Article:20260818/IN
![]() ![]() | |
| Inspirational | |
| Tanggal | 18 Agustus 2026 |
| Oleh | Frangki Sihombing |
| Baca juga | |
| |
| |
| |
Saat hidup terasa berat, Tuhan Yesus mengundang kita untuk datang kepada-Nya dan menerima kelegaan. Kesaksian Bu Christin dan adiknya mengingatkan bahwa respons yang benar terhadap masalah dapat membawa pemulihan, ketenangan, dan pertumbuhan iman. Ketika kita menyerahkan beban kepada Tuhan, hidup kita tidak hanya dikuatkan, tetapi juga dapat menjadi berkat dan memuliakan Tuhan.
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Kita semua tahu bahwa masa ini adalah saat-saat yang cukup berat bagi banyak orang. Bukan hanya di negeri kita, tetapi juga di negara-negara lain. Orang Kristen, jemaat gereja, bahkan para hamba Tuhan pun banyak yang mengalami kesulitan dalam kehidupan sehari-hari.
Ada yang bergumul dengan kebutuhan hidup, pendidikan anak-anak, tagihan bulanan, bahkan biaya pengobatan ketika sakit. Semua persoalan yang harus dihadapi itu bisa membuat banyak orang menatap masa depan dengan rasa takut, cemas, stres, bahkan tidak sedikit yang sampai mengalami depresi.
Di lingkungan rumah saya, ada seorang janda bernama Bu Christin. Usianya sekitar 65 tahun. Beliau tinggal bersama adiknya yang usianya juga tidak jauh berbeda. Bu Christin tidak memiliki anak dan tinggal menumpang di rumah adiknya, sementara adiknya pun tidak menikah.
Secara keadaan, hidup mereka sangat sederhana, bahkan dapat dikatakan dalam kondisi yang sulit dan berkekurangan. Bu Christin juga mengalami stroke ringan, sehingga geraknya tidak lagi normal dan jalannya menjadi sangat terbatas. Ia harus minum obat setiap hari dan mengambil obat ke rumah sakit yang cukup jauh dari rumah. Karena menggunakan BPJS, proses pengambilan obat bisa memakan waktu sekitar tiga sampai empat jam.
Adiknya yang mengurus Bu Christin setiap hari. Namun lama-kelamaan, adiknya mulai sering mengeluh dan merasa terbebani. Akhirnya mereka menjadi sering bertengkar, dan hubungan mereka menjadi tidak baik.
Mereka berdua adalah orang Kristen, tetapi waktu itu belum sungguh-sungguh hidup dekat dengan Tuhan. Karena tekanan hidup, muncullah rasa takut, marah, overthinking, dan perasaan putus asa.
Sampai akhirnya mereka bertemu dengan orang-orang COOL. Pada saat itu, kami dari COOL datang mengunjungi mereka, memberi semangat, dan mengadakan ibadah COOL di rumah mereka. Apa yang bisa kami bantu, kami bantu. Kami juga membagikan Firman Tuhan dan menguatkan mereka bahwa ketika beban hidup terasa berat, kita seharusnya datang kepada Tuhan Yesus, menyerahkan semuanya kepada-Nya, dan meminta kekuatan dari Tuhan.
Setelah mereka mulai membuka hati, membaca Firman, dan menaruh pengharapan kepada Tuhan, keadaan mereka mulai berubah. Mereka sudah jarang bertengkar, hidup mereka menjadi lebih tenang, dan Bu Christin pun mulai bisa berjalan keluar rumah. Pergerakannya juga mengalami perubahan.
Dari kesaksian Bu Christin dan adiknya, kita mendapat satu pelajaran penting. Ketika kita merespons keadaan sulit dengan cara yang salah, akibatnya kita bisa menjadi stres, depresi, tubuh melemah, bahkan jatuh sakit.
Namun ketika kita merespons dengan benar, seperti Bu Christin dan adiknya yang mulai membuka hati kepada Tuhan, kita bisa menjadi lebih dekat dengan Tuhan, lebih kuat, lebih dewasa, dan bahkan menjadi berkat bagi orang lain. Yang terpenting, hidup kita dapat memuliakan Tuhan.
Karena itu, ketika kita merasa letih lesu dan berbeban berat, jangan menjauh dari Tuhan. Datanglah kepada Tuhan Yesus. Serahkan beban kita kepada-Nya, sebab hanya Dia yang sanggup memberi kelegaan sejati.
Amin.

