Tidak semua hal bisa dilakukan oleh uang

Dari GBI Danau Bogor Raya
Lompat ke: navigasi, cari
WARNING: TANGGAL (20200726) BERBEDA DENGAN JUDUL ARTIKEL (20200720)

“Ia melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah di halau TUHAN dari depan orang Israel. Ia mendirikan kembali bukit-bukit pengorbanan yang telah dimusnahkan oleh Hizkia, ayahnya; ia membangun mezbah-mezbah untuk Baal, membuat patung Asyera seperti yang dilakukan Ahab, raja Israel, dan sujud menyembah kepada segenap tentara langit dan beribadah kepadanya." (1 Raja-Raja 21:2-3)

Uang adalah komponen dalam sejarah umat manusia yang usianya hampir setua dengan sejarah umat manusia. Dimulai dari uang, logam mulia, emas dan perak, kemudian beralih kepada uang kertas, dan sekarang uang elektronik. Uang seringkali menjadi penggerak aktivitas manusia; yang baik maupun yang jahat. Hampir semua unsur kehidupan manusia berkaitan dengan uang. Uang bisa menjadi perpanjangan kemampuan untuk mengerjakan sesuatu. Uang menjadi sangat berpengaruh di tempat di mana bertemunya pembeli dan penjual, persediaan dan kebutuhan, pembuat dan pengguna. Tempat ini kita sebut sebagai ‘pasar’.

Yang menjadi pertanyaan adalah; apakah semua hal di dalam hidup dapat diperjualbelikan di ‘pasar’? Mereka yang menganut faham kapitalisme bebas berkata bahwa selama tidak ada unsur pemaksaan, maka hampir semua hal bisa diperjualbelikan. Kapitalisme memang telah terbukti selama lebih kurang 200 tahun terakhir ini menjadi mekanisme yang paling efektif di dalam menyediakan barang dan jasa secara paling efisien dan dapat dinikmati oleh sebagian besar anggota masyarakat dengan harga yang terendah.

Namun, di dalam Alkitab kita dapat melihat ada beberapa batasan di dalam ruang lingkup ‘pasar’. Suatu hari raja Ahab ingin memperluas istananya dan ia menawar tanah milik Nabot yang kebetulan terletak tepat di sebelah istananya. Dengan menggunakan standar yang berlaku pada zaman ini kelihatannya tidak ada yang salah dengan tawaran raja Ahab tersebut. Namun Nabot menjawab dengan mengutip suatu prinsip yang ada dalam hukum Taurat:

  • “Sebab milik pusaka orang Israel tidak boleh beralih dari suku ke suku, tetapi orang Israel haruslah masing-masing memegang milik pusaka nenek moyangnya." (Bilangan 36: 7)
  • “Sebab milik pusaka itu tidak boleh beralih dari suku ke suku, tetapi suku-suku orang Israel haruslah masing-masing memegang milik pusakanya sendiri." (Bilangan 36:9)

Di dalam kedua ayat tersebut tersirat sebuah prinsip bahwa milik pusaka sebuah kaum di Israel tidak boleh dipindahkan menjadi milik suku yang lain.

Demikian juga prinsip tentang tahun Yobel yang tertulis di dalam Imamat 25:10, 13:

“Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya. Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya."

Maknanya adalah setiap orang Israel harus dapat kembali ke tanah pusaka milik leluhurnya pada setiap tahun Yobel.

Tanah milik pusaka leluhur adalah gambaran bahwa setiap orang Israel memiliki kesempatan untuk hidup berhasil. Kelihatannya Tuhan tidak ingin tanah sebagai faktor produksi (kapital) terkonsentrasi hanya kepada satu golongan (bangsawan), sementara golongan lain makin lama makin tersingkir dan menjadi kaum pariah. Hal ini terjadi dalam sejarah manusia; baik di Asia, Afrika, terutama di Eropa pada abad pertengahan (feodalisme). Tuhan tidak ingin di dalam masyarakat Israel terjadi ketidakadilan secara sistemik, di mana yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin tertekan.

Sebagai orang Kristen kita harus memiliki pandangan ekonomi yang Alkitabiah. Tuhan menginginkan kita rajin bekerja dan efisien di dalam menghasilkan barang dan jasa. Namun Tuhan juga ingin kita tahu bahwa uang bukanlah tujuan terutama pengejaran hidup kita dan ada banyak hal yang tidak masuk di dalam domain ‘pasar’ yang artinya hal-hal tersebut tidak bisa diperjualbelikan.

#1 Uang tidak bisa menggantikan visi

Alasan mengapa Tuhan melarang orang Israel membeli tanah sesamanya secara permanen adalah karena Tuhan tidak menginginkan ada sebagian dari umat-Nya yang kehilangan visi untuk masa depan mereka. Selama masih ada tanah nenek moyang untuk mereka kembali dan membangun, masih tersisa harapan bagi kaum tersebut untuk masa depan mereka.

Memiliki warisan tanah nenek moyanglah yang memisahkan orang Israel dengan ‘orang asing’ di tanah Israel. Orang asing tidak memiliki ‘hak’ atas tanah Israel dan hidup di bawah belas kasihan orang Israel asli. Bangsa Israel diperintahkan untuk menunjukkan belas kasihan dan kebaikan kepada orang asing justru karena hal ini.

Di dalam zaman modern hal ini dapat disamakan dengan mereka yang tidak memiliki akses kepada pendidikan, kesehatan, kesempatan ekonomi untuk bisa hidup merdeka dan mandiri. Nabot bisa saja pada waktu itu membutuhkan uang tunai atau mungkin ia tergiur melihat tawaran raja Ahab. Raja Ahab bahkan menawarkan ‘tukar guling’ (ruislag) dengan tanah yang lebih baik, tetapi Nabot memiliki visi jangka panjang yang membuat ia melihat potensi pada tanah yang letaknya di sebelah istana raja Ahab.

Nabot menolak menjual tanah warisan nenek moyangnya kepada Ahab berapa pun harga yang ditawarkan. Pada titik ini prinsip ‘pasar’ sudah berlaku. Belum terjadi kecocokan antara persediaan dan penawaran. Seorang yang bijak akan mengerti hal ini dan mengetahui bahwa apa yang diinginkan itu sudah berada di luar yurisdiksi ‘pasar’.

#2 Uang tidak bisa mengubah kenyataan

Salah satu hal yang dapat dibeli dengan uang adalah pengetahuan dan pengalaman. Dengan kedua hal ini diharapkan kita dapat melakukan riset dan membuat kita menjadi lebih bijak. Tetapi kita tidak bisa menggunakan uang untuk memaksa orang lain berkata gelap adalah terang dan hitam adalah putih. Inilah yang dilakukan oleh ratu Izebel. Dia memaksa dua orang bersaksi dusta dan memfitnah Nabot di pengadilan.

Inilah yang dinasihatkan oleh Yesus dan rasul Paulus, uang seringkali mendistorsi kenyataan sehingga kita tidak dapat lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang palsu, mana yang benar dan mana yang salah. Seringkali kita berpikir hanya karena kita memiliki uang, kita bisa mengubah kenyataan dan memanfaatkannya untuk kepentingan kita. Jika kita melakukan hal itu maka kita sudah melanggar perintah Tuhan mengenai bersaksi dusta dan secara tidak langsung kita sedang melakukan penyembahan berhala karena kita percaya kepada kekuatan uang untuk membengkokkan kenyataan, padahal Tuhan pun tidak pernah melakukan hal itu. Tuhan Yesus berkata hendaklah kamu berkata ‘ya’ di atas ‘ya’ dan ‘tidak’ di atas ‘tidak’. Apapun yang melebihi hal itu berasal dari si jahat.

Pada akhirnya yang menjadi korban terakhir jika kita terbiasa melakukan hal ini adalah kita sendiri. Kita akhirnya kehilangan kemampuan membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak.

#3 Uang bisa mempermudah proses, tetapi tidak bisa mengubah hasil proses

Di dalam ‘pasar’ yang diperdagangkan adalah barang dan jasa. Jasa seringkali berfungsi sebagai ‘agen’ yang menolong kita di dalam suatu proses yang mungkin kita tidak terlalu ahli di dalamnya; misalnya agen perjalanan, agen asuransi, lembaga bantuan hukum dan lain sebagainya. Tetapi agen tidak bisa menggantikan kita menerima konsekuensi hasil pilihan-pilihan kita. Kita tetap bertanggung jawab kepada hasil akhir yang diakibatkan oleh pilihan-pilihan kita.

Di dalam cerita ini kita melihat bahwa Izebel menjadi agen yang melakukan keinginan Ahab dan kedua orang dursila yang bersaksi palsu melawan Nabot di pengadilan menjadi agen yang melakukan keinginan Izebel dengan asumsi bahwa mereka dibayar untuk melakukan hal itu.

Di akhir cerita itu firman Tuhan datang kepada nabi Elisa untuk menyampaikan nubuatan hukuman firman Tuhan kepada Ahab, dan juga Izebel (1 Raja-raja 21:21-26). Sesungguhnya:

“Pada hari kemurkaan harta tidak berguna,
tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut."
(Amsal 11:4)

Kita tidak bisa bersembunyi menggunakan uang dan menganggap bahwa kita bisa lolos dari konsekuensi keputusan dan perbuatan kita yang jahat.

Dari dulu telah dikatakan orang bahwa uang adalah hamba yang baik, tetapi tuan yang sangat jahat. Sangat penting bagi kita orang percaya untuk mengerti batas-batas hal apa sajakah yang bisa diperjualbelikan untuk membuat usaha kita menjadi lebih efektif dan hal-hal apa saja yang tidak bisa diperjualbelikan karena hal-hal itu sudah menjadi domain dari Tuhan sendiri.

Intisari dari pada kisah ini adalah:

  • Visi/masa depan tidak bisa diperjualbelikan
  • Martabat tidak bisa diperjualbelikan
  • Cinta kasih tidak bisa diperjualbelikan
  • Integritas tidak bisa diperjualbelikan
  • Konsekuensi tidak bisa diperjualbelikan
  • Tidak ada jumlah seberapa pun yang membuat kita mau mengambil tanggung jawab atas perbuatan salah yang dilakukan orang lain, apalagi jika itu menyangkut masa depan yang kekal.

Jika kita mengingat hal-hal di atas maka kita dengan anugerah Tuhan bisa menguasai uang dengan baik. Amin. (AL)

Sumber