Persekutuan yang benar dengan Allah sumber segala kasih karunia (2)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Persekutuan yang benar dengan Allah sumber segala kasih karunia (2)

Saat Teduh
Tanggal Selasa, 17 Desember 2019
Sebelumnya Senin, 16 Desember 2019
Selanjutnya Rabu, 18 Desember 2019

Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. (1 Petrus 5:10)

Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. (Yohanes 6:63)

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya. (Filipi 3:10)

Agar dapat hidup setiap hari di dalam kasih karunia, kita harus memiliki persekutuan yang benar dengan “Allah sumber segala kasih karunia.” Yaitu dengan membangun hubungan pribadi dengan Tuhan. “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yohanes 17:3). Sebuah persekutuan yang bertumbuh dengan Allah akan menghasilkan kerendahan hati dan iman. Oleh karena itulah kita bisa hidup dalam kasih karunia: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (1 Petrus 5:5). “Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia” (Roma 5:2).

Kita bertumbuh semakin mengenal Allah lewat Firman-Nya. Ada banyak cara untuk menyatakan kerendahan hati dan iman kita kepada Allah. Kita sudah membahas beberapa dalam renungan-renungan kita yang terdahulu. Hidup dalam Roh adalah salah satunya. “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna.” Perjanjian baru kasih karunia menawarkan kehidupan rohani yang hanya dapat diberikan oleh Roh Kudus. “Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan” (2 Korintus 3:6). Saat dengan rendah hari kita mengandalkan Roh Kudus, Allah dengan rahmat-Nya mencurahkan kehidupan-Nya ke dalam kehidupan kita.

Kita akan melihat cara berikutnya dalam perjalanan persekutuan kita dalam kerendahan hati dan iman, yaitu dengan hidup dalam kuasa kebangkitan: “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya.” Kuasa kebangkitan tersedia bagi kehidupan Kekristenan kita tiap-tiap hari. “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga” (Efesus 1:18-20). Tentunya untuk dapat mengalami kuasa ini tergantung kepada kerendahan hati kita untuk mengakui bahwa kita sama sekali tidak memiliki kuasa apapun dan sepenuhnya mengandalkan kuasa-Nya.

Hidup di dalam Roh, dan hidup dalam kuasa kebangkitan-Nya adalah dua cara untuk dapat bersekutu dengan Tuhan sumber kasih karunia. Keduanya hanya dapat dialami melalui kerendahan hati dan pengandalan akan Dia. Keduanya akan membuat kasih karunia Allah menjadi sumber kekuatan kita dari hari ke hari.

Doa

Allah sumber segala kasih karunia, aku perlu Roh Kudus-Mu untuk memenuhi aku dengan kehidupan-Mu. Dagingku sama sekali tidak berguna. Aku perlu kuasa kebangkitan-Mu setiap hari berkarya di dalam hidupku. Aku tidak memiliki kuasa apapun dari diriku sendiri. Aku memuji Engkau karena semuanya ini tersedia bagiku melalui kerendahan hati dan iman kepada-Mu. Amin.