Jalan masuk ke dalam kasih karunia

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
AyoSaatTeduh fitted.png

Jalan masuk ke dalam kasih karunia

Saat Teduh
Tanggal Minggu, 3 Februari 2019
Sebelumnya Sabtu, 02 Februari 2019
Selanjutnya Senin, 04 Februari 2019

Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin. (Wahyu 22:21)

Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya. (2 Korintus 8:9)

Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. (2 Korintus 9:8)

Dalam pembahasan yang lalu kita sudah melihat bahwa kasih karunia yang melimpah disediakan oleh Tuhan, bukan hanya untuk pembenaran atau lahir baru, tetapi juga untuk pengudusan atau proses pendewasaan rohani kita. Namun, bagaimanakah cara seseorang masuk ke dalam kasih karunia Tuhan? Bagaimanakah cara seseorang hidup dari hari ke hari di dalam kasih karunia? Kita akan melihat dua realitas yang Tuhan ingin bentuk dalam hidup kita, supaya kita menjalani kehidupan sehari-hari kita di dalam kasih karunia-Nya. Pertama-tama mari kita merenungkan dari mana kasih karunia didapatkan.

Kasih karunia hanya dapat ditemukan di dalam satu pribadi, “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus.” Artinya, untuk mendapatkan kasih karunia ini, kita harus bertemu dengan pribadi sumber kasih karunia ini. Tidak mengherankan, banyak sekali surat-surat dalam Perjanjian Baru diakhiri dengan “Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian!”

Tuhan bukanlah Tuhan yang suka menggunakan kata-kata yang sia-sia atau kosong atau sekedar sebagai suatu formalitas. Kata penutup yang diulang-ulang ini menunjukkan apa yang menjadi isi hati Tuhan. Ketika Firman Tuhan ditutup dengan kata-kata ini, apapun pesan yang mendahuluinya harus diaplikasikan dengan kasih karunia dari Tuhan Yesus Kristus.

Realitas yang kedua adalah, dengan kemampuan siapakah kehidupan orang Kristen bergantung? Sering kali kita lebih bergantung kepada kemampuan kita sendiri. “Apakah aku mampu untuk menyenangkan dan melayani Tuhan?” “Apakah aku mampu untuk menjadi saksi yang efektif?” Firman Tuhan selalu menunjuk kepada kemampuan Tuhan, bukan kemampuan kita. “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah” (Ibrani 7:25). “Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung” (Yudas 1:24). “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan” (Efesus 3:20).

Setelah kita menemukan jalan masuk kepada kasih karunia, kita mungkin berpikir “Lalu, apakah aku bisa hidup dengan kasih karunia Tuhan?” Sekali lagi, masalahnya bukanlah kemampuan kita, tetapi kemampuan Tuhan. “Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu” Jika kita mau mengandalkan Dia yang sanggup, yaitu Allah kita, maka kita akan mengalami kasih karunia-Nya yang menguduskan dalam hidup kita.

Doa

Tuhan yang penuh Kasih, ajarlah aku mengenai luar biasanya kasih karunia-Mu. Ingatkan aku selalu akan Yesus sumber kasih karunia. Aku mengakui kesalahanku ketika mencoba hidup dalam kasih karunia sebatas pengetahuan saja, bukan dalam hubunganku dengan pribadi yang agung Yesus Kristus. Tolong aku untuk selalu ingat bahwa hidup dalam kasih karunia adalah berdasarkan kemampuan Mu yang tidak terbatas, bukan kemampuanku. Tuhan, aku menantikan Engkau melimpahkan segala kasih karunia-Mu dalam hidup ku. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amin.