Hidup tenang dalam identitas yang benar
| Devosi | |
|---|---|
| Tanggal | 04 Mei 2026 |
| Penulis | Sub Divisi Profetik |
| Artikel devosi lainnya | |
| |
Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia senantiasa berusaha mengenakan sesuatu yang tidak kekal untuk menutupi ketelanjangan yang ada. Ada yang mengenakan "performance" untuk bisa diterima Tuhan dan diterima orang lain. Mereka berpikir perbuatannya lah yang membuat ia bisa diterima Tuhan. Karenanya mereka memakai pakaian/atribut-atribut tertentu supaya kedapatan suci, mereka melakukan ritual-ritual tertentu supaya dapat diterima Tuhan dan merasa dirinya berharga, mereka berpikir dengan cara-cara seperti itu mereka dapat mencapai surga.
Ada pula yang membungkus dirinya dengan segala harta kekayaan atau barang-barang berharga agar bisa diterima. Ia akan merasa berharga dan dihargai apabila memiliki mobil yang bagus, rumah yang mewah, jam tangan atau tas branded yang sangat mahal dan sebagainya. Tentu saja tidak ada yang salah dengan semua nya itu. Tetapi akan menjadi salah bila hal-hal tersebut menjadi tempat kita "berlindung" dan merasa "aman."
Ada pula orang-orang yang merasa aman bila ia selalu update mengikuti trend yang ada. Ia harus selalu mengikuti trend agar dirinya bisa diterima oleh lingkungan/komunitasnya; atau yang sekarang kita kenal dengan istilah FOMO (fear of missing out).
Tahukah Saudara, bahwa Tuhan Yesus semasa hidup-Nya di dunia juga pernah mengalami pencobaan yang sama? Dalam kitab Injil Matius, Markus dan Lukas, dicatat bagaimana Tuhan Yesus pernah dicobai identitas-Nya sebagai Anak Allah.
Lukas 4:1-3 Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun.
Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar.
Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti."
Iblis mencobai Yesus dengan 3 pencobaan yang berkenaan dengan rasa aman/identitas Nya sebagai Anak Allah:
- Lukas 4:3 Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti."
- Lukas 4:7 Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu (segala kemegahan dunia) akan menjadi milik-Mu.
- Lukas 4:9 Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah.
Ketiga pencobaan tersebut mempunyai keserupaan.
- Iblis mencobai Yesus agar membuktikan identitas-Nya/rasa aman-Nya
- Iblis mencobai identitas Yesus dengan kekayaan dunia (identity base on possession/prosperity)
- Dan setelah pencobaan ke satu dan kedua gagal, Iblis mencobai identitas Yesus dengan popularitas (identity base on popularity)
Berdasarkan perbuatannya (identity base on performance) "Jikalau Engkau Anak Allah, buktikan.. ubah dong batu jadi roti." Iblis mau agar Tuhan Yesus perform a miracle untuk membuktikan dirinya sebagai Anak Allah, dan kemudian merasa aman.
Yesus tidak mau, Ia tau identitas-Nya. Ia bergantung kepada Bapa-Nya. Ia tidak memerlukan "rasa aman" lewat perbuatan. Ia berkata "manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari Firman yang keluar dari mulut Allah" (pekerjaan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa-Nya, bukan ("show performance").Tuhan Yesus tidak memerlukan semuanya itu. Ia aman di dalam kasih Bapa-Nya. Dia tidak perlu membuktikan diri-Nya dengan performance, dengan possession/prosperity, ataupun dengan popularity. Ia aman di dalam Bapa-Nya.
Demikian pula Tuhan mau hari-hari ini kita menang dalam peperangan rohani dan pencobaan yang sama. Tuhan mau identitas kita aman di dalam Nya. Bukan aman, karena kita mengandalkan perbuatan amal baik kita, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat serta kaum agamis lainnya.