Janji-Janji Allah dan Hukum Taurat Allah (1)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Janji-Janji Allah dan Hukum Taurat Allah (1)

Saat Teduh
Tanggal Rabu, 31 Juli 2019
Sebelumnya Selasa, 30 Juli 2019
Selanjutnya Kamis, 01 Agustus 2019

Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus. Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya. Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji; tetapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham. (Galatia 3:16-18)

Pada awal renungan-renungan kita, kita melihat salah satu dari topik yang luar biasa dalam Alkitab: hubungan antara kasih karunia dan hukum Taurat Allah. Ayat-ayat renungan pada hari ini membahas topik yang serupa: hubungan antara janji-janji Allah dan hukum Taurat Allah.

Sekali lagi kita diingatkan kepada fungsi dasar dari janji-janji Allah untuk melaksanakan kehendak-Nya diantara manusia. “Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. ” Tuhan membuat suatu janji yang menjangkau jauh ke masa depan, kepada Abraham dan keturunannya, suatu janji yang meliputi hal kedatangan Mesias, Raja yang diurapi, Juru Selamat umat manusia. Walaupun janji kepada Abraham mencakup lahirnya keturunan Abraham yang tak terbilang banyaknya, pernyataan pada ayat ini sedang menunjuk kepada satu keturunan yang khusus. “Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus. ” Yang dimaksud adalah Tuhan Yesus Kristus. Janji ini adalah akar dari perjanjian baru kasih karunia yang dibuat oleh Allah Bapa kepada Abraham dan kepada Allah Anak. “Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. ” Sebuah jaminan keyakinan dinyatakan di sini, yaitu bahwa janji Allah Bapa adalah kepada Anak-Nya!

Jadi, bagaimana dengan hukum Taurat Allah yang baru diberikan ratusan tahun kemudian? Dapatkah hukum Taurat menggantikan janji kepada Abraham dan Anak Allah? “Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya. ” Janji Allah kepada Abraham dan Anak-Nya tidak menjadi hilang kuasanya karena datangnya hukum Taurat. Manusia, melalui usaha untuk melakukan hukum Taurat, tidak akan dapat menjadi ahli waris dari janji-janji Allah. Jika dapat, maka berkat-berkat Allah tidak lagi tergantung kepada apakah Allah menepati janji-Nya. “Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji. ” Hal ini tidak mungkin terjadi, karena “justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham. ” Pekerjaan Allah diantara umat manusia tergantung kepada kemampuan-Nya untuk menepati janji-janji-Nya. Tidak tergantung kepada kemampuan kita untuk hidup menurut kesempurnaan hukum Taurat Allah.

Doa

Allah Bapa, hatiku diteguhkan oleh janji-janji yang Engkau buat dengan Anak-Mu, Yesus Kristus. Aku bersukacita karena pekerjaan-Mu di dalam hidupku tergantung kepada janji-Mu dan bukan berdasarkan usahaku. Amin.