Hidup dalam kasih karunia di masa Perjanjian Lama

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Hidup dalam kasih karunia di masa Perjanjian Lama

Saat Teduh
Tanggal Kamis, 29 Agustus 2019
Sebelumnya Rabu, 28 Agustus 2019
Selanjutnya Jumat, 30 Agustus 2019

Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya… “Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita... Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu… TUHAN menyertai kita.” (Bilangan 14:6, 8-9)

Di sepanjang perjanjian lama, kita dapat menemukan contoh dari orang-orang yang hidup oleh kasih karunia Tuhan. Mereka mungkin tidak menggambarkan apa yang mereka alami dengan istilah kasih karunia. Tetapi, pengandalan mereka kepada karya Allah yang bekerja bagi mereka sama dengan yang kita mengerti. Hidup dalam kasih karunia adalah mengenai Allah yang bekerja di dalam hidup manusia. Walaupun orang-orang dalam perjanjian lama ini lahir di dalam hukum Taurat, mereka tidak dapat hidup dengan hukum Taurat. Hukum Taurat tidak menyediakan sumber daya untuk kehidupan. Tanpa karya Tuhan, satu-satunya sumber daya adalah kekuatan daging manusia. dan hal tersebut tidak akan pernah cukup untuk dapat hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Yosua dan Kaleb menyadari bahwa kesanggupan Allah (kasih karunia-Nya) adalah satu-satunya harapan yang dapat diandalkan.

Kedua belas orang Israel baru saja kembali dari tugas mengintai Tanah Perjanjian. Sepuluh dari mereka memiliki sudut padang yang sama. “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya… Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar… Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita” (Bilangan 13:27-28, 31). Laporan buruk mereka didasarkan kepada apa yang mereka lihat, dibandingkan dengan apa yang mereka miliki. Berdasarkan perbandingan tersebut mereka menyimpulkan: “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu.” Mereka membandingkan dua kekuatan manusia. “Mereka lebih kuat dari pada kita.”

Yosua dan Kaleb sangat terganggu dengan kesimpulan tersebut. “Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya.” Mereka menyadari bahwa cara pandang tersebut mengabaikan apa yang Tuhan sudah janjikan dan apa yang Tuhan dapat lakukan. “Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita.” Mereka menyadari bahwa laporan sebagian besar pengintai itu didasarkan kepada penglihatan dan kemampuan manusia, dan hal tersebut sebenarnya merupakan pemberontakan terhadap Allah. “Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu.” Pemberontakan mereka adalah dengan takut kepada manusia dan tidak percaya kepada Allah. Sebenarnya bangsa Israel hanya perlu mengingat bahwa Tuhan sudah berkomitmen kepada mereka. “TUHAN menyertai kita.” Tuhan menginginkan dan mampu untuk menyerahkan tanah tersebut kepada mereka.

Doa

Tuhan yang maha kuasa, aku diingatkan bahwa lebih banyak cara pandang yang didasarkan kepada penglihatan manusia dan kekuatan duniawi. Tolong aku untuk bisa seperti Yosua dan Kaleb. Aku ingin memiliki cara pandang yang berdasarkan kepada apa yang Engkau janjikan dan apa yang Engkau dapat lakukan. Amin.