Pikiran negatif

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Pikiran negatif dapat merusak hubungan, pelayanan, komunitas, dan keluarga apabila tidak segera ditawan di dalam Kristus. Firman Tuhan mengajarkan kita untuk memikirkan hal-hal yang benar, mulia, suci, dan berkenan kepada Tuhan. Ketika pikiran kita ditaklukkan kepada Kristus, kita dapat hidup dalam damai, kesatuan, dan pengharapan kepada janji Tuhan.

Jadi akhirnya, Saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Filipi 4:8

Firman ini ditujukan kepada jemaat di Filipi. Salah satu alasan Paulus menulis surat ini adalah karena pada waktu itu ada konflik di antara jemaat. Menariknya, mereka yang mengalami konflik bukanlah orang-orang yang jauh dari pelayanan, melainkan orang-orang yang sama-sama pernah berjuang dalam pemberitaan Injil bersama Paulus.

Konflik bisa terjadi bahkan di antara orang-orang yang sudah aktif melayani. Salah satu penyebabnya adalah pikiran negatif yang ada di dalam diri kita.

Pikiran negatif adalah asumsi atau prasangka buruk terhadap orang lain tanpa dasar yang cukup, tetapi kita sudah merasa yakin bahwa itu benar. Kita membuat kesimpulan sebelum mengetahui kebenarannya. Kita mulai curiga kepada orang lain, menganggap orang lain berpikir buruk tentang kita, atau menafsirkan perkataan orang secara negatif tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.

Hal seperti ini dapat membuat hubungan menjadi tidak baik. Padahal belum tentu apa yang kita pikirkan itu benar. Pikiran kita adalah medan peperangan rohani yang sering dipakai iblis untuk menyerang kita.

Ada sebuah ilustrasi tentang tiga ekor kura-kura yang berencana pergi piknik. Mereka mempersiapkan bekal berupa roti, kue, dan minuman bersoda. Tempat piknik itu sangat jauh, membutuhkan tiga hari perjalanan. Namun ketika mereka tiba di tempat tujuan, mereka baru sadar bahwa pembuka botol tertinggal. Kura-kura yang tua meminta kura-kura yang lebih muda untuk kembali mengambil pembuka botol. Tetapi kura-kura muda itu menolak dan berkata, “Saya tidak mau. Nanti waktu saya pergi, kalian pasti menghabiskan semua makanan yang kita bawa.” Kura-kura tua dan kura-kura lainnya berjanji bahwa mereka tidak akan memakan bekal itu. Akhirnya kura-kura muda pun pergi. Satu hari berlalu, satu minggu berlalu, bahkan satu bulan berlalu, tetapi kura-kura muda itu tidak kembali. Akhirnya kura-kura yang lain berkata, “Sepertinya dia tidak akan kembali.” Lalu mereka mulai membuka bekal dan memakannya. Tetapi tiba-tiba kura-kura muda itu melompat dari balik batu dan berkata, “Nah, saya sudah menduga! Kalian pasti memakan bekal ini tanpa saya.” Ternyata selama satu bulan ia tidak pergi, tetapi bersembunyi di balik batu hanya untuk membuktikan pikiran negatifnya.

Dari ilustrasi ini, kita belajar bahwa pikiran negatif sangat merugikan. Pikiran negatif dapat menimbulkan perpecahan, konflik dalam pelayanan, komunitas, bahkan keluarga. Tidak sedikit COOL menjadi lemah atau bubar karena pikiran negatif di antara anggotanya. Hubungan suami istri dan keluarga pun bisa menjadi tidak harmonis karena prasangka-prasangka yang tidak dikendalikan. Karena itu, kita harus menang atas pikiran negatif. Firman Tuhan mengajarkan agar kita menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.

Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, (2 Korintus 10:5)

Mari kita belajar menjaga pikiran kita. Jangan biarkan prasangka, kecurigaan, dan pikiran negatif menguasai hati kita. Sebaliknya, pikirkanlah semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, dan yang berkenan kepada Tuhan. Dengan pikiran yang ditaklukkan kepada Kristus, kita dapat membangun hubungan yang sehat, menjaga kesatuan dalam pelayanan, dan melihat janji-janji Tuhan dalam hidup kita. Amin.

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. (2 Timotius 1:7)