Yesus, teladan terbesar dari iman

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Yesus, teladan terbesar dari iman

Saat Teduh
Tanggal Senin, 7 Oktober 2019
Sebelumnya Minggu, 06 Oktober 2019
Selanjutnya Selasa, 08 Oktober 2019

Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya... aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku. (Yesaya 49:5)

Beginilah firman TUHAN: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan menjawab engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau." (Yesaya 49:8)

Berulangkali dalam renungan-renungan sebelumnya, kita melihat hubungan antara “kerendahan hati dan iman” dengan “bertumbuh dalam kasih karunia.” Pengulangan ini membantu kita untuk mengerti bagaimana caranya hidup dari hari ke hari di dalam kasih karunia. “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yakobus 4:6). “Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri” (Roma 5:2). Selama beberapa hari yang lalu kita membahas mengenai kerendahan hati dan kasih karunia. Pada renungan sebelumnya kita melihat bagaimana Yesus adalah teladan paling besar dari kerendahan hati. Sekarang, kita akan membahas dengan lebih mendalam hubungan antara iman dan kasih karunia. Kita akan mulai pembahasan mengenai iman dengan melanjutkan renungan sebelumnya, yaitu Yesus sebagai teladan kita. Sekarang kita akan melihat bahwa Yesus adalah teladan terbesar dari iman.

Ayat-ayat renungan kita hari ini berbicara mengenai Allah Bapa dan Anak-Nya, yang akan memberikan anugerah keselamatan dari Allah. “Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya.” Ayat ini merupakan nubuat mengenai kelahiran Yesus. Seorang malaikat berbicara kepada Yusuf sebagai penggenapan dari nubuat ini. “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:20-21). Pengakuan dari Mesias juga sebuah nubuat. “Allahku menjadi kekuatanku.” Ketika Anak Allah turun ke bumi dan berinkarnasi menjadi manusia, Ia akan hidup hanya dengan iman-Nya kepada Bapa. Kata-kata Allah Bapa menjamin kepercayaan Anak kepada Bapa. “Beginilah firman TUHAN: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan menjawab engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau".”

Kenyataan bahwa Yesus hidup dengan iman kepada Bapa-Nya adalah bagian dari pengajaran-Nya. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yohanes 5:19). Di sini, Yesus, yang menanggalkan keilahian-Nya selama berada di bumi, memberikan teladan bagaimana manusia harus hidup dengan rendah hati mengandalkan kesetiaan Tuhan.

Doa

Ya Tuhan, Juru Selamat-ku, aku merendahkan diri di hadapan-Mu, menyatakan kerinduanku untuk bertumbuh dalam kasih karunia. Aku tahu bahwa iman adalah jalan masuk kepada kasih karunia. Ajarlah aku untuk menaruh imanku kepada Mu, sama seperti Engkau mengandalkan Bapa. Amin.