Menanggapi janji-janji Allah dengan benar (2)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Menanggapi janji-janji Allah dengan benar (2)

Saat Teduh
Tanggal Jumat, 9 Agustus 2019
Sebelumnya Kamis, 08 Agustus 2019
Selanjutnya Sabtu, 10 Agustus 2019

Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali. (Ibrani 11:17-19)

Seperti diperlihatkan dalam renungan kita yang sebelumnya, Sara akhirnya menanggapi janji Tuhan dengan benar. “Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia” (Ibrani 11:11). Dalam ayat-ayat kita sekarang, Abraham memperlihatkan satu bentuk lain lagi dari tanggapan yang benar terhadap janji Allah.

Peristiwa yang dihadapi oleh Abraham pastilah merupakan ujian paling berat dalam perjalanan rohani Abraham. Tuhan sudah membuat janji-janji yang luar biasa kepada Abraham. Termasuk di dalamnya adalah sebuah tanah, sebuah bangsa, seorang Raja yang diurapi (Mesias), dan berkat-berkat yang disediakan bagi bangsa-bangsa (keselamatan melalui Mesias). Supaya janji-janji tersebut dapat dipenuhi, Abraham harus menerima keturunan yang dijanjikan. Seperti Sara, Abraham juga mengalami perjalanan yang tidak mulus. Abraham bekerja sama dengan Sara dalam merencanakan untuk mendatangkan keturunan melalui hamba perempuan mereka. “Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, --yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan--,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya. Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu” (Kejadian 16:3-4).Seperti Sara, ia juga kemudian menertawakan kemungkinan bahwa ia masih bisa memiliki keturunan. “Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?” (Kejadian 17:17). Namun demikian, Tuhan terbukti setia dan memberikan mereka Ishak. “TUHAN memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya. Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya. Abraham menamai anaknya yang baru lahir itu Ishak” (Kejadian 21:1-3).

Akhirnya, setelah menunggu sekian tahun, anak yang dijanjikan lahir. Namun, Tuhan kemudian meminta agar Ishak dipersembahkan di mezbah kepada Tuhan. Ia adalah anak satu-satunya yang dapat menggenapi janji-janji yang lain: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” Sekarang Ishak harus dipersembahkan kembali kepada Tuhan. Dengan Iman, Abraham melakukan yang mustahil, menaruh puteranya di atas mezbah. Kemampuan Tuhan menjadi dasar kebenaran dari tindakan iman Abraham: “Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati.”

Doa

Tuhan Allah yang membangkitkan, tolong aku agar selalu memandang kepada kesanggupan-Mu untuk membangkitkan kembali apa yang terlihat sudah mati, supaya aku dapat menaruh “Ishak-Ishak” dalam hidupku di atas altar kehendak-Mu. di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.