Tuhan nahkoda kehidupan kita
![]() | |
| Inspirational | |
| Tanggal | 07 Mei 2026 |
| Oleh | Johanes Albert Aritaufan |
| Baca juga | |
| |
Tuhan adalah nahkoda sejati yang memegang kendali atas hidup kita. Saat kita belajar taat dan percaya, Tuhan menuntun kita melewati setiap badai kehidupan. Penyerahan penuh kepada Tuhan membawa kita kepada perlindungan dan arah yang tepat.
Satu hari anak saya yang sedang membuat lego kapal laut bertanya kepada saya, “Kapal laut ada nahkodanya. Kalau bahtera Nuh ada nahkodanya tidak?”
Dari pertanyaan sederhana itu kita belajar sesuatu yang dalam.
Ketika Tuhan memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera, tidak ada kemudi, tidak ada GPS, tidak ada kompas. Tuhan hanya menyuruh Nuh untuk taat membuat bahtera. Sejak awal, Tuhan ingin menunjukkan bahwa Dialah yang memegang kendali penuh atas perjalanan tersebut.
Di tengah air bah yang dahsyat, saat masa depan tidak terlihat, Tuhan sendiri yang menuntun bahtera itu.
Sering kali dalam kehidupan, kita ingin menjadi “nahkoda” atas hidup kita sendiri. Kita ingin mengatur, memastikan semuanya berjalan sesuai rencana kita. Tetapi kenyataannya, apa yang kita rencanakan belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan.
Seperti bahtera Nuh, ada masa di mana kita harus belajar:
- taat
- percaya
- setia
meskipun kita tidak tahu akan dibawa ke mana.
Bahtera Nuh tidak tenggelam bukan karena kehebatan manusia, tetapi karena Tuhan yang memegang kendali.
Demikian juga dengan hidup kita. Ketika kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan—keluarga, pekerjaan, dan masa depan—Tuhan sanggup menuntun kita melewati setiap “air bah” kehidupan.
- Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. (1 Petrus 5:7)
Dari perenungan ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Seberapa sungguh kita sudah menyerahkan hidup kita kepada Tuhan?
Mungkin jalan hidup kita tidak selalu mudah. Ada air mata, proses, dan tantangan. Tetapi Tuhan yang sama yang menuntun Nuh, juga sanggup menuntun kehidupan kita hari ini.
Amin.
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. (Amsal 3:5)
