Domba di tengah serigala
![]() | |
| Inspirational | |
| Tanggal | 15 Januari 2026 |
| Oleh | Diter |
| Baca juga | |
| |
Tuhan mengutus kita seperti domba di tengah serigala, sehingga kita harus hidup bergantung kepada-Nya dan berjalan dalam hikmat. Melalui kehidupan dalam komunitas dan hati yang mau dipulihkan, kita diperlengkapi untuk menggenapi Amanat Agung. Dengan kecerdikan dan ketulusan, kita memberitakan Injil bukan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi untuk kemuliaan Tuhan Yesus.
“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala; sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
Tahun ini dicanangkan sebagai Tahun Amanat Agung, sesuai dengan perintah Tuhan Yesus yang mengutus kita untuk memberitakan Injil. Dalam menjalankan tugas ini, Tuhan Yesus menggambarkan kita seperti domba di tengah serigala. Artinya, kita hidup dan melayani di tengah dunia yang tidak selalu ramah, sehingga kita perlu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
Ada beberapa pelajaran dari domba yang relevan bagi kita sebagai murid Kristus:
- Domba adalah hewan yang lemah dan bergantung pada gembala
- Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; (Yohanes 10:11)
- Domba hidup berkelompok
- Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. (Amsal 27:17)
- Bulu domba harus dipotong secara rutin
Domba tidak memiliki cakar, taring, atau racun untuk mempertahankan diri. Karena itu, domba harus selalu dekat dengan gembalanya dan mengenal suara gembalanya. Kita tahu bahwa gembala yang baik rela mempertaruhkan nyawanya demi melindungi dombanya. Demikian juga kita harus hidup bergantung sepenuhnya kepada Tuhan Yesus.
Domba tidak bisa hidup sendiri. Jika terpisah dari kelompoknya, domba mudah diserang musuh, mengalami stres, dan tidak bertahan lama. Demikian pula manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan komunitas rohani.
Di dalam gereja, kita memiliki komunitas seperti COOL, tempat kita bisa saling menguatkan, saling memberkati, dan saling mengampuni. Sebelum kita pergi memberitakan Injil, kita sendiri perlu dipulihkan terlebih dahulu, supaya tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Bulu domba yang tidak dipotong akan menimbulkan masalah kesehatan serius, bahkan bisa berujung pada kematian. Dari sini kita belajar bahwa orang Kristen dipanggil untuk hidup dalam kasih dan kemurahan hati. Kita tidak boleh pelit, tetapi mau menjadi berkat.
Dalam Amanat Agung, bukan hanya dibutuhkan orang-orang yang siap diutus, tetapi juga dukungan sumber daya untuk misi penginjilan. Jika kita sadar bahwa semua berkat yang kita terima berasal dari Tuhan, maka sudah sepantasnya kita mendukung pekerjaan Tuhan dengan sukacita.Dalam memberitakan Injil, kita harus cerdik seperti ular — penuh hikmat, tidak memicu pertengkaran, tidak menghakimi, dan mampu membangun relasi dengan orang yang belum mengenal Kristus. Kita juga harus tulus seperti merpati, melayani bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan semata-mata untuk kemuliaan Tuhan Yesus. Semua keberhasilan bukan karena kehebatan kita, tetapi karena anugerah Tuhan.
