Sehat dalam iman (Pdm Jonni Hutabarat)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 22 Juni 2026 22.33 oleh Leo (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi '{{unified info| templatetype=khotbah | namespace= Khotbah | pagename= 20260607-1700 | toptitle= | title= Sehat dalam iman | subtitle= | name= Jonni Hutabarat | completename= Pdm Jonni Hutabarat | type= khotbah | event= Ibadah Raya | date= 2026-06-14 | location= Grha Amal Kasih | church= GBI Danau Bogor Raya | city= Bogor | illustration16x9= Jonni Hutabarat-20260607.jpg | illustrationA5= | illustration1x1= Jonni Hutabarat-20260607-1x1.jpg | video1service= youtu...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Kesehatan rohani tidak ditentukan oleh banyaknya aktivitas keagamaan, melainkan oleh apakah seseorang sungguh berakar di dalam Kristus dan tetap kuat ketika menghadapi badai kehidupan. Iman yang sehat bertumbuh ketika hidup tidak ditambatkan pada uang, pekerjaan, pasangan, atau pelayanan, tetapi pada Kristus sebagai dasar yang teguh, serta dipelihara setiap hari oleh Firman Tuhan sebagai makanan rohani. Karena itu orang percaya dipanggil untuk memeriksa dirinya, membangun akar yang benar, dan terus memberi makan rohnya dengan Firman, supaya tetap kuat, sehat dalam iman, dan siap menyongsong kedatangan Tuhan.

Shalom, saya percaya sore ini kita adalah orang-orang yang siap diberkati Tuhan. Amin!

Titus 2:1-2,

Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat. Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.

Ini sesuatu yang menarik. Ada kata sehat dalam iman.

Nah, krisis terbesar orang percaya bukan kurangnya aktivitas, bukan kurangnya kegiatan-kegiatan. Sering kali kita mungkin pikir, “Sudah cukup banyak kok.” Tetapi yang perlu kita renungkan sore hari ini adalah kurangnya kesehatan rohani. Makanya kalau kita bicara tentang kesehatan rohani, kita bicara tentang spiritual check-up. Apakah kita masih sehat secara rohani?

Ada banyak orang mungkin kegiatannya sudah banyak, sudah luar biasa, tetapi rohaninya ngga sehat, ngga sungguh-sungguh diperhatikan.

Nah, sore hari ini saya mau ajak kita semua. Di zaman modern ini, ada banyak orang Kristen, orang percaya, yang mungkin aktif secara ibadah, ikut kegiatan, seminar, melayani Tuhan, bahkan mungkin memimpin kelompok-kelompok kecil. Tetapi yang saya mau perhatikan hari ini adalah: ketika badai datang, ketika pergumulan datang, ketika masalah datang, apakah kita masih menjadi orang-orang yang tetap kuat di dalam Tuhan?

Apakah kita menjadi orang-orang yang tidak mudah kecewa, tidak mudah tersinggung, tidak mudah putus asa, tidak mudah meninggalkan Tuhan waktu pergumulan datang?

Karena sering kali ada banyak orang Kristen, orang percaya, ketika menghadapi badai, menghadapi pergumulan, mudah sekali meninggalkan Tuhan. Makanya hari ini, Bapak, Ibu, teman-teman yang dikasihi Tuhan, inilah perbedaan antara aktif dalam agama dengan sehat dalam iman. Ini perbedaan yang sangat menyolok.

Orang boleh aktif sekali dalam agama, tetapi apakah sehat rohaninya? Sehat ngga imannya? Makanya waktu Paulus menulis ini, ini salah satu yang sangat penting. Orang boleh terlihat aktif secara luar, tetapi apakah rohaninya benar-benar mengalami Tuhan?

Nah, sore ini, Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, seseorang yang sehat dalam iman akan tetap berdiri teguh sekalipun menghadapi tekanan hidup yang berat. Ini yang kita hadapi hari-hari ini. Kalau Bapak, Ibu perhatikan, krisis ekonomi, dolar naik, tekanan-tekanan, pressure yang kuat. Tuhan cuma bilang begini: waktu kamu menghadapi itu, kamu tetap kuat ngga?

Paulus ngga pernah ngomong kepada Titus supaya jemaat itu menjadi terkenal. Paulus juga ngga bilang, “Ayo doakan supaya jemaat jadi kaya, supaya mereka jadi influencer, jadi orang-orang yang berpengaruh, jadi orang-orang yang hebat, jadi orang-orang yang bisa membuat orang terkesan.”

Tetapi Paulus dengan jelas berkata agar mereka menjadi orang-orang yang sehat secara iman. Paulus menekankan dengan begitu tegas. Dia tidak berdoa supaya mereka kaya dan terkenal, tapi dia berdoa supaya mereka menjadi orang-orang yang sehat secara iman. Kenapa ini penting, Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan? Karena saya yakin kalau Bapak, Ibu perhatikan, ini sesuatu yang sangat mendasar.

Kalau kita lihat kata sehat ini, bahasa Inggrisnya mengarah pada sesuatu yang hygienic, utuh, tidak terinfeksi. Artinya, orang Kristen ini harus kuat, bisa berfungsi dengan baik, bahkan bebas dari penyakit. Penyakit apa? Penyakit yang membuat rohaninya lemah. Penyakit yang membuat dia menjadi orang yang ngga kuat menghadapi badai.

Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, dengan kata lain, Tuhan tidak hanya ingin kita memiliki iman, bukan hanya sekadar percaya kepada Yesus, tapi Tuhan mau supaya Bapak, Ibu, kita semua menjadi orang percaya yang sehat secara iman, punya iman yang benar-benar kuat dalam Tuhan.

Waktu kita pertama kali lahir baru, yang diperbaharui apa? Roh, spirit kita. Tetapi jiwa dan tubuh kita belum sungguh-sungguh berubah.

Perhatikan baik-baik. Orang kadang lihat, kenapa sih ada orang sudah ikut Tuhan kok cara hidupnya masih sama seperti orang yang ngga kenal Tuhan? Karena mindset-nya belum berubah. Makanya Roma 12 berkata, berubahlah oleh pembaharuan budimu. Dengan cara apa? Waktu pikiranmu berubah, maka tindakanmu akan berubah.

Tuhan mau supaya kita sehat roh, jiwa, dan tubuh. Bicara tentang tubuh bukan cuma bicara sakit fisik, tetapi hidup yang sungguh dipelihara dengan baik di hadapan Tuhan. Satu kali ketika kita pulang, 1 Tesalonika 5 berkata: sehat roh, jiwa, dan tubuhmu. Dan Tuhan mau supaya kita pelihara itu dengan baik. Mulai kapan? Hari ini.

Makanya Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, sekali lagi saya katakan, Tuhan bukan hanya bicara supaya kita punya iman, tetapi bagaimana caranya supaya kita sehat secara iman?

#1 Iman yang sehat berakar dalam Kristus, bukan dalam keadaan

Yang pertama, Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, iman yang sehat itu berakar dalam Kristus, bukan dalam keadaan. Amin!

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak khawatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. (Yeremia 17:7-8)

Bapak, Ibu, bayangkan begini. Saya sangat senang dengan ayat ini. Katakan begini: akar yang sehat menentukan kekuatan sebuah pohon. Benar ya, Bapak, Ibu? Akar yang sehat menentukan kekuatan sebuah pohon. Kalau akarnya benar, maka pohonnya pun benar, daunnya bagus, buahnya pun banyak.

Orang percaya pun sama. Kesehatan iman ditentukan oleh tempat di mana Bapak, Ibu berakar.

Kalau kita sadar akan itu, karena buat saya sering kali ada banyak orang Kristen, orang percaya, berakarnya di mana sih? Maaf, sering kali berakar sama uang. Mereka menambatkan segalanya kepada uang. Begitu uangnya hilang, lenyaplah kekuatannya. Imannya ngga sungguh-sungguh lagi.

Berakar kepada apa? Pekerjaan. Begitu pekerjaannya hilang, lalu mereka pun meninggalkan Tuhan. Berakar pada apa? Pada pasangan. Begitu pasangannya meninggalkan Tuhan, lalu mereka pun hilang, imannya runtuh dan kandas. Berakar pada pelayanan. Begitu pelayanannya diambil orang, kita sibuk, kita marah.

Kenapa? Karena akar kita ditambatkan kepada uang, pekerjaan, pasangan, bahkan pelayanan. Ini bahaya dalam hidup kita. Karena ketika semua itu terguncang, ketika Tuhan goncangkan itu semua, maka saya percaya iman kita akan mudah runtuh. Kenapa? Karena kita tambatkan itu semua pada sesuatu yang tidak kuat.

Usahamu lagi bagus, begitu anjlok, imannya sudah goyah.
Pekerjaannya hancur, ngga seperti dulu, imannya mulai goyah lagi.

Ada jemaat saya, dia bilang, “Pak, 40 gerai saya ditutup.” Kenapa? Karena kolaps. Karyawan pun hari ini kami kurangi. Kenapa? Karena keadaan begitu sulit.

Saya bilang begini, kalau kamu akarnya kuat, engkau akan terus berharap kepada Tuhan. Amin! Engkau akan terus percaya kepada Tuhan, dan Tuhan akan kendalikan apa yang ada padamu.

Makanya hari ini, Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, orang yang berakar dalam Kristus akan tetap teguh sekalipun badai mengadang, sekalipun mungkin hari ini cobaan dan tantangan begitu kuat, sekalipun mungkin ada pergumulan yang rasanya berat. Tetapi karena kita tambatkan akar kita kepada siapa? Batu karang yang hidup. Maka kita akan terus diberikan kekuatan untuk menghadapi itu semua. Amin! Beri tepuk tangan buat Tuhan Yesus.

Saya percaya, Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, secara teologis akar iman yang sehat bukan sekadar pengalaman rohani, melainkan Pribadi Kristus yang kita cari setiap waktu.

Saya rindu kalau sore hari ini Bapak, Ibu, kita semua ada di tempat ini, yang kita cari cuma siapa? Yesus. Makanya kenapa selalu dikatakan begini: cari sumbernya, bukan cari bonusnya. Cari sumbernya. Siapa sumbernya? Yesus.

Tuhan bilang, carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya. Maka apa? Semua akan ditambahkan kepadamu. Bukan cari yang ditambahkannya terlebih dahulu. Cari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya. Tuhan bilang, semua akan Kutambahkan kepadamu. Semua akan Kulimpahkan kepadamu. Bahkan sekalipun engkau digoncang, engkau akan tetap kuat. Kenapa? Karena kita berdiri pada akar yang kuat.

Saya percaya, Bapak, Ibu, bukan berarti kami semua tidak mengalami pergumulan. Saya pun mengalami pergumulan yang begitu luar biasa. Tetapi waktu saya sadar ada Tuhan yang menopang, ada Yesus yang selalu bersama, ada kekuatan yang baru yang selalu Tuhan berikan kepada kita, ketika apa? Ketika kita cari Tuhan, cari sumbernya.

Ketika pusat iman kita bergeser dari Kristus kepada hal lain, maka penyakit rohani mulai muncul. Ketika iman kita tidak berdasarkan kepada Kristus, batu karang yang teguh, tetapi ketika iman kita ditambatkan kepada pekerjaan, uang, atau usaha kita, maka ketika itu semua digoncang, kita akan mudah sekali dikalahkan.

Hari ini Tuhan cuma bilang begini: imanmu harus berdasarkan Kristus. Cari pribadi Tuhan setiap hari. Every day! Tiap hari cari Tuhan. Ngga ada yang lebih daripada itu.

Saya yakin percaya kalau hari ini dunia sedang digoncang dengan luar biasa akibat ekonomi yang luar biasa, tetapi waktu kita mencari Tuhan, mengejar Tuhan, saya mau katakan maka Dialah yang akan memberi kekuatan kepada kita.

Coba hari ini renungkan, Bapak, Ibu. Tanya sama diri kita sendiri: kalau seandainya semua yang kita miliki hari ini tiba-tiba hilang, diambil, apakah kita masih bisa bilang Tuhan baik?

Ini hal yang sederhana tapi sulit untuk dilakukan. Benar ngga?

Kadang-kadang waktu Bapak, Ibu punya sesuatu yang dianggap luar biasa, lalu tiba-tiba hilang dalam sekejap, saya mau tanya: masih bisa bilang, “Tuhan baik, Tuhan dahsyat, Tuhan luar biasa. Sekalipun bumi bergoncang, sekalipun mungkin hari ini apa yang aku andalkan hilang, tetapi aku mau katakan Yesus baik”?

Masih bisa ngga ngomong kayak gitu?

Saya Jumat lalu khotbah di salah satu perusahaan. Waktu saya khotbah, tiba-tiba orang yang mengundang saya, anaknya masuk rumah sakit. Lalu dia bilang begini, “Pak Jonni, hari ini saya sedang menghadapi ujian iman.”

Dia bilang, “Saya baca status WA saya sendiri. Saya bilang begini kepada anak saya: papi dan mami akan berjuang membuat engkau jadi sehat, apa pun yang harus dikeluarkan.”

Lalu dia bilang, “Saya jadi ingat khotbah Pak Jonni tadi. Kenapa waktu ini semua terjadi, apakah saya masih bisa bilang Tuhan baik, Tuhan dahsyat, Tuhan luar biasa? Atau hari itu iman saya jadi hancur, saya jadi runtuh gara-gara anak saya sakit?”

Lihat, Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, orang akan sulit bersyukur ketika menghadapi sebuah pergumulan kalau akar atau pondasi yang dia tanam dalam hidupnya itu bukan pada Kristus. Maka yang ada cuma sungut-sungut, ngomel, ngedumel setiap hari, ngoceh terus, berkata, “Kok seperti ini? Ngga seperti yang saya harapkan.”

Waktu Bapak, Ibu doanya belum dijawab sama Tuhan, tetapi dasar akar yang Saudara tanam kuat, maka engkau akan berkata, “Tuhan, sekalipun mungkin hari ini belum dijawab, tapi aku percaya Tuhan baik bagiku.” Amin.

Sekalipun gunung tak beranjak, saya percaya, ku tetap percaya, asal Kau di sampingku. Itu masalahnya: engkau menambatkan akarmu di tempat yang tepat. Amin.

Sekali lagi, iman kita bukan berdasarkan keadaan, bukan karena situasi, bukan karena kondisi, tapi karena berakar kepada Kristus. Amin!

#2 Iman yang sehat bertumbuh melalui Firman Tuhan

Yang kedua, Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, iman yang sehat itu bertumbuh melalui Firman Tuhan.

Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus. (Roma 10:17)

Perhatikan. Banyak orang mengira pengalaman emosional adalah ukuran kedewasaan rohani. Kenapa? Karena kita merasa dekat dengan Tuhan ketika musiknya bagus, suasananya menyentuh, khotbahnya mengharukan, lalu kita berkata, “Ini Tuhan hadir.”

Bayangin begini. Kalau kita semua hanya sekadar emosi, maka ini juga bahaya. Ketika musiknya ngga baik, ketika suasananya ngga seperti yang kita harapkan, lalu kita berkata, “Tuhan kayaknya ngga ada.”

Karena apa? Berdasarkan perasaan. Kadang-kadang orang Kristen begitu. “Aduh, perasaan gua ngga enak nih. Kayaknya malas ke gereja.” Lalu ngga datang ke gereja. Karena apa? Ke gereja berdasarkan mood.

Sering kali orang berkata, “Aduh, musiknya enak, jadi rasanya dekat sama Tuhan.” Atau, “Khotbahnya bagus, jadi rasanya menyentuh.”

Saya mau katakan, iman yang sehat dibangun bukan hanya oleh emosi, tetapi oleh wahyu yang tertulis, yaitu Firman Allah. Iman yang sehat bukan berdasarkan emosi kita, tetapi berdasarkan Firman Tuhan.

Sepanjang sejarah gereja, ini perlu Bapak, Ibu perhatikan: setiap kebangunan rohani yang sejati selalu diawali oleh kembalinya umat Tuhan kepada Alkitab, kepada Firman Tuhan.

Makanya lihat, Firman Tuhan itu adalah makanan rohani. Amin!

Bayangkan begini, Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan. Gimana rasanya kalau kita ngga makan? Tanpa makanan yang sehat, tubuh kita akan menjadi lemah. Coba bayangkan tiap hari makannya mi instan terus. Lambat laun kita akan sakit. Benar ngga? Entah sakit apa pun, kalau makannya itu terus, kita ngga akan kuat.

Demikian juga rohani. Ketika Firman itu ada dalam hidup kita, ketika itu tertanam di dalam hati kita, itulah yang akan menjadi kekuatan kita, itulah yang akan menjadi dasar kita.

Saya mau tanya: berapa lama waktu yang Bapak, Ibu berikan untuk baca Alkitab? Sehari baca Alkitab berapa kali? Atau mungkin Bapak, Ibu merenungkan Firman Tuhan tiap hari, siang dan malam? Atau justru TikTok, WA, Facebook, IG jauh lebih besar porsinya dibanding Firman Tuhan?

Kalau itu menjadi porsi yang paling besar, saya mau katakan, jangan harap iman kita kuat. Kenapa? Karena badai akan selalu ada dalam hidup kita. Setiap hari manusia akan mengalami tantangan. Kita hanya bisa menjadi orang yang kuat kalau Firman itu tertanam di hati kita.

Siapa yang tadi pagi baca Alkitab?
Siapa yang merenungkan Firman Tuhan siang dan malam?

Saya percaya kalau malam hari ini kita sadar, kenapa Tuhan bilang kalau ada masalah, bereskan sebelum matahari terbenam? Kenapa? Karena kalau sudah malam, biasanya terus dipikirin. “Kenapa ya dia nyakitin saya? Kenapa ya dia seperti itu?” Akhirnya kita kecewa, marah, dan pahit hati.

Coba kalau malam mau tidur, kita renungkan Firman Tuhan. “Tuhan, kenapa ya iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan?” Saya percaya kalau ini kita renungkan setiap hari, maka itulah yang akan menjadi kekuatan kita.

Orang yang sehat rohani tidak hanya dengar Firman Tuhan di hari Minggu. Orang yang sehat rohani, dia akan baca Alkitab setiap hari. Kenapa? Karena dia tahu ini makanan rohani yang perlu disuplai dalam hidupnya supaya rohnya terus kuat di dalam Tuhan. Makanya menghadapi tantangan pun dia akan tetap kuat. Bukan karena dia hebat, tapi karena ada kekuatan Roh yang selalu menyertai melalui Firman Tuhan.

Bayangkan, Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, kita ngga bisa melawan hari-hari ini kalau kita, pertama, ngga berakar di dalam Kristus; kedua, kalau kita ngga hidup berdasarkan Firman Tuhan. Dua hal ini yang akan membuat iman kita semakin sehat. Iman kita akan semakin kuat, dan semakin tidak mudah digoyahkan.

Iman yang sehat dimulai dari akar yang benar dan makanan yang benar. Amin! Iman yang sehat dimulai dari akar yang benar dan makanan yang benar. Kalau hari ini akarnya berdasarkan Kristus, makanannya juga berdasarkan Firman Tuhan, maka imannya akan sehat, imannya akan kuat.

Jika akar kita tertanam dalam Kristus dan hidup kita dipelihara oleh Firman Tuhan setiap hari, maka kita sedang membangun pondasi yang kokoh untuk menghadapi setiap musim kehidupan. Saya percaya setiap hari kita akan menghadapi itu semua. Tetapi kalau dasarnya benar, makanannya benar, maka walau apa pun yang terjadi, Bapak, Ibu akan tetap kuat. Amin!

Ngga ada yang bisa mengalahkan kita. Kenapa? Karena dasar dan makanan kita benar. Kita akan sehat di dalam Tuhan dan menghadapi pergumulan itu.

Bahkan di hari-hari terakhir ini, Tuhan bilang akan datang masa-masa yang sukar. Tetapi kita ngga akan pernah takut. Kenapa? Karena dasar pondasi kita Kristus dan makanan kita cuma Firman Tuhan setiap waktu.

Makanya kasih makan rohmu setiap hari. Baca Alkitab! Semua siap baca Alkitab tiap hari? Amin!

Ada yang bilang, “Pak, saya baca Alkitab karena dikirim sama Gembala COOL saya.” Bagus. Tapi saya percaya kita baca Alkitab bukan karena dikirim. Relasi kita pribadi lepas pribadi dengan Tuhan itu perlu.

Ngga cuma hanya share dari TikTok, bukan hanya lihat dari YouTube, bukan hanya lihat dari Facebook, bukan hanya dari Instagram story orang, tapi kita lihat dari apa? Kita baca sendiri tiap waktu.

Saya setiap hari, saya usahakan sesulit apa pun, saya harus baca Alkitab. Apalagi hari ini di handphone kita semua pasti ada Alkitabnya. Betul ngga? Selain yang lain-lain, Alkitab pasti ada.

Bilang sama kanan kirinya: Alkitab bukan pajangan.

Sering kali Alkitab cuma ditaruh doang. “Loh, saya punya kok, Pak.” Tapi yang penting bukan punya, yang penting dibaca dan direnungkan setiap waktu.

Amin.

Nyanyi:

Carilah dulu Kerajaan Allah
dan kebenarannya
Maka semuanya ‘kan ditambah padamu
Halelu, haleluya