Pelayanan yang berani dan tidak mementingkan diri sendiri oleh karena kasih karunia

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Pelayanan yang berani dan tidak mementingkan diri sendiri oleh karena kasih karunia

Saat Teduh
Tanggal Kamis, 12 Desember 2019
Sebelumnya Rabu, 11 Desember 2019
Selanjutnya Jumat, 13 Desember 2019

Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. (Kisah Para Rasul 20:24)

Paulus diberikan pelayanan oleh karena kasih karunia Allah. “Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya” (Efesus 3:7). Paulus menerima tugas pelayanan dari Allah: “pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku.” Pelayanan Rasul Paulus dapat berkembang oleh karena kasih karunia Allah. “Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1 Korintus 15:10). Pelayanan Paulus juga menyatakan kasih karunia Allah: “untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” Bahkan seluruh kehidupan Paulus memperlihatkan bagaimana kasih karunia membawanya kepada pelayanan yang berani dan tidak mementingkan diri sendiri.

Pelayanan Paulus adalah pelayanan yang berani, mengingat tantangan berat yang harus ia hadapi. “Dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku” (Kisah Para Rasul 20:23). Sepanjang sejarah Kekristenan, banyak hal yang jauh lebih ringan dari yang dihadapi Paulus sudah membuat orang percaya untuk mundur dari pelayan mereka. Namun, dengan mengandalkan kuasa pemeliharaan kasih karunia, Paulus dengan berani menghadapi kesulitan yang luar biasa dan bahaya yang mengancam dalam pelayanan penyebaran Injil kasih karunia. “Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa” (2 Korintus 6:4-5).

Berkaitan dengan pelayanan yang berani ini adalah sikap Paulus yang tidak mementingkan diri sendiri. “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun.” Paulus mendengarkan sebuah nubuat yang menggetarkan tentang dirinya. Peringatan tersebut diberikan oleh seorang nabi Tuhan, yang mengambil ikat pinggang Paulus dan mengikat kaki dan tangannya sendiri. “Ia datang pada kami, lalu mengambil ikat pinggang Paulus. Sambil mengikat kaki dan tangannya sendiri ia berkata: "Demikianlah kata Roh Kudus: Beginilah orang yang empunya ikat pinggang ini akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke dalam tangan bangsa-bangsa lain” (Kisah Para Rasul 21:11). Rekan-rekan Paulus segera mendesak Paulus untuk tidak pergi. Namun, Paulus mengatakan bahwa Ia siap untuk kehilangan nyawanya demi Injil. “Tetapi Paulus menjawab: "Mengapa kamu menangis dan dengan jalan demikian mau menghancurkan hatiku? Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus” (Kisah Para Rasul 21:13). Sikap yang tidak mementingkan diri sendiri tersebut membuat Paulus “dapat mencapai garis akhir.” Oleh karena itulah ia berani menulis: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2 Timotius 4:7).

Doa

Yesus, Tuhan dan Rajaku, Engkau tahu setiap hal yang dapat membuat aku meninggalkan panggilan-Mu. Engkau tahu saat-saat di mana aku tergoda untuk mempertahankan nyawaku, dan tergoda untuk memilih pelayanan yang menguntungkan diriku sendiri. Penuhilah hidupku dengan kasih karunia-Mu supaya aku dapat melayani Engkau dengan berani dan tidak mementingkan diri sendiri. Amin.