Janji manusia atau janji Tuhan

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Janji manusia atau janji Tuhan

Saat Teduh
Tanggal Kamis, 20 Juni 2019
Sebelumnya Rabu, 19 Juni 2019
Selanjutnya Jumat, 21 Juni 2019

Lalu datanglah Musa dan memanggil para tua-tua bangsa itu dan membawa ke depan mereka segala firman yang diperintahkan TUHAN kepadanya. Seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama: "Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan." (Keluaran 19:7-8)

Janji-janji dalam perjanjian lama bergantung kepada usaha manusia. “Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan peraturan-Ku. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya” (Im 18:5). Janji-janji yang lebih baik di dalam perjanjian baru kasih karunia bergantung kepada kemampuan Allah. “Aku akan mengadakan perjanjian baru… Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka” (Yeremia 31:31,33).

Ketika manusia berusaha untuk hidup di dalam hukum Taurat, maka ia akan cenderung untuk mencoba hidup sesuai dengan janjinya kepada Allah. Bangsa Israel adalah contoh yang sangat jelas dari usaha yang sia-sia ini. “Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan." Bangsa Israel sebenarnya bermaksud baik ketika membuat janji ini, tetapi pada pelaksanaannya mereka berulang kali gagal melakukannya. Kata-kata Musa menjadi peringatan dari kesia-siaan usaha untuk memenuhi janji kita kepada Allah. “Bahkan kamu menentang TUHAN, sejak aku mengenal kamu” (Ulangan 9:24).

Keinginan untuk taat kepada Allah memang ada di dalam hati anak-anak-Nya, tetapi harus ada jalan yang lebih baik dari pada mengandalkan kekuatan kita sendiri untuk memenuhi janji kita kepada Dia. Jalan yang lebih baik ini adalah jalan kasih karunia yang menawarkan hidup berdasarkan janji Allah kepada manusia. “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya” (Yehezkiel 36:26-27).

Seharusnya kita hidup berdasarkan janji-janji Allah kepada kita, bukan janji-janji kita kepada Dia. Hidup di dalam janji-janji Allah akan menumbuhkan kepercayaan yang semakin besar kepada Allah, sebuah rasa percaya yang dihasilkan karena karakter-Nya sebagai Allah. “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? (Bilangan 23:19). Manusia bisa membuat banyak janji kepada Allah, tetapi, pada akhirnya akan gagal. Tuhan tidak seperti manusia. Tuhan menepati setiap perkataan-Nya. Ia tidak mungkin berbohong, Ia juga tidak akan mengingkari janji-Nya sendiri. Apapun yang sudah Ia janjikan, Ia akan tepati! Kita dapat mengandalkan semua janji-janji-Nya yang tertulis di dalam Firman-Nya.

Doa

Ya Allah sumber kebenaran, ampuni aku jika sering kali aku mencoba untuk bertumbuh dalam iman dengan mengandalkan janji-janjiku kepada Mu. Engkau tahu bahwa aku seringkali gagal. Betapa aku bersukacita bahwa aku dapat memilih untuk hidup berdasarkan janji-janji-Mu kepada ku. Ajar aku untuk hidup di dalam kasih karunia-Mu ini. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin.