Memahami keberadaan hati nurani

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari

Dalam banyak kesempatan, anak-anak Tuhan suka makan daging yang lezat di tempat makan yang pemiliknya bukan anak Tuhan. Kalau pemiliknya bukan anak Tuhan, sangat mungkin daging yang lezat tersebut dilibatkan dalam ritual kepercayaan dari si pemilik rumah makan. Apakah anak Tuhan berdosa memakan daging yang lezat tersebut? Sebagian akan berkata, “Jangan makan, bisa saja daging tersebut dipersembahkan kepada berhala.” Tapi sebagian lagi berkata, “Tidak masalah memakannya, apa sih berhala itu, bukankah ada Tuhan yang berdaulat di atas berhala?” Inilah kira-kira situasi yang terjadi dengan umat Tuhan di kota Korintus dua ribu tahun yang lalu dalam

1 Korintus 8.

Situasi seperti ini dapat saja terjadi dalam berbagai bentuk di masa kini. Aktivitas 'makan daging lezat' dapat saja mengambil bentuk lain, seperti ‘berada di gedung bioskop’ dan yang lainnya. Perbedaan sikap yang terjadi dalam kasus seperti ini sering menjadi perdebatan dalam gereja; atau daripada berdebat, lebih baik dianggap tidak ada, ‘tahu sama tahu’. Apa yang sesungguhnya terjadi dalam kasus ini? Inilah perbedaan hati nurani yang dimiliki oleh setiap orang percaya!

Mengapa kita perlu memahami keberadaan hati nurani? Di era penuaiaan yang terbesar dan yang terakhir ini gereja sangat membutuhkan kesatuan di tengah keberagaman. Pemahaman akan keberadaan hati nurani dan kesadaran akan adanya perbedaan hati nurani akan lebih memperkuat kesatuan gereja. Secara pribadi, pemahaman akan fungsi hati nurani juga akan memampukan seseorang menjadi orang yang berintegritas, yaitu orang yang melakukan apa yang dia yakini benar. Karena itu, mari kita mulai menyelidiki ‘hati nurani’ dalam terang Firman.

Apa yang dimaksud dengan hati nurani?

Andy Naselli, seorang ahli Perjanjian Baru, mendefinisikannya sebagai “kesadaran akan apa yang Anda percaya sebagai benar atau salah.” Kata ‘hati nurani’ dalam bahasa Yunani, yaitu ‘suneidesis’, memiliki arti harfiah ‘persepsi bersama’ (co-perception). Ini adalah persepsi seseorang bersama dengan dirinya sendiri.

Kata ‘suneidesis’ dalam berbagai bentuk muncul sebanyak 30x dalam Perjanjian Baru. Ini berarti, Alkitab banyak berbicara mengenai hati nurani. Sebagian orang mungkin tidak menyadarinya, tapi kita ingin menjadi orang-orang yang menyadari keberadaan hati nurani ini sesuai yang Alkitab katakan. Karena hati nurani adalah sebuah kesadaran (awareness) maka hati nurani akan mengimbau kita untuk melakukan apa yang kita percayai benar dan menahan kita dari perbuatan yang kita percayai salah. Hati nurani berbeda dengan suara Tuhan atau hukum Tuhan. Ini adalah kemampuan alami manusia yang menilai dan menghakimi tindakan dan pikiran sesuai dengan standar tertinggi yang diketahuinya. Sebagai orang percaya, tentunya standar tertinggi kita dalam hal moral adalah Alkitab. Martin Luther pernah berkata, “Hati nuraniku ditawan oleh Firman Allah.”

Firman Tuhan tentang hati nurani

Karena itu, mari kita menyelidiki apa yang Alkitab katakan tentang hati nurani.

  1. Setiap orang memiliki hati nurani yang berbeda
  2. Ada orang yang hati nuraninya lemah, yaitu orang yang melihat daging yang lezat itu sebagai persembahan berhala sehingga tidak memakannya (1 Korintus 8:7). Dalam istilah lain dikatakan, “orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja.” (Roma 14:2). Namun, di ayat yang sama, ada orang yang ‘kuat’ imannya yaitu mereka yang yakin bahwa ia boleh makan segala jenis makanan.

    Perbedaan antara ‘lemah’ dan ‘kuat’ tidaklah menunjukkan perbedaan kualitas kerohanian seseorang; ini adalah perbedaan hati nurani. Yang terpenting adalah sikap antar seorang terhadap yang lain, yaitu:

    Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu. (Roma 14:3)

    Makan atau tidak makan daging bukanlah masalah dosa atau tidak, karena:

    Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. (Roma 14:17)

    Tentang perbedaan hari nurani ini, John MacArthur menjelaskan:

    “… Hati nurani yang lemah biasanya sangat sensitif dan aktif berlebihan akan hal-hal yang bukan dosa. Ironisnya, hati nurani yang lemah lebih mungkin menuduh daripada hati nurani yang kuat. Alkitab menyebutnya sebagai hati nurani yang lemah karena terlalu mudah terluka. Orang dengan hati nurani yang lemah cenderung kuatir akan hal-hal yang seharusnya tidak memprovokasi rasa bersalah bagi Kristen dewasa yang mengetahui kebenaran Allah.”
  3. Setiap orang harus menaati hati nuraninya
  4. Alkitab mengajarkan dalam Roma 14 dan 1 Korintus 8 bahwa melawan hati nurani, ketika kita tahu ia sedang memberikan peringatan yang tepat, adalah perbuatan dosa. Alkitab katakan:
    Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa. (Roma 14:23)

    Dari ayat ini kita simpulkan bahwa tindakan yang dilakukan bukanlah dosa; itu menjadi dosa ketika dilakukan melawan hati nuraninya.

    Paulus memperingatkan Timotius akan bahaya yang menimpa orang yang menolak kesaksian hati nuraninya. Ia meminta Timotius untuk “memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.” Selanjutnya dikatakan,

    Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka. (1 Timotius 1:18-19)

    Harap diperhatikan bahwa ‘ketaatan’ kepada hati nurani ada batasannya. Hati nurani dapat menjadi tidak sensitif akan hal yang buruk (1 Timotius 4:2) dan menjadi jahat (Ibrani 10:22). Karena itu, ketika Allah menunjukkan lewat Firman-Nya bahwa hati nurani seseorang memberikan penilaian moral yang salah, maka hati nuraninya harus tunduk kepada Allah dan kemudian mengkalibrasi ulang hati nuraninya sehingga lebih seturut dengan Firman-Nya.

    Inilah yang terjadi dengan Petrus dalam Kisah Para Rasul 10:9-16. Hati nurani Petrus melarangnya untuk menyantap makanan yang haram dan juga melarangnya untuk menerima orang yang tidak bersunat (gentiles) ke rumahnya. Bila Petrus melawan hati nuraninya untuk menerima orang bersunat ke rumahnya, sesungguhnya ia sudah berdosa. Akan tetapi, lewat sebuah penglihatan Allah berfirman,

    Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!;
    Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram. (Kisah Para Rasul 10:13, 15)

    Lewat perintah Tuhan ini, hati nurani Petrus dikalibrasi ulang sehingga lebih sesuai dengan kehendak Allah. Inilah salah satu bentuk paradigma yang baru, yaitu ketika TUHAN memberikan pola yang baru dan kita diberikan cara melihat yang baru. Haleluya!

Prinsip hati nurani

Tahun Paradigma yang Baru ini adalah momen yang sangat tepat untuk kita menghidupi prinsip-prinsip Firman Tuhan tentang hati nurani. Kita dapat mempraktikkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Didiklah hati nurani dengan membaca Firman Tuhan setiap hari menggunakan Bible Reading Plan (rencana membaca Alkitab) yang tersedia di aplikasi Alkitab digital.
  2. Dengan menggunakan rencana membaca yang tepat, kita dilatih untuk melihat gambaran Alkitab secara keseluruhan, terutama kaitan antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru.

  3. Diskusikan isi hati nurani kita dalam COOL, terutama ketika hendak mengambil sebuah keputusan moral.
  4. Sadari bahwa hati nurani setiap orang berbeda. Dalam kehidupan komunitas kudus, tuntunan Roh Kudus dan Firman Tuhan dinyatakan. (Kisah Para Rasul 15:1-21)

    Bacalah buku-buku yang menjelaskan prinsip Alkitab tentang hati nurani dan etika Kristen. Bukan kebetulan kalau ada beberapa buku penting tentang hati nurani yang terbit beberapa tahun terakhir ini. Semuanya seolah-olah hendak mempersiapkan kita untuk memasuki Tahun Paradigma yang Baru.

(HT)

“It is neither safe nor prudent to do anything against conscience.”
“Tidaklah aman atau bijaksana melakukan sesuatu melawan hati nurani.”

— Martin Luther

Dalam banyak kesempatan, anak-anak Tuhan suka makan daging yang lezat di tempat makan yang pemiliknya bukan anak Tuhan. Kalau pemiliknya bukan anak Tuhan, sangat mungkin daging yang lezat tersebut dilibatkan dalam ritual kepercayaan dari si pemilik rumah makan.