Generasi muda sebagai mitra penyelesai Amanat Agung

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Dulu pemahaman kita adalah anak-anak muda, apalagi yang masih remaja, belum siap untuk tugas-tugas berat di gereja. Mereka diposisikan sebagai generasi masa depan gereja bukan generasi hari ini. Mereka adalah generasi yang harus di-“pelihara” kerohaniannya sampai matang; baru nanti setelah mencapai rentang usia yang dianggap dewasa oleh norma setempat, bisa diberikan kesempatan melayani. Tetapi sekarang seiring perkembangan zaman, kita melihat ada fenomena-fenomena sosial yang membuat gereja harus berpikir ulang terkait hal ini.

Di Jakarta sendiri pada bulan Agustus 2025 sempat terjadi demonstrasi yang menyuarakan suara rakyat untuk adanya reformasi di tubuh pemerintahan Indonesia. Tempo membuat artikel pada tanggal 4 September 2025, di mana influencer generasi muda Indonesia yang diwakili oleh beberapa orang menyerahkan secara simbolis dokumen 17+8 tuntutan rakyat kepada DPR.[1] Suara generasi muda setidaknya terdengar keras dan diperhitungkan saat itu oleh para pemangku kepentingan di DPR.

Bukan hanya di bidang politik saja, tetapi secara teologi, kita bisa melihat menjamurnya akun-akun Rohani di media sosial yang berbicara mengenai Firman Tuhan, sekedar membagikan kesaksian sehari-hari, dan bahkan membahas doktrin-doktrin Firman yang cukup dalam dan sebagian dari akun itu dimulai oleh generasi muda. Khususnya 3 tahun terakhir ini (pasca pandemi), kita melihat Persekutuan Doa secara daring masih diminati oleh generasi muda dan komunitas-komunitas Rohani secara daring terbentuk yang digagas oleh generasi muda.

Ternyata di Alkitab baik di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru juga bisa ditemukan kontribusi dari generasi muda yang cukup signifikan. Pertama, Saudara melihat bagaimana Samuel muda dipakai oleh Allah untuk memberikan pesan profetik kepada Imam Eli terkait penghakiman Tuhan untuk dia dan keluarganya (1 Samuel 3:1-10). Pada saat krisis kepemimpinan Rohani di Israel, di mana “firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatan pun tidak sering” (ayat 1), Allah memakai Samuel yang masih sangat muda untuk menjadi nabi berikutnya. Hal ini menegaskan bahwa kepekaan Rohani, bukan usia, adalah kualifikasi utama dari pelayanan profetik.

Kedua, kita melihat bagaimana dalam peristiwa Naaman yang sakit kusta, seorang gadis Israel yang sebetulnya menjadi tawanan perang dan bekerja untuk istri Naaman, justru menjadi pembawa kabar baik bahwa ada nabi di Israel yang sanggup menyembuhkan tuannya Naaman dari sakit kusta (2 Raja-raja 5:1-5). Gadis ini, kita tidak tahu namanya dan tidak memiliki posisi struktural, namun kesaksiannya menjadi pintu untuk pekerjaan Allah lintas bangsa. Bisa dibilang dia menjadi tenaga misi anak muda pertama yang merantau keluar dan menjaring jiwa (ayat 17).

Ketiga, panggilan untuk nabi Yeremia sendiri pada usia yang masih muda. Yeremia bahkan memberikan alasan kepada Tuhan

“Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda” (Yeremia 1:6),

tetapi lihat jawaban Tuhan kepadanya:

“Janganlah katakan: Aku ini masih muda” (ayat 7).

Allah sendiri tidak meremehkan generasi muda dan justru menegaskan otoritas panggilan-Nya atas Yeremia. Bukankah hari ini kita berdoa untuk kebangkitan generasi Yeremia Saudara? Maka sudah seharusnya paradigma kita tentang pemberdayaan generasi muda perlu diperluas agar Amanat Agung bisa cepat selesai.

Di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menegur murid-murid-Nya yang menghalangi anak-anak kecil untuk datang kepadanya, Dia berkata:

“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku,… sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” (Markus 10:13).

Kita bisa melihat ini bukan hanya sebatas ajaran moral, tetapi sebuah pemahaman yang lebih dalam kalau anak-anak itu termasuk dalam komunitas Kerajaan Allah yang penuh. Sebagai bagian dari komunitas Kerajaan, tentu ada hal yang bisa mereka lakukan dalam kerangka bermisi. Bahkan dalam Matius 18:5, orang yang menerima anak-anak ini disebut menyambut Tuhan Yesus juga. Ini memberikan sebuah pijakan untuk gereja memberdayakan dan memperlengkapi anak-anak masuk ke dalam pelayanan.

Bukankah ayat yang sering dikutip oleh umat Pentakostal Karismatik yaitu Yoel 2:28 juga menekankan pencurahan Roh Kudus atas generasi muda?

Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan.

Dua dari tiga generasi yang dipanggil adalah anak-anak dan teruna: itu mewakili generasi muda yang sekarang ada di gereja anda dan saya. Apakah kita masih mau melihat ayat ini untuk di masa depan? Atau justru sekaranglah waktunya di mana Tuhan menggenapi ayat ini.

Terbayangkah Saudara bahwa penyelesaian Amanat Agung dalam era Pentakosta ke-3 justru melibatkan anak-anak kecil dan generasi muda? Gereja perlu memiliki perubahan paradigma untuk bisa mengakomodir generasi muda dalam tahun Amanat Agung ini, diantaranya:

  1. Ubah paradigma dari konsumen ke kontributor
  2. Pastor How dan Pastor Lia gembala dari Heart of God Church di Singapura menulis dalam bukunya GenerationS, “If you baby sit the youths, you will get babies. If you lead the youths, you will have leaders.” Generasi muda yang di ninabobokan dengan entertainment dan hanya permainan, akan menjadi bayi saja. Tetapi kalau mereka dipimpin, diperlengkapi, dan diberdayakan maka mereka akan menjadi pemimpin yang mengakselerasi penyelesaian Amanat Agung!
  3. Berikan mereka kesempatan melayani sekarang
  4. Jangan tunggu waktu yang tepat untuk mereka melayani, dan mulai dari sekarang berikan tanggung jawab secara nyata dari hal-hal kecil sembari didampingi dari generasi senior. Ya, mereka akan buat kesalahan, tetapi justru di situ letak Kerjasama lintas generasinya. Anak-anak muda yang dilatih dari sekarang, maka akan semakin cepat gereja melahirkan tenaga misi untuk menuntaskan Amanat Agung. Ajak mereka terlibat dalam pelayanan misi berikutnya. Ajar anak-anak Sekolah Minggu untuk bersaksi dan membagikan kasih kepada sesamanya.
  5. Pendidikan misional dalam kurikulum Sekolah Minggu, remaja, dan youth
  6. Sedari dini pemahaman bahwa anak-anak dapat dipakai oleh Allah untuk menyelesaikan Amanat Agung perlu ditanamkan— secara konsisten dengan experiential learning. Apa maksudnya? Mereka bukan hanya belajar Firman, tetapi mengalami juga di lapangan bagaimana mereka bisa terlibat aktif di dalam menginjil dan menjangkau jiwa. Apalagi di zaman serba digital sekarang ini, ada banyak potensi menjangkau jiwa yang bisa mereka lakukan.

Akhir kata, mari kita bersama-sama lintas generasi menuntaskan Amanat Agung dalam semangat Pentakosta ke-3! Generasi muda bukan hanya generasi masa depan, tetapi mereka adalah generasi hari ini yang jika mendapat visi yang membakar, mereka akan memberikan hidupnya untuk menghidupi visi itu. Tuhan Yesus memberkati. (DAP)

Referensi