Membangun karakter, pondasi seorang murid Kristus
| Devosi | |
|---|---|
| Tanggal | 18 Mei 2026 |
| Penulis | Sub Divisi Profetik |
| Artikel devosi lainnya | |
| |
Di tengah gempuran konten dari berbagai media sosial, juga semakin lamanya waktu yang dihabiskan pada layar gawai, ternyata menimbulkan dampak negatif pada cara berpikir, bertindak maupun kehidupan rohani seseorang. Satu unggahan (postingan) di media sosial tanpa disadari dapat merubah konsep bahkan meruntuhkan iman percaya kepada Kristus. Memang tidak semua unggahan memiliki efek buruk, namun peperangan algoritma yang dunia sodorkan pada layar gawai sangatlah masif.
Satu klik pada tombol like atau subscribe di sebuah unggahan dapat langsung membentuk feed (beranda) atau algoritma akun media sosial. Contoh : Andi memencet tombol like pada unggahan tentang otomotif pada akun instagramnya, algoritma dengan cepat akan menampilkan puluhan bahkan ratusan unggahan berisi otomotif. Sehingga tanpa sadar Andi 'dipaksa' menghabiskan waktu berjam-jam di layar gawainya, fenomena ini yang sering disebut dengan doomscrolling.
Ini hanyalah salah satu dampak buruk media sosial yang sedang dihadapi, masih ada daftar panjang lainnya yang perlu dihindari.
Singkatnya melalui media sosial dunia sedang membentuk how we think (pikiran), how we feel (perasaan), dan how we act (tindakan). Roma 12:2 berkata Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Menjadi murid Kristus berarti tidak mengikuti apa yang dunia tawarkan. Termasuk melalui platform media sosial.
Membangun karakterlah yang menjadi jawaban untuk tetap berdiri teguh dan membuat iman kita kepada Kristus tidak bergoncang. Karakter Kristus adalah pondasi orang percaya untuk melawan segala godaan dan daya tarik dunia. Pondasi yang kokoh akan tetap berdiri sekalipun dihantam badai pencobaan. Walau Tuhan ijinkan goncangan semakin besar, namun seorang murid yang memiliki karakter Kristus justru akan mengalami janji-janji-Nya di tahun kering sekalipun.
Namun karakter tidak dibangun secara instan, diperlukan komitmen dan janji juga dilandasi integritas dalam waktu yang tidak singkat. Sehingga membangun karakter menjadi pilihan yang tidak populer, karena lebih mudah membangun apa yang nampak secara kasat mata : bagaimana kita berbicara, berpakaian, atau memiliki banyak pengikut (followers) di media sosial.
1 Petrus 3:3-4 dengan jelas berbicara bahwa fokus seorang murid bukan lagi kemolekan atau kecantikan secara lahiriah. Karena sifatnya yang sementara, namun Petrus menekankan untuk mengejar yang bersifat kekal yaitu karakter. Memiliki karakter Kristus akan membawa engkau menyelesaikan pertandingan iman dengan gilang-gemilang dan menerima mahkota kehidupan.
Amin. Tuhan Yesus Memberkati.
Membangun karakterlah yang menjadi jawaban untuk tetap berdiri teguh dan membuat iman kita kepada Kristus tidak bergoncang. Karakter Kristus adalah pondasi orang percaya untuk melawan segala godaan dan daya tarik dunia. Pondasi yang kokoh akan tetap berdiri sekalipun dihantam badai pencobaan.