Berdoa dengan tidak jemu-jemu kepada Allah sumber segala kasih karunia

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Berdoa dengan tidak jemu-jemu kepada Allah sumber segala kasih karunia

Saat Teduh
Tanggal Minggu, 22 Desember 2019
Sebelumnya Sabtu, 21 Desember 2019
Selanjutnya Senin, 23 Desember 2019

Allah, sumber segala kasih karunia. (1 Petrus 5:10)

Tetaplah berdoa. (1 Tesalonika 5:17)

Kedua istilah ini memiliki keterkaitan yang erat. Satu-satunya jalan untuk dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah adalah dengan kasih karunia. Allah kita adalah sumber dari segala kasih karunia. Kasih karunia Allah dapat kita terima melalui kerendahan hati dan iman. Doa adalah ekspresi yang paling tepat dari kerendahan hati dan iman. Kita berdoa karena kita perlu pertolongan Tuhan, ini merupakan ekspresi kerendahan hati. Kita berdoa karena kita percaya Tuhan akan menolong kita, ini merupakan ekspresi iman. Jadi, tetap berdoa dengan tidak jemu-jemu adalah cara yang sederhana, namun bermakna, untuk bersekutu dengan Allah sumber segala kasih karunia.

“Tetaplah berdoa.” Perintah ini bukan berarti kita harus berulang-ulang mengucapkan sebuah doa. Namun, sebuah panggilan kepada sebuah gaya hidup: “bertekunlah dalam doa” (Roma 12:12). Berdoa dengan tidak jemu-jemu berbicara mengenai sikap hati. Yaitu saat batin kita dengan rendah hati senantiasa terarah kepada Tuhan, sambil dengan tekun menyampaikan doa kita kepada Tuhan.

Paulus adalah seorang yang hidup dalam doa. Tuhanlah yang menjadi pusat pengharapannya: “Kristus Yesus, dasar pengharapan kita” (1 Timotius 1:1). Selain itu, Paulus senantiasa berdoa kepada Tuhan:

  • “Dalam doaku aku selalu mengingat kamu” (Roma 1:9).
  • “Akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku” (Efesus 1:16).
  • “Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam” (2 Timotius 1:3).

Perhatikan bahwa berulang-ulang doa Paulus berisi permohonan untuk orang lain. Mereka yang hidup dalam kasih karunia akan memiliki hati untuk bersyafaat, berdoa supaya orang lain juga dapat menikmati kasih karunia Allah.

Banyak sekali contoh dalam Alkitab mengenai orang yang hidup dalam doa.

  • Daud jelas merupakan seorang yang selalu berdoa. Sebagian besar dari mazmur-mazmurnya ditujukan kepada Allah dalam doa. Beberapa berbicara mengenai kebiasaan doa Daud. “Di waktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan menangis; dan Ia mendengar suaraku” (Mazmur 55:17).
  • Yeremia juga seorang yang hidup dalam doa.
    • “Ya TUHAN, kekuatanku dan bentengku, tempat pelarianku pada hari kesesakan” (Yeremia 16:19).
    • “Sembuhkanlah aku, ya TUHAN, maka aku akan sembuh; selamatkanlah aku, maka aku akan selamat” (Yeremia 17:14).
    • “Perhatikanlah aku, ya TUHAN, dan dengarkanlah suara pengaduanku!” (Yeremia 18:19).
  • Daniel juga orang yang hidup dalam doa. “Tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya” (Daniel 6:10).

Demikian pula dengan kita, semua yang ingin hidup dalam kasih karunia akan semakin hidup dalam doa.

Doa

Tuhan sumber segala kasih karunia, aku ingin hidup dalam kerendahan hati dan pengandalan akan kasih karunia-Mu yang melimpah. Ajar aku agar aku senantiasa mengekspresikan kerendahan hati dan iman. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amin.