Garam dan terang di dunia yang hambar dan gelap
| Renungan khusus | |
|---|---|
| Tanggal | 26 April 2026 |
| Penulis | Pdm Junus Mulyana, MTh |
| Renungan khusus lainnya | |
| |
- "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
- Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin disembunyikan.
- Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga memberi terang kepada semua orang di dalam rumah itu.
- Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
- (Matius 5:13-16 TB2)
Khotbah Tuhan Yesus tentang garam dan terang dunia dipakai sebagai metafora untuk menggambarkan kehidupan orang Kristen yang mempengaruhi dunia, pada intinya menekankan bahwa orang Kristen tidak boleh hidup sebagai gated community (masyarakat yang dipagari). Orang Kristen harus berbaur dan terlibat dalam kehidupan masyarakat, serta memberikan pengaruh positif dengan menjalankan kebenaran, keadilan, kesalehan hidup, dan tidak kompromi dengan cara hidup dunia.
Posisi seperti ini menyiratkan bahwa kehidupan Kristen akan selalu diperhatikan oleh orang lain dan Kekristenan akan selalu dibandingkan dengan kepercayaan lain. Orang Kristen tidak hanya diperintahkan untuk menyamai, melainkan melebihi mereka di dalam kesalehan. Jika di tengah situasi yang mudah dan nyaman saja orang Kristen kadang gagal memainkan peran sebagai garam dan terang, bagaimana jika berada dalam tekanan dan aniaya? Ini bukan peran yang mudah tentunya. Ini juga berbicara mengenai identitas; bukan sekadar peran. Peran justru muncul dari identitas. Hanya orang Kristen yang dapat menjadi garam dan terang dunia. Karena sebagai pengikut Kristus kita berbeda dengan orang dunia, kita bukan sekedar orang yang memiliki agama tertentu, namun memiliki identitas dan peranan khusus di dunia ini.
Garam
Garam mempunyai beberapa manfaat: sebagai penyedap masakan, sebagai pupuk, dan yang paling utama sebagai pengawet makanan, karena garam dapat memperlambat pembusukan. Dunia sekarang sedang berada dalam keadaan yang mendekati kebusukan dan ketawaran. Di tengah situasi ini orang Kristen terpanggil untuk menunjukkan identitasnya, mempertahankan apa yang baik dan mencegahnya dari kebusukan dengan membawa “rasa" Kristus ke dalam dunia yang hambar secara rohani dan juga menahan kerusakan moral dengan kesalehan hidup. Tujuannya adalah memenangkan jiwa tanpa suara seperti garam yang menyebarkan rasa-nya ke mana-mana, bekerja dengan pasti dan tanpa penolakan seperti bekerjanya ragi (Matius 13:33).
Hari-hari ini kita berada di lingkungan yang mulai terbiasa dengan pergaulan bebas, sex sebelum menikah, tidak setia kepada pasangan dll. Kita tidak perlu menjauhi mereka, tetapi justru menjadi teladan bagi mereka. Orang-orang akan melihat kita sebagai orang yang tetap mempertahankan kehidupan yang kudus sesuai dengan norma-norma Kerajaan Allah. Hidup kita berfungsi seperti garam yang mencegah kebusukan bagaikan disinfektan moral dalam dunia yang standar moralnya rendah.
Terang
Yesus adalah terang dunia, orang Kristen adalah sama seperti Yohanes Pembaptis yang hanya menjadi pelita yang sementara (Yohanes 5:35) yang mengarahkan orang belum percaya kepada Kristus. Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, terang hampir selalu melambangkan kemurnian, kebenaran, wahyu, dan kehadiran Allah. Kehadiran orang Kristen harus mampu melambangkan hal-hal itu dalam masyarakat dan harus memancarkannya di manapun mereka berada.
Orang Kristen dipanggil untuk memainkan peranan sebagai terang di tengah kegelapan dunia. Justru di tengah kegelapan inilah keberadaan orang Kristen menjadi bermanfaat.
Contoh: Di tengah lingkungan sekitar kita yang senang bergosip, cepat menghakimi dan menghujat orang, tetapi tiba-tiba orang-orang mendengar dan menyaksikan bahwa tutur kata kita yang baik, santun, dan selalu menggunakan perkataan untuk menasihati dan membangun orang lain. Tentu saja orang-orang akan langsung merasakan adanya perbedaan. Atau di lingkungan kerja kita banyak yang melakukan kecurangan, manipulasi, bahkan korupsi, tetapi kita tetap memperjuangkan kejujuran, kebenaran dan integritas. Cara hidup kita itu akan langsung menyingkapkan kegelapan yang sedang terjadi, sehingga keberadaan kita akan membawa pengaruh yang positif kepada mereka. Oleh sebab itu sangatlah wajar di manapun orang Kristen berada, lingkungan sekitarnya dapat merasakan dampaknya.
Dampak itu harus dirasakan melalui pemberitaan Injil maupun melalui cara hidup yang baik yang dapat dilihat dan diakui orang. Kita harus menjadi pelita yang menyala dan bercahaya (Yohanes 5:35), sehingga membuktikan bahwa kita benar-benar pengikut Kristus (Yakobus 3:13). Tujuannya supaya orang yang masih hidup dalam kegelapan dapat disadarkan akan dosanya, dituntun kepada kebenaran di dalam Kristus, dan pada akhirnya akan memuliakan Tuhan (Matius 5:16).
- supaya kamu tidak bercacat dan tidak bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, (Filipi 2:15 TB2)
Dunia ini gelap, sehingga memerlukan terang untuk menyinarinya. Terang itu walaupun hanya sebesar nyalanya lilin tetap berguna untuk menerangi tempat yang gelap. Dunia ini sedang membusuk, sehingga memerlukan garam untuk mencegahnya. Garam yang tidak asin tidak ada gunanya, terang yang jadi gelap pun tidak ada gunanya dan tidak berharga di mata Tuhan, sebab kehilangan hakekat dan perannya. Kalau tidak ada lagi perbedaan antara orang Kristen dan orang dunia, orang Kristen menjadi tak berguna, akan dilecehkan, diacuhkan, atau mungkin juga akan disingkirkan. Sehingga kehadiran orang Kristen menjadi tidak terasa alias tawar. Dengan demikian Tuhan tidak akan dipermuliakan tetapi justru malah dipermalukan.
Makna garam dan terang merupakan metafora yang dipakai Tuhan Yesus untuk menjelaskan suatu nilai dan manfaat hidup yang sangat penting. Kehidupan yang tidak dapat memberi nilai dan manfaat bagi orang lain merupakan kehidupan yang sia-sia. Sebab apa artinya bila hidup kita ternyata membawa kerusakan, kesedihan, dan penderitaan bagi orang lain.
- Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang bijak, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.
- Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. (Efesus 5:15-17 TB2)
Dengan kesadaran mengenai waktu yang sangat tinggi, Rasul Paulus memberikan perbandingan kontras antara orang bebal dan orang bijak. Penggolongan ini dilihat berdasarkan cara hidup mereka dalam memanfaatkan waktu. Mengapa hidup bijak dikaitkan dengan waktu? Karena setiap hari adalah kita diperhadapkan kepada banyak pilihan, kita bisa saja tergoda memanfaatkannya untuk kesenangan diri, bukan kesenangan Tuhan.
Orang bebal mempergunakan waktu yang ada untuk hidup dalam kecemaran, sedangkan orang bijak akan memanfaatkan waktunya semaksimal mungkin untuk hidup bagi kemuliaan Tuhan. Karena orang Kristen telah menerima terang maka sudah seharusnya orang Kristen mempergunakan waktunya untuk hidup sesuai terang itu.
Menjauhi kecemaran bukan berarti menjauhi orang yang melakukannya. Jika orang Kristen menjauhi orang dunia, bagaimana mereka dapat dimenangkan dan percaya kepada Tuhan Yesus dan mengalami pembaharuan hidup? Perbuatan dan orang yang berbuat adalah dua hal yang berbeda. Perbuatannya memang harus ditelanjangi agar orangnya bertobat dan mereka datang kepada Tuhan Yesus untuk menerima pengampunan dosa.
Hakikat menentukan fungsi. Adalah tidak benar bila anak-anak terang hidup dalam kegelapan. Di tahun Amanat Agung ini biarlah kita semua orang-orang percaya memiliki cara hidup yang menjadi garam dan terang bagi dunia yang gelap ini, dengan cara tidak ikut budaya kantor yang toxic, tidak menyebarkan hoax, ujaran kebencian atau provokasi berbau SARA, sebaliknya menjadi pribadi yang mengembangkan diri dan kemampuan, menjaga integritas, mendukung teman-teman di dunia usaha, sehingga banyak jiwa yang dimenangkan bagi Tuhan. Amin.(JM)
Khotbah Tuhan Yesus tentang garam dan terang dunia dipakai sebagai metafora untuk menggambarkan kehidupan orang Kristen yang mempengaruhi dunia, pada intinya menekankan bahwa orang Kristen tidak boleh hidup sebagai gated community (masyarakat yang dipagari). Orang Kristen harus berbaur dan terlibat dalam kehidupan masyarakat, serta memberikan pengaruh positif dengan menjalankan kebenaran, keadilan, kesalehan hidup, dan tidak kompromi dengan cara hidup dunia.