I choose joy (Pdp James Farlow Mendrofa, MHum)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 24 Juni 2026 12.10 oleh Leo (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi '{{unified info| templatetype=khotbah | namespace= Khotbah | pagename= 20250907-0930 | toptitle= | title= ''I choose joy'' | subtitle= | name= James Mendrofa | completename= Pdp James Farlow Mendrofa, MHum | type= khotbah | event= Ibadah Raya | date= 2025-09-07 | location= Grha Amal Kasih | church= GBI Danau Bogor Raya | city= Bogor | illustration16x9= James Mendrofa-20250907.jpg | illustrationA5= | illustration1x1= James Mendrofa-20250907-1x1.jpg | video1servi...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Memilih bersukacita adalah keputusan iman untuk hidup berdasarkan Kerajaan Allah, bukan berdasarkan ketakutan, trauma, atau keadaan dunia yang sedang mencekam. Sukacita perlu dipilih karena Yesus adalah teladan kita yang selalu bersukacita dalam Roh Kudus, dan karena sukacita itu sendiri adalah buah serta manifestasi dari kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus. Ketika orang percaya memilih bersukacita di tengah tekanan, mereka sedang menyatakan bahwa Yesus ada di atas segala keadaan, dan justru di situlah mereka akan mengalami kekuatan, perlindungan, serta berkat-berkat Tuhan.

Shalom, tema yang Tuhan taruh dalam hati saya adalah I choose joy. Boleh katakan sama-sama: I choose joy. Saya memilih sukacita!

Bapak, Ibu, Saudara, demonstrasi yang terjadi di akhir bulan Agustus membuat kita semua berada dalam keadaan yang begitu mencekam, penuh ketakutan dan kekhawatiran. Ya, tetapi pesan Tuhan buat saya adalah: “James, choose joy. Pilih bersukacita. Jangan pilih berendam dalam ketakutanmu, jangan pilih tenggelam dalam kekhawatiranmu.”

Dan saya berdoa semua kita juga memilih untuk bersukacita. Haleluya!

Ayat emasnya adalah 1 Tesalonika 5:16,

Bersukacitalah senantiasa.

Yang bersukacita, sekali lagi tepuk tangan buat Yesus.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, di tengah-tengah kekhawatiran, di tengah-tengah stress, di tengah-tengah persoalan dan pergumulan kehidupan, saya tahu minggu lalu, ketika keriuhan terjadi di kota Jakarta, ngga mungkin tidak, khususnya generasi X, generasi Y, millennials, generasi sebelumnya, boomers, kita pasti ingat kejadian tahun '98.

Ketika terjadi kerusuhan minggu lalu, semua, khususnya generasi yang sudah 20 tahun ke atas, 30 tahun ke atas, pasti ingat 98. Itu distress. Kita berada dalam tekanan trauma yang seolah-olah mengulang kembali kejadian itu. Tidak heran beberapa daerah, khususnya yang dipenuhi objek vital, daerah yang memang ada di episentrum kegiatan aksi, bahkan gereja-gereja di sana harus libur. Saya paham betul. Saya mengerti betul. Mereka ada di tengah-tengah tekanan itu.

Kita semua ada di tengah-tengah kekhawatiran, ketakutan, tekanan, tindasan, stress, dan masalah kehidupan kita. Kenapa? Karena kita masih menginjak kaki di Bogor, Saudara. Buat yang belum tahu, Saudara masih nginjak kaki di Bogor. Belum nginjak kaki di Surga. Saudara yang nginjak kaki di Bogor bilang, “Yes!

Tetapi di tengah-tengah itu semua, kita punya keputusan untuk dibuat. We have a decision to make. Kita punya keputusan untuk diambil. Saudara mau tetap tinggal dalam kekhawatiranmu? Saudara mau tetap tinggal dalam ketakutanmu? Saudara mau tetap tinggal dalam traumamu?

Bapak, Ibu, Saudara, hari-hari ini saya sedang dipercaya untuk, saya kasih tanda petik, “menggembalakan” 4.000 sampai 5.000 mahasiswa aktif yang ada di fakultas di tempat saya mengajar. Saya mengajar, saya sebut inisialnya saja, di UI Depok.

Saya menjadi manajer kemahasiswaan di Fakultas Ilmu Budaya di UI, dan 4.000 sampai 5.000 mahasiswa aktif ada di bawah penggembalaan saya. Dan mahasiswa-mahasiswa hari-hari ini gampang baper, gampang stress, gampang cemas. Sekalinya cemas, ngga mau makan. Sekalinya cemas, pengin lompat dari lantai tiga. That’s what happened. Jam pagi saya dapat telepon dari satpam: ada mahasiswa mau lompat dari jembatan.

Kenapa? Karena mereka memilih untuk tetap tinggal dalam trauma mereka. Mereka memilih untuk tetap tinggal dalam stress mereka. Mereka memilih untuk tinggal dalam kebaperan mereka. Kenapa? Karena itu memuaskan ego mereka.

Dengar, hari ini kita punya keputusan. Dan saya berdoa, saya percaya, ini doa Pak Rusli, doa Bu Fanny, doa para pemimpin, doa yang sama yang dinaikkan di hadapan Tuhan buat semua kita jemaat GBI Danau Bogor Raya: di tengah-tengah kesukaran, masalah, dan stress yang sedang kita hadapi, kita memutuskan untuk memilih bersukacita. Amin!

Pilih bersukacita hari ini. Sekali lagi, kasih tahu kiri kanan: I choose joy. Saya memilih bersukacita. Apa pun yang sedang terjadi di luar, ya, that’s what happens. Tetapi mari pilih bersukacita. Putuskan untuk pilih bersukacita.

Tetapi pertanyaannya: why choose joy? Mengapa memilih bersukacita?

Mengapa memilih bersukacita?

#1 Karena kita hidup dalam Kerajaan Allah

Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus. (Roma 14:17)

Kenapa kita memilih bersukacita? Karena ketika kita memilih bersukacita, alih-alih memilih hidup dalam ketakutan kita, alih-alih memilih hidup dalam trauma kita, alih-alih berendam dalam kesedihan kita, kita memutuskan untuk hidup dalam Kerajaan Allah.

Ya, kita nginjak kaki di Bogor. Ya, kita nginjak kaki di DBR. Yes. Tetapi kita ngga hidup berdasarkan apa yang Bogor katakan, berdasarkan apa yang DBR katakan, berdasarkan apa yang dunia katakan. Kita hidup berdasarkan apa yang Kerajaan Allah katakan. Amin.

Kita memilih bersukacita because we choose to live in the kingdom. We are living in the Kingdom of God. Sebab Kerajaan Allah adalah kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus.

Ketika engkau memilih untuk bersukacita, engkau sedang memilih hidup dalam standar Kerajaan Allah. Sebagaimana akhir khotbah saya di ibadah yang pertama: di bumi seperti di surga.

Di surga ngga ada marah-marah, Saudara. Jadi kalau Saudara hobi marah-marah, mulai hari ini putuskan berhenti marah-marah. Putuskan untuk bersukacita. Amin. Di surga ngga ada gosip. Bu-ibu, Pak. Bapak juga sih. Jadi kalau hari ini kita hobinya gosip, yuk putuskan untuk berhenti gosip. Putuskan untuk bersukacita. Amin.

Karena nanti ketika kita masuk kepada Kerajaan Allah yang ada di tempat yaitu surga, kalau kita ngga latihan dari sekarang, Saudara, bisa-bisa ngga betah di sana. Dan kalau sudah di sana tiba-tiba ngga betah, cuma ada satu tempat alternatif lain. Jadi, mari putuskan hari ini untuk memilih hidup dalam Kerajaan Allah. Sebelum kita sampai di surga nanti, kita sudah hidup dalam Kerajaan Allah di muka bumi. Sebagaimana di surga, demikian terjadi di bumi.

Ketika Saudara ada di muka bumi ini, lagi jalan-jalan ke Surya Kencana, jalan-jalan ke Kebun Raya, ngga apa-apa. Penuh sukacita. Orang pikir Saudara ketawa-tawa sendiri, dipikir orang gila. Ngga apa-apa. Penuh sukacita, Saudara.

Sebab Kerajaan Allah adalah kerajaan sukacita yang tak terkatakan. The Kingdom of God is the kingdom of unspeakable joy. Kerajaan Allah ngga dipengaruhi nilai mata uang. Kerajaan Allah ngga dipengaruhi IHSG. Ngga ada. Kerajaan Allah selalu penuh sukacita. Setuju? Katakan amin.

Apa pun yang terjadi di bumi hari ini, Kerajaan Allah ngga terpengaruh. Demikian juga dengan Saudara. Dolar boleh naik, dolar boleh turun, harga cabai boleh naik, harga cabai boleh turun, tetapi sukacita ngga terpengaruh. Sukacita kita tidak terpengaruh, karena sukacita kita standarnya Kerajaan Allah.

Ketika Saudara dan saya hidup dalam Kerajaan Allah, Saudara berani bilang begini:

Musim akan selalu berganti
Kasih Tuhan tetap abadi
Tak akan berubah sampai selamanya
Ku tetap percaya

Orang yang memilih bersukacita berani katakan begini:

Kuyakin Tuhan memberkati
Kuyakin Tuhan melindungi
Burung di udara Tuhan pelihara
Karena kasih-Nya.

Yang memilih bersukacita boleh angkat tangan dan katakan:

Tuhan selalu menolongku
Selalu menjagaku
Sehelai di rambutku
Tak akan terjatuh tanpa seizin-Mu

Amin.

Orang yang hidup dalam Kerajaan Allah selalu tahu: Tuhan pasti tolong. Walau kayaknya doa belum kejawab, Tuhan pasti tolong. Walau kayaknya kok pintu belum terbuka, Tuhan pasti tolong. Itu orang yang memilih bersukacita, karena mereka hidup dalam Kerajaan Allah. Amin!

#2 Karena Yesus adalah teladan kita

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus. (Lukas 10:21a)

Kenapa kita memilih bersukacita? Karena Yesus teladan kita.

Berapa banyak murid Tuhan di sini? Yang murid, angkat tangan. Saudara, lambaikan tangan Saudara. Yang murid, yang murid. Berarti role model kita, guru kita, adalah Yesus. Kalau guru kita bergembira, bersukacita, maka kita juga harus bersukacita.

Ada peribahasa bilang: guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Murid pasti mengikuti gurunya. Kalau kita bilang kita murid Tuhan, kita harus mengikuti teladan kita, guru kita, yaitu Yesus.

Dan di Lukas 10:21a dikatakan: Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus. Saya yakin kita semua sepakat, Yesus selalu dipenuhi Roh Kudus setiap saat. Berarti setiap saat Yesus selalu bersukacita. Saudara, Yesus adalah role model kita.

Kata “bergembira” di situ, bahasa Inggrisnya rejoice. Bahasa Yunaninya agalliao. Artinya: exceedingly glad, bergembira dengan sangat, with exceeding joy, dengan sukacita yang sangat besar.

Jadi ketika Yesus dipenuhi Roh Kudus dan seluruh hidup Yesus dipenuhi Roh Kudus, sepanjang saat, setiap saat, Yesus selalu bersukacita. Makanya Yesus ngga pernah khawatir di depan Lazarus yang sudah mati empat hari. Makanya waktu 5.000 orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak, mengelilingi Dia dalam keadaan lapar, Yesus ngga pernah takut, ngga pernah cemas.

Karena Yesus memilih bersukacita.

Mungkin hari ini beras di rumahmu habis. Khawatir sih wajar, tapi jangan terus-terusan. Langsung putuskan bersukacita. Setuju? Katakan amin.

Mungkin hari ini suamimu belum pulang-pulang. Tetapi mari pilih bersukacita.

Ketika Yesus di hadapan 5.000 orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak, keadaannya membingungkan. Tetapi Yesus berkata, “Apa yang ada padamu?” Murid-murid bilang, “Ada anak kecil bawa lima roti dua ikan.”

Lalu Yesus ambil lima roti dua ikan itu. Dia bilang, “Aku bersyukur kepada-Mu ya, Bapa, karena Engkau mendengarkan Aku.” Dia mengucap syukur atas lima roti itu, memecah-mecahkannya, membagi-bagikannya. Lima roti dan dua ikan memberi makan 5.000 orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak. Sisanya berapa? Dua belas bakul.

Lihat, ketika engkau penuh dengan sukacita, ada mukjizat-mukjizat yang ngga pernah ada di pikiran kita, ngga pernah dilihat mata, ngga pernah didengar telinga, ngga pernah timbul di dalam hati kita. Tetapi hari ini kalau engkau berkata, “Tuhan, aku mau bersukacita. Apa pun yang terjadi, aku memutuskan bersukacita,” dengar, engkau akan menyaksikan perkara-perkara ajaib dari Tuhan. Amin!

Apa pun yang sedang terjadi di bangsamu, dengar, jangan lihat kondisi bangsa ini. Jangan lihat kondisi negara ini. Kalau kita melihatnya terus, kita akan pusing.

Saya ingat ketika keriuhan ini terjadi, 28 Agustus, saya ada pelayanan sepanjang weekend itu di daerah Jakarta. Hari Kamis malam saya pulang dari pelayanan di daerah Central Park, Jakarta Barat, ke rumah saya di daerah Pamulang, Tangerang Selatan, berbatasan dengan Depok. Saya naik motor. Istri saya yang bawa mobil. Malam itu saya pulang kehujanan deras sekali.

Sampai rumah saya bersih-bersih, lalu duduk, buka HP saya, dan saya lihat berita: ada tragedi terjadi. Satu anak bangsa kehilangan nyawa di tengah-tengah aksi. Saya sedih, Saudara. Saya pedih. Bahkan saya bisa bilang, mungkin saya sama seperti kebanyakan rakyat Indonesia yang hari-hari itu berkata: saya marah sama keadaan. Saya marah sama apa yang terjadi di negeri ini. Saya marah malam itu.

Tetapi tiba-tiba Roh Kudus dalam hati saya bilang: James, berdoa!

Malam itu saya marah, saya pengin teriak, saya pengin sama seperti orang-orang lain, maki-maki pemerintah, protes keras. Ingin sekali rasanya. Tetapi Roh Kudus yang juga menuntun Yesus sehingga Yesus bersukacita, Roh Kudus yang sama bilang begini: James, berdoa!

Dan saya mulai berdoa. Saya mulai berbahasa roh. Saya bilang, “Tuhan lawat bangsa ini. Tuhan penuhi bangsa ini. Tuhan curahkan kuasa-Mu untuk bangsa ini.” Ketika saya berdoa, tiba-tiba Roh Kudus dalam hati saya munculkan lagu ini:

And I will call upon Your name
And keep my eyes above the waves
When oceans rise, my soul will rest in Your embrace
For I am Yours and You are mine

Waktu lagu ini muncul di hati saya oleh tuntunan Roh Kudus, saya tahu, dan saya tahu, dan saya tahu, saya harus melihat di atas gelombang.

Lagu itu berkata, keep my eyes above the waves. Saya harus berani melihat di atas persoalannya. Gelombangnya ada, ombaknya ada, tinggi banget, badai kencang banget, gunungnya tinggi banget, pintunya tebal banget. Tetapi kita harus berani memutuskan untuk melihat melampaui gelombang. Amin.

And I will call upon Your name. Dan aku akan berseru memanggil nama-Mu.

Roh Kudus ingatkan dalam hati saya. Kitab Yoel berkata, barang siapa berseru kepada nama Tuhan, maka ia pasti diselamatkan.

Dan saat itu saya tahu betul, semua orang bisa bilang Indonesia tidak baik-baik saja. Tetapi saya berani bilang: Indonesia pasti baik-baik saja, sebab Allah yang Mahabesar ada di sini. Haleluya!

Jadi mari, jemaat induk DBR, berhenti ngomong Indonesia tidak baik-baik saja. Yuk, jangan melihat dari kacamata bumi, tetapi melihat dari kacamata Kerajaan Allah. Lihat dari kacamata guru kita, teladan kita, yaitu Yesus. Indonesia pasti baik-baik saja. Negeri ini ada di tangan Tuhan. Setuju? Katakan amin.

#3 Karena sukacita adalah manifestasi Roh Kudus

Yang ketiga, kenapa kita memilih bersukacita? Galatia 5:22 berkata:

Tetapi buah Roh ialah kasih, sukacita... (Galatia 5:22a)

Dengar baik. Kita boleh bersukacita karena kita hidup dalam Kerajaan Allah. Yang kedua, karena kita mengikuti teladan guru kita. Yang ketiga, karena sukacita itu adalah manifestasi Roh Kudus.

Saya percaya setiap kita dipenuhi Roh Kudus. Kita memilih bersukacita karena itu adalah manifestasi Roh Kudus. Joy is the manifestation of the Holy Spirit.

Buah itu manifestasi, Saudara. Buah itu hasil dari sebuah pohon. Berarti kalau buah Roh itu hasil dari Roh, dari kehidupan yang dipimpin oleh Roh.

Saya berdoa, dan saya percaya ini doa seluruh pemimpin DBR, semua Bapak, Ibu, Saudara yang hadir di ibadah raya kedua GBI DBR pagi ini: semua kita dipimpin oleh Roh Allah, dan setiap kita menghasilkan sukacita dalam kehidupan kita. Haleluya!

Sebab sukacita adalah tanda kehadiran Tuhan dan pekerjaan Tuhan di tengah-tengah kita. Sukacita adalah tanda Tuhan hadir di tengah-tengah kita, Bapak, Ibu, Saudara. Joy is the sign that the presence of God is in our lives. Sukacita itu tanda hadirat Tuhan memenuhi kita. Roh Kudus memenuhi kita. Amin.

Saudara, saya suka ilustrasi ini. Bayangkan ada botol air. Saudara mau tahu apa yang memenuhi botol itu? Gampang. Kasih tekanan. Ketika ditekan, apa yang memenuhi botol itu akan keluar.

Saudara mau tahu apa yang memenuhi Saudara hari ini? Izinkan tekanan datang. Maka apa yang memenuhi Saudara akan keluar. Dan kalau yang memenuhi Saudara adalah Roh Kudus, maka yang keluar pasti sukacita. Amin. Itu adalah tanda Roh Kudus diam dalam kita.

Kesaksian:

Oleh anugerah Tuhan saya beberapa waktu yang lalu pelayanan di Taiwan. Saya berangkat hari Senin, sampai di Taiwan malam hari. Ketika saya sampai di Taiwan, saya selesai imigrasi dan ambil bagasi. Dan sebagai suami yang baik — Bapak-bapak, ini contoh suami yang baik — saya langsung WA istri saya. Itu contoh suami yang baik. Langsung WA istri sendiri, bukan istri orang.

Saya bilang, “Aku sudah sampai di Taiwan, sebentar lagi menuju tempat pelayanan.” Tetapi ngga dibalas, Saudara.

Tetapi saya pikir, ya sudahlah, ngga apa-apa. Saya naik jemputan menuju hotel tempat kami melayani. Setengah jam, empat puluh menit perjalanan, istri saya WA: “Pa, aku ketabrak truk.”

Apa yang Saudara lakukan kalau begitu? Saya di Taiwan, Saudara. Bukan di Danau Bogor Raya. Saya ngga bisa ngapa-ngapain. Saya bisa saja bilang, “Wah, setan nih.” Bisa saja keluar dari mulut saya yang pertama kali hal-hal negatif. Tetapi syukur kepada Tuhan, yang keluar dari mulut saya pertama kali adalah: “Tuhan Yesus, Kau baik.

Sambil saya nyanyi:

All my life You have been faithful
All my life You have been so, so good
With every breath that I am able
Oh, I will sing of the goodness of God

Amin.

Singkat cerita, istri saya WA saya setelah dia baru sembuh dari syok. Ternyata truk itu remnya blong, nabrak istri saya dari belakang, lalu mobil istri saya nabrak mobil di depannya.

Dia WA saya, dan saya cuma bilang, “Tuhan Yesus baik. Saya memuji kebaikan Tuhan.

Filipi 4:4 berkata:

Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

Boleh bilang kiri kanan: bersukacitalah sekali lagi, Saudara. Amin?

Kenapa? Nehemia 8:10 berkata:

Janganlah kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!

Bahasa Inggris berkata, for the joy of the Lord is your strength. Sukacita Tuhan adalah kekuatanmu.

Saya bisa pilih untuk bersedih malam itu. Saya bisa pilih untuk marah malam itu atas keadaan yang terjadi sama istri saya, karena saya ngga bisa apa-apa. Tetapi saya memilih untuk bilang, “Tuhan Yesus, Kau baik.

Truk yang nabrak istri saya, bumpernya copot, lampunya pecah. Mobil yang ditabrak istri saya, pintu belakangnya penyok ke dalam seperti mangkok. Tetapi mobil kami? Mobil yang dikendarai istri saya, di ujung kiri depan cuma ada baret hitam kecil, sekarang mungkin sudah hilang karena sering dicuci. Di belakang ada penyok kecil sekali. Kalau ngga diperhatikan betul-betul, Saudara ngga akan lihat. Rasanya seperti ngga ditabrak truk.

Setiap kali saya khotbah ini, selalu ada yang tanya, “Pak James, mobilnya apa?” Saudara, saya ngga usah kasih tahu mobilnya apa, tapi saya bisa kasih tahu Saudara siapa Tuhannya! Dia Tuhan yang dahsyat!

Pilih bersukacita hari ini! Amin!

Penutup

Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa. (Mazmur 16:11)

Amin!

Ada nikmat senantiasa ketika engkau memilih bersukacita. Alkitab bilang begini: ada korelasi antara sukacita dengan berkat-berkat Tuhan. Siapa sih yang ngga mau diberkati? Yang mau diberkati bilang amin. Wah, kalau berkat aminnya cepat, Saudara. Tapi semua kita memang mau diberkati.

Ada korelasi yang dekat antara berkat dan sukacita. Yuk, pilih bersukacita.

Kerajaan Allah, role model kita Yesus, itu buah Roh Kudus. Dan yang terakhir, sukacita — saya kasih singkatannya JOYJesus Over You. Yesus di atas kamu. Yesus di atas masalahmu. Yesus di atas penyakitmu. Yesus di atas keadaanmu. Yesus mengatasi keadaan Saudara. Amin!

Apapun pagi siang ini yang membuat Saudara takut, apapun yang membuat Saudara cemas, apapun yang membuat Saudara bimbang, putuskan untuk bersukacita, Saudara. Untuk hidup dalam Kerajaan Allah. Ya, kita nginjak kaki di DBR. Ya. Tetapi kita ngga hidup berdasarkan prinsip DBR. Kita hidup berdasarkan prinsip Kerajaan Allah. Amin. Di Bogor sama seperti di Surga!

Mari ikuti teladan Kristus: memilih bersukacita. Apa pun keadaannya, pilih sukacita. Pilih sukacita. Dan Roh Kudus terus penuhi kita agar hidup kita mengalirkan sukacita itu buat yang lain.

Nyanyi:

Tak usah ku takut, s'bab Kau sertaku
Tak usah ku bimbang, Kau di dalamku
Tak usah ku cemas, Kau penghiburku
Dan janji-Mu, ya dan amin

Kunyanyi Haleluya
Kunyanyi Haleluya
Sungguh Kau hebat
Ajaib perkasa perbuatan-Mu di hidupku.

Video