Cemooh bagi pencemooh dan kasih karunia bagi yang rendah hati

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Cemooh bagi pencemooh dan kasih karunia bagi yang rendah hati

Saat Teduh
Tanggal Selasa, 1 Oktober 2019
Sebelumnya Senin, 30 September 2019
Selanjutnya Rabu, 02 Oktober 2019

Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Iapun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya. (Amsal 3:34)

Alkitab menekankan komitmen Tuhan untuk melimpahkan kasih karunia kepada mereka yang berjalan dalam kerendahan hati, dan menolak mereka yang berjalan dalam keangkuhan. “Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yakobus 4:6). “Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (1 Petrus 5:5). “TUHAN itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh” (Mazmur 138:6). Dalam ayat renungan kita hari ini, sekali lagi kita melihat contoh yang serupa. "Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Iapun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya.”

Adalah sebuah kepastian bahwa Allah akan mencemooh orang yang mencemooh. “Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Iapun mencemooh.” Pencemooh adalah orang yang dengan angkuh memperlihatkan ketidakpedulian kepada Allah dan jalan-jalan kebenaran-Nya. Ia adalah orang yang mengolok-olok kebajikan dan pengumbar kejahatan. Tuhan pasti akan mencemooh orang-orang yang demikian.

Bagi sebagian besar dari kita yang memiliki hati untuk Tuhan, tidak akan bersikap mencemooh di hadapan Allah. Namun ada sikap lain yang serupa dapat menjadi bagian dari hidup kita, bahkan mungkin tanpa disadari. Kecongkakan dan tinggi hati adalah dua hal yang paling sering muncul dan paling berbahaya. “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (Amsal 16:18). Dua pasang sikap yang jahat ini dapat dirangkum sebagai meninggikan diri sendiri. Cara hidup yang seperti ini selalu akan berakhir dalam kejatuhan yang menghancurkan. Sikap-sikap ini dan dampak yang dihasilkan, dengan lengkap digambarkan dalam sejarah kejatuhan Iblis. Sebelum ia memberontak terhadap Allah, Iblis adalah sosok yang penuh dengan kemegahan, malaikat yang istimewa. “Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu” (Yehezkiel 28:14-15). Kecurangan yang ada pada Iblis adalah meninggikan diri sendiri. “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar… Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu… Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!” (Yesaya 14:12-14). Kecongkakan dan meninggikan diri sendiri ini mengakibatkan kejatuhan Iblis yang menghancurkan, yang akan membuatnya berakhir di neraka untuk selama-lamanya.

Marilah kita memilih untuk berjalan bersama-sama dengan orang-orang kudus yang rendah hati, yang menolak untuk berjalan dalam barisan orang-orang yang congkak dengan cara-cara mereka untuk meninggikan diri sendiri. “Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan dengan orang congkak” (Amsal 16:19).

Doa

Ya Allah yang maha tinggi, aku bertobat dari saat-saat di mana aku meninggikan diri sendiri, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatanku. Aku menolak jalan orang yang congkak yang meninggikan diri manusia. Aku ingin hidup bersama-sama dengan umat-Mu yang rendah hati, memandang Engkau untuk membentuk dan memakai hidupku melalui kasih karunia-Mu yang melimpah. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin.