Harapan di tengah badai

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
Renungan Khusus 2019.jpgRenungan Khusus 2019-1x1.jpg
Renungan khusus
Tanggal15 Januari 2023
PenulisWilly PandiPdp Willy Pandi, BSc, MTh
Sebelumnya
Selanjutnya

Sebagai orang percaya, kita pasti cukup sering mendengar khotbah yang berbicara tentang pengharapan di dalam Tuhan. Kita tahu bahwa:

... pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. (Roma 5:5)

KBBI mendefinisikan ‘harapan’ sebagai “keinginan supaya menjadi kenyataan”.

Westminster Dictionary of Theological Terms mendefinisikan ‘harapan’ sebagai “antisipasi orang Kristen akan masa depan sebagai penggenapan tujuan Allah berdasarkan kesetiaan perjanjian Allah dan kebangkitan Yesus Kristus yang dikenal dengan karya Roh Kudus di dalam gereja” (diterjemahkan secara bebas oleh penulis).

Dari definisi di atas, mari kita lihat bersama-sama, bagaimana agar orang percaya tetap memiliki pengharapan yang teguh kepada Tuhan di tengah kesulitan.

Dalam suatu kesempatan, Presiden Joko Widodo menyampaikan tentang proyeksi keadaan dunia ke depannya. Beliau berkata,

Dunia sekarang ini dalam posisi yang tidak gampang, posisinya betul-betul pada posisi yang semua negara sulit. Lembaga internasional menyampaikan bahwa tahun 2022 sangat sulit, dan tahun 2023 akan lebih gelap lagi."[1]

Belum lagi fakta bahwa puluhan ribu orang setiap hari mati kelaparan karena krisis pangan di berbagai belahan dunia yang merupakan dampak dari perang Rusia-Ukraina yang masih berkelanjutan sampai sekarang.

Bisa dikatakan bahwa di tahun depan, dunia mungkin akan menghadapi krisis multidimensi. Tentu saja bagi sebagian orang, krisis multidimensi dapat menyebabkan stress, depresi, sakit jasmani, tidak jarang ekstremnya bahkan sampai ke tahap mengambil nyawanya sendiri. Mengapa seseorang bisa sampai ke tahap ini? Jawabannya adalah karena ia kehilangan harapan.

Setiap hari, mata dan telinga kita disodori berita-berita semacam ini, yang suka atau tidak suka merupakan fakta lapangan yang mungkin dapat merebut sukacita dan damai sejahtera kita sebagai orang percaya. Satu-satunya kunci agar sukacita dan damai sejahtera selalu melingkupi kita adalah dengan terus memiliki pengharapan yang teguh di dalam Tuhan, bahwa Ia adalah Tuhan yang sanggup menjaga kehidupan anak-anak-Nya.

Alkitab berkata,

Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, (Ibrani 6:19)

Sauh artinya sebuah jangkar, di mana secara metafora, juga merupakan suatu hal yang dipakai untuk melindungi seseorang atau sesuatu atau mencegah sesuatu yang tidak diinginkan. Nakhoda kapal menggunakan jangkar untuk menambatkan kapal ke dasar perairan sehingga kapal tidak berpindah tempat karena hembusan angin, arus, atau gelombang. Di dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, banyak hal yang diumpamakan sebagai ‘badai’ kehidupan yang dapat membuat seseorang menjadi terombang-ambing tanpa arah tujuan yang jelas. Bukan saja terombang-ambing, tanpa jangkar ini, bahtera tersebut bahkan bisa tenggelam. Pengharapan kepada Tuhan adalah jangkar yang kuat dan aman untuk jiwa kita karena Tuhan Yesus yang kita percaya dan menjadi sumber harapan kita telah masuk ke dalam surga sebagai Perintis bagi kita dan menjadi Imam Besar. (Ibrani 6:20)

Tuhan Yesus bukanlah Imam Besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa." (Ibrani 4:15)

Mari kita belajar dari Mazmur 77, yang adalah mazmur dari Asaf.

Mazmur ini diawali dengan keluhan-keluhan dukacita (ayat 1-10) tetapi diakhiri dengan penghiburan (ayat 11-20). Mazmur ini menggambarkan orang percaya yang berada dalam jurang keputusasaan, di mana ia mempertanyakan kasih setia Tuhan ketika mengalami suatu penderitaan yang berat. Penderitaan yang berat membuatnya tergoda untuk tidak lagi berharap kepada Tuhan (ayat 2-11).

Namun, kemudian ia membesarkan hatinya untuk terus berharap bahwa semuanya akan menjadi baik-baik saja pada akhirnya. Mazmur bernada ratapan ini sesungguhnya menunjukkan bahwa Allah tidak menolak umat-Nya ketika mereka menangis dan mempertanyakan kasih setia-Nya.

Memiliki pengharapan di tengah kesulitan

Apa yang membuat Asaf tetap memiliki pengharapan di tengah kesulitan?

  1. Asaf tidak lagi berfokus kepada penderitaan yang sedang ia alami
  2. Sumber daripada kegelisahan Asaf (ayat 4) adalah keraguannya kepada Tuhan (ayat 7-9). Namun, kita melihat bahwa dari ayat 13-20, ia tidak lagi menggunakan kata ‘aku’, melainkan merubah fokusnya dari memikirkan tentang dirinya sendiri menjadi memuliakan Tuhan. Pada saat ia mengesampingkan keakuannya, barulah ia dapat menghilangkan kegelisahannya. Hal ini akan menjadi obat yang ampuh untuk melawan ketidakpercayaan terhadap janji dan kesetiaan Allah di masa kini dan maupun di masa yang akan datang.

  3. Asaf setia menjadi penyembah Tuhan
  4. Alkitab mencatat di beberapa bagian tentang kehidupan Asaf, yaitu bahwa ia adalah salah satu penyembah di rumah Tuhan. (I Tawarikh 6:39)

    Namun, ia bukan saja hanya sesekali menyembah, melainkan:

    tetap melayani di hadapan tabut itu seperti yang patut dilakukan setiap hari. (I Tawarikh 16:37)

    Dari hal ini dapat kita simpulkan bahwa Asaf memiliki kerinduan yang besar dalam hal memuji dan menyembah Tuhan. Perjumpaan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan dalam pujian dan penyembahan, tidak dapat disangkal, menjadi kekuatan bagi Asaf dalam menghadapi berbagai kesulitan dan untuk terus berpengharapan kepada Tuhan.

Pengharapan berasal dari iman kita akan kesetiaan Tuhan. Hal ini berarti, dasar dari pengharapan kita adalah kesetiaan Tuhan, dan setiap janji Allah yang didasarkan atas kesetiaan-Nya adalah suatu jaminan bagi pengharapan kita. Iman membuat kita menang atas dunia ini. Pengharapan membuat kita mampu untuk mengarahkan pada dunia yang akan datang. Yang kita harapkan bukanlah dunia yang kelihatan ini, karena dunia ini adalah sementara, sedangkan dunia yang akan datang adalah dunia yang kekal. Jadi, iman akan menghasilkan pengharapan, dan pengharapan akan mengarahkan mata kita kepada kekekalan. Itulah yang membuat kita tidak terlalu mengutamakan dunia yang kelihatan ini.

Mari kita belajar dari Abraham yang dengan tekun:

menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. (Ibrani 11:10)

Ia tidak melihat kesementaraan di dunia ini, melainkan ia melihat jauh ke depan, yaitu sesuatu yang lebih baik yang telah disediakan oleh Allah. Inilah pengharapan.

Pada saat kita berada di tengah-tengah kesulitan, tetaplah percaya dan berharap kepada Allah sebab Dia sanggup menolong kita. Pengharapan itu seperti secercah cahaya di ujung sebuah lorong yang gelap. Saat seseorang berjalan terus ke depan, tanpa melihat ke arah sebaliknya, pastilah ia akan sampai ke tempat di mana cahaya itu berasal.

Tahun 2023 mungkin bukanlah tahun yang mudah untuk dilalui, tetapi percayalah bahwa Tuhan yang telah membawa kita masuk ke dalam tahun 2023, maka Tuhan yang sama akan membawa kita untuk melaluinya. Biar kita selalu mengingat Firman-Nya,

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:13)

Mari kita masuki tahun 2023, dan raihlah kemenangan di dalam Tuhan. (WP)

Referensi

  1. ^ “Gejala Mulai Terlihat! Jokowi: Dunia Gelap 2023 Itu Nyata!”, https://www.cnbcindonesia.com/news/20220927091628-4-375203/gejalanya-mulai-terihat-jokowi-dunia-gelap-2023-itu-nyata, diakses pada tanggal 24 November 2022.

Sumber

  • Willy PandiPdp Willy Pandi, BSc, MTh (15 Januari 2023). "Renungan Khusus". Warta Jemaat. GBI Jalan Gatot Subroto. Diakses pada 20 Januari 2023.

    Sebagai orang percaya, kita pasti cukup sering mendengar khotbah yang berbicara tentang pengharapan di dalam Tuhan.