Janji yang “tidak populer” mengenai Hukum Tabur Tuai

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Janji yang “tidak populer” mengenai Hukum Tabur Tuai

Saat Teduh
Tanggal Kamis, 22 Agustus 2019
Sebelumnya Rabu, 21 Agustus 2019
Selanjutnya Jumat, 23 Agustus 2019

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. (Galatia 6:7-8)

Sekarang kita akan kembali kepada kelompok janji yang “tidak populer.” Janji-janji dalam ayat renungan kita hari ini berbicara mengenai kepastian dari proses hukum tabur tuai. “Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” di dalam dunia yang sering kali menolak pertanggungjawaban, janji-janji ini sangat tidak disukai.

Banyak orang tertipu dalam hal ini. Dengan keliru mereka berasumsi bahwa mereka tidak harus mengalami akibat dari benih perbuatan yang mereka tabur setiap hari. Jika seseorang memiliki pendapat tersebut, maka sebenarnya ia sedang mempermainkan Allah, sebagai pembuat hukum tabur tuai ini. “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan.” Pola hukum tabur tuai rohani ini sebenarnya cerminan dari pola tabur tuai secara fisik. Jika seorang petani menabur benih jagung, maka ia pasti akan selalu menuai jagung. Petani tersebut tidak akan mungkin menuai gandum. Pola ini juga sama pastinya dalam aspek rohani. Setiap manusia menabur benih-benih rohani setiap hari dalam hidupnya: entah benih kedagingannya atau benih Roh Kudus, hasilnya setiap manusia akan menuai: entah “kebinasaan” atau “hidup yang kekal.”

Di seluruh dunia dan sayangnya, di banyak gereja, benih kedaginganlah yang banyak ditabuh setiap hari. Dalam perkataan, perbuatan, persekutuan, orang menabur benih kedagingan seperti yang tercatat dalam daftar di Galatia 5:19-21: “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” Benih-benih ini akan menghasilkan tuaian kebinasaan. “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya.” Benih yang demikian menghancurkan kehidupan mereka yang hidup di dalamnya. Bagi orang tidak percaya, benih yang demikian akan berdampak berlipat kali ganda. Ketika orang percaya hidup dalam kedagingan dalam masa hidupnya, maka ia akan menuai kekeringan rohani, tidak bisa berbuah dan tidak memiliki hasrat untuk bersekutu dengan Tuhan.

Sebaliknya, ada benih yang lain yang dapat ditabur, dan menghasilkan tuaian yang jauh berbeda. “Tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Benih yang ditabur dengan mengandalkan Roh Kudus akan menghasilkan buah seperti yang tercatat dalam Galatia 5:22-23: “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”

Doa

Allah Bapa di Sorga, aku menyesali setiap benih kedagingan yang sudah pernah aku tabur. Aku hanya mengalami kekeringan dan aku mengecewakan Engkau. Aku rindu untuk menabur benih Roh Kudus, yang akan memberi kelimpahan di dalam hidupku dan membawa kemuliaan bagi Engkau. Aku rindu untuk menyenangkan-Mu dengan buah Roh Kudus-Mu. Amin.