Kasih karunia dan buah rohani (2)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Kasih karunia dan buah rohani (2)

Saat Teduh
Tanggal Senin, 11 Februari 2019
Sebelumnya Minggu, 10 Februari 2019
Selanjutnya Selasa, 12 Februari 2019

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:4-5)

Walaupun ayat-ayat di atas tidak menyebut kata ‘kasih karunia,’ tetapi prinsip kasih karunia yang menghasilkan buah dijelaskan dalam ayat-ayat ini. Gambaran yang digunakan adalah mengenai kebun anggur, di mana buah anggur hanya dapat muncul pada ranting-ranting yang menempel pada pokok anggur. Demikianlah dalam kehidupan orang percaya, di mana hanya dapat menghasilkan buah rohani jika orang tersebut terhubung kepada Yesus.

Dalam pengajaran ini, Tuhan Yesus mengingatkan kita bahwa ranting-ranting anggur tidak dapat menghasilkan buah dengan sendirinya. “Ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri.” Kita adalah ranting-ranting rohani, kita pun tidak dapat berbuah dengan sendirinya. “Demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” Bahkan kita sama sekali tidak memiliki potensi untuk menghasilkan buah rohani. “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Sebaik-baiknya yang dapat kita hasilkan dengan kekuatan kita sendiri adalah ritual keagamaan yang hampa.

Buah tumbuh dari kehidupan yang mengalir. Kehidupan hanya bisa didapatkan dari batang (pokok) pohon, bukan dari ranting. Supaya buah anggur dapat tumbuh pada suatu ranting, makanan kehidupan harus mengalir melalui ranting dari pokok anggur. Demikian juga dengan kita, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya.” Perbedaan ini sangatlah penting. Kita tidak boleh melupakan perbedaan ini jika kita ingin berbuah. Kehidupan yang kita butuhkan supaya berbuah berasal dari Dia, bukan dari kita.

Bagaimana caranya kita mendapatkan makanan kehidupan yang diperlukan untuk berbuah? “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Kita harus memandang kepada Yesus sebagai sumber kehidupan, dan mengandalkan Dia untuk hidup di dalam kita dan melalui kita. Sehingga kehidupan Yesus yang bekerja di dalam kita, akan menghasilkan buah-buah rohani. Bagaimana caranya kita tahu bahwa kita hidup di dalam Dia? Yaitu jika kita bersedia untuk mengandalkan Yesus saja untuk menghasilkan buah, sama seperti ranting yang bergantung kepada pokok anggur. Pengandalan diri seperti ini akan memberikan pengharapan yang benar bahwa keserupaan dengan Kristus akan muncul dalam hidup kita. “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak.”

Gambaran ini menjelaskan dengan seksama bagaimana kasih karunia bekerja dengan iman dan kerendahan hati. Iman berperan pada saat kita percaya bahwa “barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak.” Kerendahan hati berperan pada saat kita mengakui bahwa “di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Doa

Tuhan Yesus, pokok anggurku yang sejati. Dengan rendah hati aku mengakui bahwa Aku tidak dapat menghasilkan buah dengan kekuatanku sendiri. Aku mengakui bahwa jika Engkau tidak bekerja di dalam aku, aku tidak akan pernah dapat menghasilkan kehidupan yang berkenan di hadapan Mu. Maka, dengan pengharapan yang penuh, aku memandang hanya kepada Mu untuk memberikan kehidupan yang aku perlukan. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amin.