Pembaharuan pola pikir dan 2 jenis kehendak Tuhan (Pdt Eloy Zalukhu, MBA)

Dari GBI Danau Bogor Raya
Revisi sejak 3 Maret 2026 11.46 oleh Leo (bicara | kontrib) (baru)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Lompat ke: navigasi, cari

Pembaharuan pola pikir adalah kunci untuk hidup berkenan kepada Allah, karena keputusan dan respons kita setiap hari ditentukan oleh bingkai berpikir yang kita miliki. Allah memiliki kehendak ketetapan yang pasti terjadi dan kehendak perintah yang harus ditaati, dan yang terakhir inilah yang menuntut kita memperbaharui pikiran dengan pertolongan Roh Kudus. Ketika pola pikir kita diperbarui oleh kebenaran Firman, kita mampu memaknai setiap situasi dengan iman, merespons dengan benar, dan menghasilkan hidup yang berkenan kepada Tuhan.

Shalom, Saudara Bapak dan Ibu. Gong Xi Fa Cai!
Kiranya berkat dan kemurahan Tuhan menyertai kita semuanya. Kita berdoa supaya kita semua semakin sukses, makmur, dan sehat bersama Tuhan Yesus. Amin.

Baik, Saudara-saudara. Hari ini kita akan sama-sama merenungkan Firman Tuhan.
Saya merasa bahwa pembahasan ini cukup berat. Jadi sebelum naik mimbar tadi, saya berdoa, bahkan meminta hamba-hamba Tuhan yang lain juga mendoakan saya, supaya apa yang saya sampaikan benar-benar bermanfaat dan bisa Saudara bawa pulang.

Selama saya menyampaikan nanti, saya juga minta Saudara terus berdoa bagi saya, supaya sungguh-sungguh ini menjadi sesuatu yang bisa kita aplikasikan.

Saya sendiri setiap kali mengikuti ibadah di berbagai tempat, saya duduk dan mendengarkan Firman, saya memiliki doa sederhana: "Tuhan, berikan sesuatu yang bisa saya aplikasikan ketika pulang." Itu juga doa saya setiap kali mempersiapkan khotbah. Bukan beban, tetapi ada satu perenungan: bayangkan kalau jemaat pagi-pagi bangun, hujan lagi, harus persiapan ini dan itu, lalu datang ke gereja. Musiknya keren sekali, penyembahannya luar biasa. Tetapi ketika tiba saat khotbah, ternyata apa yang Tuhan mau sampaikan tidak tertangkap. Belum tentu salah jemaat. Bisa jadi penyampainya kurang peka. Karena itu, keep praying.

Alright. Tema kita hari ini adalah: pembaharuan pola pikir - renewing of your mind. Dan kita akan melihat bahwa ada dua jenis kehendak Allah.

Saya mulai memikirkan ini sejak tahun 1999, waktu saya masih kuliah. Saya pergi ke State Library dan membaca buku Charles Swindoll berjudul The Mystery of God’s Will — Misteri Kehendak Allah.

Kita ingin tahu kehendak Allah. Paulus juga mengatakan, "Kamu harus mengenal kehendak Allah." Itu ada di Roma 12.

Kalau Roma 12 berarti sebelumnya ada Roma 1 sampai 11. Betul? Jadi apa yang dilakukan Kristus dalam Roma 1 sampai 11, hingga kemudian di pasal 12 Paulus berkata, "Renew your mind."

Kalau Saudara lihat Roma 7, Paulus berkata: Apa yang ingin kulakukan, bukan itu yang kulakukan. Apa yang tidak ingin kulakukan, justru itu yang kulakukan.

Ada yang pernah mengalami hal yang sama? Mau kerja baik-baik, mau setia, mau baca Firman, tapi ternyata daging punya kelemahan.

Di Roma 7:25, Paulus berkata: "Syukur kepada Allah oleh Yesus Kristus." Ada solusi di dalam Kristus.

Selanjutnya Roma 8, 9, 10, 11 menjelaskan karya keselamatan. Lalu Roma 12 berkata: Renew your mind.

Kenapa? Karena dengan memperbaharui pola pikir, kita bisa memahami Tuhan maunya apa.

Sekarang bayangkan satu situasi. Seorang anak usia 10 tahun mengalami pelecehan seksual. Bisa dari tetangga, guru, saudara, ayah tiri. Sekarang dia sudah usia 20-an. Lalu dia ditanya: "Apakah kejadian itu bagian dari kehendak Allah?"

Pertanyaan berat.

Atau seseorang yang mencintai pasangannya dengan sepenuh hati, berkorban, setia, tetapi pasangannya berpaling. Luka yang dalam. Lalu ditanya: "Adakah Tuhan di sana? Apakah itu bagian dari kehendak Allah?"

Atau pengkhianatan sahabat dalam bisnis.
Atau kecelakaan karena kelalaian orang lain yang dampaknya ditanggung seumur hidup.
Atau penyakit yang datang tiba-tiba.

Di tahun yang baru ini kita berharap semuanya indah, makmur, sukses bersama Tuhan. Amin.
Tetapi ketidakadilan bisa terjadi. Dan kita bertanya: "Di mana kehendak Allah?"

Saudara-saudara, hari ini ada tiga hal yang kita renungkan:

  • Pertama, memahami apa itu pola pikir dan mengapa pembaharuan pola pikir itu penting.
  • Kedua, ternyata ada dua jenis kehendak Tuhan.
  • Ketiga, bagaimana caranya memperbaharui pola pikir.

Harapan saya sederhana:
Mulai hari ini kita punya bingkai berpikir teologis.
Setiap hari, apa pun yang kita alami, kita memprosesnya dengan bingkai ini.

Sekarang kita baca Roma 12:2,

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Kenapa ayat 2 berkata demikian? Karena ada ayat 1,

Karena itu, demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.

Artinya apa?
Karena Saudara sudah diselamatkan (Roma 1-11), maka sekarang hidup ini dipersembahkan seluruhnya kepada Tuhan.

Ujungnya apa?
Hidup yang berkenan kepada Allah.

Pertanyaannya sekarang:
Apa maksud Paulus ketika dia berkata, "Pembaharuan budimu"?
Apa itu memperbaharui pola pikir?

Mari kita lihat, Saudara-saudara.

Ada satu kalimat: the battle of the mind.
Ada satu pertempuran yang sedang terjadi sekarang—ya, sekarang, di ruangan ini. Di mana pertempuran itu? Di dalam pikiran Saudara.

Pembaharuan pola pikir sering kali dimulai dari hal sederhana—mengubah respons tubuh terlebih dahulu.

Saudara-saudara, hidup kita sangat dipengaruhi oleh pikiran terkuat kita. Your strongest thoughts drive your daily activities.

Keputusan-keputusan yang Saudara ambil setiap hari didorong oleh pikiran-pikiran yang paling kuat di dalam diri Saudara.

Inilah yang dimaksud Rasul Paulus ketika berkata: "Renew your mind."

Di dalam psikologi ada istilah the law of cognition.
Apa yang Saudara pikirkan secara berulang akan membentuk apa yang Saudara yakini.

Sudah diselamatkan oleh Kristus? Sudah.
Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, apakah menjadi garam dan terang atau menjadi batu sandungan, sangat dipengaruhi oleh apa yang Saudara ulang-ulang dalam pikiran.

Pikiran membentuk perasaan.
Perasaan membentuk makna.
Makna membentuk respons.
Respons membentuk tindakan.
Dan tindakan menghasilkan hasil.

Hasil adalah buah dari tindakan.

Paulus berkata, "Renew your mind."
Untuk apa? Supaya hasilnya berkenan kepada Allah.

Sekolah berjalan baik.
Pekerjaan berjalan baik.
Keluarga berjalan baik.

Dan ketika saya menyampaikan ini, saya sedang mengingatkan diri saya sendiri. Karena cara terbaik untuk belajar adalah dengan membagikannya.

Bingkai berpikir

Ilustrasi khotbah-20260222.jpg

Sekarang kita lihat rantainya.

Result (hasil) datang dari action (tindakan).
Tindakan datang dari respons.
Respons datang dari meaning—makna yang kita berikan.
Makna datang dari referensi atau bingkai berpikir.

Bayangkan Saudara mendapatkan nilai yang kurang baik di kampus. Maknanya bisa dua: "Memang aku tidak berbakat." Atau: "Aku harus lebih rajin dan mengatur waktu."

Maknanya berbeda, responsnya berbeda, hasilnya pun berbeda.

Makna itu datang dari bingkai berpikir. Seperti bingkai foto di rumah. Waktu foto diambil, sebenarnya ada bagian kiri, kanan, atas, bawah. Tetapi yang masuk ke dalam bingkai hanya bagian tertentu.

Kalimatnya begini:
Saudara dan saya tidak benar-benar mengalami hidup apa adanya.
Kita mengalami hidup sesuai dengan makna yang kita berikan berdasarkan bingkai berpikir kita.

Karena itu Paulus berkata: "Renew your mind."

Bingkai berpikirnya harus benar.

Kalau bingkainya benar, maknanya benar.
Kalau maknanya benar, responsnya benar.
Kalau responsnya benar, tindakannya benar.
Kalau tindakannya benar, hasilnya benar.

Sekarang pertanyaannya: bingkai berpikir itu datang dari mana? Dari kecil Saudara membaca apa, menonton apa, bergaul dengan siapa, mendengar apa dari keluarga.

Saya beri contoh.

Ada seorang suami dari keluarga sederhana.
Dari kecil dia belajar bahwa "makan cukup" berarti kenyang.
Tidak pernah berpikir soal gizi lengkap, karena referensinya adalah bertahan hidup.

Referensi ini dia bawa sampai menikah.

Dia menikah dengan seorang istri yang referensinya berbeda.
Bagi sang istri, makan cukup berarti gizinya lengkap.

Kalau keduanya tidak saling memahami referensi ini, konflik bisa terjadi.

Suami memberi uang dapur dan merasa itu sudah cukup.
Istri berkata, "Enggak pernah cukup."

Suami merasa: "Kamu tidak menghargai kerja kerasku."
Istri merasa: "Kamu tidak mencintaiku."

Ini persis seperti yang ditulis Timothy Keller dalam bukunya tentang pernikahan.

Timothy Keller tumbuh dalam keluarga di mana ayahnya bekerja dan ibunya di rumah. Ibunya sering berkata,
"Papa sudah capek kerja, jadi mama tidak kasih pekerjaan lagi di rumah."

Itu menjadi referensi Tim.

Istrinya, Kathy, tumbuh di keluarga yang berbeda. Ayahnya juga bekerja, ibunya di rumah, tetapi ayahnya sering membantu di dapur. Dan ibunya berkata,
"Lihat papa. Walaupun capek, dia tetap bantu mama."

Itu menjadi referensi Kathy.

Waktu pacaran, perbedaan ini tidak terasa.
Tetapi setelah menikah dan punya anak pertama, perbedaan itu muncul.

Tim pulang kerja, duduk di sofa, mau istirahat. Lalu tercium bau tidak sedap.

Dalam pikirannya:
"If you love me, jangan kasih aku kerjaan lagi. Aku sudah capek."

Di dapur, Kathy berpikir:
"If you love me, kamu pasti bantu aku. Kamu kan dekat dengan anak itu, bereskan pampersnya."

Tim merasa: "You don’t love me."
Kathy juga merasa: "You don’t love me."

Masalahnya bukan pada pampers.
Masalahnya ada pada bingkai berpikir yang berbeda.

Dan inilah yang Paulus maksudkan.
Kalau bingkai berpikir tidak diperbaharui, kita akan terus salah memaknai, salah merespons, dan akhirnya hasilnya tidak berkenan kepada Allah.

Timothy Keller mengatakan bahwa inilah yang dimaksud dengan renewing of your mind.
Karena ada referensi yang dibentuk sejak kecil sampai menikah—baik pada Tim maupun Kathy.

Itulah sebabnya Alkitab berkata, "Laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya."
Bukan hanya meninggalkan secara fisik, tetapi juga meninggalkan pola asuh lama yang tidak lagi cocok dalam keluarga baru.

You create your own.

Kenapa ini jadi seperti seminar keluarga?
Karena ini contoh yang sangat nyata.

Referensi atau bingkai berpikir itu diuji setiap hari.
Ketika Saudara tidak mencapai target penjualan.
Ketika Saudara menghadapi konflik dalam pacaran.
Ketika membuka toko dan bertemu customer yang jutek.

Cara Saudara merespons semuanya itu tergantung dari bingkai berpikirnya. Inilah yang dimaksud Rasul Paulus ketika berkata: "Renew your mind."

Sekarang kita masuk bagian berikutnya. Kalau pola pikir itu penting, lalu apa kaitannya dengan kehendak Tuhan?

The mystery of God's will

Charles Swindoll dalam bukunya The Mystery of God’s Will mengatakan bahwa ada dua jenis kehendak Tuhan.

  • Yang pertama disebut decretive will — kehendak ketetapan Allah.
    Ini adalah kehendak yang pasti terjadi. Tidak mungkin gagal.
  • Yang kedua disebut permissive will — kehendak yang diizinkan Allah terjadi dalam natur dosa manusia.

Apakah Tuhan menghendaki dosa? Tidak.
Tetapi apakah Tuhan bisa mengizinkannya? Ya.
Dan bahkan menggunakannya untuk mendatangkan kebaikan.

Teolog lain menyebutnya:

  1. Will of decree — kehendak yang pasti terjadi (ketetapan Tuhan).
  2. Will of command — kehendak yang harus ditaati (perintah Tuhan).

Saya tahu ini terdengar seperti kelas teologi, tetapi intinya sederhana.

Ketika Saudara pulang nanti, Tuhan ingin Saudara membawa bingkai berpikir ini:
Tidak ada satu detik pun Tuhan absen dari takhta-Nya.

Sehingga ketika seorang anak mengalami pelecehan,
atau Saudara mengalami luka 10 atau 20 tahun lalu yang masih membelenggu secara emosi,
ingatlah dua kebutuhan jiwa manusia dalam krisis:

  • Pertama, meyakini bahwa Allah membenci dosa itu.
  • Kedua, Allah hadir di sana.

Kalau Allah hadir di sana, maka pengikut Kristus seharusnya menjadi orang-orang yang kuat—sekaligus memiliki damai sejahtera dalam kondisi apa pun.

Karena mereka tahu:
Allah yang mereka percaya adalah Allah yang berdaulat.

Sekarang kita lihat beberapa ayat.

1. God's sovereign will (Decretive Will) – Ketetapan Tuhan

Kehendak Tuhan yang pasti terjadi.

Di Matius 26:39, Yesus berdoa:

Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku; tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.

Ribuan tahun sebelumnya sudah dinubuatkan bahwa Kristus harus mati di kayu salib.
Itu adalah kehendak ketetapan Allah—harus terjadi.

Kisah Para Rasul 4:27-28 juga menegaskan bahwa Herodes, Pontius Pilatus, bangsa-bangsa, dan Israel berkumpul untuk melakukan apa yang telah ditentukan oleh kuasa dan kehendak Allah sejak semula.

Sekarang pertanyaannya:
Apakah Tuhan ikut berdosa dalam penyaliban itu? Tidak.

Tetapi Allah dapat menggunakan dosa manusia untuk menggenapi rencana-Nya.

Inilah bingkai berpikir yang Paulus maksudkan. Kalau bingkai berpikir ini Saudara miliki, maka tidak ada yang Saudara takuti. Bahkan debu yang paling kecil pun tidak terbang tanpa izin Tuhan. Kalau ada debu yang masuk ke mata seorang anak bernama Rangga yang Tuhan tetapkan menjadi dokter bedah, apakah debu itu bisa menggagalkan rencana Allah? Tidak.

Karena kalau itu bisa menggagalkan rencana Allah, lalu bagaimana Filipi 1:6 bisa benar?

Allah yang memulai pekerjaan baik di dalam kamu akan menyelesaikannya sampai pada akhirnya.

Ini bingkai berpikir.

1 Petrus 3:17 berkata:

Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, daripada menderita karena berbuat jahat.

Misalnya Saudara bekerja di perusahaan dan melihat pimpinan melakukan pelanggaran hukum.

Saudara tahu itu salah. Kalau melaporkan, Saudara bisa dipecat. Kalau Saudara taat kepada Firman dan berkata, "This is wrong."

Dua hal bisa terjadi:

  1. Tuhan bisa melindungi Saudara.
  2. Atau Tuhan bisa mengizinkan Saudara dipecat.

Kalau dipecat, tentu ada ketakutan: Uang sekolah anak bagaimana? Biaya hidup bagaimana?

Petrus berkata, lebih baik menderita karena berbuat baik jika itu kehendak Allah.

Sekarang kita lihat Matius 10:29,

Bukankah dua ekor burung pipit dijual seduit? Namun seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.

Kalau penyaliban Kristus ada dalam kedaulatan Tuhan,
kalau burung pipit pun ada dalam pengawasan Tuhan,
bagaimana dengan hidup Saudara hari ini? Minggu-minggu ini? Tahun-tahun ke depan? Can you trust Him? Yes, you can trust Him!

Allah bukan Allah yang kagetan. Tidak ada kejadian yang membuat Tuhan berkata, "Wah, kok begini?" Burung pipit saja tidak jatuh tanpa izin-Nya. Namun itu semua termasuk kategori pertama—kehendak ketetapan.

Alkitab mengajarkan bahwa inilah Tuhan yang Saudara dan saya percaya. Namun itu baru kategori pertama—kehendak ketetapan Allah.

Sekarang kita masuk kategori yang kedua.

2. God's moral will (Will of command) – Perintah Tuhan

Kehendak Tuhan yang harus ditaati.

Ternyata ada kehendak Allah yang berbentuk perintah.
Saudara bisa taat, bisa juga tidak taat.

Kita lihat beberapa ayat.

Matius 7:21,

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Surga.

Artinya apa? Ada yang taat, ada yang tidak taat.

Inilah kategori yang dimaksud Paulus di Roma 12:2. Renew your mind supaya kamu mengenal kehendak Allah. Bukan kategori yang pertama. Karena kategori pertama—kehendak ketetapan—Saudara tahu atau tidak tahu, tetap terjadi.

Tuhan tidak mengajarkan kita punya bola kristal untuk meramal tahun ini akan seperti apa.

Yang Tuhan inginkan adalah ketaatan dalam kategori kedua.

Dan kita tidak mungkin menaati kehendak ini tanpa pembaharuan pola pikir—tanpa pertolongan Roh Kudus dan latihan setiap hari.

1 Tesalonika 4:3,

Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan.

Ini jelas. Tuhan tidak menghendaki Saudara hidup dalam percabulan. Tidak menghendaki Saudara menonton pornografi. Ini kategori kedua—ketaatan.

Dan inilah yang Paulus maksudkan: renew your mind.

1 Yohanes 2:17,

Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Artinya ada yang melakukannya, ada yang tidak. Dan untuk melakukannya, Paulus berkata: Perbaharui pola pikirmu.

Penutup

Sekali lagi, ada dua jenis kehendak Tuhan:

  1. Kehendak ketetapan (decree by God) - pasti terjadi.
  2. Kehendak perintah (command/permissive context) - harus ditaati.

Apakah Paulus ingin agar kita tahu detail masa depan?
Mau beli mobil apa?
Menikah dengan siapa?
Kuliah di mana?
Tidak ada ayat yang merinci itu.

Justru di area yang tidak dirinci itulah Paulus berkata: "Renew your mind."

Karena tanpa pembaharuan, 40-80% keputusan kita digerakkan oleh pola bawah sadar lama. Sudah diselamatkan? Sudah. Tetapi belum tentu bertumbuh berkenan kepada Allah.

Bagaimana caranya?

Titus 3:5,

Ia telah menyelamatkan kita bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya, oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

Pembaharuan itu dikerjakan oleh Roh Kudus. Tujuannya apa? Buah Roh (Galatia 5:22-23)! Mengasihi. Bersukacita. Damai sejahtera. Penguasaan diri. Inilah yang Tuhan inginkan. Mulai hari ini, setiap detik, setiap menit, setiap jam, doa kita sederhana: "Tuhan, aku mau berkenan kepada-Mu."

Respons kita—dari mengasihi sampai penguasaan diri—tidak lagi didorong oleh pola pikir lama, trauma lama, referensi lama, tetapi oleh kebenaran Firman Tuhan.

Amin. Berikan kemuliaan hanya bagi Tuhan!

Video