya, di atas pasal 23 judul perikopnya adalah Pidato Perpisahan Yosua kepada Para Pemimpin Bangsa Itu. Jadi di akhir hidup Yosua, beliau mewariskan pesan-pesannya. Dan salah satunya, masih di tangan kita, hitam di atas putih, tentang yang namanya janji Tuhan.

Yosua menoleh ke belakang perjalanan bersama bangsa Israel: dari tanah Mesir dibebaskan oleh Tuhan lewat Musa, lalu kemudian Yosua memimpin masuk ke tanah perjanjian, dan di akhir hidupnya Yosua berkata tentang janji Tuhan itu.

Ayat 14 bagian akhir saya bacakan lagi:

… satu pun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu, tidak ada satu pun yang tidak dipenuhi. (Yosua 23:14)

Artinya apa, Bapak/Ibu, Saudara? Janji Tuhan itu ya dan amin, pasti digenapi. Siapa yang mau mengalami segala yang baik yang Tuhan janjikan? Salamin kiri kanan, katakan: pasti digenapi.

Mungkin bagi sebagian jemaat yang kritis berkata, “Pak, itu kan pengalaman Yosua di Perjanjian Lama, sudah ribuan tahun yang lampau. Bagaimana dengan kita-kita yang ada di Perjanjian Baru ini?

Nah Saudara, ini ayat Perjanjian Barunya, lebih hebat lagi:

Sebab Kristus adalah ya bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan Amin untuk memuliakan Allah. (2 Korintus 1:20)

Rupanya ketika Bapak/Ibu, Saudara, dan saya mengucapkan amin, itu bukan hanya untuk menguatkan diri kita atau Saudara-saudara seiman di sekitar kita, tetapi rupanya ketika kita berkata amin, itu kita memuliakan Allah. Artinya kita sepakat dengan Tuhan Allah kita: Dia yang berjanji, Dia pasti menggenapi janji-Nya. Dan kita sama-sama berkata amin!

Itu kebenaran yang pertama tentang janji Tuhan, bahwa janji Tuhan itu adalah ya dan Amin, Dia pasti menggenapi janji-Nya.

Lima tokoh Alkitab

Ada lima tokoh Alkitab, yang akan kita survei dengan cepat, bagaimana ketika mereka menerima janji-janji Tuhan sampai janji-janji itu digenapi:

  • Abraham,
  • lalu anaknya: Ishak,
  • cucunya: Yakub,
  • cicitnya: Yusuf,
  • plus Yosua yang tadi kita baca.

1. Abraham

Kalau Bapak/Ibu baca Alkitab, Kejadian 12 itu, kalau istilah kita, ujug-ujug Tuhan suruh Abraham tinggalkan tanah asalnya menuju negeri yang akan Kujanjikan kepadamu. Nah, janji pertama Tuhan ucapkan: Aku akan memberkati engkau, Aku akan menjadikan engkau bangsa yang besar. Untuk jadi bangsa yang besar, Abraham harus punya anak. Pertanyaannya sederhana: ketika menerima janji Tuhan itu, berapa usia Abraham? 75 tahun. Dan umur berapa Abraham mendapatkan anaknya yang bernama Ishak? 100 tahun.

Berarti Abraham menantikan janji Tuhan selama 25 tahun.

2. Ishak

Lalu bagaimana dengan Ishak? Kita lihat Kejadian 25. Ayat 20 mencatat Ishak berumur 40 tahun ketika Ribka diambilnya menjadi istri. Lalu ayat 21:

Berdoalah Ishak kepada TUHAN untuk istrinya, sebab istrinya itu mandul. TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, istrinya itu, mengandung. (Kejadian 25:21)

Rupanya Saudara, kalau zaman kita menikah ngga dapat anak, periksa dokter, dokter vonis mandul. Tapi yang namanya Ishak ini ngga putus asa. Dia tekuk lutut, dia berdoa kepada Tuhan dan doanya pun dikabulkan.

Pertanyaannya: Ishak menikah usia 40 tahun, umur berapa Ishak dapat anaknya yang namanya Esau dan Yakub? Ayat 26 mencatat Ishak berumur 60 tahun pada waktu mereka lahir. Berarti Ishak menanti selama 20 tahun.

3. Yakub

Yakub kita lihat yang berikutnya:

Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini; sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu. (Kejadian 28:15)

Tuhan janji sama Yakub ketika di Betel: Aku bawa engkau kembali. Kalau kita baca cepat dari Kejadian 28 sampai Kejadian 35, buat kita mungkin cuma 30 menit. Tapi buat Yakub sendiri, kira-kira 20 tahun.

4. Yusuf

Nah, ini kalau mantan anak sekolah minggu pasti tahu kisah Yusuf. Yusuf dapat mimpi: berkasnya naik ke atas, berkas saudara-saudaranya sujud menyembah. Tambah lagi matahari, bulan, bintang-bintang sujud menyembah. Usia berapakah Yusuf ketika mendapat mimpi itu? 17 tahun.

Lalu umur berapa mimpi Yusuf mulai jadi kenyataan ketika oleh Firaun dia dijadikan orang kedua di Mesir? 30 tahun. Jadi Yusuf menantikan janji Tuhan selama 13 tahun.

5. Yosua

Dan yang terakhir, Yosua. Kita pasti tahu berapa lama Yosua muter-muter di padang gurun sebelum dia masuk tanah perjanjian. 40 tahun.

Proses yang panjang dan waktunya lama

Kalau kita hitung:

  • Abraham 25 tahun
  • Ishak 20 tahun
  • Yakub 20 tahun
  • Yusuf 13 tahun
  • Yosua 40 tahun

Ketemu total 118 tahun. Dibagi lima, rata-rata keluar 23,6 tahun, anggaplah 20 tahun rata-rata janji Tuhan digenapi dalam kehidupan kelima tokoh ini.

Pertanyaan saya buat Bapak/Ibu, Saudara: 20 tahun itu proses yang panjang atau pendek? Waktu yang lama atau singkat? Berarti kita bisa simpulkan bersama kebenaran yang kedua: Prosesnya panjang, waktunya lama.

Siapa yang masih mau mengalami segala yang baik yang Tuhan janjikan? Kasih tahu kiri kanan: lama.

Tapi supaya Bapak/Ibu tidak pulang gereja jadi stres, kita seimbangkan. Tidak ada yang mustahil buat Tuhan! Tuhan bisa lakukan dengan cara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Katakan: Merdeka! Sehingga saya tulis, Bapak/Ibu, prosesnya bisa jadi panjang dan waktunya bisa jadi lama, tapi Tuhan bisa juga lakukan segera, bahkan saat ini juga. Setuju? Katakan amin!

Keadaan tidak bertambah baik

Hari-hari ini, kita kalau dengar khotbah, apalagi dari para motivator, kita diminta jangan sampai kita ini dipengaruhi keadaan, tapi justru kita yang harus mempengaruhi keadaan. Tapi jujur ya, siapa yang mau ngaku bahwa masih suka dipengaruhi dengan yang namanya keadaan? Angkat tangan. Lumayan, Pak Pendeta punya banyak kawan di sini.

Kita masih sering dipengaruhi dengan keadaan. Nah, karena itu kita lihat tokoh-tokoh kita tadi: Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, dan Yosua. Keadaan seperti apa sih yang mengikuti mereka dari mulai janji itu diucapkan sampai janji itu digenapi?

1. Abraham

Umur 75 tahun, beda dengan istrinya itu 65 tahun. Dan Alkitab sudah dari sejak awal bahwa istri Abraham itu mandul. Bayangin sekarang, seorang suami yang satu rumah, satu kamar, satu ranjang dengan istrinya, Abraham tahu persis kondisi Sara. Dari umur 65 sampai umur 90. Ibu-ibu di Bogor, dari umur 65 sampai 90 makin kuat atau makin lemas? Mustahil yang dihadapi oleh seorang Abraham. Tapi justru ketika itu Tuhan menggenapi janji-Nya.

2. Ishak

Sama. 20 tahun keadaan mustahil, istrinya mandul dari sejak awal.

3. Yakub

Yakub di rumah Laban 20 tahun. Yang dikawini kan anak-anaknya Laban. Anak-anaknya Yakub, berarti cucu-cucunya Laban. Hamba-hambanya Yakub itu hamba-hambanya Laban. Ternaknya Yakub itu ternaknya Laban yang memang dikasih kesempatan untuk Yakub dapatkan. Ketika Yakub diam-diam keluar dari rumah Laban, Laban kejar. Pasukannya lebih banyak, dan Laban mestinya lebih berhak atas anak cucu dan harta bendanya. Kalau Laban mau habisin Yakub hari itu, selesai nasib Yakub. Tapi Tuhan kasih mimpi sama Laban: “Lu jangan macam-macam sama Yakub.” Eh, Yakub dibebasin. Dalam situasi kritis, Tuhan menggenapi janji-Nya.

4. Yusuf

Yang masukin penjara itu jenderalnya Mesir. Ngga mungkin dia bisa keluar dari penjara itu. Tapi cara Tuhan ajaib. Firaun dikasih mimpi, Yusuf tafsirkan, langsung hari itu seperti membalikkan telapak tangan, Yusuf jadi orang kedua di Mesir.

5. Yosua

Muter-muter di padang gurun. Kalau bukan tiang awan dan tiang api yang pimpin dia, dan Tuhan halaukan bangsa-bangsa itu, ngga mungkin bisa masuk tanah perjanjian.

Artinya apa? Secara manusia, yang dihadapi para tokoh tadi, kebenaran yang ketiga yaitu: keadaan tidak bertambah baik.

Karena kecenderungan kita, saya katakan kita–termasuk saya, kita itu selalu menjadikan keadaan sebagai indikasi. Kalau kita lihat keadaan makin baik, “Oh, Tuhan menyertai. Oh, Tuhan akan menggenapi janji-Nya.” Tapi kalau kita melihat yang sebaliknya, hati-hati, Bapak/Ibu, kita bisa mulai putus asa. “Sepertinya Tuhan sudah tinggalkan. Sepertinya Tuhan sudah tidak ingat lagi janjinya dalam hidup kita.

Hati-hati. Tokoh-tokoh kita ini justru ketika keadaan bertambah buruk, bahkan sampai titik mustahil, di situlah janji Tuhan digenapi dalam kehidupan mereka. Dan dalam kehidupan Bapak/Ibu, Saudara, dan saya. Haleluya!

Nah, sekarang Kejadian 15. Kita lihat Abraham ketika itu, namanya masih Abram. Kejadian 16 ayat 3 kasih petunjuk waktu: ketika Abram telah 10 tahun tinggal di tanah Kanaan. Artinya kurang lebih Kejadian 15 itu terjadi ketika Abraham sudah melalui satu proses yang dia anggap sudah panjang, sudah lama, dan keadaan belum menunjukkan tanda-tanda perubahan.

Apa yang terjadi dengan Abraham?

Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar. (Kejadian 15:1)

Luar biasa loh, Abraham dikasih kesempatan lihat penglihatan. Ada Tuhan Allah di dalam penglihatannya, namanya disebut, lalu akan diberikan upah yang besar.

Andai-andai, ya, Bapak/Ibu, waktu saya menyiapkan Firman Tuhan ini, dalam hati itu Tuhan berpesan buat jemaat GBI Danau Bogor Raya, baik yang onsite maupun juga yang online YouTube: tahun 2025 ini Tuhan akan berikan upah yang besar. Amin!

Nah, kita lihat Abraham ini yang dapat penglihatan langsung. Ayat 2 dan 3:

Abram menjawab: Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu… Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan. (Kejadian 15:2-3)

Bapak/Ibu, periksa. Baca di rumah. Abraham ngga ada nada sukacita mau dapat upah yang besar! Kenapa? Buat saya, Abraham sudah putus asa di tengah proses yang panjang, waktu yang lama, dan keadaan yang belum menunjukkan tanda-tanda perubahan.

Dia yang berjanji, Dia ingat akan janji-Nya

Seorang yang kemudian dikenal sebagai bapak orang beriman, ternyata mengalami putus asa. Tapi kabar baiknya di hari Minggu ini, kita punya Tuhan yang tidak pernah putus asa. Haleluya!

Setelah ayat 3, masih ada ayat 4:

Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu. (Kejadian 15:4)

Saudara, kalau Tuhan sudah bilang Ishak, hasilnya harus tetap Ishak. Kalau Tuhan sudah janjikan sembuh, hasilnya harus tetap sembuh. Kalau Tuhan sudah bilang kelimpahan, hasilnya harus tetap kelimpahan. Kalau Tuhan sudah bilang tahun penuaian, hasilnya harus tetap penuaian.

Lalu ayat 5, caranya Tuhan memulihkan seorang Abraham yang sedang putus asa:

Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya… demikianlah banyaknya nanti keturunanmu. (Kejadian 15:5)

Cara Tuhan sederhana, tapi mohon sabar: Tuhan ngga langsung kasih anak, Tuhan suruh Abraham menghitung bintang. Itu tanda-tanda memang sudah putus asa.

Sebanyak jumlah bintang di langit yang bisa kita hitung, sebanyak itu jumlah jemaat GBI Danau Bogor Raya. Amin! Haleluya! Dan sebanyak jumlah bintang di langit yang dapat Bapak/Ibu, Saudara hitung, sebanyak itu jumlah rupiah atau euro di dompet kita. Amin!

Ayat terakhir:

Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. (Kejadian 15:6)

Satu hal saja yang Tuhan mau lihat ada dalam hati Abraham, yaitu yang namanya percaya.

Kita bisa lupa janji Tuhan karena proses yang panjang, waktu yang lama, dan keadaan yang belum bertambah baik. Tapi kita bersyukur, Dia yang berjanji, Dia ingat akan janji-Nya, dan Dia pasti akan genapi dalam kehidupan Bapak/Ibu, Saudara, dan saya. Tinggal percaya saja.

Kesaksian:

Dua belas tahun lampau istri saya berat badannya hanya 40 kg. Kenapa hanya 40 kg? Karena diserang dengan kanker ganas. Tapi puji Tuhan, hari ini sudah hampir dua kali lipat. Nah ini mendampingi saya, Saudara.
Kalau Tuhan sudah bilang sembuh, apa pun penyakitnya, hasilnya harus tetap sembuh. Kalau Tuhan sudah bilang kelimpahan, apa pun hasilnya, harus tetap kelimpahan. Kalau Tuhan sudah bilang penuaian, hasilnya harus tetap penuaian.

Haleluya!

Tuhan Yesus memberkati.

Video